Kategori: Berita

Alumni Mts Metro dan Jamaah Masjid Darussalam Metro Bantu Korban Tsunami di Desa Kunjir

Alumni Mts Metro dan Jamaah Masjid Darussalam Metro Bantu Korban Tsunami di Desa Kunjir
Alumni Mts Metro dan Jamaah Masjid Darussalam Metro Bantu Korban Tsunami di Desa Kunjir

Setelah berjuang cukup lama karena armada yang dipakai adalah mobil kijang antik, sekitar jam 1 dinihari, rombongan jamaah Masjid Darussalam Metro yang membawa bantuan kemanusiaan dari Metro yang dipimpin Edi Slameto tiba di desa Kunjir.(7/1)

Desa Kunjir yang terletak di kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, merupakan salah satu desa yang mengalami kerusakan paling parah kena tsunami Selat Sunda yang terjadi beberapa waktu lalu. Puluhan warganya meninggal dunia, dan hampir semua rumah warga yang berada di bibir pantai, hilang oleh tsunami. Kini mereka masih mengungsi.

Bantuan yang dibawa rombongan jamaah Masjid Darussalam berupa sandal jepit, potongan kuku, alas tidur, sisir, sembako, peralatan mandi, alat-alat masak, kebutuhan khusus bayi dan wanita, serta berbagai bentuk bantuan lainnya.

“Bantuan berupa sisir, sandal jepit, potongan kuku, kesannya sepele. Tetapi sangat dibutuhkan oleh korban bencana. Lagipula belum ada yang memberikan bantuan seperti itu. Bantuan yang kami bawa berasal dari Alumni Mts Metro angkatan 88, dan jamaah Masjid Darussalam 15 A Iring Mulyo Metro,” kata Edi Slameto.

Diterangkan pula oleh Edi Slameto, bantuan mereka disalurkan melalui relawan SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) yang bersama elemen lain mendirikan posko relawan kemanusiaan di desa Kunjir.

“SARMMI merupakan organisasi kemanusiaan yang amanah dan memiliki militansi tinggi untuk membantu korban bencana alam. Saya tahu karena saya mengenal para pengurus SARMMI,” terang Edy Slameto.

Seperti yang diterangkan Edi Slameto, di desa Kunjir SARMMI mendirikan posko bersama KAUMY Lampung. Mapasanda STIEM Kalianda. Akbid Wira Buana Metro. Mapala UMRI. Stacia UMJ. Camp STIEM Jakarta. HW UMJ. Mapala UMY. Keluarga Besar MALIMPA.

Posko mereka bekerja 24 jam sehari. Selain mendistribuskan langsung bantuan dari berbagai pihak. Kegiatan Posko Relawan kemanusiaan desa Kunjir adalah siaga SAR untuk mengantisipasi bencana susulan, membuat emergency toilet, dapur umum, pendampingan psiskososial, pengajian akbar, dan membuat hunian sementara. (Ahyar Stone)

Kompaknya Alumni SMPN 7 Bandar Lampung Bantu Korban Tsunami di Desa Kunjir

Kompaknya Alumni SMPN 7 Bandar Lampung Bantu Korban Tsunami di Desa Kunjir
Kompaknya Alumni SMPN 7 Bandar Lampung Bantu Korban Tsunami di Desa Kunjir

Bertempat di desa Kunjir, kecamatan rajabasa, Lampung Selatan, Alumni SMPN 7 Bandar Lampung menyerahkan bantuan berupa sembako, perlengkapam tidur, keperluan khusus wanita, kebutuhan balita, dan beberapa barang lainnya untuk warga desa Kunjir yang berada di pengungsian.

“Bantuan yang kami berikan tidak seberapa, tetapi mudah-mudahan bermanfaat bagi warga desa Kunjir yang sekarang berada di pengungsian karena rumah terkena bencana tsunami,” kata kordinator relawan Alumni SMPN 7 Bandar Lampung, Dahri. (6/1)

Diterangkan pula Dahri, yang memberikan bantuan ke desa Kunjir adalah Alumni SMPN 7 Bandar Lampung angkatan 1995 dan angkatan 2005. Kendati berbeda angkatan, tetapi bersatu untuk membantu sesama. Hal ini menunjukan kekompakan Alumni SMPN 7 Bandar Lampung.

Sementara itu, Rinanto, anggota Posko Relawan Kemanusiaan desa Kunjir mengatakan. Bantuan yang diberikan Alumni SMPN 7 Bandar Lampung, sangat bermanfaat karena benar-benar diperlukan oleh pengungsi di desa Kunjir. Bantuan ini akan diantar langsung ke pengungsi.

Posko Relawan Kemanusiaan di desa Kunjir, merupakan satu-satu posko kemanusiaan yang berada di bibir pantai desa Kunjir. Posko yang beroperasi 24 jam ini yang didirikan oleh SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI), KAUMY Lampung. Mapasanda STIEM Kalianda. Akbid Wira Buana Metro. Mapala UMRI. Stacia UMJ. Camp STIEM Jakarta. HW UMJ. Mapala UMY. Keluarga Besar MALIMPA. (Ahyar Stone)

Sahabat Taiwan Bantu Korban Tsunami di Desa Kunjir

Sahabat Taiwan Bantu Korban Tsunami di Desa Kunjir
Sahabat Taiwan Bantu Korban Tsunami di Desa Kunjir

Tenaga Kerja Indonesia yang berada di Taiwan sangat beduka dengan penderitaan korban tsunami Selat Sunda. Mereka lantas menggalang donasi untuk dibelanjakan kebutuhan pengungsi, lalu diantar langsung ke desa yang warganya menjadi pengungsi korban tsunami.

Demikian kata kordinator Sahabat Taiwan, Rumaisha, saat menyerahkan bantuan ke posko Relawan Kemanusiaan di desa Kunjir yang didirikan oleh SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI), KAUMY Lampung. Mapasanda STIEM Kalianda. Akbid Wira Buana Metro. Mapala UMRI. Stacia UMJ. Camp STIEM Jakarta. HW UMJ. Mapala UMY. Keluarga Besar MALIMPA. (6/1)

“Desa Kuncir, Lampung Selatan, merupakan salah satu desa yangmengalami kerusakan paling parah kena tsunami. Itulah alasan kami dari Sahabat Taiwan mengantar bantuan kesini,” terang Rumaisha. (Ahyar Stone)

Relawan Kemanusiaan di Desa Kunjir Dirikan Emergency Toilet Air Hangat Alami

Relawan Kemanusiaan di Desa Kunjir Dirikan Emergency Toilet Air Hangat Alami
Relawan Kemanusiaan di Desa Kunjir Dirikan Emergency Toilet Air Hangat Alami

Tak banyak yang tahu jika desa Kunjir memiliki potensi terpendam, yakni air hangat alami. Air yang tak lazim ini berada di beberapa sumur warga. Airnya mengalir sepanjang tahun. Debitnya cukup besar.

Desa Kunjir berada di pesisir pantai Lampung Selatan. Saat tsunami menghantam Selat Sunda beberapa waktu lalu, desa yang masuk wilayah kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan ini, mengalami kerusakan parah. Beberapa warganya juga meninggal dunia.

Di desa Kunjir inilah SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI), bersama KAUMY Lampung, Mapasanda STIEM Kalianda, Akbid Wira Buana Metro, Mapala UMRI, Stacia UMJ, HW UMJ, Camp STIEM Jakarta, Mapala UMY, Keluarga Besar MALIMPA, mendirikan posko relawan kemanusiaan yang siaga 24 jam.

Proses pengerjeaan Emergency Toilet Air Hangat Alami. Sumur air hangat  yang dipakai milik warga yang rumahnya hancur kena tsunami.
Proses pengerjeaan Emergency Toilet Air Hangat Alami. Sumur air hangat yang dipakai milik warga yang rumahnya hancur kena tsunami.

Seperti biasanya usai terjadi bencana alam, relawan dan para dermawan hilir mudik memasuki wilayah terdampak bencana untuk memberikan bantuan.

Pemandangan serupa juga tampak di sepanjang jalan raya yang menghubungkan desa-desa terdampak tsunami di pesisir Lampung Selatan.

Tiap hari ratusan sepeda motor, kendaraan roda empat dan truk berbagai ukuran keluar masuk membawa bantuan.
Ada kendaraan bantuan yang menuju desa Kunjir. Ada yang ke desa lainnya.

Lantaran desa Kunjir termasuk titik terparah kena tsunami, arus lalu lintasnya menjadi ramai. Sering terjadi kemacetan.

Lalu lintas macet dan tidak adanya fasilitas toilet umum di sepanjang jalan ke desa-desa terdampak tsunami, rupanya menjadi problem tersendiri bagi relawan dan para dermawan yang membawa bantuan.

Mereka benar-benar mengalami kesulitan saat hendak buang air kecil. Padahal terlalu lama menahan buang air kecil, membuat perasaan mereka tak nyaman. Kesehatannya juga dapat terganggu.

Mengatasi persoalan itu, relawan SARMMI dan mitra sinerginya kemudian mendirikan Emergency Toilet Air Hangat Alami. Sumur air hangat yang dipakai milik warga yang rumahnya hancur kena tsunami.

Dinding Emergency Toilet terbuat dari seng. Terdiri dari tiga balik. Dapat dipergunakan untuk buang air besar, mandi, atau sekedar buang air kecil. Toilet ini untuk umum. Gratis.

Menurut relawan dari Keluarga Besar MALIMPA , Irfan Sengaji, alasan ia dan teman-teman sesama relawan mendirikan Emergency Toilet Air Hangat Alami ini, selain sebagai solusi persoalan buang air adalah untuk mengenalkan potensi air hangat alami desa yang ada di desa Kunjir.

“Dengan adanya toilet ini, masyarakat luas menjadi tahu, ada air hangat alami di desa kunjir. Tentu ini bagus untuk promosi potensi ekonomi dan wisata desa Kunjir pasca tsunami,” kata Irfan Sengaji.

Baru beberapa saat Emergency Toilet selesai dikerjakan, penggunanya langsung ramai. Mereka memiliki komentar yang beragam.

“Kayak beol di hotel bintang. Nyiramnya pake air panas. Mantap coy..,” kata seorang dermawan dari Tangerang.

Seorang mahasiswi dari Palembang yang datang ke Kunjir bersama tim membawa bantuan dari kampusnya, berkomentar, “Tadinyo aku dak pecayo toilet daruratnyo make air anget. Abis kucoba, ternyato anget nian.”
Tadinya saya tidak percaya toilet darutratnya memakai air hangat. Setelah saya coba, ternyata benar air hangat.

Komentar lain dari seorang relawan asal kota Metro. “Wah, ngertiyo, mau tak nggowo anduk karo sabun. Iso sisan adus banyu panas. Ra mbayar,” katanya.
Wah kalau saya tahu, tadi saya membawa handuk dan sabun. Bisa sekalian mandi air panas gratis. (Ahyar Stone)

Alumni Mts Guppi Teluk Betung dan Warga Srengsem Bantu Korban Tsunami di Desa Kunjir

Ketua Alumni Mts GUPPI Teluk Betung, Bandar Lampung, Samsidan Shobrie.
Ketua Alumni Mts GUPPI Teluk Betung, Bandar Lampung, Samsidan Shobrie.

Desa Kunjir yang berada di kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, termasuk titik yang mengalami kerusakan paling parah terkena tsunami Selat Sunda yang terjadi beberapa waktu lalu. Kini, sebagian besar warga desa yang terletak di bibir pantai ini mengungsi. Ada yang ditampung di gedung sekolah. Ada pula yang mengungsi di kebun-kebun yang berada di perbukitan ujung desa Kunjir.

Untuk meringankan penderitaan warga desa Kunjir di pengungsian, Alumni Mts GUPPI Teluk Betung, Bandar Lampung, dan Masyarakat Warga Srengsem, Panjang, Bandar Lampung, memberikan bantuan berupa sarung, mukena, jilbab, sajadah, sandal jepit, sembako, piring, alas tidur, kebutuhan khusus wanita dan perlengkapan bayi.

Bantuan disalurkan melalui posko relawan kemanusian di desa Kunjir yang didirikan SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) bersama KAUMY Lampung. Mapasanda STIEM Kalianda. Akbid Wira Buana Metro. Mapala UMRI. Stacia UMJ. Camp STIEM Jakarta. Mapala UMY. Keluarga Besar MALIMPA.

“Kami sangat sedih. Saudara-saudara kita warga Kunjir harus menderita karena bencana tsunami. Harapan kami bantuan ini dapat sedikit meringankan beban mereka. Kami berdo’a semoga para pengungsi diberi ketabahan dan cepat pulih dari keterpurukan pasca bencana,” demikian kata ketua Alumni Mts GUPPI Teluk Betung, Bandar Lampung, Samsidan Shobrie, saat menyerahkan bantuannya. (1/1).

Kordinator Masyarakat Warga Srengsem, Bandar Lampung, Adis.
Kordinator Masyarakat Warga Srengsem, Bandar Lampung, Adis.

Senada dengan itu, kordinator Masyarakat Warga Srengsem, Adis, mengatakan turut berduka, apalagi warga desa Kunjir ada beberapa orang yang meninggal dunia karena tsunami.

“Semoga para korban jiwa diberi tempat yang layak disisiNya. Bantuan yang kami berikan semoga bermanfaat bagi warga desa Kunjir yang sekarang di pengungsian” kata Adis.

Oleh relawan di posko kemanusiaan, bantuan dari Alumni Mts GUPPI Teluk Betung dan Masyarakat Warga Srengsem, digabung. Lalu dibuat paket-paket bantuan. Kemudian langsung disalurkan ke warga desa Kunjir yang benar-benar membutuhkan sesuai bentuk bantuan tersebut. MIsalnya bantuan berupa kebutuhan bayi, hanya diberikan kepada pengungsi yang memiliki bayi. (Ahyar Stone/SARMMI)

Kesaksian Nelayan di Tengah Laut Saat Terjadi Tsunami Selat Sunda

Relawan SARMMI membantu membersihkan puing rumah Sanwani
Relawan SARMMI membantu membersihkan puing rumah Sanwani

Saat terjadi tsunami di Selat Sunda, banyak nelayan pesisir Lampung Selatan yang sedang menangkap ikan di perairan Selat Sunda. Ada yang tewas karena kapalnya terbalik dihantam gelombang dahsyat. Ada pula yang selamat dan justru tak tahu ada tsunami. Seperti kisah berikut ini.

Sanwani, demikian pria paruh baya ini disapa. Ia warga dusun Merak Dalam, desa Kunjir, kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan. Seperti umumnya warga desa Kunjir, profesi Sanwani juga nelayan.

Desa Kunjir merupakan desa terdampak tsunami yang paling parah. Di desa yang berada di bibir pantai inilah SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) bersama mitra sinerginya mendirikan posko relawan kemanusiaan.

Mitra sinergi SARMMI adalah KAUMY Lampung. Mapasanda STIEM Kalianda. Akbid Wira Buana Metro. Mapala UMRI. Stacia UMJ. Camp STIEM Jakarta. Mapala UMY.

Kembali ke cerita Sanwani. “Sejak dulu setiap hari saya melaut, karena itu satu-satunya mata pencaharian saya untuk menghidupi keluarga. Tetapi sejak ada tsunami, saya tidak melaut. Entah kapan saya melaut lagi,” kata Sanwani bercerita kepada tim relawan SARMMI yang memberikan pendampingan psikososial kepadanya.

 

Pada Sabtu sore (22/12), Sanwani bersama lima rekannya sesama nelayan desa Kunjir pergi ke laut dekat pulau Sebuku. Rombongan kecil ini berangkat pukul tiga petang. Menggunakan tiga buah jukung atau perahu kecil khusus untuk memancing ikan. Jarak dari desa Kunjir ke tujuan adalah satu jam perjalanan jukung.

Di dekat pulau Sebuku, ada pulau Sebesi. Dibalik pulau Sebesi inilah gunung Krakatau dan anaknya berada.

Setibanya di perairan pulau Sebuku, mereka langsung memancing.

“Hari itu cuaca bagus. Tidak ada mendung. Tak ada ombak besar. Juga tak ada suara yang aneh-aneh. Laut tenang. Angin biasa saja. Semuanya normal. Kami malah tak tahu kalau malam itu ada tsunami,” kenang Sanwani.

Setelah semalam di laut dan mendapat hasil cukup banyak, sekitar pukul delapan pagi (23/12), Sanwani dan rombongan kecilnya pulang. Mereka masih belum tahu jika semalam ada tsunami.

Hanya saja, sepanjang perjalanan pulang, mereka merasa aneh melihat begitu banyak ember, sandal, pintu lemari, kayu kasau, jendela, papan dinding rumah, dan perabotan berbahan platik yang terapung memenuhi lautan.

Mereka pikir benda-benda itu adalah sampah. Lantaran masih banyak yang bagus, beberapa “sampah” itu mereka ambil untuk dibawa pulang. Lumayan buat dipakai di rumah.

Mendekati desa Kunjir, Sanwani kembali merasa aneh. Kenapa desa Kunjir menjadi areal terbuka? Warung-warung di sepanjang bibir pantai tak tampak lagi lagi. Apa semalam ada penggusuran?
Setelah sampai di pantai, Sanwani lagi-lagi merasa heran, jam segini biasanya istrinya sudah menunggu untuk membantunya membawa ikan hasil pancingan ke darat. Tetapi sekarang istrinya tak ada disini.

Tiba-tiba ada warga yang berteriak menyuruh Sanwani pulang. Bergegas Sanwani ke rumahnya. Jukung, alat pancing dan ikan, ditinggalnya begitu saja.
Sampai di tujuan, Sanwani tak menemukan rumahnya. Ia hanya melihat puing-puing. Di sana warga dan kerabatnya sudah berkumpul.

Beberapa kerabat Sanwani kemudian menceritakan, sekitar pukul setengah sepuluh tadi malam, atau saat Sanwani mancing di laut, terjadi tsunami Selat Sunda. Desa Kunjir termasuk yang dihantam tsunami. Warung-warung di bibir pantai habis disapu tsunami. Rumah warga dekat pantai banyak yang rata dengan tanah. Termasuk rumah Sanwani.

Mendengar cerita ini Sanwani berusaha tegar, tetapi tembok hatinya runtuh tatkala kerabatnya menyampaikan kabar pilu : istri Sanwani meninggal dunia ditimpa tembok dinding rumah yang ambrol tersorong tsunami. Bibik dan mertua Sanwani juga meninggal dunia. Sedangkan anak terkecil Sanwani luka parah di bagian kening.

Sanwani menangis. Hatinya hancur. Tsunami paling dahsyat seolah baru saja menghantam hati terdalamnya.

Beberapan kerabat berusaha menenangkanya. Tetapi hanya “Istighfar..istighfar..” yang terdengar oleh telinga Sanwani. Seluruh tubuhnya tiba-tiba lunglai. Angin Selat Sunda masih menderu. (Ahyar Stone)

Bekerja Sama dengan SARMMI, Akbid Wira Buana Metro Bantu Korban Tsunami di Kunjir

Bekerja Sama dengan SARMMI, Akbid Wira Buana Metro Bantu Korban Tsunami di Kunjir

Setiap ada bencana alam, Akademi Kebidanan Wira Buana Kota Metro Lampung senantiasa memberikan donasi untuk korban bencana, serta melibatkan dosen dan mahasiswa dalam melakukan aktivitas sosial di camp pengungsian.

Demikian kata, Direktur Akademi Kebidanan (Akbid) Wira Buana, Hikmatul Khoriyah SST, M. Kes, saat menyalurkan bantuan kepada ratusan pengungsi korban tsunami Selat Sunda di desa Kunjir, Rajabasa, Lampung Selatan.(30/12)

Diterangkan pula oleh Hikmatul Khoriyah, kedatangannya ke pengungsian bersama lima belas relawan kemanusiaan Akbid Wira Buana yang terdiri dari dosen dan mahasiswa, selain menyalurkan bantuan berupa sembako, perlengkapan mandi, paket untuk Balita, dan peralatan belajar siswa SD, juga menyelenggarakan pendampingan psikososial atau trauma healing, serta layanan kesehatan untuk anak-anak dan ibu hamil.

“Peristiwa bencana membawa pengaruh besar bagi korbannya. Selain kehilangan harta benda dan jiwa, bencana juga menganggu kesehatan dan fungsi psisosial korban berupa masalah traumatik. Karena itulah relawan kemanusiaan Akbid Wira Buana tak hanya menyalurkan bantuan kebutuhan dasar pengungsi, tetapi juga menyelenggarakan trauma healing dan layanan kesehatan,” papar Hikmatul Khoriyah.

Agar dapat memberikan layanan lebih maskimal kepada korban bencana tsunami, Akbid Wira Buana Metro kemudian bermitra dengan SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) dan beberapa organisasi lain, mendirikan posko relawan kemanusiaan di desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan. Desa Kunjir merupakan salah satu titik yang paling parah dihantam tsunami.
Pada kemitraan, Akbid Wira Buana Metro akan focus pada trauma healing, serta layanan kesehatan untuk anak-anak, ibu hamil dan menyusui.

Sementara itu, ketua tim relawan SARMMI, Zulfahmi Sengaji, mengatakan sangat tepat bermitra sinergi dengan Akbid Wira Buana Metro.

“Untuk menangani dampak bencana, tidak bisa dilakukan sendirian. Tetapi harus melibatkan banyak pihak yang saling bersinergi. Akbid Wira Buana Metro memiliki kemampuan mumpuni dalam trauma healing, dan layanan kesehatan untuk anak-anak, ibu hamil serta menyusui. Kita membutuhkan kemampuan dan pengalaman mereka agar pengungsi dapat cepat pulih dari keterpurukan pasca tsunami,” pungkas Zulfahmi. (by Ahyar Stone/SARMMI)
===
Mitra Sinergi : SARMMI. KAUMY Lampung. Mapasanda STIEM Kalianda. Akbid Wira Buana Metro. Mapala UMRI. Stacia UMJ. Camp STIEM Jakarta. Mapala UMY.

Bermitra Dengan SAR Mapala, KAUMY Lampung Dirikan Posko Relawan di Kunjir

Bermitra Dengan SAR Mapala, KAUMY Dirikan Posko Relawan di Kunjir
Bermitra Dengan SAR Mapala, KAUMY Dirikan Posko Relawan di Kunjir

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) patut bangga. Pasalnya para lulusannya yang berhimpun dalam Keluarga Alumni UMY (KAUMY), dikenal memiliki respon cepat dalam membantu korban bencana alam.

Demikian halnya saat tsunami Selat Sunda menghantam pesisir Lampung Selatan beberapa waktu lalu yang mengakibatkan rumah-rumah di bibir pantai luluh lantak, ratusan korban meninggal dunia, serta ribuan warga mengungsi, KAUMY Lampung langsung bergerak membantu korban tsunami.

“Sejak hari pertama pasca tsunami, KAUMY Lampung mulai menyalurkan bantuan kebutuhan dasar pengungsi fase tanggap darurat,” demikian kata ketua KAUMNY Lampung, Adi Leo Saputra tatkala bersama timnya menemui pengungsi di desa Kunjir. (30/12).

Bantuan yang disalurkan, lanjut Leo Saputra, berupa sembako, obat-obatan, air mineral, tikar, selimut, peralatan makan, perlengkapan ibadah, alat mandi, serta kebutuhan khusus ibu dan anak. Jumlah yang disalurkan disesuaikan dengan pengungsi di tiap-tiap desa.

“Jumlah korban di tiap desa berbeda. Desa yang terdampak paling parah. Jumlah yang kami salurkan lebih banyak, karena pengungsinya lebih banyak,” kata Leo Saputra.

Diterangkan pula oleh Leo Saputra, semua korban tidak mengungsi di satu tempat. Tetapi berpencar. Ada di barak pengungsian seperti gedung sekolah atau balai desa, dan banyak pula yang mengungsi di kebun yang berada di perbukitan ujung desa.

Untuk mempercepat penyaluran bantuan, mulai hari kedelapan pasca tsunami, KAUMY Lampung bermitra dengan SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) dan beberapa organisasi lain, mendirikan posko relawan kemanusiaan di desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Lampung selatan. Desa Kunjir merupakan salah satu titik yang paling parah dihantam tsunami.

“Dengan mendirikan posko relawan di desa terdampak tsunami dan membaur bersama warganya yang menjadi korban bencana, kami lebih paham kebutuhan terkini mereka, serta lebih cepat menjangkau semua pengungsi baik yang terkonsentrasi di barak pengungsian maupun yang di perbukitan ujung desa yang sukar diakses kendaraan bermotor,” pungkas Leo Saputra.

Sementara itu, ketua tim relawan SARMMI, Zulfahmi Sengaji, mengatakan sangat positif bermitra dengan KAUMY Lamoung.

“Anggota KAUMY Lampung memiliki skill dan pengalaman yang beragam. Jaringannya juga luas. Semua itu sangat bermanfaat untuk meringankan beban korban bencana dan mempercepat upaya memulihkan kondisi pengungsi dari keterpurukan pasca tsunami,” terang Zulfahmi. (Ahyar Stone)

***
Mitra Sinergi : SARMMI. KAUMY Lampung. Mapasanda STIEM Kalianda. Akbid Wira Buana Metro. Mapala UMRI. Stacia UMJ. Camp STIEM Jakarta. Mapala UMY.

Zulfahmi : Korban Tsunami yang Menjadi Ketua Tim Relawan Kemanusiaan

Rumah mertua Zulfahmi hancur dihantam tsunami. Ibu mertua Zulfahmi dan neneknya yang malam itu menonton tv, tak kuasa menolak takdir. Keduanya menjadi korban tsunami
Rumah mertua Zulfahmi hancur dihantam tsunami. Ibu mertua Zulfahmi dan neneknya yang malam itu menonton tv, tak kuasa menolak takdir. Keduanya menjadi korban tsunami

Tepat benar pameo, “Bencana alam tak mengenal korbannya,” dialamatkan ke anggota Dewan Pengarah SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI), Zulfahmi Sengaji. Sosok yang berpengalaman di relawan bencana, sekarang malah menjadi korban tsunami.

Saat masih kuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Zulfahmi aktif di Malimpa UMS dan Mapala Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Hingga saat ini – kendati sudah alumni– ia tetap tercatat sebagai anggota luar biasa di dua organisasi pecinta alam tersebut.

Sebagai mahasiswa yang aktif di pecinta alam, Zulfahmi terbiasa terjun ke daerah bencana alam. Baik sebagai rescuer maupun relawan bencana.

Usai kuliah, Zulfahmi berdomisi di desa Kunjir. Kecamatan Rajabasa. Lampung Selatan. Sekarang ia salah seorang pimpinan di STIE Muhammadiyah Kalianda. Lampung Selatan.

Meski begitu, kebiasaan baiknya terjun ke lokasi bencana, tak pernah surut.

Tim SARMMI di depan rumah Zulfahmi. Tiang, dinding, atap, serta semua perabotan lenyap di sapu tsunami. Yang tersisa hanya lantai dan bak kamar mandi yang tinggal separoh.
Tim SARMMI di depan rumah Zulfahmi. Tiang, dinding, atap, serta semua perabotan lenyap di sapu tsunami. Yang tersisa hanya lantai dan bak kamar mandi yang tinggal separuh.

“Setiap ada bencana alam, saya langsung tergerak untuk membantu para korbannya. Tidak ada kata tua atau muda untuk aktif di masalah kemanusiaan,“ begitu kata Zulfahmi suatu ketika.

Atas reputasi, dedikasi, berikut pengalaman panjang Zulfahmi di kebencanaan, sejak tahun 2015 ia diangkat menjadi anggota dewan pengarah SARMMI.

Organisasi kemanusiaan skala nasional itu beranggotakan Mapala di Perguruan Tinggi Muhammadiyah se Indonesia. Kantor pusatnya di kota Solo. Pengurusnya berada di berbagai daerah di tanah air.

Saat tsunami Selat Sunda menghantam pesisir Lampung Selatan (22/12). Zulfahmi kebetulan tak berada di rumahnya di desa Kunjir. Kala itu ia dan keluarga kecilnya sedang di Kalianda. Mereka selamat. Tetapi tidak untuk rumahnya.

Zulfahmi di puing-puing rumah mertuanya.
Zulfahmi di puing-puing rumah mertuanya.

Rumah permanennya yang tepat di bibir pantai, langsung ludes. Tiang, dinding, atap, serta semua perabotan lenyap di sapu tsunami. Yang tersisa hanya lantai dan bak kamar mandi yang tinggal separoh.

Pada saat yang sama, rumah mertua Zulfahmi yang tak jauh dari kediaman Zulfahmi, juga hancur lebur dihantam tsunami. Naasnya lagi, ibu mertua Zulfahmi dan neneknya yang malam itu menonton tv, tak kuasa menolak takdir. Keduanya tewas dalam kondisi mengenaskan.

Sementara adik ipar Zulfahmi – yang juga menonton tv – dapat diselamatkan. Bocah kelas 2 SD ini mengalami luka parah di kening. Sekarang setengah mukanya bengkak, dan masih rawat jalan untuk menyembuhkan keningnya yang ada sepuluh jahitan.

Meski dilanda duka hebat, tetapi Zulfahmi sadar, tak mungkin malam itu juga bergerak ke lokasi bencana di desa Kunjir. Situasinya masih berbahaya.

Esoknya, pagi-pagi benar Zulfahmi bergegas ke desa Kunjir. Setelah melihat sebentar rumahnya yang tak bersisa, Zulfahmi langsung ke titik tempat dimana rumh mertuanya berada.

Sambil meneteskan air mata, Zulfahmi bersama warga setempat memindahkan jenazah keluarganya dan korban lain warga Kunjir untuk diurus sesuai tuntunan agama.

Desa Kunjir merupakan desa terdampak tsunami yang paling parah. Di desa ini SARMMI kemudian mendirikan posko relawan kemanusiaan.

Misi posko adalah siaga SAR untuk mengantisipasi bencana susulan dan menyelenggarakan operasi kemanusiaan guna membantu warga Kunjir dan warga desa di dekatnya. Zulfahmi dipercaya menjadi ketua tim relawan kemanusiaan SARMMI.

“Zulfahmi adalah sosok yang tegar dan berpengalaman menangani korban bencana alam. Ia juga paham daerahnya. Penderitaannya sebagai korban tsunami justru membuatnya makin militan membantu sesama. Ia merupakan figur yang tepat memimpin misi besar ini,” begitu kata ketua umum SARMMI, Slamet Widodo, saat mengangkat Zulfahmi sebagai ketua relawan SARMMI yang _focus area_ di desa Kunjir.

Apa yang dikatakan Slamet Widodo, tidak meleset. Di lapangan, Zulfahmi benar-benar menjadi motor penggerak tim relawan.

Di sisi lain, sebagai korban bencana sebenarnya ia berhak mendapat bantuan. Namun yang terjadi bantuan jatahnya justru diberikannya ke orang lain.

Malah saat namanya tercantum sebagai penerima bantuan, Zulfahmi sendiri yang mencoret namanya. _(Ahyar Stone)_

Tim SARMMI Temukan Jenasah Korban Tsunami Di Lampung Selatan

Satu persatu korban tsunami Selat Sunda, — yang meninggal maupun luka — mulai ditemukan oleh tim rescue. Tsunami terjadi tadi malam sekitar pukul dua puluh satu lebih beberapa menit. (22/12). Akibatnya wilayah pesisir Banten dan pesisir Lampung Selatan, mengalami rusak parah.

Personil SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) bersama anggota Mapasanda STIE Muhammadiyah Lampung Selatan, dua jam pasca tsunami sudah berada di daerah pemukiman terdampak tsunami.

Dalam gelap di tengah suasana warga yang histeris, mereka mencari serta mengevakuasi korban tsunami, sambil asesmen data korban jiwa dan kerusakan akibat tsunami.

Dilaporkan oleh kordinator Tim SARMMI, Sofyan Oktaryanto, untuk efektifas operasi SAR, tim yang beranggota Andi Safryandi, Rona Sahfri, Dedi Sarbela, Rudi Septiawan, Rulyan Padilah, dipecah menjadi dua tim SRU (search rescue unit) dan beroperasi di tempat berbeda.

Di desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, mereka menemukan tiga korban meninggal dan seorang korban selamat dari reruntuhan puing bangunan. Empat korban ini merupakan satu keluarga.

“Kami menemukan korban meninggal bernama Indah. Ia pelajar kelas dua SMA. Adik bungsunya berhasil dikeluarkan dari puing bangunan rumah mereka. Sekarang dirawat intensif di rumah sakit,” kata Sofyan. (23/12)

Kedua orang tua Indah, lanjut Sofyan, juga meninggal dunia. Jenasah mereka ditemukan tim SARMMI sebelum mereka menemukan Indah dan adiknya. Semua jenasah telah dipindahkan ke tempat yang lebih layak.

Terhadap semua korban yang ditemukan, tim SARMMI sudah berkordinasi dengan pihak terkait di daerah setempat.

Hingga berita ini dirilis, Tim SARMMI dan Mapasanda masih beroperasi. Sementara itu, tim SARMMI dari Jakarta, sedang menuju wilayah terdampak tsunami di Banten. (Ahyar Stone/SARMMI)

Tim SARMMI Evakuasi Korban Tsunami di Pesisir Kalianda Lampung Selatan

Tsunami memang datang tak terduga. Demikian kata seorang personil SARMMI, Sofyan Oktaryanto, melaporkan langsung dari lokasi bencana tsunami di Kalianda Lampung selatan. (22/12)

Diceritakan oleh Sofyan, sekitar pukul setengah sepuluh malam ia dan tiga temannya masing-masing Nita, Rian, dan Feri, berada di sebuah dermaga di daerah Kalianda. Tiba-tiba warga berteriak air naik ke darat.

Benar saja, ombak datang seperti mengamuk. Kapal-kapal nelayan yang bersandar diombang-ombang ombak besar yang suaranya mengerikan. Dalam sekejap, air laut memasuki pemukiman. Beberapa rumah langsung roboh. Listrik Padam.

“Semua orang panik. Mereka berlarian menyelamatkan diri. Feri sempat terseret ombak. Namun selamat berkat ia reflek pegangan di pohon. Ia hanya luka memar,” jelas Sofyan.

“Motor saya yang berada di pinggir dermaga, dikepung air. Sangat berbahaya bila saya mengambilnya. Motor saya tinggal. Kami menyelamatkan diri sambil mengingatkan ke semua orang agar menjauh dari tempat ini,” lanjutnya.

Dua jam kemudian air laut mulai surut, Sofyan dan dua personil SARMMI dari Mapasanda STIE Muhammadiyah Kalianda Lampung Selatan, yakni Andi Syafriandi, Rulyan Padilah, masuk ke pemukiman terdampak tsunami di Kalianda.

Mereka dipecah menjadi dua tim dan beroperasi di tempat berbeda.

“Andi Syafriandi bersama timnya menyisir perkampungan di pesisir Kalianda. Bersama warga, mereka evakuasi korban luka-luka ke tempat yang lebih baik,” kata Sofyan.

Saya dan anggota lain, mendata jumlah korban dan kerusakan yang ada. Namun lapor Sofyan, mereka belum dapat bekerja maksimal karena warga masih kuatir ada tsunami susulan. Untuk sementara tercatat dua belas orang yang meninggal dunia.

“Melihat kerusakan yang ada, sangat mungkin jumlah itu bertambah. Tetapi semoga saja tidak,” pungkas Sofyan.

Hingga berita ini diturunkan, Tim SARMMI masih berada di lokasi. (Ahyar Stone/SARMMI)

Pemuda Desa Salua Terinspirasi Menjadi Tim Rescue

Pemuda Desa Salua Terinspirasi Menjadi Tim Rescue

Kedatangan relawan SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) dan mitra sinerginya ke desa Salua, menjadi inspirasi pemuda desa Salua untuk membentuk tim rescue dan tim relawan bencana.

Desa Salua berada di kecamatan Kulawi. Sigi. Dibanding desa-desa sekitarnya, kontur desa Salua memang berbeda.

Desa yang dihuni oleh 1250 jiwa itu, dikelilingi empat sungai yang sama-sama berpotensi banjir.

Bukit-bukit di sekitar desa Salua, pasca gempa ini cenderung mudah longsor.

Kondisi itulah yang membuat desa Salua senantiasa diintai tiga bencana sekaligus. Banjir. Longsor. Gempa.

Tetapi, karena kondisi itu pula relawan SARMMI dan mitra sinerginya, memilih desa Salua sebagai area operasi kemanusiaan pasca gempa 7, 7 Sulawesi Tengah.
Mitra sinergi SARMMI pada operasi kemanusiaan ini adalah Mapala Unmuha. Mapala UMSU. Stacia UMJ. Mapala UMY. Mapalamu Luwuk Banggai. Hiwata UM Palu. Sapta Pala Jakarta. Batara Guru Luwu Timur. Toms. Co Mataram. Waskita Karya Divisi 6 Palembang.

Pemuda Pemudi Menyaksikan Aktifitas Relawan SARMMI Membagikan Sembako

Selama berhari-hari berposko di desa Salua, para relawan diatas mendirikan masjid darurat, memulihkan air bersih, membangun sekolah darurat, membuat emergency toilet, mengaktifkan kegiatan TPA dan SD Inpres, mendirikan dapur umum, memperbaiki jalan, mendistribusikan bermacam-macam kebutuhan korban bencana, dan masih banyak lagi.

Selain itu, saat terjadi dua kali banjir di sungai Salua, serta banjir di sungai Tiwa di desa Tuba, kecamatan Gumbasa, Sigi. Tim relawan diatas langsung menyelenggarakan operasi SAR. Atau pencarian dan penyelamatan.

Kondisi jembatan sungai Salua usai dihantam banjir, kini sudah di bersihkan oleh warga bersama relawan SARMMI

Rupanya kepedulian, kreatifitas, militansi juang, serta kesigapan relawan diatas saat merespon tiga banjir dan bukit-bukit longsor di sekitar Kulawi, menjadi inspirasi pemuda desa Salua untuk tanggap bencana.

“Kami kagum sekaligus terinspirasi oleh relawan. Kami berkeinginan menjadi tim SAR dan relawan bencana. Tapi tak tahu caranya?,” tanya seorang pemuda kepada pengurus SARMMI.

Kepada mereka ketua umum dan sekretaris umum SARMMI, secara bergantian menjelaskan ada perbedaan antara tim rescue dengan relawan.

Menjadi tim SAR, harus melalui pelatihan khusus. Tak bisa sembarang orang.

Sedangkan menjadi relawan bencana bisa dilakukan siapa saja melalui keahliannya, profesinya, hobi, pekerjaannya, atau latar belakangnya.

Seorang guru bisa menjadi relawan sekolah darurat di lokasi bencana. Ibu rumah tangga yang gemar memasak, bisa mendirikan dapur umum di barak pengungsian.

Mereka yang memiliki latar belakang perbengkelan dan pertukangan, dapat membuka bengkel gratis dan membangun hunian darurat.

Tim SAR bisa menjadi relawan bencana. Tetapi tak semua relawan bencana dapat bertindak sebagai tim rescue.

Yang paling baik adalah memiliki kualifikasi SAR dan merangkap relawan bencana.

Melihat desa Salua dan sekitarnya yang rawan bencana, sangat pantas bila pemuda Salua diberi pelatihan rescue, serta diedukasi tentang aktifitas kerelawanan di lokasi bencana.

“Bila terjadi bencana di desa Salua atau di sekitarnya, para pemuda desa Salua dapat langsung bergerak menyelamatkan korban, menjaga agar warga tidak panik, serta menghubungi semua pihak yang terkait dengan bencana,” kata ketua umum SARMMI.

Dengan adanya pemuda siaga bencana, berikutnya adalah menjadikan desa Salua sebagai Desa Tanggap Bencana.

Mendapat penjelasan demikian, para pemuda desa Salua mengaku kian paham dan makin bersemangat.

“Dalam waktu dekat kami akan rapat desa untuk menyiapkan pemuda respon cepat, sehingga tak lama lagi desa kami menjadi desa siaga bencana,” begitu kata pemuda desa Salua.

Untuk SARMMI memberi edukasi kebencanaan kepada korban bencana, bukan kali ini saja.

Hampir di setiap operasi kemanusiannya, SARMMI memberi edukadi dan menjadi inspirasi berbagai pihak.

(By Ahyar Stone / SARMMI)