Kategori: Kegiatan

Alumni Mts Guppi Teluk Betung dan Warga Srengsem Bantu Korban Tsunami di Desa Kunjir

Ketua Alumni Mts GUPPI Teluk Betung, Bandar Lampung, Samsidan Shobrie.
Ketua Alumni Mts GUPPI Teluk Betung, Bandar Lampung, Samsidan Shobrie.

Desa Kunjir yang berada di kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, termasuk titik yang mengalami kerusakan paling parah terkena tsunami Selat Sunda yang terjadi beberapa waktu lalu. Kini, sebagian besar warga desa yang terletak di bibir pantai ini mengungsi. Ada yang ditampung di gedung sekolah. Ada pula yang mengungsi di kebun-kebun yang berada di perbukitan ujung desa Kunjir.

Untuk meringankan penderitaan warga desa Kunjir di pengungsian, Alumni Mts GUPPI Teluk Betung, Bandar Lampung, dan Masyarakat Warga Srengsem, Panjang, Bandar Lampung, memberikan bantuan berupa sarung, mukena, jilbab, sajadah, sandal jepit, sembako, piring, alas tidur, kebutuhan khusus wanita dan perlengkapan bayi.

Bantuan disalurkan melalui posko relawan kemanusian di desa Kunjir yang didirikan SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) bersama KAUMY Lampung. Mapasanda STIEM Kalianda. Akbid Wira Buana Metro. Mapala UMRI. Stacia UMJ. Camp STIEM Jakarta. Mapala UMY. Keluarga Besar MALIMPA.

“Kami sangat sedih. Saudara-saudara kita warga Kunjir harus menderita karena bencana tsunami. Harapan kami bantuan ini dapat sedikit meringankan beban mereka. Kami berdo’a semoga para pengungsi diberi ketabahan dan cepat pulih dari keterpurukan pasca bencana,” demikian kata ketua Alumni Mts GUPPI Teluk Betung, Bandar Lampung, Samsidan Shobrie, saat menyerahkan bantuannya. (1/1).

Kordinator Masyarakat Warga Srengsem, Bandar Lampung, Adis.
Kordinator Masyarakat Warga Srengsem, Bandar Lampung, Adis.

Senada dengan itu, kordinator Masyarakat Warga Srengsem, Adis, mengatakan turut berduka, apalagi warga desa Kunjir ada beberapa orang yang meninggal dunia karena tsunami.

“Semoga para korban jiwa diberi tempat yang layak disisiNya. Bantuan yang kami berikan semoga bermanfaat bagi warga desa Kunjir yang sekarang di pengungsian” kata Adis.

Oleh relawan di posko kemanusiaan, bantuan dari Alumni Mts GUPPI Teluk Betung dan Masyarakat Warga Srengsem, digabung. Lalu dibuat paket-paket bantuan. Kemudian langsung disalurkan ke warga desa Kunjir yang benar-benar membutuhkan sesuai bentuk bantuan tersebut. MIsalnya bantuan berupa kebutuhan bayi, hanya diberikan kepada pengungsi yang memiliki bayi. (Ahyar Stone/SARMMI)

Kesaksian Nelayan di Tengah Laut Saat Terjadi Tsunami Selat Sunda

Relawan SARMMI membantu membersihkan puing rumah Sanwani
Relawan SARMMI membantu membersihkan puing rumah Sanwani

Saat terjadi tsunami di Selat Sunda, banyak nelayan pesisir Lampung Selatan yang sedang menangkap ikan di perairan Selat Sunda. Ada yang tewas karena kapalnya terbalik dihantam gelombang dahsyat. Ada pula yang selamat dan justru tak tahu ada tsunami. Seperti kisah berikut ini.

Sanwani, demikian pria paruh baya ini disapa. Ia warga dusun Merak Dalam, desa Kunjir, kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan. Seperti umumnya warga desa Kunjir, profesi Sanwani juga nelayan.

Desa Kunjir merupakan desa terdampak tsunami yang paling parah. Di desa yang berada di bibir pantai inilah SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) bersama mitra sinerginya mendirikan posko relawan kemanusiaan.

Mitra sinergi SARMMI adalah KAUMY Lampung. Mapasanda STIEM Kalianda. Akbid Wira Buana Metro. Mapala UMRI. Stacia UMJ. Camp STIEM Jakarta. Mapala UMY.

Kembali ke cerita Sanwani. “Sejak dulu setiap hari saya melaut, karena itu satu-satunya mata pencaharian saya untuk menghidupi keluarga. Tetapi sejak ada tsunami, saya tidak melaut. Entah kapan saya melaut lagi,” kata Sanwani bercerita kepada tim relawan SARMMI yang memberikan pendampingan psikososial kepadanya.

 

Pada Sabtu sore (22/12), Sanwani bersama lima rekannya sesama nelayan desa Kunjir pergi ke laut dekat pulau Sebuku. Rombongan kecil ini berangkat pukul tiga petang. Menggunakan tiga buah jukung atau perahu kecil khusus untuk memancing ikan. Jarak dari desa Kunjir ke tujuan adalah satu jam perjalanan jukung.

Di dekat pulau Sebuku, ada pulau Sebesi. Dibalik pulau Sebesi inilah gunung Krakatau dan anaknya berada.

Setibanya di perairan pulau Sebuku, mereka langsung memancing.

“Hari itu cuaca bagus. Tidak ada mendung. Tak ada ombak besar. Juga tak ada suara yang aneh-aneh. Laut tenang. Angin biasa saja. Semuanya normal. Kami malah tak tahu kalau malam itu ada tsunami,” kenang Sanwani.

Setelah semalam di laut dan mendapat hasil cukup banyak, sekitar pukul delapan pagi (23/12), Sanwani dan rombongan kecilnya pulang. Mereka masih belum tahu jika semalam ada tsunami.

Hanya saja, sepanjang perjalanan pulang, mereka merasa aneh melihat begitu banyak ember, sandal, pintu lemari, kayu kasau, jendela, papan dinding rumah, dan perabotan berbahan platik yang terapung memenuhi lautan.

Mereka pikir benda-benda itu adalah sampah. Lantaran masih banyak yang bagus, beberapa “sampah” itu mereka ambil untuk dibawa pulang. Lumayan buat dipakai di rumah.

Mendekati desa Kunjir, Sanwani kembali merasa aneh. Kenapa desa Kunjir menjadi areal terbuka? Warung-warung di sepanjang bibir pantai tak tampak lagi lagi. Apa semalam ada penggusuran?
Setelah sampai di pantai, Sanwani lagi-lagi merasa heran, jam segini biasanya istrinya sudah menunggu untuk membantunya membawa ikan hasil pancingan ke darat. Tetapi sekarang istrinya tak ada disini.

Tiba-tiba ada warga yang berteriak menyuruh Sanwani pulang. Bergegas Sanwani ke rumahnya. Jukung, alat pancing dan ikan, ditinggalnya begitu saja.
Sampai di tujuan, Sanwani tak menemukan rumahnya. Ia hanya melihat puing-puing. Di sana warga dan kerabatnya sudah berkumpul.

Beberapa kerabat Sanwani kemudian menceritakan, sekitar pukul setengah sepuluh tadi malam, atau saat Sanwani mancing di laut, terjadi tsunami Selat Sunda. Desa Kunjir termasuk yang dihantam tsunami. Warung-warung di bibir pantai habis disapu tsunami. Rumah warga dekat pantai banyak yang rata dengan tanah. Termasuk rumah Sanwani.

Mendengar cerita ini Sanwani berusaha tegar, tetapi tembok hatinya runtuh tatkala kerabatnya menyampaikan kabar pilu : istri Sanwani meninggal dunia ditimpa tembok dinding rumah yang ambrol tersorong tsunami. Bibik dan mertua Sanwani juga meninggal dunia. Sedangkan anak terkecil Sanwani luka parah di bagian kening.

Sanwani menangis. Hatinya hancur. Tsunami paling dahsyat seolah baru saja menghantam hati terdalamnya.

Beberapan kerabat berusaha menenangkanya. Tetapi hanya “Istighfar..istighfar..” yang terdengar oleh telinga Sanwani. Seluruh tubuhnya tiba-tiba lunglai. Angin Selat Sunda masih menderu. (Ahyar Stone)

Bekerja Sama dengan SARMMI, Akbid Wira Buana Metro Bantu Korban Tsunami di Kunjir

Bekerja Sama dengan SARMMI, Akbid Wira Buana Metro Bantu Korban Tsunami di Kunjir

Setiap ada bencana alam, Akademi Kebidanan Wira Buana Kota Metro Lampung senantiasa memberikan donasi untuk korban bencana, serta melibatkan dosen dan mahasiswa dalam melakukan aktivitas sosial di camp pengungsian.

Demikian kata, Direktur Akademi Kebidanan (Akbid) Wira Buana, Hikmatul Khoriyah SST, M. Kes, saat menyalurkan bantuan kepada ratusan pengungsi korban tsunami Selat Sunda di desa Kunjir, Rajabasa, Lampung Selatan.(30/12)

Diterangkan pula oleh Hikmatul Khoriyah, kedatangannya ke pengungsian bersama lima belas relawan kemanusiaan Akbid Wira Buana yang terdiri dari dosen dan mahasiswa, selain menyalurkan bantuan berupa sembako, perlengkapan mandi, paket untuk Balita, dan peralatan belajar siswa SD, juga menyelenggarakan pendampingan psikososial atau trauma healing, serta layanan kesehatan untuk anak-anak dan ibu hamil.

“Peristiwa bencana membawa pengaruh besar bagi korbannya. Selain kehilangan harta benda dan jiwa, bencana juga menganggu kesehatan dan fungsi psisosial korban berupa masalah traumatik. Karena itulah relawan kemanusiaan Akbid Wira Buana tak hanya menyalurkan bantuan kebutuhan dasar pengungsi, tetapi juga menyelenggarakan trauma healing dan layanan kesehatan,” papar Hikmatul Khoriyah.

Agar dapat memberikan layanan lebih maskimal kepada korban bencana tsunami, Akbid Wira Buana Metro kemudian bermitra dengan SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) dan beberapa organisasi lain, mendirikan posko relawan kemanusiaan di desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan. Desa Kunjir merupakan salah satu titik yang paling parah dihantam tsunami.
Pada kemitraan, Akbid Wira Buana Metro akan focus pada trauma healing, serta layanan kesehatan untuk anak-anak, ibu hamil dan menyusui.

Sementara itu, ketua tim relawan SARMMI, Zulfahmi Sengaji, mengatakan sangat tepat bermitra sinergi dengan Akbid Wira Buana Metro.

“Untuk menangani dampak bencana, tidak bisa dilakukan sendirian. Tetapi harus melibatkan banyak pihak yang saling bersinergi. Akbid Wira Buana Metro memiliki kemampuan mumpuni dalam trauma healing, dan layanan kesehatan untuk anak-anak, ibu hamil serta menyusui. Kita membutuhkan kemampuan dan pengalaman mereka agar pengungsi dapat cepat pulih dari keterpurukan pasca tsunami,” pungkas Zulfahmi. (by Ahyar Stone/SARMMI)
===
Mitra Sinergi : SARMMI. KAUMY Lampung. Mapasanda STIEM Kalianda. Akbid Wira Buana Metro. Mapala UMRI. Stacia UMJ. Camp STIEM Jakarta. Mapala UMY.

Bermitra Dengan SAR Mapala, KAUMY Lampung Dirikan Posko Relawan di Kunjir

Bermitra Dengan SAR Mapala, KAUMY Dirikan Posko Relawan di Kunjir
Bermitra Dengan SAR Mapala, KAUMY Dirikan Posko Relawan di Kunjir

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) patut bangga. Pasalnya para lulusannya yang berhimpun dalam Keluarga Alumni UMY (KAUMY), dikenal memiliki respon cepat dalam membantu korban bencana alam.

Demikian halnya saat tsunami Selat Sunda menghantam pesisir Lampung Selatan beberapa waktu lalu yang mengakibatkan rumah-rumah di bibir pantai luluh lantak, ratusan korban meninggal dunia, serta ribuan warga mengungsi, KAUMY Lampung langsung bergerak membantu korban tsunami.

“Sejak hari pertama pasca tsunami, KAUMY Lampung mulai menyalurkan bantuan kebutuhan dasar pengungsi fase tanggap darurat,” demikian kata ketua KAUMNY Lampung, Adi Leo Saputra tatkala bersama timnya menemui pengungsi di desa Kunjir. (30/12).

Bantuan yang disalurkan, lanjut Leo Saputra, berupa sembako, obat-obatan, air mineral, tikar, selimut, peralatan makan, perlengkapan ibadah, alat mandi, serta kebutuhan khusus ibu dan anak. Jumlah yang disalurkan disesuaikan dengan pengungsi di tiap-tiap desa.

“Jumlah korban di tiap desa berbeda. Desa yang terdampak paling parah. Jumlah yang kami salurkan lebih banyak, karena pengungsinya lebih banyak,” kata Leo Saputra.

Diterangkan pula oleh Leo Saputra, semua korban tidak mengungsi di satu tempat. Tetapi berpencar. Ada di barak pengungsian seperti gedung sekolah atau balai desa, dan banyak pula yang mengungsi di kebun yang berada di perbukitan ujung desa.

Untuk mempercepat penyaluran bantuan, mulai hari kedelapan pasca tsunami, KAUMY Lampung bermitra dengan SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) dan beberapa organisasi lain, mendirikan posko relawan kemanusiaan di desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, Lampung selatan. Desa Kunjir merupakan salah satu titik yang paling parah dihantam tsunami.

“Dengan mendirikan posko relawan di desa terdampak tsunami dan membaur bersama warganya yang menjadi korban bencana, kami lebih paham kebutuhan terkini mereka, serta lebih cepat menjangkau semua pengungsi baik yang terkonsentrasi di barak pengungsian maupun yang di perbukitan ujung desa yang sukar diakses kendaraan bermotor,” pungkas Leo Saputra.

Sementara itu, ketua tim relawan SARMMI, Zulfahmi Sengaji, mengatakan sangat positif bermitra dengan KAUMY Lamoung.

“Anggota KAUMY Lampung memiliki skill dan pengalaman yang beragam. Jaringannya juga luas. Semua itu sangat bermanfaat untuk meringankan beban korban bencana dan mempercepat upaya memulihkan kondisi pengungsi dari keterpurukan pasca tsunami,” terang Zulfahmi. (Ahyar Stone)

***
Mitra Sinergi : SARMMI. KAUMY Lampung. Mapasanda STIEM Kalianda. Akbid Wira Buana Metro. Mapala UMRI. Stacia UMJ. Camp STIEM Jakarta. Mapala UMY.

Pemuda Desa Salua Terinspirasi Menjadi Tim Rescue

Pemuda Desa Salua Terinspirasi Menjadi Tim Rescue

Kedatangan relawan SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) dan mitra sinerginya ke desa Salua, menjadi inspirasi pemuda desa Salua untuk membentuk tim rescue dan tim relawan bencana.

Desa Salua berada di kecamatan Kulawi. Sigi. Dibanding desa-desa sekitarnya, kontur desa Salua memang berbeda.

Desa yang dihuni oleh 1250 jiwa itu, dikelilingi empat sungai yang sama-sama berpotensi banjir.

Bukit-bukit di sekitar desa Salua, pasca gempa ini cenderung mudah longsor.

Kondisi itulah yang membuat desa Salua senantiasa diintai tiga bencana sekaligus. Banjir. Longsor. Gempa.

Tetapi, karena kondisi itu pula relawan SARMMI dan mitra sinerginya, memilih desa Salua sebagai area operasi kemanusiaan pasca gempa 7, 7 Sulawesi Tengah.
Mitra sinergi SARMMI pada operasi kemanusiaan ini adalah Mapala Unmuha. Mapala UMSU. Stacia UMJ. Mapala UMY. Mapalamu Luwuk Banggai. Hiwata UM Palu. Sapta Pala Jakarta. Batara Guru Luwu Timur. Toms. Co Mataram. Waskita Karya Divisi 6 Palembang.

Pemuda Pemudi Menyaksikan Aktifitas Relawan SARMMI Membagikan Sembako

Selama berhari-hari berposko di desa Salua, para relawan diatas mendirikan masjid darurat, memulihkan air bersih, membangun sekolah darurat, membuat emergency toilet, mengaktifkan kegiatan TPA dan SD Inpres, mendirikan dapur umum, memperbaiki jalan, mendistribusikan bermacam-macam kebutuhan korban bencana, dan masih banyak lagi.

Selain itu, saat terjadi dua kali banjir di sungai Salua, serta banjir di sungai Tiwa di desa Tuba, kecamatan Gumbasa, Sigi. Tim relawan diatas langsung menyelenggarakan operasi SAR. Atau pencarian dan penyelamatan.

Kondisi jembatan sungai Salua usai dihantam banjir, kini sudah di bersihkan oleh warga bersama relawan SARMMI

Rupanya kepedulian, kreatifitas, militansi juang, serta kesigapan relawan diatas saat merespon tiga banjir dan bukit-bukit longsor di sekitar Kulawi, menjadi inspirasi pemuda desa Salua untuk tanggap bencana.

“Kami kagum sekaligus terinspirasi oleh relawan. Kami berkeinginan menjadi tim SAR dan relawan bencana. Tapi tak tahu caranya?,” tanya seorang pemuda kepada pengurus SARMMI.

Kepada mereka ketua umum dan sekretaris umum SARMMI, secara bergantian menjelaskan ada perbedaan antara tim rescue dengan relawan.

Menjadi tim SAR, harus melalui pelatihan khusus. Tak bisa sembarang orang.

Sedangkan menjadi relawan bencana bisa dilakukan siapa saja melalui keahliannya, profesinya, hobi, pekerjaannya, atau latar belakangnya.

Seorang guru bisa menjadi relawan sekolah darurat di lokasi bencana. Ibu rumah tangga yang gemar memasak, bisa mendirikan dapur umum di barak pengungsian.

Mereka yang memiliki latar belakang perbengkelan dan pertukangan, dapat membuka bengkel gratis dan membangun hunian darurat.

Tim SAR bisa menjadi relawan bencana. Tetapi tak semua relawan bencana dapat bertindak sebagai tim rescue.

Yang paling baik adalah memiliki kualifikasi SAR dan merangkap relawan bencana.

Melihat desa Salua dan sekitarnya yang rawan bencana, sangat pantas bila pemuda Salua diberi pelatihan rescue, serta diedukasi tentang aktifitas kerelawanan di lokasi bencana.

“Bila terjadi bencana di desa Salua atau di sekitarnya, para pemuda desa Salua dapat langsung bergerak menyelamatkan korban, menjaga agar warga tidak panik, serta menghubungi semua pihak yang terkait dengan bencana,” kata ketua umum SARMMI.

Dengan adanya pemuda siaga bencana, berikutnya adalah menjadikan desa Salua sebagai Desa Tanggap Bencana.

Mendapat penjelasan demikian, para pemuda desa Salua mengaku kian paham dan makin bersemangat.

“Dalam waktu dekat kami akan rapat desa untuk menyiapkan pemuda respon cepat, sehingga tak lama lagi desa kami menjadi desa siaga bencana,” begitu kata pemuda desa Salua.

Untuk SARMMI memberi edukasi kebencanaan kepada korban bencana, bukan kali ini saja.

Hampir di setiap operasi kemanusiannya, SARMMI memberi edukadi dan menjadi inspirasi berbagai pihak.

(By Ahyar Stone / SARMMI)

Selamat Datang Kembali Air Bersih di Desa Salua

Mengganti pipa air bersih dusun tiga yang hilang karena longsor.

Sudah dua hari ini warga dusun tiga, desa Salua, tersenyum lebar. (27/10)

Desa Salua, berada di kecamatan Kulawi. Sigi. Desa yang dihuni oleh 1250 jiwa ini, rusak parah oleh hantaman gempa Sulawesi Tengah akhir September lalu.

Gempa tak cuma merusak rumah-rumah warga. Tetapi juga melongsorkan bukit-bukit di hulu sungai Salua.

Tiga hari pasca gempa, sungai Salua banjir besar.

Selain merendam jembatan Salua beserta jalan di sekitarnya, dan rumah-rumah di bantaran sungai Salua, pipa air bersih warga Salua yang dipasang melintasi sungai Salua, banyak yang hilang dihanyutkan air bah.

Sejak itulah warga desa Salua mengalami krisis air bersih.

Bak penampung air bersih dusun satu yang rusak dihantam banjir sungai Momi.

Untuk minum, warga mengkonsumsi air mineral bantuan. Untuk masak, warga memanfatkan beberapa sumur warga yang terkadang surut.

Sedangkan untuk mandi dan mencuci, warga pergi ke sungai Salua atau sungai Miu.

Sungai Salua dan Miu merupakan dua dari empat sungai yang mengelilingi desa Salua. Dua sungai lainnya adalah Mope dan Momi.

Saat mulai focus area di desa Salua, relawan SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI), dan mitra sinerginya, telah menjadikan pemulihan pipa saluran air bersih sebagai prioritas yang harus dikerjakan segera. Sebab, air adalah kebutuhan dasar setiap manusia. Apalagi bila mereka baru saja kena bencana.

Pipa air bersih di dusun satu yang sudah dipasang, rusak dan hilang dihantam longsor.

Mitra sinergi SARMMI pada operasi kemanusiaan ini adalah Mapala Unmuha. Mapala UMSU. Stacia UMJ. Mapala UMY. Mapalamu Luwuk Banggai. Hiwata UM Palu. Sapta Pala Jakarta. Batara Guru Luwu Timur. Toms. Co Mataram. Waskita Karya Divisi 6 Palembang.

Yang bakal dipulihkan bukan hanya saluran air bersih di dusun tiga. Tetapi juga saluran di dusun satu. Desa Salua memang memiliki dua instalasi air bersih.

Usai disurvey, didapat hasil : instalasi air bersih dusun tiga, selain pipa hanyut, terdapat enam pipa yang rusak ditimpa longsor. Di sekitar air terjun yang menjadi sumber air bersih juga ditimbun longsor.

Sedangkan instalasi dusun satu, bak penangkap air sungai Momi rusak dan tertimbun longsor.

Pemasangan pipa air bersih dusun tiga yang melintasi sungai Salua

Beberapa batang pipa juga pecah dan hilang dihantam longsor.

Sehari usai survey, pengerjaan pemulihan dua instalasi air bersih, mulai digarap serempak.

Tetapi pengerjaan belum dapat dituntaskan hari itu juga. Karena mendadak turun hujan deras.

Hujan rupanya menyebabkan sungai Salua dan sungai Momi, sama-sama banjir.

Setelah disurvey ulang, pipa yang telah dipasang ternyata tidak rusak. Tetapi muncul kerusakan lain karena pipa tertimpa longsoran baru.

Usai survey, sungai Salua kembali banjir. Kali ini lebih dahsyat dari banjir sore kemarin. Sungai Momi juga meluap.

Banjir kedua ini menyebabkan pipa yang bocor tambah banyak. Bahkan di instalasi air dusun satu, ada beberapa pipa yang hilang dibawa longsor ke jurang dalam. Tak mungkin diambil.

Tiga hari usai banjir besar, pengerjaan baru bisa dilanjutkan. Dibantu oleh pemkab Parigi Moutong.

Mereka tak cuma membantu pipa, tetapi ikut mengganti pipa yang hilang dan rusak.

Hari itu juga, semua pipa yang rusak dan hilang, selesai diganti.

Air langsung mengalir ke rumah warga dusun tiga, serta dusun satu dan dua.

Hari itu juga warga desa Salua mulai tersenyum lebar.
Selamat datang kembali air bersih.

(Ahyar Stone / SARMMI)

Tim Rescue SARMMI Siaga di Sungai Miu Sigi

Muara pertemuan air sungai Miu dan Sungai Tiwa

Sejak pagi, cuaca di desa Salua dan desa-desa sekitarnya, mendung. Sesekali turun hujan rintik-rintik.

Desa Salua berada di kecamatan Kulawi. Sigi.

Di desa yang pasca gempa Sulteng menjadi rawan gempa susulan, longsor dan banjir, itulah SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI), dan mitra sinerginya mendirikian posko relawan kemanusiaan.

Mitra sinergi SARMMI pada operasi kemanusiaan ini adalah Mapala Unmuha. Mapala UMSU. Stacia UMJ. Mapala UMY. Mapalamu Luwuk Banggai. Hiwata UM Palu. Sapta Pala Jakarta. Batara Guru Luwu Timur. Toms. Co Mataram. Waskita Karya Divisi 6 Palembang.

Saat mereka sedang menjalankan tugas kerelawanan, tiba-tiba ada kabar sungai Tiwa Banjir.

Enam orang relawan yang terbiasa respon cepat pada situasi buruk, segera meluncur ke lokasi banjir untuk menyelenggarakan tindakan rescue.

Arus sungai Miu dilihat dari jembatan gantung

Mereka berasal dari SARMMI, Mapala UMSU, dan Hiwata UM Palu.

Sebagian daerah aliran sungai Tiwa, berada di wilayah desa Tuba. Kecamatan Gumbasa. Sigi.

Jika dari arah Sigi, desa Tuba terletak di daerah sebelum masuk desa Salua. Jarak kedua desa ini sekitar 7 km.

Aliran sungai Tiwa yang masuk ke wilayah desa Tuba, tak lagi tunggal. Tetapi menyatu dengan sungai Miu yang lebih besar.

Memantau sungai Miu dari jembatan gantung dusun Saluki, Sigi

Desa Tuba memang dikenal sebagai muara, atau tempat menyatunya sungai Tiwa dan sungai Miu.

Saat tim rescue tadi tiba di titik pertemuan dua sungai itu, terlihat jelas air sungai Tiwa yang coklat campur lumpur. Sesekali terlihat pohon-pohon ukuran sedang hanyut.

Arus sungai Tiwa tampak liar. Suaranya memekakan telinga.

Tetapi air sungai Miu di sebelahnya, terlihat cenderung jernih, arusnya relatif tenang. Beberapa warga terlihat mencari ikan. Mereka samasekali tak menampakan rona takut.

Sebelah kanan adalah sungai Tiwa yang banjir. Kiri sungai Miu, tidak banjir. Air dan arus dari dua sungai ini tampak jelas berbeda.

Mendapati situasi kontradiksi itu, tim rescue kemudian turun ke daerah aliran sungai yang lebih bawah. Mereka menuju dusun Saluki yang berada di desa Omu. Gumbasa.

Mereka lantas memantau debit air dari atas jembatan gantung.

Jembatan itu berada di belakang Gereja Bethel Indonesia Jemaat Saluki.

Dari pantauan tim rescue, debit sungai belum pada tingkat berbahaya. Air masih berada di badan sungai.

Padahal, seharusnya debit sungai naik. Karena sudah bertambah dengan air dari sungai Saluki.

Ternyata ujung pertemuan sungai Tiwa dengan sungai Miu, disebut sungai Miu.

Nama yang sama juga dipakai untuk menyebut ujung pertemuan sungai Miu dan sungai Saluki.

Meski sungai Miu tak menampakan tanda-tanda membahayakan, tim rescue tadi tetap berjaga-jaga. Langit masih mendung.

(By Ahyar Stone. SARMMI)

Masjid Darurat dan Berkah Dibalik Bencana

Relawan kemanusiaan yang focus area di desa Salua, bersama imam besar pengurus masjid Al Hidayah

“Selalu ada berkah di balik bencana”. Kata-kata ini tepat benar disematkan pada warga desa Salua yang bersama relawan kemanusiaan sedang membangun masjid darurat Al Hidayah Salua.

Desa Salua berada di kecamatan Kulawi. Sigi. Secara geografis, desa Salua dibagi menjadi tiga dusun.

Saat gempa 7, 7 menggoyang Sulawesi Tengah akhir September lalu, desa yang dihuni oleh 1250 jiwa itu, mengalami kerusakan parah.

Yang hancur antara lain empat gereja, dan masjid Al Hidayah.

Meski memiliki gereja lebih banyak, mayoritas warga Salua menganut Islam.

Kebanyakan umat Nasrani bermukim di dusun satu, sebagian di dusun dua. Empat gereja tadi terkonsentrasi disini.

warga desa Salua memenuhi tiap saf di masjid darurat Al Hidayah.

Sedangkan dusun tiga yang merupakan dusun terpadat di desa Salua, hampir semua penduduknya menganut Islam. Penduduk dusun dua, sebagian juga memeluk Islam.

Masjid Al Hidayah yang merupakan satu-satunya rumah ibadah umat Islam Salua, didirikan di dusun dua.

Didirikan disana karena posisi dusun dua, tepat berada di tengah-tengah desa Salua.

Letak masjid Al Hidayah di pinggir jalan raya yang membelah desa Salua.

Masjid Al Hidayah desa Salua yang hancur karena gempa

Jalan ini adalah akses dari Sigi ke pusat kecamatan Kulawi. Atau sebaliknya.

Pasca gempa, umat Nasrani dan umat Islam di desa Salua, sama-sama mendirikan rumah ibadah darurat.

Hanya saja pembangunan masjid Al Hidayah, sempat mengalami kendala.

Kayu-kayu bekas masjid Al Hidayah, rupanya tak mencukupi untuk mendirikan masjid darurat yang kokoh dan anti gempa susulan.

Masjid darurat dibangun disebelah masjid Al Hidayah

Pembangunannya pun, sempat sejenak terhenti karena desa Salua dihantam banjir besar.

Banjir besar terjadi di sungai Salua yang berada di dusun tiga.

Meski begitu, warga di dusun satu dan dua, juga dilanda kepanikan luar biasa.

Mereka, selain kuatir luapan air sungai Salua menjangkau dusun mereka, juga panik karena tiga sungai lain yang mengurung desa Salua, debitnya airnya naik.

Semua warga desa Salua, memang pantas dilanda kepanikan luar biasa. Dalam lima tahun terakhir, banjir kali ini adalah yang paling dahsyat.

Material banjir tak cuma air kotor dan kerikil. Tetapi juga lumpur yang berasal dari longsoran bukit di kawasan hulu sungai, batu-batu besar, serta pohon-pohon tua berukuran besar.

Kayu-kayu berserakan dibawa banjir sungai Salua

Pohon-pohon itu banyak yang menyangkut di jembatan sungai Salua.

Akibatnya, laju air bah terhambat.

Situasi itu membuat lumpur tebal meluber hingga ke bagian dalam rumah-rumah warga.
Batu-batu besar berserakan di jembatan dan di jalan aspal sekitar jembatan.

Esoknya, usai banjir, warga desa Salua serta relawan kemanusiaan yang focus area di desa Salua, gotong royong membersihkan onggokan material banjir di jembatan Salua dan jalanan di sekitarnya.

Pengerjaan dibantu oleh instansi pemerintah dan aparat keamanan.

Disinilah, “Berkah di balik bencana”, itu muncul.

Menurut imam besar masjid Al Hidayah, pohon-pohon besar yang menyangkut di jembatan, dan yang berserakan di pinggir sungai Salua, memiliki kualitas kayu yang baik.

“Jumlahnya pun, melebihi keperluan untuk membangun masjid darurat,” kata imam besar yang memiliki keahlian di bidang pertukangan.

Tingkat kualitas kayu, lanjut imam besar, akan membuat masjid darurat bertahan hingga tiga tahun.

Bila dalam tiga tahun, warga sudah mampu mendirikan masjid permanen, seluruh kayu itu dapat digunakan.

Untuk membelah pohon hingga menjadi papan, kasau dan tiang, relawan kemanusiaan membantu pembiayaan tukang potong kayu gergaji mesin.

Untuk mempercepat pembangunan masjid darurat, dan kelancaran ibadah disana, relawan kemanusiaan membantu pula pengadaan paku berbagai ukuran, gerinda, mukena dewasa, al Qur’an, Iqra, serta satu set lengkap pengeras suara.

Kini, masjid darurat telah selesai dibangun. (27/10)

Kumandang azan kembali memenuhi jagad desa Salua.

Warga dari segala usia, berbondong-bondong memenuhi panggilanNya.

Lalu, berbaris rapi di tiap-tiap saf dalam masjid darurat untuk menyembahNya.

Usai itu, kedua tangan mereka menengadah ke langit. Sambil berucap lirih, “Selalu ada berkah di tiap bencana. Terima kasih Allah”. (*)

By : Ahyar Stone / SARMMI.

**
Relawan Kemanusian :
SARMMI. Mapala Unmuha. Mapala UMSU. Stacia UMJ. Mapala UMY. Mapalamu Luwuk Banggai. Hiwata UM Palu. Sapta Pala Jakarta. Batara Guru Luwu Timur. Toms. Co Mataram. Waskita Karya Divisi 6 Palembang.

Saat Relawan Kami Nyaris Disambar Banjir Bandang Sungai Salua

Derasnya aliran sungai Salua, Sigi

Sigi, Sulteng(22/10/2018), Langit di atas desa Salua, terlihat cerah.(21/10) Warga tampal sibuk membereskan sisa banjir yang kemarin mengahantam desa yang terletak di kecamatan Kulawi, Sigi.

Memanfatkan situasi cerah, tujuh orang relawan yang berasal dari SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI), Mapala UMSU, Hiwata UM Palu, dan dari Sapta Pala Jakarta, berangkat ke perbukitan di sebelah timur desa Salua untuk memeriksa saluran pipa air bersih yang kemarin dipasang.

Desa Salua yang dihuni 1250 jiwa itu, adalah lokasi SARMMI dan mitra sinerginya focus area di operasi kemanusiaan gempa Palu, Sigi, Donggala.

Selain tiga organisasi pecinta alam diatas, mitra sinergi SARMMI lainnya di desa Salua adalah Mapala Unmuha, Mapala UMSU, Mapalamu Luwuk Banggai, Sapta Pala Jakarta, Stacia UMJ, Mapala UMY, relawan Batara Guru Luwu Timur, Kokam Makasar, Toms. Co Mataram. Waskita Karya.

Memulihkan jaringan air bersih yang hancur karena gempa di desa Salua, adalah salah satu agenda yang dikerjakan SARMMI dan mitra sinerginya pada operasi kemanusiaan ini.

Masyarakat dan relawan memantau debit air yang semakin tinggi dan deras

Untuk sampai ke lokasi pipa terpasang, bak penampung, dan mata air, para relawan tadi menyeberangi sungai Salua yang letaknya di ujung timur dusun Salua.

Pipa yang dipasang melintas di atas sungai Salua, tak ada yang rusak.

Posisi pipa yang tinggi karena digantung dengan sling baja, menyelamatkan pipa-pipa ini dari sambaran ombak banjir sungai Salua.

Lepas dari sungai, tim relawan memasuki area perbukitan coklat warga, dan terus ke atas menyeberangi anak sungai Salua, hingga sampai ke air terjun yang sisi kanan kirinya sudah penuh oleh sekian ton batu longsoran.

Setelah menyelesaikan pengecekan yang hasilnya banyak pipa rusak diterjang longsoran baru, tim turun menuju desa Salua. Tempat dimana relawan SARMMI dan mitra sinerginya mendirikan posko relawan, dan hidup membaur bersama warga korban bencana.

Di saat yang sama, warga desa Salua mulai cemas.

Langit di sebelah timur sana sudah gelap.

Itu mendung tebal yang berpotensi menurunkan hujan sangat deras.

Awan tebal adalah alarm alami warga desa Salua.

Bila hujan deras datang menerpa, itu adalah malapetaka bagi warga desa Salua.

Kewaspadaan kian ditingkatkan.

Meski waspada tingkat tinggi, sebagian warga masih sibuk membersihkan lumpur, batu, dahan-dahan pohon di jalan dan di rumah mereka.

Benda-benda itu adalah bawaan banjir kemarin.

Alat berat sudah masuk pasca banjir kemarin (21/10) untuk menyingkirkan material yang menghalangi jalan

Sementara itu, tim relawan tadi tak melihat awan mendung yang mengancam. Kanopi hutan lindung dan aneka pohon tinggi di kebun warga, menghalangi pandangan ke atas mereka.

Memasuki pinggir sungai Salua, tim relawan mendengar suara bergemuruh yang dahsyat.

Spontan mereka menengok ke arah hilir. Tetapi karena sungainya menikung, mereka tak melihat apa-apa. Debit air sungai juga tidak berubah saat tadi siang mereka melintas.

Kemudian, satu persatu mereka menyeberangi sungai Salua. Suara gemuruh tadi kian menakutkan.

Tak dinyana, saat anggota terakhir hampir sampai di seberang sungai, malapetaka itu datang.

Suara gemuruh tadi berubah menjadi batu-batu seukuran sepeda motor dan pohon-pohon besar. Benda-benda ini didorong lumpur pekat, pasir dan air bah.

Kepala banjir kiriman tinggal berjarak sekitar 20 meter dari anggota terakhir melintas sungai tadi.

Jarak itu kian dekat dan terus mendekat. Kecepatan banjir ini pasti tak berbeda jauh dengan kecepatan sepeda motor di sirkuit balap.

Tiba-tiba.. hop.. ia melompat sekuat tenaga ke pinggir sungai.

Ia selamat.

Padahal terlambat beberapa detik saja, pastilah tanpa ampun ia diseret banjir menuju sorga.

Sejurus kemudian, semua anggota tim berlarian masuk ke desa Salua sambil berteriak sekencang-kencangnya.

“Banjir…banjiir…!!”

Mendengar teriakan, semua warga yang bermukim di dekat sungai Salua, spontan berlari terbirit-birit sambil menarik anak-anak dan anggota keluarga mereka.

Teriakan banjir..banjiir.. lari..lariii…mengungsiii.. menjadi teriakan massal warga Salua.

Dalam sekejap area dekat sungai Salua, sudah kosong dari warga.

Air bah dengan leluasa menerjang apa saja yang di depannya.

Jembatan buatan Belanda ini adalah gerbang masuk desa Salua dari arah Sigi.
Akibat dihantam banjir. Jembatan kokoh ini bergeser sekitar satu meter.

Lumpur tebal material banjir, mendangkalkan dasar sungai. Ini membuat air kian naik. Beberapa rumah warga mulai terendam lumpur tebal bercampur air keruh.

Pohon-pohon besar yang dibawa banjir mulai menyangkut di jembatan sungai Salua.

Jembatan ini adalah semacam gerbang masuk ke desa Salua dari arah Sigi.

Saluran di bawah jembatan tersumbat pohon-pohon besar. Air kian meluber ke segala arah. Air ini juga membawa batu-batu besar.

Situasi buruk itu berlangsung beberapa jam.

Setelah banjir menakutkan diperkirakan mulai berkurang, relawan SARMMI dan mitra sinerginya, serta lelaki dewasa warga desa Salua, mulai mendekati sungai sambil keliling area terdampak banjir.

Didapat kesimpulan : awal banjir ada warga yang hanyut tetapi bisa menyelamatkan diri.

Tidak ada korban jiwa. Beberapa warga cedera ringan. Beberapa rumah yang sudah dihajar gempa, tambah rusak dihantam banjir.

Lumpur masuk ke banyak rumah warga dan gedung Mts. Tingginya dari semata kaki hingga selutut orang dewasa.

Jembatan sungai Salua bergeser satu meter dari posisi semula.

Diatas jembatan dan sekitarnya, penuh oleh batu besar, pohon besar, dan lumpur tebal yang pekat.

Dengan demikian, kendaraan bermotor belum bisa lewat.

Malam ini desa Salua kembali terisolir. Terputus dari dunia luar.(Ahyar Stone)

 

Salua, Desa Yang Di Intai Tiga Bencana Sekaligus

Alat berat dikerahkan untuk membuka jalan yang tertutup longsor

Pasca gempa ini, semestinya pemerintah memberi perhatian ekstra terhadap warga desa Salua, kecamatan Kulawi, Sigi.

Desa Salua dikelilingi oleh empat sungai yang berpotensi banjir.

Sungai itu adalah Miu, Salua, Mope dan Momi.
Dua sungai terakhir, letaknya bersebehan.

Saat gempa 7, 7 yang terjadi akhir September lalu, bukit-bukit di muara empat sungai diatas, longsor. Bukit-bukit di sepanjang tepi jalan menuju desa Salua juga mengalami hal yang sama.

Sekarang, bila turun hujan, longsoran kembali terjadi. Material longsoran tak cuma tanah, pasir dan batu seukuran sepeda motor. Tetapi juga pohon-pohon besar.

Kumpulan material itu dapat menyebabkan banjir bandang.

Banjir bandang pernah menghantam desa Salua. Tepatnya tiga hari pasca gempa. Yang meluap adalah sungai Salua yang letaknya bersebelahan dengan rumah-rumah warga desa Salua.

Lantaran itulah, bila warga kampung lain hanya trauma gempa, warga desa Salua mengalami tiga trauma sekaligus yakni gempa, longsor, dan trauma banjir bandang.

Seperti Sabtu lalu (20/10). Siangnya cuaca di desa Salua cukup cerah. Tetapi menjelang sore, cuaca mulai tak bersahabat. Hujan deras turun.

Warga Salua mulai waspada tingkat tinggi.

Memasuki malam, sikap waspada berubah menjadi kepanikan massal warga desa Salua.

Sungai Salua yang letaknya di gerbang desa Salua dan sungai Momi yang berada di ujung desa Salua, sama-sama meluap.

Suara banjir menderu-deru, dan sesekali menggelegar. Membuat siapa saja yang mendengarnya bergidik ngeri.

Di tengah guyuran hujan deras, wanita, anak-anak, lansia dan orang sakit mulai diungsikan ke dekat masjid desa Salua yang letaknya cukup tinggi, sehingga dimungkinkan selamat dari jangkauan bila banjir bandang benar-benar menerjang desa Salua.

Sambil mengungsikan dan menenangkan warga, relawan SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) dan mitra sinerginya serta pemuda desa Salua, mengawasi debit sungai dan keliling desa mengantisipasi segala kemungkinan buruk.

Desa Salua adalah titik dimana SARMMI dan mitra sinerginya _focus area_ . Yakni mendirikan posko kemanusiaan, tinggal dan membaur bersama warga korban bencana. Untuk mendampingi mereka agar selekasnya bangkit dari keterpurukan pasca gempa.

Mitra sinergi SARMMI adalah Mapala UMY, Mapala Stacia, Mapalamu Luwuk Banggai, Mapala UMSU, Mapala Unmuha,  Hiwata UM Palu, Relawan Batara Guru Luwu Timur, Sapta Pala Jakarta , Toms. Co Mataram, Waskita Karya.

“Jangankan hujan deras seperti sekarang. Ada gerimis saja, warga sudah panik. Kuatir ada longsor dan banjir,” kata kepala desa Salua kepada para relawan.

Kami berharap, lanjut kepala desa Salua, pasca gempa ini Pemerintah memberi kami perhatian lebih, karena desa Salua masih diintai bencana longsor yang dapat membuat desa Salua terisolir, serta banjir yang berpotensi merendam desa Salua.

“Warga daerah lain mungkin hanya kuatir gempa susulan. Sedangkan di desa Salua selain kuatir gempa susulan, masih kuatir muncul banjir dan longsor. Tiga bencana yang bisa saja terjadi bersamaan,” demikian kata kepala desa Salua. (Ahyar Stone/SARMMI)

Gedung Mts ini roboh kena gempa. Lalu dihantam banjir sungai Salua.
Jembatan Sungai Salua merupakan gerbang masuk desa Salua.

Catatan Relawan SARMMI di Lokasi Bencana Sulawesi Tengah

Sulawesi Tengah (19/08/2018), Sejak gempa berkuatan 7.7SR menghantam wilayah Sulawesi Tengah, tim relawan SARMMI sudah terjun langsung ke lokasi bencana. Khususnya tim relawan dari Mapala Hiwata Palu dan Mapalamu Luwuk Banggai. Karena mereka adalah tim relawan terdekat yang dapat membantu warga disana.

Tim Relawan SARMMI dari Mapalamu Luwuk Banggai

Kegiatan yang mereka lakukan adalah mengevakuasi mayat dan menyalurkan bantuan berupa makanan yang mereka bawa langsung dari Luwuk Banggai.

Setelah itu tim relawan SARMMI dari berbagai daerah berdatangan untuk melakukan kegiatannya dengan program-program pemulihan pasca bencana. Lokasi yang dipilih adalah daerah terisolir dan jauh dari jangkau bantuan kemanusiaan.

Evakuasi korban

Berikut ini adalah catatan dari relawan SARMMI yang berada dilokasi bencana ;

Mereka Justru Tambah Penasaran Hendak Ke Desa Salua

Saya sangat menghargai semangat semua orang yang hendak mengunjungi kami yang operasi kemanusiaan dan mendirikan posko relawan di desa Salua.

Kami disini adalah relawan SARMMI. Stacia UMJ. Mapala Unmuha. Mapala UMSU. Mapala UMY. Hiwata UM Palu. Relawan Batara Guru Luwu Timur. Sapta Pala Jakarta. Toms. Co Mataram. Waskita Karya.

Saya acung jempol kepada orang-orang yang hendak berkunjung karena untuk saat ini, desa Salua, kecamatan Kulawi. Sigi. Bukan tempat yang nyaman untuk mereka yang biasa dimanjakan oleh fasilitas dan kemudahan.

Listrik di desa Salua belum menyala. Tiap malam gelap gulita. Koneksi internet juga susahnya minta ampun.

Saluran air bersih yang dikelola warga, saat ini juga bermasalah. Pipa induk banyak yang rusak karena longsor, sebagian lagi hilang dibawa banjir bandang sungai Salua.

Jalan ke desa Salua, sebagian aspalnya retak-retak, ada yang terangkat, ada yang bergeser, ada yang terkubur dan banyak pula yang hilang.

Semua itu akibat gempa berkekuatan 7,7 yang menghantam Palu, Sigi, dan Donggala, akhir September lalu.

Meski gempa terjadi bulan kemarin, tetapi tak berarti hari ini ancaman telah berlalu.

Gempa selain membuat akses dan infrastruktur rusak, serta mengakibatkan 8 orang warga desa Salua meninggal dunia, juga melongsorkan bukit-bukit kecil di sepanjang jalan ke desa Salua.

Menuju desa Salua ada dua cara. Dari arah pusat kecamatan Kulawi (selatan), dan dari arah Sigi (utara).

Material longsoran telah disingkirkan alat berat. Motor dan mobil sudah bisa lewat.

Tetapi karena badan bukit-bukit kecil tadi sudah koyak-koyak dan tak ada pohon penahan material, longsor sangat potensial terjadi lagi.

Karena itulah kepada mereka yang hendak mengunjungi kami, saya selalu berpesan jangan berangkat saat hujan. Waspada bila cuaca mendung.

Bila hujan, apalagi deras, bukit-bukit kecil tadi pasti longsor.

Longsoran pasti menimpa jalan menuju desa Salua.

Kepada yang hendak pulang saat hujan — usai mengunjungi kami — saya juga menyarankan menginap saja di posko kami.

Ke desa Salua atau meninggakannya, sebaiknya memang saat cuaca cerah.

Bila cerah, relatif aman dari longsoran.

“Datanglah ke desa Salua. Kerjakan apa yang bisa kamu lakukan untuk warga. Itu pasti ada manfaatnya.”

“Berangkatlah saat cerah. _View_ nya keren, dan aman dari longsor.”

“Jangan kesini saat hujan deras. Terkubur hidup-hidup karena longsor, bukan cara yang bijak untuk ke sorga.”

Itu tiga “petuah” yang senantiasa kusampaikan ke mereka yang bersemangat hendak kesini.

Menerima petuah itu, mereka membalasnya dengan tertawa.

“Haa…haa.. okey brader. Tengkiyu petuahnya. Kita justru tambah gak sabar ingin secepatnya ke Salua.”

Kira-kira seperti itu reaksi mereka.

(Ahyar Stone. 19 Sept. 2018)

Begitulah catatan ini dibuat oleh salah satu tim relawan SARMMI bernama Ahyar Stone di lokasi bencana gempa Sulawesi Tengah.(LCL)

Sepotong Malam di Desa Salua Sigi

Sigi Sulteng(18/10/2018),Sejak gempa akhir September lalu, jaringan listrik mati total di desa Salwa. Kec. Kulawi. Sigi.

Desa Salua adalah titik yang dijadikan relawan SARMMI dan relawan mitra sinerginya ebagai focus area.

Mitra sinergi SARMMI adalah Stacia UMJ, Mapala UMY, Hiwata UM Palu, Mapala UMSU, Mapala Unmuha, Kokam, Mapalamu, Relawan Batara Guru Luwu Timur, Toms. Co Mataram, Waskita Karya, dan beberapa relawan individu.

Para relawan diatas, kemudian menyediakan genset untuk penerangan beberapa rumah warga. Genset dinyalakan menjelang maghrib hingga pukul 22. 00 Wita.

Genset juga dimanfaatkan warga untuk mengecas HP.

Tiap malam di posko bersama SARMMI dan mitra sinerginya, dipenuhi oleh warga yang antre cas HP dan senter isi ulang.

Warga Salua saat ini juga butuh tontonan yang menghibur, mendidik sekaligus menyemangati.

Memenuhi kebutuhan warga, SARMMI beserta mitra sinerginya, tiap malam menyediakan tontonan layar lebar di halaman posko relawan.

Warga yang menonton sangat ramai.

“Sejak relawan menetap di Salua, suasana malam di desa kami yang selama ini mencekam, sekarang terasa hidup dan bersemangat. Mudah-mudahan kami cepat bangkit di pasca gempa ini,” begitu komentar beberapa warga desa Salua. (Ahyar Stone)