Kategori: Kegiatan

Kelompok Stacia Hijau yang Mengubah Desa Kami (Bagian 2. Habis)

Salah satu dermaga yang dibangun KSH di tepi sungai Cisadane, desa Tanjung Burung.

Mobil yang ditumpangi tiga pengurus Kelompok Stacia Hijau (KSH), baru saja masuk halaman posko tabur mangrove KSH desa Tanjung Burung, kecamatan Teluk Naga, Tangerang. Bocah-bocah yang sedang bermain disana langsung menyapa.

“Om Fatih, om Roy, mbak Dine, kok lama nggak kesini?” tanya seorang bocah.

“Tiga hari lalu om kesini sayang,” jawab lelaki yang dipanggil om Roy.

Seolah tak hirau kebenaran jawaban Roy, bocah-bocah itu berebut menyalami tiga pengurus KSH yang masing-masing Moh. Al Fatih, Roy Nurdin, dan Dine.

Usai menyalami, sekelompok bocah usia SD itu kembali melanjutkan aktivitasnya. Ada yang main petak umpet, membaca, dan main tebak-tebakan benda di genggaman di tangan. Mereka sangat ceria.

“Anak-anak, remaja, dan para orang tua di desa ini, sangat dekat dengan kami. Tetapi kedekatan ini tidak dibangun dalam sehari. Perlu waktu yang tidak sebentar,” kata Roy Nurdin sambil menurunkan barang bawaan dari mobil.

Fatih kemudian mengisahkan sedikit latar belakang KSH berkiprah di Desa Tanjung Burung.

“Awalnya Stacia hanya berniat fokus menyelamatkan kawasan muara dengan cara menanam mangrove. Tetapi semakin jauh melangkah kami melihat masalah disini sangat kompleks dan saling berkaitan,” terang Fatih.

Menanam mangrove lanjut Fatih, juga harus menyertakan kegiatan konservasi, penanganan sampah, serta pemberdayaan ekonomi dan budaya masyarakat setempat. Sungai Ciliwung juga harus dinormalisasi.

Semua persoalan itu harus ditangani menyeluruh dan berkesinambungan. Akan percuma rajin menanam mangrove tetapi abai terhadap sampah.

Sampah adalah musuh tanaman mangrove, karena sering menyangkut di mangrove muda yang baru ditanam lalu menyeretnya ke laut lepas.

“Kompleksitas itulah yang membuat keluarga besar Stacia kian termotivasi, dan itulah dasar dibentuknya KSH,” kata Fatih.

Untuk sampai ke lokasi penanam mangrove di muara Cisadane, KSH perlu memiliki dermaga dan sarana fisik lainnya.

KSH lantas membangun dermaga, aula, mushola, MCK dan sarana lain di tepi sungai Ciliwung yang berada di wilayah desa Tanjung Burung.

“Lambat laun kami dengan warga saling kenal. Sekarang hubungan KSH dengan warga desa Tanjung Burung sangat akrab dan saling memberi manfaat,” lanjut Fatih.

Hari itu, tiga pengurus KSH hendak mengecek tanaman mangrove mereka di muara sungai Cisadane. Marbawi dan dua temannya sudah menyiapkan perahu untuk membawa mereka kesana.

Perahu yang dikemudikan Marbawi, suara mesinnya sangat berisik. Tetapi lajunya lambat. Sampah yang memenuhi sungai Cisadane menjadi penghambat perjalanan mereka.

Berkali-kali Marbawi mematikan mesin perahu. Lalu temannya yang berada di belakang perahu, jongkok untuk mengambil sampah yang menyangkut di baling-baling.

“Lihatlah sampai yang hanyut di sungai Cisadane. Tiap hari jumlahnya bisa berton-ton. Bayangkan bila setahun, berapa ton sampah masuk ke laut?” kata Roy Nurdin sambil menunjuk segala macam benda buangan dari warga hulu sungai.

“Dari Tanjung Burung ke muara, normalnya setengah jam. Tapi kalau sampah banyaknya seperti ini, perjalanan bisa lebih lama,” timpal Marbawi.

Sepanjang perjalanan, Roy Nurdin menceritakan, dua tahun lebih KSH berkiprah, sedikit banyak telah membawa hasil. Namun mereka belum puas, karena gagasan besar yang hendak diujudkan belum tercapai sepenuhnya.

“Salah satu target besar kami adalah menjadikan kawasan tabur mangrove sebagai objek wisata edukasi. Para pengunjung dapat sekaligus menikmati alam, mendengar suara burung liar, mengerti perlunya penyelamatan kawasan muara, serta ikut menanam mangrove di lahan yang disediakan,” kata Roy Nurdin.

Sementara itu, disela-sela kesibukannya menjalankan mesin perahu, sesekali Marbawi menyapa nelayan berperahu besar yang berpapasan dengan mereka.

Menurut Marbawi, nelayan berperahu besar itu pulang dari menangkap ikan di laut. Sedangkan yang berperahu kecil, menangkap ikan di sungai Cisadane. Kehadiran perahu kecil itu baru terlihat sekitar setengah tahun terakhir.

“Lihat nelayan berperahu kecil itu. Saya kenal. Sudah bertahun-tahun tak terlihat. Baru sekarang dia menangkap ikan lagi. Ini membuktikan sungai Cisadane mulai ada ikannya. Dulu tidak ada ikan, karena kawasan mangrove rusak parah,” ujar Marbawi.

Kawasan yang ditanami mangrove oleh KSH adalah delta di Muara Cisadane yang luasnya belasan hektar. Delta ini menurut Fatih, adalah bukti bahwa reklamasi pantai yang terjadi secara alamai, justru lebih dahsyat dari reklamasi buatan manusia.

“Daratan itu terbentuk dari lumpur gunung di daerah hulu yang hanyut, kemudian menyatu dengan ratusan ton sampah yang telah memenuhi sungai,” kata Fatih memjelaskan.

Di kawasan tabur mangrove, KSH sudah membangun dermaga perahu, pondok, dan fasilitas lain untuk pembibitan mangrove. Areal sungai dekat dermaga dipasang pagar bambu untuk melindungi mangrove muda yang baru ditanam dari terjangan sampah.

Cara itu ternyata sangat efektif, karea berfungsi pula untuk menahan sampah agar tak memasuki area pembibitan, dan lahan-lahan yang hendak ditanami mangrove.

Sesampanya di kawasan tabor mangrove, Fatih langsung meninjau pohon-pohon mangrove yang pertama kali ditanam KSH. Lebih dari dua tahun lalu kata Fatih, kawasan ini hanya genangan air yang dipenuhi sampah. Kini kawasan itu sudah hijau, karena mangrove yang ditanam KSH sudah besar-besar.

“Burung juga sudah bersangkar di pohon-pohon mangrove. Kepiting dan udang sudah banyak. Ini menandakan kawasan yang tadinya kritis sekarang, sekarang habitatnya sudah mulai pulih,” ungkap Fatih.

Sebenarnya terang Fatih, dulu kawasan ini tak semuanya kritis. Ada beberapa bagian yang ditumbuhi mangrove ukuran besar. Tetapi ditebangi petani tambak karena menganggap hutan mangrove adalah habitat burung.

“Burung-burung memangsa bibit ikan di tambak. Bagi petani burung itu adalah predator,” kata Fatih.

Untuk itulah KSH memberi pemahaman ke petani tambak agar tidak menebang pohon mangrove. Mengusir burung dapat dilakukan dengan cara membuat orang-orangan seperti petani di sawah. Nantinya burung akan mencari ikan di sungai.

Agar kelangsungan hidup burung terjaga, RTM melarang pengunjung menembak burung.

Menanami belasan hektar kawasan di muara Cisadane, tentu butuh biaya besar. Biaya jelas Roy Nurdin, berasal dari swadaya pengurus KSH, dermawan, dan dengan mengundang siapa saja yang tertarik menanam mangrove di area khusus.

Proses membuat area khusus, dimulai dari pengeringan genangan air, lalu diuruk. Setelah menjadi pulau kecil, KSH mengundang beberapa pihak untuk menanaminya. Pulau kecil itu akan diberi nama yang penanamnya.

“Salah satu pulau kami dinamai Niriwest Island, karena artis terkenal Nirina Zubir dan temannya memesan pulau untuk mereka tanami,” jelas Roy Nurdin.

Pembuatan pulau kecil dikerjakan oleh anggota RTM. Bibit mangrove yang ditanam juga berasal dari anggota RTM.

“Selain mengubah kawasan kritis di muara menjadi hutan mangrove dan mengembalikan fungsi alaminya, KSH secara langsung juga memberi manfaat ekonomi bagi warga Tanjung Burung. Seperti dengan membeli bibit mereka dan memberi insentif pembuatan pulau kecil itu,” lanjut Roy Nurdin.

Keterangan Roy Nurdin dibenarkan oleh Marbawi, malah kata Marbawi dengan adanya kawasan tabur mangrove KSH, Mereka juga dapat menyewakan perahu ke wisatawan dan menyediakan souvenir. Anggota RTM juga berencana membuat kuliner khas desa Tanjung Burung yang berasal dari olahan mangrove.

“Buah mangrove jenis pidada bisa dibuat bolu. Mangrove jenis api-api buahnya bisa untuk dodol dan onde-onde. Potensi ini akan kami garap serius. Agar berhasil tentu saja kami perlu pendampingan dari KSH,” jelas Marbawi.

Hari telah senja. Saat rombongan KSH bersiap-siap meninggalkan muara, terdengar teriakan merdu sepasang burung yang saling kejar di dahan mangrove api-api.

Bisa jadi itu ekspresi kegirangan mereka menyambut anaknya yang baru menetas dan bakal hidup tenteram disana.

Kawasan mangrove KSH memang untuk rumah anak dan cucu pasangan burung yang berbahagia itu.
(Ahyar Stone. 23/1/2019)

 

Fasilitas untuk pengunjung.
Niriwest Island milik artis terkenal Nirina Zubir
Sebelah kanan Fatih, kelompok mangrove KSH yang berumur dua tahun lebih.
Salah satu fasilitas untuk pengunjung yang dibangun KSH.
Roy Nurdin memeriksa bibit mangrove.
Dilindungi pagar bambu, mangrove muda bisa tumbuh baik karena dilindungi dari terjangan sampah yang hanyut di sungai Cisadane.
Pagar bambu yang didirikan KSH untuk melindungi mangrove muda dari sampah.
Fatih tiba di dermaga KSH di muara Cisadane. Diikuti Marbawi.
Dermaga tabur mangrove KSH di muara sungai Cisadane.
Setelah lama tak kelihatan, nelayan ini kembali menangkap ikan di sungai Cisadane.
Sampah yang memenuhi sungai Cisadane, menghambat perjalanan perahu nelayan.

Kelompok Stacia Hijau yang Mengubah Desa Kami (Bagian 1)

Anggota RTM sedang main musik marawis dan protokol acara.
Anggota RTM sedang main musik marawis dan protokol acara.

Malam itu rumah Abdul Ghofur dipenuhi warga desa Tanjung Burung. Tenda terpal yang didirikan di halaman rumahnya juga dipadati warga. Tamu yang tak kebagian tempat karena datang terlambat, terpaksa duduk di kursi yang diatur berjejer memanjang di kedua sisi jalan raya di depan rumah permanen bercat putih itu. Kediaman Abdul Ghofur ramai tamu karena ia menyelenggarakan walimatus safar.

Walimatus safar adalah tradisi sebagian umat Islam di Indonesia untuk melepas calon jamaah haji atau umroh. Ghofur – demikian lelaki paruh baya itu biasa disapa — menyelenggarakannya karena beberapa hari lagi akan ibadah umroh bersama keluarganya.

Tadi telah dilantunkan salawat yang dipimpin seorang ustad, pertunjukan musik marawis oleh sekelompok remaja, kemudian ceramah agama oleh kyai desa Tanjung Burung. Sekarang adalah acara utama walimatus safar.

Anak-anak desa Tanjung Burung, pulang sekolah bermain di halaman posko tabur mangrove KSH
Anak-anak desa Tanjung Burung, pulang sekolah bermain di halaman posko tabur mangrove KSH

Semua tamu berdiri bersisian membentuk barisan panjang meliuk-liuk tak terputus. Ghofur yang mengenakan kemeja putih sederhana, diiringi keluarganya, berjalan menghapiri tamu-tamunya. Rombongan kecil itu dipimpin seorang ustad yang berjalan paling muka.

Kepada setiap tamunya, Ghofur melakukan ritual yang sama : menyalami, memeluk, pamitan, mohon restu, minta maaf sambil mendo’akan tamunya agar diberi Allah SWT rejeki dan kemudahan untuk melaksanakan ibadah umroh.

Dermaga yang dibangun KSH untuk lokasi penanaman mangrove di muara Cisadane. Dermaga ini dipakai juga oleh nelayan yang hendak melaut, dan tempat anak-anak bermain.
Dermaga yang dibangun KSH untuk lokasi penanaman mangrove di muara Cisadane. Dermaga ini dipakai juga oleh nelayan yang hendak melaut, dan tempat anak-anak bermain.

Mengiringi ritual bersahaja itu, semua tamu melantunkan salawat. Seorang yang berjalan dekat Ghofur, sesekali melempar bunga mawar ke atas yang jatuhnya diarahkan ke Ghofur yang sedang memeluk tamu. Beberapa tamu yang dipeluk Ghofur tampak meneteskan air mata. Suasana religius bercampur haru sangat terasa.

“Panitia pelaksana walimatus safar di rumah bang Ghofur adalah Remaja Tabur Mangrove,” kata Marbawi.

“Yang menjadi protokol dan main music marawis juga anggota Remaja Tabur Mangrove,” tambah Ubay, rekan Marbawi. Dua pemuda ini adalah pengurus Remaja Tabur Mangrove (RTM).

Marbawi dan Ubay lantas bergantian menerangkan, RTM kata mereka, adalah komunitas yang beranggotakan muda-mudi desa Tanjung Burung, kecamatan Teluk Naga, Tangerang. Komunitas ini dipelopori oleh Ghofur yang sekarang menyelenggarakan walimatus safar. Ia juga dipercayai menjadi ketua RTM.

“RTM didirikan tiga tahun silam. Saat itu kegiatannya hanya menanam mangrove di muara sungai Cisadane,” ujar Marbawi.

Kala itu terang Marbawi, hanya bang Ghofur yang memiliki pengetahuan tentang menanam mangrove. Pengalaman dan pengeahuan anggota RTM lain masih terbatas. Dukungan warga yang sangat minim juga membuat upaya RTM menanam mangrove sering menemui kendala, sehingga tak banyak lahan kitis di muara Cisadane yang berhasil mereka hijaukan.

“Situasi itu berubah ketika Kelompok Stacia Hijau datang ke desa kami,” ungkap Marbawi.

Kelompok Stacia Hijau (KSH) didirikan oleh Stacia Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).

Awalnya hanya bertujuan menyelamatkan kawasan pantai di muara Cisadane dengan cara menanam mangrove.

Tetapi semakin jauh melangkah, mereka sadar, menanam mangrove berarti juga harus menyertakan program konservasi, pengelolaan sampah, serta pemberdayaan ekonomi dan budaya warga setempat. Semua ini harus ditangani menyeluruh, berkesinambungan dan tuntas.

KSH kemudian mendirikan home base di desa Tanjung Burung. Pada peristiwa itulah RTM dan KSH bertemu. Lalu bermutualisme.

“KSH datang ke desa kami hampir tiga tahun lalu. Mereka langsung membimbing RTM,” kenang Marbawi.

“Dari KSH kami menjadi mengerti cara berorganisasi dan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan,” tambah Ubay.

Menurut Marbawi dan Ubay, kadang-kadang anggota RTM diajak KSH ke Kampus UMJ dan menginap di rumah anggota senior Stacia. Disana kata keduanya, anggota RTM diskusi panjang lebar tentang banyak hal bersama pengurus KSH. Hasil diskusi, mereka sampaikan ke anggota RTM lainnya. Mereka jadi sama-sama tercerahkan.

KSH juga memotivasi kami untuk gemar membaca dan rajin-rajin membuka internet untuk memperluas pengetahuan. Sekarang hampir semua anggota RTM tahu jenis-jenis mangrove, paham cara menanamnya dan mengerti nilai ekonominya.

Akrab dengan KSH membuat RTM tambah maju. Kegiatan RTM tak lagi sekedar menanam mangrove, tetapi bertambah dengan mendirikan taman bacaan, melahirkan kelompok musik marawis, mengedukasi masyarakat, dan sebagainya, Termasuk sebagai tenaga siap kerja ketika warga desa Tanjung Burung punya gawe, seperti menjadi panitia walimatus safar Ghofur tadi.

“Sekarang RTM telah berhasil mendirikan enam taman bacaan, dan akan terus kami tambah. Sehingga nanti semua warga Tanjung Burung terutama anak-anak, memiliki pengetahuan luas sebagai bekal masa depan mereka,” terang Marbawi.

Warga Sholat di Mushola yang dibangun KSH. Mushola ini tepat di pinggir sungai Cisadane
Warga Sholat di Mushola yang dibangun KSH. Mushola ini tepat di pinggir sungai Cisadane

Posko KSH yang dibangun di pinggir kali Cisadane, kata Marbawi juga difungsikan warga sebagai ruang publik. Disana ada kamar mandi, sarana mencuci, mushola, dermaga, ruang baca, aula serba guna, menara, kursi-kursi dan halaman bersih yang nyaman. Semua itu boleh dimanfaatkan warga.

Posko KSH juga digunakan aparat desa untuk menerima tamu dari luar, termasuk menerima kunjungan pejabat pemerintah.

Di posko KSH, setiap pagi anak-anak mandi dan ibu-ibu mencuci. Siangnya anak-anak pulang sekolah main disana. Sorenya banyak warga yang bercengkrama di Posko KSH. Malam hari posko juga ramai didatangi warga.

“Dulu sesama warga sini kurang akrab, tetapi sejak ada posko KSH yang berfungsi pula sebagai ruang publik, warga akhirnya sering bertemu di posko KSH. Awalnya saling sapa, lalu saling kenal. Sekarang hubungan warga disini sangat akrab dan kompak. Ini membuat kami mudah menjalankan program untuk memajukan desa kami,” kata Marbawi.

“Kepada KSH, warga Tanjung Burung sangat berterima kasih, karena KSH yang mengubah desa kami menjadi lebih baik, berpengetahuan, kompak, ramah lingkungan, dan dikenal orang luar. Semua ini menjadi bekal untuk menyongsong masa depan desa kami,” kata Marbawi menyudahi kisah nyatanya.
(Ahyar Stone. 23/1/19)

SARMMI dan Mitra Sinerginya Resmi Mengakhiri Operasi Kemanusiaan di Desa Kunjir Lampung Selatan

Sabtu malam, 22 Desember 2018, terjadi tsunami di Selat Sunda. Beberapa jam pasca tsunami, SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) menggelar operasi SAR dengan mengirim SRU (Search Rescue Unit) ke desa Kunjir, kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan. Operasi SAR dikordinir oleh personil Mapasanda STIE Muhammadiyah Kalianda, Lampung Selatan.

SRU bersama warga setempat berhasil menemukan tiga korban meninggal dunia, mengevakuasi warga yang luka-luka, serta membantu menyingkirkan puing-puing bangunan.

Setelah menyelesaikan operasi SAR. Tanggal 27 Desember 2018, SARMMI menyelenggarakan operasi kemanusiaan dengan mendirikan posko relawan kemanusiaan yang _focus area_ di desa Kunjir. Operasi kemanusiaan dikordinir oleh Pengurus Pusat SARMMI.

Selain desa Way Muli, desa Kunjir – dua desa ini bersebelahan dan sama-sama berada di bibir pantai pesisir Lampung Selatan — adalah desa yang paling parah kena tsunami Selat Sunda. Inilah alasan SARMMI menyelenggarakan secara serial operasi SAR dan operasi kemanusiaan di desa Kunjir.

Pada perkembangannya, terdapat 26 tim relawan dari berbagai lembaga yang bergabung sebagai mitra sinergi SARMMI di posko relawan kemanusiaan. Mitra sinergi adalah model kerja sama setara untuk saling menguatkan. Mereka adalah :

Stacia Univ. Muh (UM) Jakarta. HW UMJ. Camp STIEM Jakarta. Mapsa UM Purwokerto. Mapala UMY. Keluarga besar Malimpa UM Surakarta. Mapala UMRI. Mapala UM Sumatera Barat. Mapasanda STIEM Kalianda. Umpala UM Lampung. Mohuyula UM Gorontalo. Mapala Sekabuten Asahan. Mapanjala FH Univ. Pajajaran Bandung.

KAUMY Lampung. Akbid Wirabuana Metro. Relawan UM Metro. Crisis Centre Fak. Psikologi UM Lampung. MDMC Lampung Selatan. MDMC Pekanbaru. Lazismu Pekanbaru. MDMC Sumatera Barat.

Waskita Divisi 6 Palembang. Fanindo Lampung. YLKI Pekanbaru. Jembatan Kebaikan Ummah Pekanbaru. Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia (ILMPI).

Melihat kondisi desa Kunjir yang beranjak kondusif, tanggal 31 Januari 2019, SARMMI dan mitra sinerginya secara resmi mengakhiri operasi kemanusiaan di desa Kunjir. Dengan demikian segala aktivitas di posko relawan kemanusiaan di desa Kunjir dinyatakan selesai.

Selama 35 hari menyelenggarakan operasi kemanusiaan di desa Kunjir, kegiatan yang diselenggarakan SARMMI dan mitra sinerginya adalah sebagai berikut :

1. Siaga SAR 24 Jam
Diselenggarakan untuk mengantisipasi bencana susulan. Mengirim informasi kondisi terkini desa Kunjir kepada pihak-pihak yang memerlukan. Mengedukasi warga tentang kebencanaan. Juga melatih warga desa Kunjir menjadi relawan kemanusiaan dengan cara melibatkan beberapa orang warga Kunjir sebagai anggota posko relawan kemanusiaan.

2. Siaga Medis 24 Jam
Selain _stand by_ di posko untuk melayani warga yang datang berobat, tim medis proaktif mendatangi warga desa Kunjir yang memerlukan pertolongan medis segera. Mengadakan penyuluhan kesehatan. Melakukan pusat kesehatan masyarakat keliling (Puskel), yakni  door to door mengecek kesehatan warga desa Kunjir dan warga desa lain. Serta memberikan pelatihan singkat kepada keluarga korban luka tentang cara merawat luka secara baik dan benar sesuai prosedur medis.

3. Dapur Umum 24 jam
Dibuka untuk melayani kebutuhan konsumsi semua orang. Baik pengungsi, sesama relawan, aparat, maupun masyarakat umum yang melewati desa Kunjir. Setiap hari menunya berbeda. Bentuk layanan adalah makan dan minum di tempat, tetapi diperbolehkan bagi yang memerlukan untuk dibawa pulang.

4. Pendampingan Psiko Sosial
Ditujukan untuk siswa SD, SMP dan SMA. Pendampingan psiko sosial dilakukan di halaman sekolah dan ruang terbuka di sekitar posko. Teknis pendampingan adalah fun game, membaca, menggambar, mewarnai, mendongeng, mengobrol santai, pemutaran film layar tancap dan sebagainya.

Bentuk lain layanan adalah proaktif mengunjugi (door to door) warga yang memerlukan pendampingan psiko sosial. Siaga 24 jam. Untuk semua jenis kelamin dari segala tingkatan usia.

5. Pengajian Akbar
Diselenggarakan dua kali ba’da sholat isya’ di Masjid Nurul Iman Desa Kunjir. Selain itu, setiap malam diselenggarakan pula tausiah ba’da maghrib dan ba’da subuh. Jama’ahnya adalah warga desa Kunjir dari segala tingkatan usia.

Guna kelancaran jama’ah beribadah, untuk Masjid Nurul Iman diberikan pula bantuan berupa donasi tunai, Al Qur’an, mukena, sarung dan ambal.

6. TPA Darurat

Difokuskan untuk anak-anak. Diselenggarakan setiap hari usai maghrib, di posko relawan kemanusiaan. Setiap anak diberi pula bantuan berupa mukena anak, peci, Iqra’ dan Alqur’an. Usai operasi kemanusiaan, pengelolaan TPA darurat dikembalikan kepada ustad yang sebelum tsunami, mengajar ngaji di Masjid Nurul Iman.

7. Emergency Barbershop
Yakni layanan cukur rambut gratis untuk korban tsunami. Untuk pria dewasa, remaja dan anak-anak. Namun, karena di desa kunjir dan di desa-desa tetangga belum ada jasa cukur rambut yang buka, beberapa orang yang bukan korban tsunami juga cukur rambut di _Emergency Barbershop_ ini. Baik korban tsunami maupun yang bukan, dilayani sama baiknya. Mereka mengaku sangat puas.

8. Hunian Darurat
Berbentuk barak pengungsian dari bahan dasar bambu dan atap terpal model doome. Di dalam barak terdapat delapan bilik untuk delapan KK. Masing-masing bilik dilengkapi penerangan, sarana untuk mengecas HP, kipas angin, dispenser, dan tempat tidur berbahan utama tripleks tebal.
Diluar bilik disediakan dapur, amben untuk duduk bersama dan fasilitas umum lainnya.

9. Emergency Toilet Air Hangat Alami
Dibangun dengan memanfaatkan sumur airn hangat alami milik warga yang rumahnya hilang karena tsunami.

Terdiri dari tiga bilik. Selain untuk toilet, dapat pula dipakai untuk mandi, mencuci, dan sebagainya.

Emergency toilet ini sangat membantu para relawan dan dermawan yang ke desa Kunjir, aparat yang gotong royong, dan masyarakat umum yang hendak buang air dan mencuci muka. Karena pasca tsunami, di desa Kunjir tak ada lagi fasilitas umum seperti ini.

10. Distribusi Bantuan Kebutuhan Pengungsi
Bantuan yang diberikan berupa sembako, air mineral, peralatan sekolah, perlengkapan ibadah, peralatan masak, alat makan minum, selimut, kasur, karpet alas tidur, dispenser, kipas angin, sandal jepit, pakaian baru, sisir, payung, pemotong kuku, perlengakapan balita, kebutuhan khusus wanita, dan masih banyak lagi.

Dengan selesainya operasi kemanusiaan di desa Kunjir, kepada semua pihak yang telah berdoa, membimbing, menasehati, membantu serta mendukung operasi kemanusian ini, SARMMI dan mitra sinerginya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Semoga perbuatan baik mereka dibalas dengan pahala yang berlipat ganda, dan segala yang dikerjakan SARMMI dan mitra sinerginya untuk korban tsunami di desa Kunjir, juga menjadi amal jariah mereka.

(Ahyar Stone)

Ratna Wulan : Korban Tsunami Selat Sunda yang Ingin Menjadi Relawan Kemanusiaan

Ratna Wulan (baju biru) dan anggota Mapasanda saat hendak menyeberang menuju Munas SARMMI.
Ratna Wulan (baju biru) dan anggota Mapasanda saat hendak menyeberang menuju Munas SARMMI

Sekitar delapan puluh orang peserta Musyawah Nasional (Munas) SARMMI, tak seorang pun tampak berwajah tegang. Tak terlihat pula ada peserta yang menelepon berteriak-teriak sambil menuding-nuding udara kosong untuk menyalahkan lawan bicaranya.

Semua peserta tampak riang. Sesekali terdengar koor tawa lepas sebagai respon spontan bila ada yang melucu.

Bagi orang lain, situasi itu adalah pemandangan ganjil. Munas merupakan kegiatan penting SARMMI yang salah satu agenda utamanya adalah pergantian pengurus. Tetapi tak ada peserta yang kasak kusuk cari dukungan suara atau saling politisir. Peserta malah ketawa-ketiwi dalam persahabatan yang hangat.

Anggota Stacia Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) yang menjadi panitia Munas yang dilaksanakan pada 21-22 Januari 2019, di kampus UMJ dan pendopo Citra Alam Lakeside Jakarta, keningnya juga tak berkerut. Sesekali mereka membaur ke kerumunan peserta yang asyik baku canda. Dari sini terlihat benar pengalaman Stacia sebagai Mapala besar yang terbiasa menyelenggarakan kegiatan akbar. Bekerja cekatan, akrab dan tak kehilangan selera humor.

Peserta Munas adalah utusan berbagai Mapala di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) se Indonesia yang menjadi anggota SARMMI. Panitia dan sesama peserta mayoritas sudah saling kenal. Malah tak sedikit di antara mereka pernah bergabung di kegiatan SARMMI. Seperti operasi kemanusiaan SARMMI di Lombok, Palu dan sebagainya.

Lantaran itulah, guyonan mereka tak jauh dari seputar basah kuyub di lokasi bencana, keliru memasang terpal dapur umum, kesiangan bangun padahal harus ngajar di sekolah darurat, kesasar di kebun warga sambil memanggul bantuan pipa air bersih, dan kisah istimewa lainnya yang hanya dimiliki oleh mereka yang berpengalaman terjun ke lokasi bencana.

Hanya ada sedikit peserta Munas yang tak saling kenal. Tepatnya belum dikenali peserta lain. Mereka ini umumnya adalah anggota muda dari sebuah Mapala PTM.

Seperti halnya Ratna Wulan dan tiga sohibnya utusan Mapasanda STIEM Kalianda Lampung Selatan.
Mereka berempat adalah pendatang anyar di jagad besar pecinta alam di Indonesia. Mereka, sebagaimana yang diceritakan Wulan, adalah anggota baru Mapasanda. Jangkauan pertemanan mereka di luar Mapasanda juga belum luas.

Tetapi mereka tak canggung ikut nimbrung di suasana riang Munas. Walaupun hanya sebatas kelompok penyumbang tawa, karena mereka memang belum punya pengalaman gokil yang bakal mengundangkan canda bila dikisahkan di arena seperti ini.

“Pengetahuan kami berempat tentang pecinta alam masih minim. Kami ikut Munas SARMMI agar bisa belajar dengan anggota Mapala lain yang lebih maju dan bersahabat dengan mereka. Semua itu akan menjadi bekal kami mengembangkan Mapasanda sepulang Munas ini,” kata Wulan bersemangat.

Pemahaman mereka tentang teknis relawan bencana alam menurut Wulan juga sangat terbatas. Tetapi mereka memiliki keinginan besar menjadi seperti relawan kemanusiaan SARMMI yang pergi ke segala lokasi bencana alam di tanah air untuk menolong sesama.

“Relawan adalah perbuatan mulia, saya ingin benar melakukannya,” ungkap Wulan.

Rupanya keinginan Wulan memang kuat. Saat Wulan ditanya oleh seorang tokoh senior SARMMI pada malam penutupan Munas di pendopo Citra Alam, tentang keinginannya menjadi relawan, lagi-lagi tanpa ragu Wulan menjawab ingin menjadi relawan.

Wulan Berbagi Cerita Kepada Peserta MuNas SARMMI Ke - 2
Wulan Berbagi Cerita Kepada Peserta MuNas SARMMI Ke – 2

“Menjadi relawan kemanusiaan di garis depan seperti SARMMI, bukan pilihan mudah, karena itulah SARMMI memilihnya. Relawan garis depan adalah relawan yang berada di area bencana yang terisolir, terjauh, terparah, atau kawasan bencana paling beresiko yang dihindari relawan dari tim lain. Apa Wulan mau menjadi seperti relawan SARMMI?” begtu kata si penanya.

“Saya siap terjun ke lokasi bencana. Siap di garis depan sekalipun,” tegas Wulan.

Si penanya dan peserta Munas yang memenuhi pendopo Citra Alam untuk mengikuti sesi penutupan Munas, sepertinya tak yakin mendengar jawaban Wulan.

Wajah Wulan yang lembut, dan penampilannya yang jauh dari kesan garang, memang kurang meyakinkan untuk memasuki daerah bencana yang ekstrim. Tetapi penampilan memang sering menipu.

“Apa alasan Wulan ingin menjadi relawan?” lanjut si penanya seolah mewakili rasa penasaran peserta Munas.

Wulan masih berdiri. Ia memegang erat microphone di kedua tangannya. Kali ini sambil tersenyum manis, wajahnya menengadah ke atas. Menatap langit-langit pendopo. Sejurus kemudian Wulan berkata, “Saya akan bercerita.”

Saat Wulan hendak bercerita, hujan mengguyur kawasan di sekitar pendopo. Lumayan deras. Tetapi peserta Munas tak menghiraukannnya. Kisah yang hendak disampaikan Wulan pastinya lebih menarik dibanding suara air jatuh dari langit. Wulan kemudian mulai bercerita.

Saya lahir dan dibesarkan di desa Kunjir yang letaknya di pesisir Lampung Selatan.

Saya, adik, orang tua dan nenek tinggal di rumah yang jaraknya ke laut hanya sekitar sepuluh meter. Dari jendela rumah kami, gunung Krakatau dan anaknya, sangat jelas terlihat.

Seperti yang sama-sama kita tahu, menjelang akhir bulan Desember lalu, anak gunung Krakatau longsor. Lantas terjadi tsunami di Selat Sunda.

Akibatnya, hampir semua rumah yang berada di bibir pantai desa Kunjir, hancur dan hilang diterjang tsunami.

Termasuk rumah kami dan rumah saudara-saudara saya.

Ketika terjadi tsunami, kebetulan saya masih di rumah kakak di Kalianda. Ini yang membuat saya selamat dari tsunami. Tetapi tidak dengan keluarga saya di desa Kunjir.

Sekitar jam delapan malam lebih, atau satu jam sebelum tsunami, saya telpon ibu saya di Kunjir. Kepadanya saya katakan, saya disuruh kakak menginap di Kalianda. Jadi saya tak bisa pulang ke Kunjir untuk menjadi panitia hajatan tetangga.

Ibu tidak keberatan saya bermalam di Kalianda. Ibu juga akan menyampaikan ke tetangga kalau saya terpaksa tak bisa menjadi panitia hajatan mereka.

Suara ibu di telepon, terdengar seperti biasanya. Tak ada yang janggal. Usai menelpon justru saya mendadak dihinggapi perasaan aneh. Saya gelisah.

Jarum jam terus berjalan. Perasaan saya tambah tak karuan. Untuk mengusirnya, saya melihat-lihat status WA teman-teman saya di Kunjir.

Saya heran melihat status mereka yang berisi doa-doa mohon perlindungan, dan informasi mati lampu karena desa Kunjir hancur dihantam ombak besar.

Status-status WA mereka saya ceritakan ke kakak saya dan suaminya. Mereka berusaha menenangkan saya walaupun wajah mereka sebenarnya terlihat resah.

Sekitar jam sepuluh malam, saya menelpon beberapa teman dan saudara saya di Kunjir. Tetapi tak ada yang tersambung. Saya lalu menelpon ibu. Tapi teleponnya tak aktif. Ini mengherankan, karena selama ini HP ibu saya selalu hidup.

Sambil bercerita, sesekali Wulan tersenyum. Tetapi peserta Munas yang menjadi pendengar kisah Wulan paham, senyum itu hanyalah upaya Wulan untuk menekan pilu di hatinya.

Hujan di arena Munas tambah deras. Tetapi peserta Munas lagi-lagi tak menggubrisnya. Wulan telah menjadi magnet mereka. Wulan melanjutkan ceritanya.

Malam itu saya tak bisa memejamkan mata. Kegelisahan tambah memuncak. Kepala saya berat karena dipenuhi tanda tanya. Sambil terus berusaha menelepon siapapun yang bisa saya hubungi di desa Kunjir, saya berdoa memohon diberiNya keajaiban.

Keajaiban itu datang. Sekitar jam dua dini hari, telepon saya tersambung ke seorang teman di Kunjir.

“Wulan, rumahmu hancur dihantam ombak besar. Ibumu mungkin tak selamat karena tertimpa runtuhan rumahmu, Ayahmu masih melaut. Tak ada yang tahu kabarnya.”

Begitu kata teman saya. Malam itu adalah malam paling menyiksa dalam hidup saya.

Usai sholat subuh, saya, kakak dan suaminya bergegas pergi ke Kunjir. Disana kami melihat rumah kami tinggal lantainya. Rumah kami berikut semua isinya, hanyut disapu ombak.

Pagi itu desa Kunjir kacau balau. Kayu, papan, runtuhan tembok, dan perabotan yang rusak bertebaran dimana-mana. Warga banyak yang histeris, ketakutan, dan panik.

Ibu saya meninggal ditimpa tembok rumah. Nenek saya meninggal karena disorong ombak. Adik saya luka parah di kening. Ayah saya ternyata selamat.

Dari orang-orang di Kunjir, saya jadi tahu, sekitar jam setengah sepuluh tadi malam desa kami dihantam tsunami.

Malam itu semua warga kunjir langsung mengungsi. Adik saya yang luka parah dan wajahnya penuh darah juga mengungsi bersama saudara saya. Pasti adik saya sangat kesakitan.

Sambil mengambarkan situasi keluarganya, wajah Wulan terlihat mendung. Tampaknya ia mulai masuk pada bagian kilas balik yang paling menyayat hatinya. Wulan berusaha tegar. Namun upayanya sia-sia. Air mata Wulan mengalir. Ia tak sanggup melanjutkan ceritanya.

Seorang anggota Camp STIEM Jakarta, Elis Farwati, yang duduk dekat Wulan berdiri, bangkit untuk memeluk Wulan yang terisak-isak.

Elis yang malam itu memakai seragam SARMMI seolah menyimbolkan bahwa Wulan tak sendirian menghadapi dukanya. Semua anggota SARMMI ada untuknya.

Suasana pendopo Citra Alam mendadak hening. Walaupun belum tahu ujung cerita Wulan, sebagian putri peserta Munas tak kuasa menahan air mata. Para peserta putra yang biasanya heboh, kali ini tertunduk. Larut dalam nestapa Wulan.

Beberapa menit kemudian, Wulan mulai sanggup melanjutkan ceritanya. Hampir semua mata pendengar tertuju padanya. Hanya sedikit yang masih terpekur sambil pura-pura melihat layar HP untuk sedikit mengobati sedih yang menyesaki dada.

Ayah dan adik, lanjut Wulan, kami bawa ke tempat kakak saya di Kalianda. Jaraknya sekitar 20 kilometer dari desa Kunjir.

Adik saya meski selamat tetapi harus mendapat dua puluh jahitan di keningnya. Sedangkan ayah saya mengalami guncangan hebat. Ia trauma melihat laut, dan sering menangis bila teringat ibu dan nenek saya.

Desa Kunjir rupanya wilayah yang paling parah kena tsunami. Di desa kami itulah relawan SARMMI mendirikan posko kemanusiaan untuk membantu warga Kunjir.

Walaupun saya anggota Mapasanda, saya tak bisa bergabung dengan mereka, karena tiap hari saya harus menjaga ayah dan adik saya di Kalianda. Tetapi bila ke Kunjir, sesekali saya mengobrol dengan relawan SARMMI dan melihat kerja keras mereka membantu korban tsunami.

Wulan kembali tak kuasa menahan kesedihan. Matanya mulai lagi berkaca-kaca.

“Sangat berat menjadi korban bencana alam. Tetapi sungguh mulia yang dilakukan relawan untuk meringankan penderitaan korban bencana,” kata Wulan.

“Itulah alasan saya ingin menjadi relawan,” ujar Wulan menyudahi ceritanya.

Atmosfir pendopo Citra Alam mendadak terasa berbeda. Tak ada peserta yang beranjak dari duduknya. Semua hanyut oleh suasana hatinya sendiri-sendiri. Wulan justru yang tegar. Ia malah berupaya menghibur orang-orang yang duduk di dekatnya.

“Ayo teteh, tetaplah bersemangat,” kata Wulan kepada Elis Farwati yang masih mengusap matanya degan tisu.

Di luar pendopo, hujan telah reda. Di langit terlihat bulan. Cahayanya memenuhi langit.

Mungkin itulah Ratna Wulan. Permata bersinar terang bagaikan rembulan menerangi kegelapan hidup semua orang yang berduka. (Ahyar Stone)

Prof. Edy Suandi Hamid : Majelis Diktilitbang Sangat Mengapresiasi SARMMI

Dokumentasi by Jenderal Mapalamu
Dokumentasi by Jenderal Mapalamu

Meski dengan sarana dan dukungan dana yang sangat terbatas, tetapi SARMMI (SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia) mampu melakukan banyak kegiatan kemanusiaan, serta mampu memobilisasi potensi yang ada di masyarakat, bahkan itu di luar Muhammadiyah. Hal ini membuat Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah sangat mengapresiasi SARMMI.

Demikian kata Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof. Dr. H. Edy Suandi Hamid, M.Sc. Saat menyampaikan sambutan dalam rangka membuka acara Musyawarah Nasional (Munas) kedua SARMMI yang berlangsung pada 21- 22 Januari 2019, di Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Di hadapan sekitar delapan puluh orang utusan berbagai Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) se Indonesia yang menjadi peserta Munas SARMMI, Edy Suandi menceritakan pula, ketika SARMMI dideklarasikan di Universitas Muhammadiyah Surakarta dan dihadiri oleh Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Lincolin Arsyad, akhir Desember 2015, dirinya berharap SARMMI mampu memberi manfaat bagi masyarakat luas dan diterima banyak Mapala di PTM.

Dokumentasi by Even Makanoneng Mahuyula
Dokumentasi by Even Makanoneng Mahuyula

“Tiga tahun silam, saat saya memberi sarasehan di acara deklarasi SARMMI, saya berharap SARMMI mampu memberi manfaat bagi masyarakat korban bencana alam, dan diterima oleh banyak Mapala di PTM,” kenang Edy Suandi.

Harapannya itu lanjut Edy Suandi, sudah terwujud meski belum maksimal. Dengan sarana dan dukungan dana yang sangat terbatas, tetapi di setiap ada bencana alam SARMMI sering datang lebih dulu dan tinggal lebih lama di lokasi bencana alam.

“Itu artinya, SARMMI tak sekedar datang saat terjadi bencana, tetapi juga mendampingi warga usai bencana. Bahkan hingga Munas ini diselengarakan, SARMMI masih mendampingi korban gempa di Palu, Sigi, dan Donggala, serta korban tsunami di pesisir Lampung Selatan,” terang Edy Suandi.

Supaya ke depan lebih baik, kepada kandidat pengurus SARMMI, Edy Suandi berpesan agar sering-sering mengunjungi PTM yang ada Mapalanya guna menjalin silaturahmi dan memberi pemahaman.

“Munas merupakan mekanisme pengambilan keputusan tertinggi SARMMI. Acara Munas diantaranya adalah membuat garis besar program kerja organisasi dan pemilihan pengurus pusat SARMMI periode berikutnya. Kepada mereka yang nanti dipilih sebagai pengurus, saya berpesan agar sering-sering mengunjungi PTM yang ada Mapalanya,” kata Edy Suandi.

Kunjungan itu ujar Edy Suandi penting dilakukan, karena Mapala yang belum bergabung mungkin belum memahami SARMMI seutuhnya, atau karena ada saluran informasi yang tersumbat. Selain itu, akan sangat baik bila semua PTM memiliki _Search and Reascue_ (SAR).

“Indonesia berada di wilayah yang potensi bencananya sangat tinggi. Jadi alangkah eloknya jika setiap PTM memiliki SAR. Dengan begitu mereka dapat mengedukasi dan mengaplikasikan _knowledge_ kebancanaannya kepada mahasiswa dan masyarakat tempat PTM tersebut berada,” tegas Edy Suandi.

Hal lain yang diamanatkan Edy Suandi kepada peserta Munas adalah agar SARMMI meningkatkan kompetensi anggotanya, serta menjadi komplementer bagi tim lain yang bergerak di kebencanaan. Baik dengan tim dari lingkungan Muhammadiyah seperti MDMC atau tim dari Muhammadiyah yang dibentuk secara parsial untuk kebencanaan, maupun tim di luar Muhammadiyah.

“SARMMI bukan kompetitor. SARMMI harus menjadi komplementer bagi tim dari lingkungan Muhammadiyah dan tiim di luar Muhammadiyah. Dengan begitu SARMMI dan mereka dapat saling melengkapi, saling menguatkan dan saling memberi manfaat,” pungkas Edy Suandi.

Sementara itu, Adry Hendra Febriansyah dari Mapala Stacia UMJ yang dipilih menjadi ketua umum SARMMI masa bakti 2019 – 2021, dalam acara penutupan Munas, mengatakan, apresiasi dari Majelis Diktilitbang terhadap kinerja SARMMI, merupakan penambah semangat pengurus baru.

“Kami tak akan terlena oleh apresiasi tinggi dari Majelis Diktilitbang. Apresisasi itu justru menjadi tantangan bagi pengurus baru untuk meningkatkan kinerja agar SARMMI menjadi lebih baik,” kata Adry Hendra.

Disampaikan pula oleh Adry Hendra, saat ke lokasi bencana, SARMMI selalu mengedepankan visi misi yang telah digariskan Majelis Diktilitbang, yakni menjadi garda depan Muhammadiyah di setiap bencana alam sehingga Muhammadiyah senantiasa hadir secepatnya-cepat untuk memberikan solusi di setiap masalah kemanusiaan.

“Itulah yang membuat SARMMI datang lebih dulu dan tinggal lebih lama di lokasi bencana, dan yang dipilih SARMMI adalah lokasi terisolir, terjauh, terparah, dan paling berbahaya. Beberapa kegiatan SARMMI di lokasi bencana, bahkan menjadi viral sehingga menginspirasi tim lain untuk melakukan hal yang sama,” terang Adry Hendra.

Selain itu kata Adry Hendra, setiap SARMMI mendirikan posko relawan di lokasi bencana, selalu menjadi magnet bagi tim lain untuk bergabung.

“Contohnya di posko relawan kemanusiaan SARMMI di pesisir Lampung Selatan. Ada 22 organisasi yang bergabung. Termasuk MDMC dan Lazismu dari Sumatera Barat dan Pekanbaru. Posko SARMMI yang mengedepankan semangat kesetaraan dan kebersamaan, membuat tim manapun nyaman bergabung,” lanjut Adry Hendra.

SARMMI juga dipercaya masyarakat sebagai wadah untuk menyalurkan donasinya ke korban bencana alam. Sebagian besar donasi justru berasal dari luar Muhammadiyah.

“Donasi atau bantuan yang disalurkan SARMMI, tetap atas nama donaturnya. Tidak diatasnamakan SARMMI. Ini yang membuat SARMMI dipercaya oleh donator dan korban bencana alam,” ujar Adry Hendra.

Terhadap amanat dari Edy Suandi untuk pengurus baru, Adry Hendra dan jajarannya mengaku siap melaksanakan.

“Prof. Edy Suandi Hamid, adalah tokoh penting yang membidani SARMMI. Amanat yang disampaikannya di Munas, telah kami terjemahkan menjadi poin-poin program kerja SARMMI dua tahun mendatang,” demikian kata Adry Hendra yang pada periode sebelumnya menjabat ketua bidang pengembangan SDM SARMMI. (Ahyar Stone)

Avanza Xenia Solution Salurkan Donasi Tunasi Untuk Korban Tsunami

Avanza Xenia Solution Salurkan Donasi Tunasi Untuk Korban Tsunami
Avanza Xenia Solution Salurkan Donasi Tunasi Untuk Korban Tsunami

Bantuan kebutuhan dasar pengungsi sudah banyak disalurkan oleh para dermawan dan relawan untuk korban tsunami di desa Kunjir, Lampung Selatan. Sebagai pelengkapnya, diperlukan bantuan dalam bentuk yang lain.

Demikian kata seorang anggota tim Avanza Xenia Solution (AXZ) Budi Gembur saat memberikan donasi tunai kepada warga desa desa Kunjir yang rumahnya hilang disapu tsunami Selat Sunda. (12/1)

Diterangkan pula oleh Budi Gembur, bantuan sembako air mineral, selimut, kebutuhan khusus balita dan sebagainya, sudah banyak yang masuk ke desa Kunjir yang merupakan titik terparah terkena tsunami di pesisir selatan Lampung. Bantuan seperti itu sangat diperlukan. Namun warga tetap memerlukan uang tunai untuk memenuhi keperluannya yang lain.

“Warga perlu beli pulsa untuk komunikasi ke keluarganya, bumbu untuk masak, perlu ke bengkel untuk memperbaiki sepeda motor dan mengisi bahan bakarnya. Itulah antara lain alasan AXZ memberikan bantuan dalam bentuk donasi tunai,” lanjut Budi.

Sementara anggota lain AXZ, Hafiz Aziz, menambahkan, selain untuk warga korban tsunami, AXZ juga memberikan donasi tunai kepada Masjid Nurul Iman desa Kunjir dan dapur Umum yang didirikan oleh Posko Relawan Kemanusiaan desa Kunjir. Dengan donasi tunai AXZ berharap aktivitas keagamaan di Masjid Nurul Iman pasca tsunami kembali bergairah seperti dulu.

“Dapur umum yang didirikan para relawan kemanusiaan di desa Kunjir beroperasi 24 jam. Mereka melayani semua orang yang memerlukan konsumsi. Kami membantu agar operasi dapur umum tersebut tetap berjalan optimal,” terang Hafiz Aziz.

Relawan yang mendirikan dapur umum berasal dari SARMMI (SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia). KAUMY Lampung. MDMC Pekanbaru. MDMC Sumatera Barat. MDMC Lampung.
Lazismu Pekanbaru. YLKI Pekanbaru. Jembatan Kebaikan Ummah Pekanbaru. Waskita Karya Divisi 6 Palembang.

Lembaga Krisis Center Psikilogi Univ. Muh. Lampung. Fansindo Lampung.
Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia (ILMPI). Mapasanda STIEM Kalianda. Akbid Wira Buana Metro. Mapala UMRI. Stacia UMJ. Camp STIEM Jakarta. HW UMJ. Mapala UMY. Mapsa Univ. Muh. Purwokerto. Keluarga Besar MALIMPA. Mapala se Kabupaten Asahan. Mapanjala FH Univ. Pajajaran Bandung.

 

Selain dapur umum kegiatan mereka selama di desa Kunjir adalah Siaga SAR 24 jam. Pendampingan psikososial dan siaga medis dan 24 jam. Membuat Emergency Toilet. Emergency Barbershop. Pengajian akbar. Distribusi bantuan kebutuhan dasar pengungsi. Pemutaran film edukasi, dan membuat hunian darurat. (Ahyar Stone)

SARMMI, MDMC, dan Relawan Lainnya Kompak Mendirikan Dapur Umum Di Kunjir

SARMMI, MDMC, dan Relawan Lainnya Kompak Mendirikan Dapur Umum Di Kunjir
SARMMI, MDMC, dan Relawan Lainnya Kompak Mendirikan Dapur Umum Di Kunjir

Bila Anda berkunjung ke desa Kunjir, Lampung Selatan, yang rusak parah karena tsunami Selat Sunda, Anda tak usah kuatir kelaparan. Sekarang ada dapur umum yang melayani siapa pun yang membutuhkan sarapan, makan siang, dan makan malam.

Usai makan sepuasnya, Anda juga tak usah kuatir kemahalan. Anda justru dilarang membayar, karena dapur umum ini gratis.

Dapur umum itu didirikan secara keroyokan oleh SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) dan organisasi lain yang membangun Posko Relawan Kemanusiaan desa Kunjir.

Organisasi tersebut adalah KAUMY Lampung. MDMC Pekanbaru. MDMC Sumatera Barat. MDMC Lampung. Lazismu Pekanbaru. YLKI Pekanbaru. Fansindo Lampung. Jembatan Kebaikan Ummah Pekanbaru. Waskita Karya Divisi 6 Palembang.

Suasana malam hari di dapur umun
Suasana malam hari di dapur umun

Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia (ILMPI). Mapasanda STIEM Kalianda. Akbid Wira Buana Metro. Mapala UMRI. Stacia UMJ. Camp STIEM Jakarta. HW UMJ. Mapala UMY. Mapsa Univ. Muh. Purwokerto. Keluarga Besar MALIMPA. Mapala se Kabupaten Asahan. Mapanjala Univ. Pajajaran Bandung.

Menurut seorang anggota Posko Relawan Kemanusiaan, Rinanto, konsep dapur umum yang mereka usung berbeda dengan kebanyakan dapur umum yang ada di desa lain yang juga kena tsunami.

Bila di desa lain makanannya dibungkus dan dibagikan ke pengungsi.

Dapur umum di desa Kunjir, makanan disajikan secara prasmanan. Para pengunjung juga dipersilahkan bila ingin masak sendiri sesuai seleranya.

Dapur umum itu juga tak semata-mata melayani para pengungsi, tetapi juga untuk para relawan yang datang ke desa Kunjir.

“Desa Kunjir adalah titik yang mengalami kerusakan paling parah dihajar tsunami. Relawan yang datang masih banyak. Mereka kesulitan mencari warung makan. Padahal mereka membutuhkanya. Ini salah satu alasan kami mendirikan dapur umum yang melayani pengungsi, relawan, dan siapa pun yang datang ke Kunjir,” terang Rinanto.

Alasan lain mendirikan dapur umum kata Rinanto adalah sebagai pancingan guna mengajak warga desa Kunjir agar segera bangkit pasca tsunami.

Keceriaan anak-anak menikmati makan dari dapur umum bersama
Keceriaan anak-anak menikmati makan dari dapur umum bersama

“Warga Kunjir yang sebelum tsunami bermukim dekat pantai, sekarang masih trauma. Mereka memilih mengungsi. Akibatnya suasana malam hari di area pemukiman bibir pantai desa Kunjir, sepi dan cenderung mencekam,” lanjut Rinanto.

Diceritakan pula oleh Rinanto, upaya untuk menarik warga agar Kunjir tak lagi mengungsi, dimulai saat mereka mendirikan Posko Relawan Kemanusiaan di rumah warga yang rusak kena tsunami yang lokasinya di bibir pantai. Hanya mereka yang berada disana. Semua warga mengungsi.

Sejak ada dapur yang dimeriahkan dengan pemutaran film layar tancap setiap malam, warga Kunjir mulai turun dari pengungsian dan mulai berani tinggal di rumah mereka. Kini susana bibir pantai di desa Kunjir berangsur-angsur kondusif.

Selain mendirikan dapur umum, kata RInanto, program yang dikerjakan Posko Relawan Kemanusiaan adalah siaga SAR 24 jam. Siaga medis 24 jam. Membuat Emergency Toilet. Mendirikan Emergency Barbershop. Pendampingan psiskososial. Pengajian akbar. Distribusi bantuan pangan dans sebagainya. (Ahyar Stone)

Komunitas Otomatif dan Sepeda Motor dari Berbagai Daerah Bantu KorbanTsunami di Desa Kunjir

Komunitas Otomatif dan Sepeda Motor dari Berbagai Daerah Bantu KorbanTsunami di Desa Kunjir
Komunitas Otomatif dan Sepeda Motor dari Berbagai Daerah Bantu KorbanTsunami di Desa Kunjir

Kekompakan penggemar otomatif dan sepeda motor di tanah air, tak usah diragukan lagi. Kekompakan mereka tak sebatas dengan anggota komunitasnya, tetapi juga dengan komunitas otmatif lainnya dari berbagai daerah. Menariknya lagi, kekompakan mereka optimalkan untuk membantu korban bencan alam.

Pemandangan demikian terlihat, saat tengah malam (6/1) sejumlah komunitas otomatif dari berbagai daerah dan beberapa komunitas sepeda motor, datang ke desa Kunjir, Lampung Selatan, untuk memberikan bantuan kepada warga Kunjir yang berada di barak-barak pengungsian.

Desa Kunjir, merupakan salah satu desa yang mengalami kerusakan paling parah kena tsunami beberapa waktu lalu. Puluhan warganya meninggal dunia, dan hampir semua warganya kini hidup di tengah pengungsian.

Komunitas otomatif dan sepeda motor yang malam itu ke Kunjir adalah BTL (Bukittinggi Truck Lovers). LTMC (Lamongan Truck Mania Community). LTC (Lampung Truck Community). TKSCI (Toyota Kijang Super Community). KIKOLA (Kijang Kotak Lampung). HCL Bandar Lampung.

Kemudian Bring’s Indonesia. GARINGS (Gass RX King Lampung). MARI ML (Motor Asik Rider’s Independent Metro Lampung). TVCI Lampung.

Seorang anggota komunitas mengatakan, bantuan yang mereka berikan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pengungsi. Sehingga selain akan tepat sasaran, juga akan tepat manfaat.

“Kami memberikan bantuan berupa kasur, karpet, kompor gas berikut tabungnya, peralatan masak, sembako, kebutuhan khusus balita dan wanita, peralatan tulis menulis,dan perlengkapan mandi, karena barang-barang seperti inilah yang paling dibutuhkan korban tsunami di pengungsian,” katanya.

Bantuan diserahterimakan di Posko Relawan Kemanusiaan desa Kunjir. Oleh para relawan di posko, bantuan akan dibagikan ke warga desa Kunjir yang mengungsi di kebun-kebun.

Posko Relawan kemanusiaan desa Kunjir merupakan posko bersama yang didirikan SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI), KAUMY Lampung. Mapasanda STIEM Kalianda. Akbid Wira Buana Metro. Mapala UMRI. Stacia UMJ. Camp STIEM Jakarta. HW UMJ. Mapala UMY. Keluarga Besar MALIMPA.

Menurut relawan dari Stacia, Seprian Nurhidayatulloh, kegiatan Posko Relawan Kemanusiaan desa Kunjir, selain mendistribuskan langsung bantuan dari berbagai pihak, adalah siaga SAR 24 jam, membuat emergency toilet, dapur umum, pendampingan psiskososial, pengajian akbar, dan membuat hunian sementara. (Ahyar Stone)

Alumni Mts Metro dan Jamaah Masjid Darussalam Metro Bantu Korban Tsunami di Desa Kunjir

Alumni Mts Metro dan Jamaah Masjid Darussalam Metro Bantu Korban Tsunami di Desa Kunjir
Alumni Mts Metro dan Jamaah Masjid Darussalam Metro Bantu Korban Tsunami di Desa Kunjir

Setelah berjuang cukup lama karena armada yang dipakai adalah mobil kijang antik, sekitar jam 1 dinihari, rombongan jamaah Masjid Darussalam Metro yang membawa bantuan kemanusiaan dari Metro yang dipimpin Edi Slameto tiba di desa Kunjir.(7/1)

Desa Kunjir yang terletak di kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, merupakan salah satu desa yang mengalami kerusakan paling parah kena tsunami Selat Sunda yang terjadi beberapa waktu lalu. Puluhan warganya meninggal dunia, dan hampir semua rumah warga yang berada di bibir pantai, hilang oleh tsunami. Kini mereka masih mengungsi.

Bantuan yang dibawa rombongan jamaah Masjid Darussalam berupa sandal jepit, potongan kuku, alas tidur, sisir, sembako, peralatan mandi, alat-alat masak, kebutuhan khusus bayi dan wanita, serta berbagai bentuk bantuan lainnya.

“Bantuan berupa sisir, sandal jepit, potongan kuku, kesannya sepele. Tetapi sangat dibutuhkan oleh korban bencana. Lagipula belum ada yang memberikan bantuan seperti itu. Bantuan yang kami bawa berasal dari Alumni Mts Metro angkatan 88, dan jamaah Masjid Darussalam 15 A Iring Mulyo Metro,” kata Edi Slameto.

Diterangkan pula oleh Edi Slameto, bantuan mereka disalurkan melalui relawan SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) yang bersama elemen lain mendirikan posko relawan kemanusiaan di desa Kunjir.

“SARMMI merupakan organisasi kemanusiaan yang amanah dan memiliki militansi tinggi untuk membantu korban bencana alam. Saya tahu karena saya mengenal para pengurus SARMMI,” terang Edy Slameto.

Seperti yang diterangkan Edi Slameto, di desa Kunjir SARMMI mendirikan posko bersama KAUMY Lampung. Mapasanda STIEM Kalianda. Akbid Wira Buana Metro. Mapala UMRI. Stacia UMJ. Camp STIEM Jakarta. HW UMJ. Mapala UMY. Keluarga Besar MALIMPA.

Posko mereka bekerja 24 jam sehari. Selain mendistribuskan langsung bantuan dari berbagai pihak. Kegiatan Posko Relawan kemanusiaan desa Kunjir adalah siaga SAR untuk mengantisipasi bencana susulan, membuat emergency toilet, dapur umum, pendampingan psiskososial, pengajian akbar, dan membuat hunian sementara. (Ahyar Stone)

Kompaknya Alumni SMPN 7 Bandar Lampung Bantu Korban Tsunami di Desa Kunjir

Kompaknya Alumni SMPN 7 Bandar Lampung Bantu Korban Tsunami di Desa Kunjir
Kompaknya Alumni SMPN 7 Bandar Lampung Bantu Korban Tsunami di Desa Kunjir

Bertempat di desa Kunjir, kecamatan rajabasa, Lampung Selatan, Alumni SMPN 7 Bandar Lampung menyerahkan bantuan berupa sembako, perlengkapam tidur, keperluan khusus wanita, kebutuhan balita, dan beberapa barang lainnya untuk warga desa Kunjir yang berada di pengungsian.

“Bantuan yang kami berikan tidak seberapa, tetapi mudah-mudahan bermanfaat bagi warga desa Kunjir yang sekarang berada di pengungsian karena rumah terkena bencana tsunami,” kata kordinator relawan Alumni SMPN 7 Bandar Lampung, Dahri. (6/1)

Diterangkan pula Dahri, yang memberikan bantuan ke desa Kunjir adalah Alumni SMPN 7 Bandar Lampung angkatan 1995 dan angkatan 2005. Kendati berbeda angkatan, tetapi bersatu untuk membantu sesama. Hal ini menunjukan kekompakan Alumni SMPN 7 Bandar Lampung.

Sementara itu, Rinanto, anggota Posko Relawan Kemanusiaan desa Kunjir mengatakan. Bantuan yang diberikan Alumni SMPN 7 Bandar Lampung, sangat bermanfaat karena benar-benar diperlukan oleh pengungsi di desa Kunjir. Bantuan ini akan diantar langsung ke pengungsi.

Posko Relawan Kemanusiaan di desa Kunjir, merupakan satu-satu posko kemanusiaan yang berada di bibir pantai desa Kunjir. Posko yang beroperasi 24 jam ini yang didirikan oleh SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI), KAUMY Lampung. Mapasanda STIEM Kalianda. Akbid Wira Buana Metro. Mapala UMRI. Stacia UMJ. Camp STIEM Jakarta. HW UMJ. Mapala UMY. Keluarga Besar MALIMPA. (Ahyar Stone)

Sahabat Taiwan Bantu Korban Tsunami di Desa Kunjir

Sahabat Taiwan Bantu Korban Tsunami di Desa Kunjir
Sahabat Taiwan Bantu Korban Tsunami di Desa Kunjir

Tenaga Kerja Indonesia yang berada di Taiwan sangat beduka dengan penderitaan korban tsunami Selat Sunda. Mereka lantas menggalang donasi untuk dibelanjakan kebutuhan pengungsi, lalu diantar langsung ke desa yang warganya menjadi pengungsi korban tsunami.

Demikian kata kordinator Sahabat Taiwan, Rumaisha, saat menyerahkan bantuan ke posko Relawan Kemanusiaan di desa Kunjir yang didirikan oleh SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI), KAUMY Lampung. Mapasanda STIEM Kalianda. Akbid Wira Buana Metro. Mapala UMRI. Stacia UMJ. Camp STIEM Jakarta. HW UMJ. Mapala UMY. Keluarga Besar MALIMPA. (6/1)

“Desa Kuncir, Lampung Selatan, merupakan salah satu desa yangmengalami kerusakan paling parah kena tsunami. Itulah alasan kami dari Sahabat Taiwan mengantar bantuan kesini,” terang Rumaisha. (Ahyar Stone)

Relawan Kemanusiaan di Desa Kunjir Dirikan Emergency Toilet Air Hangat Alami

Relawan Kemanusiaan di Desa Kunjir Dirikan Emergency Toilet Air Hangat Alami
Relawan Kemanusiaan di Desa Kunjir Dirikan Emergency Toilet Air Hangat Alami

Tak banyak yang tahu jika desa Kunjir memiliki potensi terpendam, yakni air hangat alami. Air yang tak lazim ini berada di beberapa sumur warga. Airnya mengalir sepanjang tahun. Debitnya cukup besar.

Desa Kunjir berada di pesisir pantai Lampung Selatan. Saat tsunami menghantam Selat Sunda beberapa waktu lalu, desa yang masuk wilayah kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan ini, mengalami kerusakan parah. Beberapa warganya juga meninggal dunia.

Di desa Kunjir inilah SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI), bersama KAUMY Lampung, Mapasanda STIEM Kalianda, Akbid Wira Buana Metro, Mapala UMRI, Stacia UMJ, HW UMJ, Camp STIEM Jakarta, Mapala UMY, Keluarga Besar MALIMPA, mendirikan posko relawan kemanusiaan yang siaga 24 jam.

Proses pengerjeaan Emergency Toilet Air Hangat Alami. Sumur air hangat  yang dipakai milik warga yang rumahnya hancur kena tsunami.
Proses pengerjeaan Emergency Toilet Air Hangat Alami. Sumur air hangat yang dipakai milik warga yang rumahnya hancur kena tsunami.

Seperti biasanya usai terjadi bencana alam, relawan dan para dermawan hilir mudik memasuki wilayah terdampak bencana untuk memberikan bantuan.

Pemandangan serupa juga tampak di sepanjang jalan raya yang menghubungkan desa-desa terdampak tsunami di pesisir Lampung Selatan.

Tiap hari ratusan sepeda motor, kendaraan roda empat dan truk berbagai ukuran keluar masuk membawa bantuan.
Ada kendaraan bantuan yang menuju desa Kunjir. Ada yang ke desa lainnya.

Lantaran desa Kunjir termasuk titik terparah kena tsunami, arus lalu lintasnya menjadi ramai. Sering terjadi kemacetan.

Lalu lintas macet dan tidak adanya fasilitas toilet umum di sepanjang jalan ke desa-desa terdampak tsunami, rupanya menjadi problem tersendiri bagi relawan dan para dermawan yang membawa bantuan.

Mereka benar-benar mengalami kesulitan saat hendak buang air kecil. Padahal terlalu lama menahan buang air kecil, membuat perasaan mereka tak nyaman. Kesehatannya juga dapat terganggu.

Mengatasi persoalan itu, relawan SARMMI dan mitra sinerginya kemudian mendirikan Emergency Toilet Air Hangat Alami. Sumur air hangat yang dipakai milik warga yang rumahnya hancur kena tsunami.

Dinding Emergency Toilet terbuat dari seng. Terdiri dari tiga balik. Dapat dipergunakan untuk buang air besar, mandi, atau sekedar buang air kecil. Toilet ini untuk umum. Gratis.

Menurut relawan dari Keluarga Besar MALIMPA , Irfan Sengaji, alasan ia dan teman-teman sesama relawan mendirikan Emergency Toilet Air Hangat Alami ini, selain sebagai solusi persoalan buang air adalah untuk mengenalkan potensi air hangat alami desa yang ada di desa Kunjir.

“Dengan adanya toilet ini, masyarakat luas menjadi tahu, ada air hangat alami di desa kunjir. Tentu ini bagus untuk promosi potensi ekonomi dan wisata desa Kunjir pasca tsunami,” kata Irfan Sengaji.

Baru beberapa saat Emergency Toilet selesai dikerjakan, penggunanya langsung ramai. Mereka memiliki komentar yang beragam.

“Kayak beol di hotel bintang. Nyiramnya pake air panas. Mantap coy..,” kata seorang dermawan dari Tangerang.

Seorang mahasiswi dari Palembang yang datang ke Kunjir bersama tim membawa bantuan dari kampusnya, berkomentar, “Tadinyo aku dak pecayo toilet daruratnyo make air anget. Abis kucoba, ternyato anget nian.”
Tadinya saya tidak percaya toilet darutratnya memakai air hangat. Setelah saya coba, ternyata benar air hangat.

Komentar lain dari seorang relawan asal kota Metro. “Wah, ngertiyo, mau tak nggowo anduk karo sabun. Iso sisan adus banyu panas. Ra mbayar,” katanya.
Wah kalau saya tahu, tadi saya membawa handuk dan sabun. Bisa sekalian mandi air panas gratis. (Ahyar Stone)