Kategori: Issues

Kelompok Stacia Hijau yang Mengubah Desa Kami (Bagian 1)

Anggota RTM sedang main musik marawis dan protokol acara.
Anggota RTM sedang main musik marawis dan protokol acara.

Malam itu rumah Abdul Ghofur dipenuhi warga desa Tanjung Burung. Tenda terpal yang didirikan di halaman rumahnya juga dipadati warga. Tamu yang tak kebagian tempat karena datang terlambat, terpaksa duduk di kursi yang diatur berjejer memanjang di kedua sisi jalan raya di depan rumah permanen bercat putih itu. Kediaman Abdul Ghofur ramai tamu karena ia menyelenggarakan walimatus safar.

Walimatus safar adalah tradisi sebagian umat Islam di Indonesia untuk melepas calon jamaah haji atau umroh. Ghofur – demikian lelaki paruh baya itu biasa disapa — menyelenggarakannya karena beberapa hari lagi akan ibadah umroh bersama keluarganya.

Tadi telah dilantunkan salawat yang dipimpin seorang ustad, pertunjukan musik marawis oleh sekelompok remaja, kemudian ceramah agama oleh kyai desa Tanjung Burung. Sekarang adalah acara utama walimatus safar.

Anak-anak desa Tanjung Burung, pulang sekolah bermain di halaman posko tabur mangrove KSH
Anak-anak desa Tanjung Burung, pulang sekolah bermain di halaman posko tabur mangrove KSH

Semua tamu berdiri bersisian membentuk barisan panjang meliuk-liuk tak terputus. Ghofur yang mengenakan kemeja putih sederhana, diiringi keluarganya, berjalan menghapiri tamu-tamunya. Rombongan kecil itu dipimpin seorang ustad yang berjalan paling muka.

Kepada setiap tamunya, Ghofur melakukan ritual yang sama : menyalami, memeluk, pamitan, mohon restu, minta maaf sambil mendo’akan tamunya agar diberi Allah SWT rejeki dan kemudahan untuk melaksanakan ibadah umroh.

Dermaga yang dibangun KSH untuk lokasi penanaman mangrove di muara Cisadane. Dermaga ini dipakai juga oleh nelayan yang hendak melaut, dan tempat anak-anak bermain.
Dermaga yang dibangun KSH untuk lokasi penanaman mangrove di muara Cisadane. Dermaga ini dipakai juga oleh nelayan yang hendak melaut, dan tempat anak-anak bermain.

Mengiringi ritual bersahaja itu, semua tamu melantunkan salawat. Seorang yang berjalan dekat Ghofur, sesekali melempar bunga mawar ke atas yang jatuhnya diarahkan ke Ghofur yang sedang memeluk tamu. Beberapa tamu yang dipeluk Ghofur tampak meneteskan air mata. Suasana religius bercampur haru sangat terasa.

“Panitia pelaksana walimatus safar di rumah bang Ghofur adalah Remaja Tabur Mangrove,” kata Marbawi.

“Yang menjadi protokol dan main music marawis juga anggota Remaja Tabur Mangrove,” tambah Ubay, rekan Marbawi. Dua pemuda ini adalah pengurus Remaja Tabur Mangrove (RTM).

Marbawi dan Ubay lantas bergantian menerangkan, RTM kata mereka, adalah komunitas yang beranggotakan muda-mudi desa Tanjung Burung, kecamatan Teluk Naga, Tangerang. Komunitas ini dipelopori oleh Ghofur yang sekarang menyelenggarakan walimatus safar. Ia juga dipercayai menjadi ketua RTM.

“RTM didirikan tiga tahun silam. Saat itu kegiatannya hanya menanam mangrove di muara sungai Cisadane,” ujar Marbawi.

Kala itu terang Marbawi, hanya bang Ghofur yang memiliki pengetahuan tentang menanam mangrove. Pengalaman dan pengeahuan anggota RTM lain masih terbatas. Dukungan warga yang sangat minim juga membuat upaya RTM menanam mangrove sering menemui kendala, sehingga tak banyak lahan kitis di muara Cisadane yang berhasil mereka hijaukan.

“Situasi itu berubah ketika Kelompok Stacia Hijau datang ke desa kami,” ungkap Marbawi.

Kelompok Stacia Hijau (KSH) didirikan oleh Stacia Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).

Awalnya hanya bertujuan menyelamatkan kawasan pantai di muara Cisadane dengan cara menanam mangrove.

Tetapi semakin jauh melangkah, mereka sadar, menanam mangrove berarti juga harus menyertakan program konservasi, pengelolaan sampah, serta pemberdayaan ekonomi dan budaya warga setempat. Semua ini harus ditangani menyeluruh, berkesinambungan dan tuntas.

KSH kemudian mendirikan home base di desa Tanjung Burung. Pada peristiwa itulah RTM dan KSH bertemu. Lalu bermutualisme.

“KSH datang ke desa kami hampir tiga tahun lalu. Mereka langsung membimbing RTM,” kenang Marbawi.

“Dari KSH kami menjadi mengerti cara berorganisasi dan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan,” tambah Ubay.

Menurut Marbawi dan Ubay, kadang-kadang anggota RTM diajak KSH ke Kampus UMJ dan menginap di rumah anggota senior Stacia. Disana kata keduanya, anggota RTM diskusi panjang lebar tentang banyak hal bersama pengurus KSH. Hasil diskusi, mereka sampaikan ke anggota RTM lainnya. Mereka jadi sama-sama tercerahkan.

KSH juga memotivasi kami untuk gemar membaca dan rajin-rajin membuka internet untuk memperluas pengetahuan. Sekarang hampir semua anggota RTM tahu jenis-jenis mangrove, paham cara menanamnya dan mengerti nilai ekonominya.

Akrab dengan KSH membuat RTM tambah maju. Kegiatan RTM tak lagi sekedar menanam mangrove, tetapi bertambah dengan mendirikan taman bacaan, melahirkan kelompok musik marawis, mengedukasi masyarakat, dan sebagainya, Termasuk sebagai tenaga siap kerja ketika warga desa Tanjung Burung punya gawe, seperti menjadi panitia walimatus safar Ghofur tadi.

“Sekarang RTM telah berhasil mendirikan enam taman bacaan, dan akan terus kami tambah. Sehingga nanti semua warga Tanjung Burung terutama anak-anak, memiliki pengetahuan luas sebagai bekal masa depan mereka,” terang Marbawi.

Warga Sholat di Mushola yang dibangun KSH. Mushola ini tepat di pinggir sungai Cisadane
Warga Sholat di Mushola yang dibangun KSH. Mushola ini tepat di pinggir sungai Cisadane

Posko KSH yang dibangun di pinggir kali Cisadane, kata Marbawi juga difungsikan warga sebagai ruang publik. Disana ada kamar mandi, sarana mencuci, mushola, dermaga, ruang baca, aula serba guna, menara, kursi-kursi dan halaman bersih yang nyaman. Semua itu boleh dimanfaatkan warga.

Posko KSH juga digunakan aparat desa untuk menerima tamu dari luar, termasuk menerima kunjungan pejabat pemerintah.

Di posko KSH, setiap pagi anak-anak mandi dan ibu-ibu mencuci. Siangnya anak-anak pulang sekolah main disana. Sorenya banyak warga yang bercengkrama di Posko KSH. Malam hari posko juga ramai didatangi warga.

“Dulu sesama warga sini kurang akrab, tetapi sejak ada posko KSH yang berfungsi pula sebagai ruang publik, warga akhirnya sering bertemu di posko KSH. Awalnya saling sapa, lalu saling kenal. Sekarang hubungan warga disini sangat akrab dan kompak. Ini membuat kami mudah menjalankan program untuk memajukan desa kami,” kata Marbawi.

“Kepada KSH, warga Tanjung Burung sangat berterima kasih, karena KSH yang mengubah desa kami menjadi lebih baik, berpengetahuan, kompak, ramah lingkungan, dan dikenal orang luar. Semua ini menjadi bekal untuk menyongsong masa depan desa kami,” kata Marbawi menyudahi kisah nyatanya.
(Ahyar Stone. 23/1/19)

Optimis di Ujung Bayan

Lombok(20/09/2018), Sekarang Maulana (25 th) dapat tersenyum lebar. Ia tak lagi dipusingkan oleh aneka masalah yang silih berganti menghampirinya.

Sebelumnya Kepala Dusun Bual ini memang selalu direpotkan oleh sejumlah masalah yang mendera 238 jiwa warga dusunnya, dan itu membuat kepalanya berdenyut-denyut.

Dusun Bual berada di wilayah dusun Bayan. Kecamatan Bayan. Lombok Utara.

Saat gempa 7, 0 SR menggoyang Lombok awal Agustus lalu, dusun paling ujung di Bayan ini porak-poranda.

Lantaran posisi dusun Bual yang terpencil dan hanya dapat dilalui oleh kendaraan roda dua, bantuan yang masuk ke dusun Bual sangat sedikit.

Diceritakan oleh Maulana, sejak fase tanggap darurat hingga fase pemulihan Lombok saat ini, bantuan yang masuk ke dusun Bual hanya dari pihak kepolisian berupa beras dan mie instan.

Puskesmas setempat juga cuma datang sekali mengecek kesehatan warga yang tinggal di tenda-tenda pengungsian.

Selebihnya hanya bantuan dari segelintir pihak yang datang spontanitas membawa bantuan sambil meninggalkan bendera organisasinya. Tetapi tak pernah kembali ke dusun Bual.

Untuk MCK warga dusun Bual memanfaatkan air parit yang mengairi sawah mereka.

Listrik di dusun Bual juga padam, karena Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang menjadi andalan penerangan dusun Bual rusak kena gempa.

“Syukurlah relawan SARMMI datang dan tinggal membaur bersama kami di dusun terpencil yang gelap ini. Kehadiran mereka membuat kami optimis bangkit lebih cepat” ujar Maulana saat menerima kedatangan SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) dan mitra sinerginya. (15/9)

Dusun Bual merupakan titik yang menjadi _focus area_ SARMMI pada operasi kemanusiaan fase pemulihan Lombok. Pada fase tanggap darurat lalu, SARMMI bersama Hizbul Wathan Univ. Muhammadiyah Surakarta (HW UMS) _focus area_ di tiga dusun di Kecamatan Gangga. Lombok Utara.

Di operasi kemanusiaan jilid dua ini, selain HW UMS, berpartisipasi pula Mapala UMSU, Mapala UMSB, Mapasanda STIEM Kalianda, Erdams FKM UMJ, Stacia UMJ, Camp STIEM Jakarta. Mapsa Univ. Muh. Purwokerto, Mapala UMY, Hiwata Univ. Muh. Palu. Serta personil SAR DIY dan relawan Individu.

“Kami optimis karena sekarang kami tidak sendirian lagi menghadapi segala masalah yang muncul akibat gempa,” kata Maulana.

“Para relawan itu selain membantu dan mendampingi kami 24 jam, juga memotivasi, memberi inspirasi, dan mencerdaskan kami dalam mencari solusi,” lanjutnya.

“Kami berharap relawan ini tinggal lebih lama di dusun Bual, karena kehadiran mereka benar-benar bermanfaat,” demikian kata Maulana. (*)

_By : Ahyar Stone. Kord. Relawan._

Tim Relawan

1. Ferry Sandrya. Mapala Univ. Muh. Sumatera Utara/Medan.
2. Zena Desvita Putri Nengsi. Mapala Univ. Muh. Sumatera Barat/Padang
3. Rahmad Fauzi Mapala Univ. Muh. Sumatera Barat/Padang
4. Aditya Jaka Laksana. ERDAMS FKM Univ. Muh. Jakarta/Jakarta
5. Fajar Pamungkas. ERDAMS FKM Univ. Muh. Jakarta /Jakarta
6. Fikran. STACIA Univ. Muh. Jakarta /Jakarta
7. Topik Nugroho. CAMP STIE Muh. Jakarta/Jakarta
8. M. Nurus Salam. CAMP STIE Muh. Jakarta/Jakarta
9. Zulfahmi Sengaji. Mapasanda STIE Muh. Lampung Selatan/Kalianda
10. Handi Abdullah M. Mapsa Univ. Muh. Purwokerto/Purwokerto
11. Kustanto Gendut SAR DIY/Jogja
12. Badarudin. Mapala UMY/Jogja
13. Ahyar Stone. SARMMI/Jogja
14. Fafa. SARMMI/Ungaran
15. Slamet BG. SARMMI/Solo
16. Anshori.SARMMI/Solo
17.  Azhar Fathoni SARMMI/Solo
18. M. ‘Afifi Fauzi. HW Univ. Muh Surakarta/Solo
19. Monica. HW Univ. Muh Surakarta/Solo
20. Syahrawan. Hiwata Univ. Muh. Palu/Palu
21. Sirman Hiwata Univ. Muh. Palu/Palu
22. Zwaeb Laibe. SARMMI/Palopo
23. Jaelani Kurik/SARMMI/Boyolali
24. Aris Munandar/SARMMI/Solo
25. Imam Jaelani/SARMMI/Solo

Relawan Medis SARMMI Temukan TB Paru Di Salah Satu Dusun Wilayah Lombok Utara

Relawan Medis SARMMI Temukan TB Paru Di Salah Satu Dusun Wilayah Lombok Utara

Lombok(19/09/2018), Relawan medis SARMMI yang dipimpin Aditya Jaka Laksana dari _Emergency Respons in Disaster and Medical Servuce_ (ERDAMS) FKM Univ. Muhammadiyah Jakarta. Telah menemukan penderita TB Paru di salah satu dusun, Lombok Utara, NTB (17/10). Hal ini membuat kaget banyak pihak.

TB Paru adalah penyakit menular, yang  menjadi perhatian Nasional dan bahkan Internasional.

Diceritakan oleh Aditya, awalnya ia bersama anggota ERDAMS Fajar Pamungkas, dan Rahmad Fauzi dari Mapala UMSB, sedang _door to door_ mengecek kesehatan semua warga di salah satu dusun tersebut.

Dusun tersebut merupakan dusun terpencil yang porak poranda dihajar gempa 7,0 Agustus lalu.

Di dusun yang hanya bisa diakses kendaraan roda dua inilah SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) _fokus area_ pada operasi kemanusiaan jilid duanya di Lombok Utara.

Selain ERDAMS, bergabung pula di tim operasi tersebut adalah Mapala UMSU. Mapala UMSB. Mapasanda STIEM Kalianda. Stacia UMJ. Camp STIE Muh. Jkt. Mapala UMY. SAR DIY. Hiwata Univ. Muh. Palu.

Disamping siaga medis 24 jam dan penyuluhan kesehatan, mengecek kesehatan warga dengan mendatangi rumah-rumah warga menjadi agenda tiap hari tim medis yang dipimpin Aditya.

Di saat kunjungan itulah Aditya bersama dua rekannya tadi, mendapat informasi dari warga jika di dusun tersebut ada yang sakit, dan belum diketahui penyakitnya

Informasi tadi kemudian di telusuri. Hingga sampailah mereka di kediaman warga berinisial M. Pasien yang sedang berbaring lemah tersebut segera di cek. Ternyata pasien adalah penderita TB.

“Setelah melakukan _anamnesis_ terhadap M, serta mengecek riwayat berobat M empat bulan terakhir di Puskesmas, akhirnya saya menyimpulkan M memang menderita TB Paru dan harus dilakukan upaya medis untuk menyelamatkannya,” terang Aditya.

Menurut Aditya, upaya tersebut harus dilakukan sekarang. Karena warga dusun yang saat ini tinggal di tenda pengungsian dan hunian darurat, sangat rentan tertular.

Selain itu, lanjut Aditya tempat tinggal M yang kurang pencahayaan sinar matahari, sering dimasuki asap perapian, serta perekonominan keluarga M yang minim sehingga M mendekati gizi buruk, dapat membuat M bertambah parah.

Aditya yang didampingi kepala dusun, serta anggota keluarga M, lantas membawa M ke Puskesmas yang biasa dia berobat.

Pihak Puskesmas sangat kaget, karena M bisa lepas dari pengawasan seksama mereka.

Ternyata petugas yang dulu menangani M, sudah pindah. Data tentang M tidak ditinggalkannya.

Padahal pasien seperti M tidak boleh lepas dari pengawasan pihak medis.

Selanjutnya, Aditya membawa M untuk tes dahak ke Puskesmas.

Meski begitu, upaya Aditya menyelamatkan M tak berhenti disitu.

“Menyelamatkan M adalah sekaligus menyelamatkan semua warga dusun dari potensi tertular. Saya akan menghubungi beberapa pihak agar M mendapat perhatian maksimal,” pungkas Aditya. (*)

_By : Ahyar Stone (Kord. Relawan)

*Tim Relawan Posko Dusun Bual. Bayan. Lombok Utara.*

1. Ferry Sandrya. Mapala Univ. Muh. Sumatera Utara/Medan.
2. Zena. Mapala Univ. Muh. Sumatera Barat/Padang
3. Rahmad Fauzi Mapala Univ. Muh. Sumatera Barat/Padang
4. Aditya Jaka Laksana. ERDAMS FKM Univ. Muh. Jakarta/Jakarta
5. Fajar Pamungkas. ERDAMS FKM Univ. Muh. Jakarta /Jakarta
6. Fikran. STACIA Univ. Muh. Jakarta /Jakarta
7. Topik Nugroho. CAMP STIE Muh. Jakarta/Jakarta
8. M. Nurus Salam. CAMP STIE Muh. Jakarta/Jakarta
9. Zulfahmi Sengaji. Mapasanda STIE Muh. Lampung Selatan/Kalianda
10. Handi Abdullah M. Mapsa Univ. Muh . Purwokerto/Purwokerto
11. Kustanto Gendut SAR DIY/Jogja
12. Badarudin. Mapala UMY/Jogja
13. Ahyar Stone. SARMMI/Jogja
14. Fafa. SARMMI/Ungaran
15. Slamet BG. SARMMI/Solo
16. Anshori.SARMMI/Solo
17. Azhar fathoni SARMMI/Solo
18. M. ‘Afifi Fauzi. HW Univ. Muh  Surakarta/Solo
19. Monicha. HW Univ. Muh Surakarta/Solo
20. Syahrawan. Hiwata Univ. Muh. Palu/Palu
21. Sirman Hiwata Unis. Muh. Palu/Palu
22. Sueb Laibe. SARMMI/Palopo

Bual Di Ujung Bayan

Lombok, 12 September 2018. Namanya Dusun Bual, secara administrasi masuk dalam wilayah Desa Bayan, Kecamatan Bayan, Lombok Utara. Dusun yang dihuni sebanyak 69 KK yg terdiri dari 236 jiwa ini letaknya paling timur di ujung Desa Bayan, berbatasan dengan Kabupaten Lombok Timur.

Dari Kota Mataram, ibukota Nusa Tenggara Barat (NTB) jaraknya sekitar 89 KM, dengan waktu tempuh kendaraan sekitar 2,5 jam lebih. Dari kota Tanjung, ibukota Kecamatan Bayan berjarak sekitar 41 KM.

Kondisi jalannya sebagian diaspal, sebagian dibeton. Namun masih ada beberapa kilometer yg masih jalan tanah dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki untuk tiba di RT-1 dan RT-2 Dusun Bual.

Berada pada ketinggian 1.157 Mdpl (di atas permukaan laut) pada punggungan Gunung Rinjani, suhu udara di dusun Bual bisa mencapai angka 19 derajat celcius di malam hari.

Ada tiga kampung yang berada di Dusun Bual ini. Dari tiga kampung tersebut rata rata rumah warga rusak berat saat gempa bumi mengguncang Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, 05 Agustus lalu. “Ada 20 rumah yang ambruk ratah tanah, sementara 60 rumah lainnya rusak berat dan rusak sedang”, ungkap Mulyana, Kepala Dusun Bual saat ditemui di tempat pengungsiannya, Rabu, 12/09, sore.

Semua warga, baik bayi, balita, anak-anak, orang dewasa hingga orang tua, kini bertahan hidup di pengungsuan. Bahkan, ada seorang nenek yang sudah berusia 100 tahun lebih, juga ikut merasakan dinginnya cuaca pegunungan Rinjani di tenda pengungsian.

Warga korban gempa di dusun ini mengungsi di lahan persawan yang tak jauh dari rumah-rumah mereka yang rubuh. Mereka mendirikan tenda tenda darurat yang terbuat dari terpal beralaskan tikar seadanya yang dibuat secara swadaya. “Kita masih butuh tenda atau terpal, juga alas tidur. Sejak gempa, kami hanya menggunakan tenda terpal dan tikar seadanya untuk tidur”, kata Mulyana.

Selain tenda, alas tidur, dan selimut, pengungsi korban gempa di Dusun Bual ini juga membutuhkan makanan bayi, susu bayi, popok, dan kebutuhan bayi lainnya, serta obat-obatan. Pengungsi juga masih sangat butuh bahan makanan seperti beras dan lauk pauk.

Menurut Mulyana, sejak gempa berskala 7,0 SR melululantahkan pemukiman mereka, warganya baru menerima bantuan berupa beras dan mie instan, itupun dari aparat Kepolisian. Selain itu, warga juga baru satu kali mendapat pelayanan medis dari petugas kesehatan Puskesmas setempat. Tak ada relawan yang stay di dusun ini. Kalaupun ada, hanya datang mendata, membawa bantuan ala kadarnya, lalu pergi tak kunjung datang lagi.

Untuk kebutuhan air bersih, cuci dan mandi, mereka memanfaatkan air yang mengalir di sepaniang parit yang mengairi lahan persawahan. “Pipa air yang dari gunung sebagian besar hancur saat gempa”, tandas Mulyana. Sebelum gempa melanda, warga setempat mengkomsumsi air bersih yang bersumber dari pegunungan yang dialirkan melalui pipa sejauh tujuh kilometer.

Dimalam hari warga hanya menggunakan penerangan seadanya. Listrik padam total. Sebuah pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang selama ini menjadi satu-satunya sumber tenaga listrik warga, tak luput dari kerusakan akibat guncangan gempa yang melanda…(ZL)

Kami Akan ke Desa Tetangga

Catatan Relawan Dari Desa Gelap Gulita di Lombok Utara.

Segara Katon adalah salah satu desa yg mengalami kerusakan paling parah karena gempa 7, 0 SR yg menghantam lombok bbrap hari lalu.

Desa itu berada di kec. Segara katon, kab. Lombok utara.

Desa segara katon terdiri dari beberapa dusun. Satu diantaranya adalah dusun Persiapan Bulan Semu.

Di dusun itulah kami, yakni SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) dan HW Univ. Muhammadiyah Surakarta, mendirikan posko relawan.

Kami adalah relawan pertama yang datang ke desa Segara Katon.

Kami tiba disana, rabu tanggal 8 agustus. Pukul 10 malam. Kondisi desa gelap tiba, karena jaringan listrik putus.

Saat kami tiba, pemuda setempat sedang ronda malam bersenjatakan golok dan kayu pemukul. Tentu saja mereka kaget tiba-tiba kampungnya didatangi oleh sekelompok orang yang tak mereka kenal.

Diterangi senter para peronda itulah kami mengenalkan diri dan menyampaikan maksud kami datang, yakni membantu warga mengatasi dampak gempa.

Hal pertama yg kami lakukan setelah memperkenalkan diri dan diterima warga, adalah membuka layanan kesehatan siaga 24 jam.
Para peronda itulah yg menjadi pasien pertama kami.

Besoknya pasien kami terus bertambah. Banyak yg datang bersamaan satu keluarga. Karena bejibun terpaksa mereka antri.

Sebagai “ruang antre”, kami sediakan beberapa bangku panjang terbuat dari kayu bekas kusen yg ditopang batako reruntuhan bangunan.

Hubungan kami dengan warga semakin akrab tiap jamnya.
Kami memang sdh terbiasa berada di daerah baru yg wargany tak satu pun kami kenal.

Kami suka bercanda, rajin menyapa, pandai memotivasi tanpa menggurui, pandai mengajak bukan memerintah, sabar mendengar curhat warga, cerdas menganalisa masalah dan cepat menemukan solusi praktis, rajin ibadah bersama warga tetapi selalu punya kisah lucu yg mengundang tawa warga.

Sekian karakter itulah yg menjadi modal kami. Itu pula yg membuat kami selalu “datang sebagai orang asing, pulang seperti saudara bagi para korban bencana alam”.

Hari kedua kami disini, (jumat10 agustus) sekolah darurat dan TPA sdh kami dirikan. Tempatnya di halaman posko kami.
Sebagian dari kami gantian jadi guru dan ustad.

Kendati terkesan serius, tapi para murid kami sangat bersemangat dan ceria, karena kami mengajar dg methode game lucu yg melibatkan interaksi antar siswa.

Usai jumatan, masih di masjid darurat, kami rapat bersama warga.

Selain membahas rencana gotong royong membuat hunian darurat, (dan semua warga mendukung), kami jg memaparkan visi misi sekolah darurat dan TPA yg kami dirikan.

Paparan kami menguggah warga yg profesinya guru dan ustad. Mereka akan membantu kami.

“Saya guru ngaji disini. Tapi sejak gempa, saya drop. Mas-mas dari Jawa yg berinisiatif mendirikan TPA dan sekolah darurat, membuat semangat saya bangkit. Saya akan ikut mengajar bersama kalian,” begitu kata seorang warga.

Usai rapat, kami mengutus dua anggota ke desa tetangga. Informasi yg kami dapat, desa itu blm maksimal tersentuh bantuan karena terisolir.

Hasil assesment tersebut di dapat kesimpulan, warga disana mengalami krisis air karena saluran air putus akibat gempa.

Area pipa putus berada di tebing yg rawan longsor, warga takut kesana.

Kami terlatih vertical rescue. Jadi Kami yg akan turun dan memasang pipa.

Kami jg yg akan mencarikan pipanya. Uangnya dari sumbangan teman-teman. (Bisa jd uang itu donasi anda, pembaca pesan ini. Semoga itu jd amal jariah anda. Aamiin)

Desa itu bernama Jelitong, kec. Gangga dan desa Salut, kec. Kayangan.

Selain pipa tadi, kesehatan, pendidikan, pangan, dan hunian darurat, juga jd masalah di dua desa tersebut.

Rapat internal kami sesama relawan, menyepakati : dua desa tersebut akan jd fokus area kami.

Artinya kami juga akan mendirikan sekolah darurat, tpa, siaga medis 24 jam, dan mengajak warga gotong royong membuat hunian darurat, dan sebagainya.

Ohya… selama kami disini, tiap beberapa jam ada gempa. Kendati skala kecil, tapi cukup berasa.

Saya menulis ini jam 3 pagi. Saya terbangun karena ada gempa. Saya tidak tidur lagi sekalian nulis menunggu subuh. (Ahyar Stone. Kord. Posko relawan)

***
Tim Relawan :
1. Ahyar Stone (SARMMI/ jogja)
2. Slamet Widodo (SARMMI/ solo)
3. M. Risqi (HW UMS/solo)
4. M. Afifi (HW UMS/solo)
5. Itsna Rosada (HW UMS/ solo)
6. Gendut (SAR DIY/jogja)
7. Zwaeb (SARMMI/palopo)
8. Badar (SARMMI/ mataram)

Note :
No. 5 adalah satu2nya perempuan. Dia andalan kami di bidang medis. Semangatnya luar biasa. Kami semua kagum.

Rinanto : Saya Ingin Menjadi Pribadi yang Bermanfaat

Untuk ukuran postur mahasiswa, postur aktivis pecinta alam bernama Rinanto ini, tidak termasuk tinggi. Alias masuk kategori rata-rata. Tetapi soal aktivitas di kampus, Antok – demikian Rinanto akrab disapa – memilik jam terbang tinggi, alis diatas level rata-rata mahasiswa era kekinian.

Seolah tak ingin membuang waktu, sejak semester awal menimba ilmu di Ushuludin Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Antok langsung masuk Unit Tapak Suci UMS. Kemudian, pemuda asal desa Ujung Sari, Wonotunggal, Batang, Jawa Tengah ini, bergabung di  Hizbul Wathan (HW). Lalu ikut Malimpa.

Di Malimpa, prestasi anak pasangan Wajari dan Tarmunah ini termasuk mentereng. Tatkala masih anggota muda – posisi terbawah di jenjang keanggotaan Malimpa – Antok yang baru sekali mendaki gunung, yaitu Lawu, terpilih mewakili Malimpa mengikuti ekspedisi gabungan mendaki puncak gunung tertinggi di Indonesia, Cartensz Pyramid di Papua.

Untuk Malimpa, keinginan mengirim anggota ke puncak salju yang merupakan salah satu gunung  Sevent Summits dunia, telah dirintis sejak tahun 1992. Harapan tinggi itu baru terwujud dua puluh tahunan kemudian, ketika Antok berhasil berdiri gagah sambil mengibarkan bendera Malimpa di puncak buruan para pendaki dunia tersebut.

Sebagaimana laiknya pendaki hebat yang kian rendah hati usai mendaki gunung-gunung ekstrim, demikian halnya dengan anak tertua dari dua bersaudara ini.  Berhasil menggapai puncak  tertinggi, tidak lantas membuat Antok tinggi hati. Ia justru mengagumi para senior Malimpa-nya.

“Yang hebat bukan saya, tetapi para senior saya di Malimpa. Para senior yang sebagian besar belum saya kenal, berjuang habisa-habisan untuk saya, dan mempercayakan impian puluhan tahun mereka ke pundak saya. Tanpa mereka saya tidak akan berada di puncak Cartensz. Mereka yang lebih pantas dikagumi”, kata Antok

Pasca mendaki Cartensz,  Intensitas keaktifan Antok di Malimpa meningkat drastis. Tetapi aktivitasnya berlatih jurus – jurus indah bela diri dengan sesama pendekar muda tapak suci, dan mengasah kemampuan di organisasi kepanduan, tetap dijaganya dengan baik.

Aktif di tiga unit kegiatan mahasiswa secara serempak, bukan berarti hari-hari dalam hidup antok cuma berkutat seputar kuliah dan kegiatan mahasiswa. Antok juga harus bekerja paruh waktu untuk menafkahi hidup dan membiayai kuliahnya.

“Menjadi mahasiswa yang aktivis kampus dari keluarga ekonomi pas-pasan memang berat. Tetapi semua itu tidak membuat saya kehilangan semangat untuk menjadi pribadi yang bermanfaat”,  ujar Antok.

Agaknya ingin “Menjadi pribadi yang bermanfaat”, bukan sekedar semboyan hidup pemanis obrolannya. Antok benar-benar melakukannya dengan militansi tinggi. Atas dasar “Menjadi pribadi yang bermanfaat”, beberapa kali Antok harus pindah tempat kerja. Antok rela terseok-seok mencari kerja baru lantaran pekerjaan lama bentrok dengan jadwal kuliah dan kegiatannya di HW, Tapak Suci, dan Malimpa.

Usai menjadi Pengurus di Tapak Suci, dan Ketua Umum HW UMS, Antok terpilih menjadi Ketua Umum Malimpa. Lepas dari memimpin Malimpa, Antok menjadi pengurus BEM UMS. Pada saat yang sama, Antrok juga aktif di Vertical Rescue Indonesia.

Di organisasi yang dipimpin pemanjat tebing International Tedy Ixdiana ini, Antok dipercaya membawahi Vertical Rescue area Jateng DIY. Selain itu, Antok terpilih menjadi Pengurus Pusat HW. Antok juga sering menjadi narasumber aneka kegiatan mahasiswa atau lembaga-lembaga sosial di Solo dan sekitarnya. Pergaulan Antok luas. Temannya ada dimana-mana. Tetapi Antok tetap rendah hati.

Di era kepemimpinan Antok, Malimpa meraih banyak prestasi mengagumkan. Di era Antok pula, Malimpa menandatangani rekomendasi Jambore Malang 2013, tentang mendirikan SAR Mapala PTM.

“Dulu saya menandatangani rekomendasi Malang, sebagai Ketua Umum Malimpa. Makanya diawal berdirinya SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI), kendati sudah mantan Ketua Umum, saya langsung terlibat aktif”, kenang Antok.

“SARMMI adalah impian aktivis Mapala PTM sejak belasan tahun lalu. Saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk ikut bahu membahu mewujudkan impian lama itu”, papar Antok.

Hari Sabtu lalu (11/3). Antok Wisuda sebagai Sarjana Agama (S Ag) di UMS. Kepada beberapa pengurus SARMMI yang datang mengucapkan selamat, Antok mengatakan akan tetap mengurus SARMMI.

“Dengan lulus kuliah, saya bisa lebih leluasa mengurus SARMMI sebagai anggota Divisi Operasional. Selembar ijasah sarjana tidak akan membuat aktifitas kemanusiaan saya terhenti. Justru kian melebarkan kesempatan saya menjadi pribadi yang bermanfaat bagi siapapun”, ungkap Antok penuh semangat. (Fafa dan AS)