Kategori: Kegiatan

Calon Anggota Mapala UMSB : Diksar Mengubah Karakter Kami


Pecinta alam adalah pendidikan karakter yang paling baik. Idiom ini tak berlebihan, karena empat pilar pendidikan karakter yaitu, olah pikir, olah hati, olah raga, dan olah rasa, yang menjadi muatan di kegiatan pecinta alam, tak sekedar dapat memperbaiki karakter mereka yang sudah aktif di organisasi pecinta alam bernama Mapala. Bahkan, seorang yang masih dalam proses menjadi anggota Mapala, telah merasakan manfaat mengikuti kegiatan pecinta alam. Karakter mereka langsung membaik saat itu juga.

Adalah pengalaman Tuistin Darwati dan empat temannya yang mengikuti Pendidikan Dasar (Diksar) Mapala Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB). Selama enam hari mengikuti Diksar di hutan Kanagarian Sungai Bangek, Koto Tangah, Padang, pada akhir Februari lalu,  Titin – demikian Tuistin Darwati biasa disapa – mengaku  mendapat banyak pelajaran berharga yang membuatnya berubah dalam menjalani hidup.

Titin tertarik ikut Diksar, bermula dari pengalamannya mendaki gunung Marapi dan Singgalang. Seperti umumnya pendaki pemula dari Sekolah Menengah, Titin kala itu berharap mendapati pemandangan eksotis sambil mendengar nyayian indah burung – burung cantik penghuni hutan di dua gunung yang popular di Sumatra Barat tersebut.

Namun harapan Titin pupus. Yang ia temui justru tumpukan sampah di sepanjang jalur pendakian hingga ke puncak gunung. Burung pun tak terlihat, apalagi yang bernyanyi. Hanya hentakan musik dang dut yang didengar Titin dari handphone beberapa pendaki amatir seperti dirinya.

“Parahnya lagi” kata Titin mengingat, “Banyak orang yang mengambil Eidelwess. Jumlahnya tak tanggung-tanggung, seplastik besar. Impian saya melihat keelokan gunung dan mendengar suara-suara alami, kandas. Saya sedih. Benar-benar sedih”.

Titin Sadar, kesedihan tidak akan menuntaskan masalah apapun. Ribuan ratapan tidak akan menjadikan gunung bebas dari sampah plastik. Jiwa pedulinya terusik.  Idealisme mulai menyala. Si belia Titin ingin melakukan sesuatu, dan langkah itu dimulainya dengan mendaftar menjadi anggota Mapala.

“Saya suka mendaki dan peduli pada gunung beserta kehidupan yang ada disana. Mapala tempat yang baik untuk menampung keinginan saya melakukan sesuatu untuk alam yang saya cintai, Itulah kenapa saya masuk Mapala“, kata Titin berapi-api.

Berbeda dengan Titin yang masuk Mapala lantaran didorong pengalaman nyata dari pendakian, empat teman Titin sesama peserta Diktsar yaitu Hayatul Fikri, Rahmat Fauzi, Ravia Sisaka, dan Remon, mengaku masuk Mapala disamping bertujuan memperbaiki diri, dan juga urusan perkuliahan.

Hayatul Fikri, pemuda berbadan kerempeng ini mengaku mengikuti Diksar karena ingin belajar lebih terbuka dalam bergaul.  “Saya tipikal tertutup yang cenderung gampang  putus asa”, kata Fikri mengungkap dirinya.

“Saya dengar, dimanapun anak-anak pecinta alam berada, suasananya pasti penuh canda.  Mereka terbuka, tangguh, dan solidaritasnya tinggi. Saya ingin berada di tengah mereka, agar saya ikut berjiwa terbuka, dan tidak mudah menyerah”, kata Fikri.

Ravia Siska lain lagi alasannya. Mahasiswi berkulit agak gelap ini mengaku masuk Mapala, bukan untuk gagah-gagahan. Tetapi untuk berlatih madiri, dan ingin mengetahui hal-hal baru yang selama ini asing baginya.

Sementara Remon dan Rahmat Fauzi, disamping alasan-alasan personal, mereka masuk Mapala juga dilatari faktor akademis.

“Saya kuliah di kehutanan. Selama kuliah hingga setelah lulus, aktivitas saya tidak akan jauh dari hutan belantara. Hanya ilmu di Mapala yang paling dekat dengan aktivitas ini. Selain  itu,  saya ikut Mapala juga ingin belajar memimpin”, kata Rahmat Fauzi.

Fauzi menuturkan, tiap hari peserta Diksar berjalan menyusuri hutan menuju titik tertentu tempat materi Diklatsar diberikan instruktur. Setiap hari pula peserta diwajibkan bergiliran menjadi ketua regu.

“Ketika giliran menjadi ketua, saya baru  paham, menjadi pemimpin membutuhkan kesabaran, kepedulian, dan harus bersikap optimis. Dari Diksar ini pula saya tahu, untuk masuk hutan, perlu persiapan khusus. Ini pengalaman berharga bagi saya selaku mahasiswa kehutanan”, kata Fauzi.

Selama Diksar, peserta benar-benar diuji terutama oleh alam, dan tidak semuanya tabah. Suhu dingin, guyuran hujan, kelelahan, dan rasa lapar yang mendera, membuat Hayatul Fikri berniat mundur pada hari keempat. Barang pribadi dikemasi, dan tanda peserta dicopotnya. Ia tahu resiko peserta yang mengundurkan diri, yaitu gagal jadi anggota Mapala. Tetapi Fikri siap menerima resiko buruk ini.

Ketika dipamiti Fikri, Remon sambil menekan haru berupaya memotivasi Fikri agar melanjutkan Diksar yang tinggal dua hari. Ia berharap Fikri batal mundur. Teman yang lain juga berusaha mencegah Fikri.

Tekad Fikri yang sudah membatu, perlahan mencair. Kali ini justru ia yang terharu mendapat perhatian tulus teman-temannya. Fikri lantas mengalungkan kembali scraf tanda peserta. Fikri bertekad melanjutkan Diksar hingga usai.  Ia akan lawan sikap melankolisnya.

Alam memang memberikan pelajaran berharga dengan cara menyediakan segala kemungkinan bagi mereka yang mendatanginya. Akibat berjalan dengan sepatu basah, telapak kaki Remon terserang kutu air, dan juga lecet-lecet. Remon yang selama ini tangguh, tumbang pada hari kelima Diksar. Kakinya sukar melangkah. Jika dipaksa, sakitnya minta ampun.

Sekarang gantian Fikri yang memotivasi Remon. Fikri bahkan tak keberatan memapah Remon, walaupun ia juga kelelahan. Ia ingin Remon tetap tegar, dan upayanya itu berhasil. Remon terus melangkah, kendati sesekali meringis.

Selama empat hari di kerimbunan hutan Kanagarian Sungai Bangek, ikatan emosional sesama peserta mulai menguat, dan cara terbaik untuk  menjaga keutuhan adalah saling peduli. Ini disadari Siska. Ia hapal, Titin cenderung pendiam dan sering mengalah. Tetapi Siska tidak ingin mengambil keuntungan dari sikap temannya ini.

Ketika dalam materi survival training (belajar teknik bertahan hidup) mereka menemukan setandan pisang hutan, atau berhasil menangkap beberapa ekor ikan kecil di sungai dekat hutan, Siska acapkali mempersilahkan Titin makan duluan.

Akan halnya Titin, diperlakukan sedikit berbeda tak membuatnya merasa istimewa. Ia beberapa kali duluan menyantap hidangan sederhana yang dimasak secara gotong royong, tetapi dalam batas sekedarnya. Titin tahu mereka disini sama-sama kelaparan.  Ia tak tergiur kenyang sendirian.

“Diksar membuat kami mengerti perlunya peduli, dan berbagi manfaat kepada teman. Hutan ini juga membiasakan kami menghargai apapun makanan yang kami temukan”, kata Titin.

Tadi, kata Titin, Siska bercerita padanya, selama ini Siska kerap membeli nasi bungkus porsi besar di warung dekat kost. Karena tidak habis, sisanya langsung masuk tong sampah. Sepulang Diksar, Siska akan menghentikan kebiasaannya membuang sisa makanan. Setiap ke warung, Siska akan membeli nasi secukupnya, agar tak ada yang terbuang.

Siska mungkin tidak mendengar yang Titin ceritakan. Lelah dan dingin membuatnya tak kuat menahan kantuk. Ia tertidur di bahu Titin. Sementara Titin berusaha tetap terjaga, dan jangan sampai menggigil. Titin berbuat demikian agar Siska  tetap nyaman bersandar di bahunya yang basah kuyub karena diguyur hujan.

“Diksar membuat rasa cinta saya ke alam, tambah kuat. Alam adalah guru kita. Jika alam rusak, manusia akan kehilangan tempat belajar” kata Titin.

Adanya perubahan – perubahan pada peserta Diksar, dibenarkan oleh seorang senior Mapala UMSB. Rofil Febianda Effendi. Sejak mendapat materi kelas khas Mapala seperti mendaki gunung, survival, navigasi, panjat tebing dan sebagainya, Rofil telah melihat, sedikit demi sedikit karakter peserta membaik.

“Kendati Diksar belum usai,  peserta telah mengalami perubahan pada dirinya. Yang kurang peduli, menjadi peduli. Yang cengeng menjadi tangguh. Yang egonya tinggi, sekarang memiliki solidaritas. Perubahan ini kian menegaskan, kegiatan pecinta alam memang pendidikan karakter yang terbaik”, demikian kata Rofil yang juga dikenal sebagai aktivis penyelamat Siamang di belantara Sumatera Barat.  (Ahyar Stone)

 

Wakil Rektor 3 UMSB : Workshop Nasional SARMMI, Ikut Mengangkat UMSB dan pamor Muhammadiyah Sumbar

Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) mendukung penuh kegiatan Workshop Nasional yang diselenggarakan Mapala UMSB bersama SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia di kampus UMSB. Dukungan diberikan karena kegiatan itu turut mengangkat nama kampus dan pamor Muhammadiyah di Sumatera Barat.

Demikian kata Wakil Rektor 3 UMSB. Ir. Hariadi, M. Eng.  Di pertemuan dengan Sekretaris Umum SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI), Ahyar Hudoyo, di rektorat UMSB. (4/3)

Hanya saja, lanjut Haryadi, karena UMSB tergolong kampus yang belum besar, dukungan finansial yang diberikan tidak bisa maksimal. Untuk menyiasati kekurangan, UMSB mengijinkan panitia menggunakan fasilitas yang ada di kampus.

Dikatakan pula oleh Haryadi, kendati panitia pelaksana adalah Mapala UMSB. “ Tetapi secara luas tuan rumah kegiatan adalah seluruh warga kampus UMSB, dan kami siap menjadi tuan rumah yang baik”, kata Hariadi.

“Ini kerja kita bersama-sama. Hanya bentuk kerjanya yang berbeda. Walaupun banyak kekurangan, Mapala UMSB harus tetap semangat agar kegiatan ini terlaksana. Sehingga UMSB menjadi besar seperti kampus Muhammadiyah lainnya”, kata Hariadi.

Menanggapi Hariadi, Ahyar mengatakan, salah satu tujuan Pengurus Pusat SARMMI mengangkat Mapala UMSB sebagai tuan rumah, adalah agar UMSB dikenal lebih luas oleh publik.

Kegiatan mahasiswa kata Ahyar, merupakan promosi kampus yang paling efektif. Workshop Nasional di kampus UMSB akan menjadi perhatian banyak pihak. Efek ke depannya, UMSB menjadi besar.

Kedatangan Ahyar dari Kantor Pusat SARMMI di Solo, Jawa Tengah, ke UMSB di Padang, selain untuk membahas penyelenggaraan Workshop Nasional Operasi SAR Bencana Alam,  ke pihak rektorat UMSB, adalah dalam rangka up grade panitia dan melakukan pendampingan terhadap kerja – kerja kepanitian.

Mendampingi Ahyar ke rektorat adalah Ketua Umum Mapala UMSB. Ahmad Haryono, beserta Ketua Divisi Operasional  SARMMI. Wawan Siswyo.

Workshop Nasional Operasi SAR Bencana Alam diselengggarakan pada 25 – 26 Maret 2017. Acara yang akan diikuti Mapala se Indonesia, mahasiswa non Mapala, dan pelajar di kota padang, merupakan kegiatan perdana tingkat Nasional  bagi Mapala UMSB. belum berpengalaman justru membuat anggota Mapala UMSB terpacu bekerja lebih giat.

“Menyelenggarakan kegiatan merupakan ajang pembelajaran. Sejauh yang saya lihat, anggota Mapala UMSB telah bekerja dengan baik, sehingga banyak nilai edukasi yang mereka dapat selama proses kegiatan ini. Usai Workshop, Mapala UMSB akan terbiasa menyelenggarakan event skala besar, dan tentu saja ini bagus untuk membangun masa depan kampus UMSB”, tutup Ahyar.  (Elis Farwati) 

Kepala BPBD Sumatra Barat, Dukung Workshop Nasional SARMMI di Padang

Rencana SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) bersama Mapala UMSB menggelar Workshop Nasional Operasi SAR Bencana Alam, di Padang. Sumatra Barat. 25 – 26 Maret 2017. Mendapat apresiasi yang baik dari Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatra Barat, Nasridal Patria. (28/2)

Kepada Ketua Umum Mapala UMSB, Ketua Panitia Workshop Nasional Gusti Ramazil Aziz, serta dua Pengurus Pusat SARMMI masing-masing Ahyar Hudoyo, dan Wawan Siswoyo, yang menemuinya di Kantor BPBD, Nasridal mengatakan, Workshop Nasional ini sangat tepat diselenggarakan di Padang.

“Ini daerah paling rawan bencana. Adanya kegiatan ini akan menambah jumlah insani peduli yang akan berpartisipasi dalam penanganan bencan alam baik di Sumbar maupun daerah-daerah lain di tanah air”, kata Nasridal.

Sebagai bentuk dukungan kata Nasridal, “BPBD Sumbar siap menjadi instruktur Gladi Lapang, menyediakan perahu karet beserta perlengkapan, dan saya bersedia ikut menandatangani Piagam Penghargaan untuk peserta Workshop Nasional”

Hanya saja, lanjut Nasridal, BPBD Sumbar tidak dapat membantu secara finansial. “Sesuai aturan, BPBD Sumbar tidak boleh memberikan bantuan berbentuk uang kepada pihak manapun. Namun kami membantu dalam bentuk lain”.

Selain BPBD. Dukungan serupa juga datang dari Badan SAR Daerah (BASARDA) Sumatra Barat, dan Palang Merah Indonesia (PMI) Sumatra Barat. Kedua lembaga kemanusiaan ini siap menjadi indtruktur, meminjamkan peralatan untuk simulasi di sesi Gladi Lapang serta menyediakan mobil Ambulance.

Baik BPBD, maupun BASARDA dan PMI, sama-sama berharap, usai kegiatan ini komunikasi dan kerjasama dengan SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia dan Mapala UMSB, tetap berlanjut.

Workshop Nasional Operasi SAR Bencana Alam, akan diselengggarakan pada 25 – 26 Maret 2017. Workshop ini merupakan kegiatan perdana tingkat Nasional SAR Mapala Muhamadiyah Indonesia. Pada kegiatan perdana ini, Mapala UMSB dipercaya sebagai penyelenggara.

Mapala UMSB merupakan salah satu Mapala di Perguruan Tinggi Muhammadiyah se Indonesia yang memiliki potensi untuk berkembang dan  besar. Mereka berada di wilayah paling rawan bencana alam di Indonesia.  Inilah antara lain alasan  SAR Mapala Muhamadiyah Indonesia mempercayakan kegiatan Nasionalnya ke Mapala UMSB. (AS)

Ketua Komisi 4 DPRD Sumbar Sambut baik Workshop Nasional SARMMI di Padang.


Penanganan bencana alam, mulai dari pencegahan hingga pasca bencana, harus melibatkan semua pihak. Baik Pemerintah di daerah bencana, maupun Pemerinah Pusat, serta kalangan yang peduli bencana alam.

Demikian kata Ketua Komisi 4 DPRD Provinsi Sumatra Barat HM. Nurnas, ST. Ketika menerima kedatangan Ketua Umum Mapala Univ. Muhammdaiyah Sumatra Barat(UMSB) Ahmad Haryono, beserta dua Pengurus Pusat SARMMI, yakni Ahyar Hudoyo, dan Wawan Siswyo.  Di gedung DPRD SUmbar. (27/2)

Turut pula dalam rombongan adalah Ketua Panitia Workshop Nasional Operasi SAR Bencana Alam, Gusti Ramazil Aziz.

Menurut Nurnas, hingga sekarang penanganan bencana alam di Indonesia, belum seideal seperti di Negara lain yang juga merupakan daerah rawan bencana. Ada banyak faktor mengapa di Negara kita belum seperti mereka. Diantaranya adalah kurangnya komunikas antara pusat dengan daerah, serta belum maksimalnya keterlibatan semua pihak.

“Karena itulah pelatihan Nasional yang akan SAR Mapala Muhamadiyah Indonesia selenggarakan di Padang, sangat tepat. Sumatra Barat merupakan daerah paling rawan bencana”, lanjut Nurnas.

“Mudah-mudahan dengan mengundang pihak dari Pusat sebagai pembicara, serta menghadirkan kalangan Mapala dari seluruh Indonesia sebagai peserta, langkah untuk menuju kondisi ideal penanganan bencana alam Indonesia, dapat terwujud”, harap Nurnas.

“Hanya saja kami selaku legislatif, tidak bisa membantu kegiatan ini. Mudah – mudahan pihak eksekutif bisa membantu acara yang sangat baik ini”,

Workshop Nasional Operasi SAR Bencana Alam, akan diselengggarakan pada 25 – 26 Maret 2017. Mapala UMSB akan bertindak sebagai tuan rumah kegiatan perdana tingkat Nasional SAR Mapala Muhamadiyah Indonesia. (AS)

PR. 3 UMSB. Haryadi : Mapala Harus Senantiasa Menjaga Nama Baik Muhammadiyah


Tangguh menghadapi keterbatasan, penuh semangat kebersamaan, cinta tanah air, dan senantiasa menjaga nama baik Muhammadiyah dimanapun berada, merupakan karakter khas anggota Mapala UMSB.  Demikian kata Pembantu Rektor 3 Universitas Muhammadiyah Sumatra Barat (UMSB), Ir. Haryadi, M. Eng. Dalam sambutannya di acara pelepasan peserta pendidikan dasar (Diklatsar) Mapala UMSB ke 14, di halaman gedung Pasca Sarjana UMSB. (27/2)

Turut hadir dalam acara adalah tiga pengurus Pusat SAR Mapala Muhammadiyah. Masing – masing Ahyar Hudoyo, Wawan Siswoyo, Ipo Eigha. Para instruktur Pendidikan Dasar. Pengurus Mapala UMSB, dan tamu undangan dari Unit Resimen Mahasiswa, Tapak Suci, Unit Seni, serta unit kemahasiswaan lain di UMSB.

Di kegiatan pecinta alam, lanjut Haryadi, terdapat banyak pelajaran yang bermanfaat bagi mahasiswa. Umpamanya dalam Diklatsar, peserta akan belajar manajemen diri sendiri, yaitu meningkatkan kemampuan mengelola kehidupan pribadi untuk menggapai cita-cita.  Belajar berorganisasi secara baik dan tepat, belajar mengembangkan sikap percaya diri, serta belajar untuk senantiasa bersyukur pada Sang Maha Pencipta.

“Mengikuti  Mapala, berarti belajar hal-hal positif, dan sekaligus mengimplemantasikannya di kehidupan sehari – hari, baik kampus maupun di masyarakat. Saya ucapkan selamat kepada peserta Diklatsar, karena telah memilih Mapala sebagai ajang mengembangkan potensi diri “, kata Haryadi.

Kepada peserta Diklatsar, Haryadi juga berpesan, agar dimanapun berada harus berperilaku sebagaimana layaknya kader Muhammadiyah.

Setelah Diklatsar ananda semua, kata haryadi menyebut ananda bagi peserta Diklatsar, akan menjadi anggota Mapala. Dengan begitu ananda memiliki kewajiban untuk menjunjung tinggi nama baik Muhammadiyah. Di gunung yang sepi, atau di tengah keramaian, ananda harus tetap menunjukan perilaku Muhammadiyah, sebagaimana yang dicontohkan senior kalian di Mapala”, pesan Haryadi.

Usai acara pelepasan, peserta langsung longmarch (jalan jauh) dari kampus menuju hutan Sungai Banget. Koto Tangah. Padang. Menurut ketua Mapala UMSB. Ahmad Haryono. Kawasan hutan bertipe sekunder itu dipilih sebagai lokasi materi lapangan pendidikan dasar, karena ada sungai , banyak tumbuhan yang dapat dimakan, namun tidak ada hewan berbahaya.

Setelah masuk hutan, peserta mendirikan bivouc, atau membuat tempat bermalam dari bahan seadanya tanpa merusak lingkungan hutan. Materi bivouc, kata Haryono, mengajarkan nilai kebersamaan, kreativitas, pantang mengeluh, serta pentingnya berpikir positif dalam segala situasi.

Hari berikutnya peserta akan diberi materi navigasi darat, cara bertahan hidup atau survival, dan materi lain di kegiatan pecinta alam. Selain itu, diberikan pula materi keagamaan yang meliputi teknik mengetahui arah kiblat dengan memanfaatkan tumbuhan hutan, cara berwudhu jika air terbatas, serta sholat dalam kondisi darurat.

“Peserta akan berada di hutan selama enam hari. Selama itu pula mereka tetap menjalankan sholat lima waktu. Nanti, setelah pulang ke rumah, meraka pasti akan tetap rajin sholat. Karena mereka telah membuktikan pada diri sendiri.  Mereka mampu menjaga ibadah walaupun dalam kondisi terbatas dan serba berat. Apalagi jika ibadah di rumah yang serba nyaman. Sholat pasti terasa ringan dilakukan”, demikian kata Haryono. (Ahyar Stone)

Banjir Surut. SAR Mapala Muhammadiyah Akhiri Operasi di Brebes.

0008

Banjir di Kabupaten Brebes sudah surut.  Sekitar 5 000 warga yang semula mengungsi ke sejumlah tempat aman, telah kembali ke rumah.

Terjadinya banjir di Brebes, disebabkan oleh jebolnya empat titik tanggul penahan air sungai Pemali. Tanggul jebol lantaran tidak kuat menahan limpahan air hujan deras yang turun merata di wilayah Brebes (16/2).

Akibatnya, 12 desa di tiga kecamatan yakni Brebes, Jatibarang, dan Wanasari terendam air setinggi setengah hingga satu setengah meter. Ribuan warga dievakuasi ke 10 posko pengungsian. Kini semua pengungsi sudah meninggalkan posko pengungsian.

“Karena situasi mulai kondusif, hari ini kami menyudahi Operasi SAR di Brebes”, demikian keputusan Kordinator Lapangan SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia, Nurdin Leasy, di halaman Posko Penanggulangan Banjir Gedung DPRD Kabupaten Brebes (21/2)

SAR Mapala Muhammadiyah, kata Nurdin,  tiba pada hari kedua bencana. Disamping menyisir desa-desa terdampak banjir, Tim SAR Mapala Muhammadiyah juga mendata  kesehatan dan kebutuhan warga selama berada di pengungisan, mencermati kondisi tanggul sungai Pemali, serta sistem penanganan bencana banjir di Brebes.

0003

“Sekarang masih musim hujan. Tanggul yang jebol hendaknya segera diperbaiki secara permanen agar lebih kokoh dari sebelumnya. Bila perbaikan cuma bersifat darurat, sangat rawan kembali jebol dihantam luapan hujan”, papar Nurdin.

“Untuk ke depan, managemen kebencanaan di Brebes tampaknya harus dirapikan lagi. Sehingga semua pihak yang terkait penanganan bencana, terkordinir dan sinergis”, demikian kata Nurdin yang berpengalaman mengikuti operasi SAR di berbagai bencana alam di tanah air.

Sependapat dengan Nurdin, seorang anggota tim SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia yang berasal dari Mapala Stacia Universitas Muhammadiyah Jakarta, Cicih Handika berujar, semua pihak khususnya dari instansi Pemerintah di Brebes, hendaknya dalam menangani bencana alam, ada kordinasi dan pertukaran informasi agar semuanya upadate informasi terkini di lapangan.

“Tetapi kita percaya, manajemen kebencanaan di Brebes ke depannya pasti lebih baik. Pihak – pihak terkait di Brebes pasti belajar banyak dari banjir ini”, kata Cicih berharap. (AS)

Hujan Deras Usai Pilgub. Ciliwung Meluap. Camp STIEM Kirim Tim Siaga.

E1

Tidak seperti warga lainnya di Ibukota yang masih dilanda euforia pasca Pemilihan Gubernur Jakarta, warga kampung Pulo, Kampung Melayu, Jatinegara, harus lebih awal menyudahi suasana pesta demokrasi lima tahunan tersebut.

Hujan deras mulai mengguyur saat warga pulang dari TPS, dan sebagian sedang menonton hitung cepat (quick count) hasil Pilgub melalui televisi. Pukul sebelas malam, hujan tambah deras. Selokan di kampung Pulo yang dikenal sebagai daerah banjir tidak dapat menampung tumpahan air dari langit.

Kondisi itu diperparah dengan luapan air dari sungai Ciliwung yang letaknya hanya beberapa meter dari Kampung Pulo. Akibatnya,  sejak dinihari tadi Kampung Pulo beserta pemukiman – pemukiman di tepi Ciliwung, terendam air.

Untuk mengantisipasi segala kemungkinan, Camp STIE Muhammadiyah Jakarta, mengirim Tim Siaga guna memantau situasi banjir di Kampung Pulo dan sekitarnya. Tim ini beranggoakan Elis Farwati, Almuntahanah, Ahmad Fauzan, dan Firhan Saefa Jamil.

Turut bergabung dalam tim adalah dua orang anggota Unit Kegiatan Mahasiswa di STIE Muhammadiyah Jakarta. Masing-masing Rizki Ramadhan dari Tapak Suci (TS), serta Zulham Efendi dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)

27

Tim yang dipimpin Elis Farwati ini tiba di lokasi banjir sejak Kamis pagi (16/2). Tim akan berada disana hingga situasi dianggap kondusif.

Dari lokasi banjir, Elis mengabarkan,  ketinggian maksimal air mencapai pinggang orang dewasa. Transportasi terganggu. Tidak ada korban jiwa. Tidak ditemukan rumah rusak parah. Tim Siaga Camp juga tidak mendapati warga terserang penyakit akibat banjir. Kendati demikian, aktivitas perekonomian warga sempat lumpuh.

44

Diwartakan pula oleh Elis, menjelang sore, air berangsur-angsur surut. Warga langsung membersihkan rumah, dan memberesi peralatan elektronik yang rusak lantaran tidak sempat diselamatkan tatkala air masuk rumah. Beberapa toko kebutuhan sehari-hari terlihat mulai buka.

“Sambil bersih-bersih rumah, warga tetap waspada. Mendung pekat yang memayungi Ibukota, bisa saja tiba-tiba menjadi hujan deras, dan kembali menyebabkan banjir. Jika itu terjadi, aksi bersih-bersih mereka pasti bakal sia-sia”, demikian kata Elis yang juga merupakan Pengurus Pusat SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia. (AS)

Gerak Cepat Stacia Ke Banjir Pandeglang

IMG-20170212-WA0004

Bencana alam dapat terjadi kapan, dan dimana saja. Tim SAR yang baik adalah yang senantiasa mampu memberikan reaksi cepat terhadap semua bencana alam yang terjadi.

Sadar dituasi demikian, Ketua Umum Mapala Stacia Universitas MuhammadiyahJakarta (UMJ), Arif Pranoto, beberapa saat usai mendengar kabar terjadi banjir disertai longsor di 11 kecamatan di kabupaten Pandeglang. Banten. Langsung menggelar rapat kilat dewan pengurusnya.

Dari rapat mendadak yang dilangsungkan di Sekretariat STACIA UMJ. Cirendeu. Ciputat. (11/2) didapat kesimpulan : Stacia UMJ akan mengirim tim ke lokas bencana. Sejurus kemudian Arif Pranoto menghubungi pengurus Pusat SAR Mapala Muhammadiyah  Indonesia yang berada di Solo. Jawa Tengah.

Kepada Ketua Divisi Operasional SAR Mapala Muhammadiyah  Indonesia, Wawan Siswoyo, Arif Pranoto menyampaikan, Stacia  UMJ akan mengirim dua anggotanya. Cicih Handika selaku kordiantor, dan Windi Marwati.

IMG-20170212-WA0003

“Mereka yang mewakili Stacia UMJ menjadi tim pionir SAR Mapala Muhammadiyah  Indonesia. Fokus area-nya di kecamatan Sukaresmi. Pandeglang”, terang Arif Pranoto.

Oleh Wawan Siswoyo, pergerakan cepat Stacia UMJ, diinformasikan secara terbuka ke beberapa Mapala Perguruan Tinggi Muhammadiyah di seputaran DKI dan Tangerang. Gayung bersambut. Seorang senior Mahesa Universitas Muhammadiyah Tangerang, Kusnaedi, mengabarkan Mahesa akan memberangkatkan seorang anggotanya, Azka Abdul Mujib.

Mapala Alpiniste STIE Acmad Dahlan,  akan mengirim anggotanya mengikuti operasi SAR gabungan ini.

 “Seperti Mahesa, anggota Alpiniste yang ke lapangan akan berkordinasi dengan Stacia”, kata mantan Ketua Alpiniste, Eka Paldi mengabarkan.

Rencananya, tim gabungan yang dipimpin Cicih Handika, akan bekerja mulai 12 hingga 18 Februari 2017. Selain untu pencarian dan penyelamatan, tim juga akan melakukan pengumpulan data (assesmen).

Data yang didapat, akan dihimpun Pengurus Pusat SAR Mapala Muhammadiyah  Indonesia. Kemudian dibagikan ke masyarakat umum melalui media sosial.

Terhadap gerak cepatnya, Arif Pranoto menerangkan, Ini sesuai dengan visi SAR Mapala Muhammadiyah  Indonesia sebagai garda depan Muhammadiyah. “Agar Muhammadiyah senantiasa hadir di secepatnya untuk memberikan solusi di setiap masalah kemanusiaan di tanah air”, demikian kata Arif Pranoto.

AHASS Motor UMS dan SARMMI Bantu Korban Banjir Bengawan Solo

1

Banjir surut tidak berarti persoalan langsung berakhir. Masalah yang diakibatkan banjir sangat banyak. Termasuk kerusakan sepeda motor. Dalam rangka meringankan beban korban banjir Bengawan Solo, AHASS Motor Univ. Muhammadiyah Surakarta (UMS) bekerja sama dengan SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) mengadakan bakti sosial berupa  service gratis sepeda motor, di Wonorejo. Pranan. Polokarto. Sukoharjo. Jawa Tengah.

3

Menurut Ketua AHASS Motor UMS DR. Supriyono, kegiatan ini adalah bentuk nyata kepedulian AHASS Motor UMS terhadap problem masyarakat pasca banjir Bengawan Solo.

Senada dengan itu, Ketua pelaksana Bakti Sosial Service Gratis  Amin Sulistyanto, ST. Menerangkan, “Kendati sehari-hari kami di AHASS Motor UMS bergerak di jalur bisnis, namun membantu masyarakat korban bencana alam, juga menjadi prioritas kami”, papar Amin yang juga merupakan dosen Fakultas Teknik UMS.

2

Service gratis yang dilaksanakan pada 20 dan 27 Desember 2016, diakui oleh warga  Pranan, sangat membantu mereka. “AHASS Motor UMS telah meringankan beban kami, semoga lain waktu mereka bisa bakti sosial lagi disini”, harap warga Pranan. (AS)

UMS dan SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia Kerjasama Bantu Korban Banjir Garut

“UMS sangat prihatin dengan penderitaan warga Garut korban banjir. UMS memiliki komitmen untuk meringankan penderitaan mereka”, demikian kata Wakil Rektor I UMS. Dr. Muhammad Da’i Msi. Apt. Dalam sambutannya di acara serah terima bantuan UMS untuk Garut yang diselenggarakan di Rektorat UMS (27/9)

Bantuan UMS berbentuk uang tunai Rp. 50 juta dipercayakan kepada Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Muhammadiyah Indonesia untuk menyalurkannya ke Garut. Bantuan diterima langsung oleh Ketua SAR Mahasiswa Mapala Muhammadiyah Indonesia, Slamet Widodo yang didampingi Sekerataris Umum Ahyar Hudoyo, Bendahara Umum Aris Munandar, dan tim Operasonal SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia Edy Setiawan yang berasal dari Mapala Univ. Muhammadiyah Jogjakarta.

1-pr-1-ums

Lebih jauh Muhammad Da’i yang didampingi Kepala Sekretariat Rektorat UMS. Moh. Nafi, mengatakan, bantuan UMS dipercayakan kepada SAR  Mahasiswa Mapala Muhammadiyah Indonesia. “Anggota Mapala memiliki karakter yang tangguh, dapat bergerak cepat, dan memiliki ikatan persaudaraan yang kuat. Bantuan UMS yang dsalurkan melalui SAR Mapala Muhammadiyah tentu akan tepat waktu, tepat sasaran, dan dapat dipertanggungjawabkan secara akurat”, demikian kata Muhammad Da’i.

Sementara Ketua SAR Mahasiswa Mapala Muhammadiyah Indonesia, Slamet Widodo dalam sambutannya mengatakan, “Sumbangan UMS yang dititipkan pada kami, merupakan amanat yang harus segera disampaikan kepada korban banjir Garut. Sepulang acara ini, kami langsung bergerak agar dapat secepatnya tiba di Garut”.

Disampaikan pula oleh Slamet Widodo, Tim dari Solo yang akan dikirim ke Garut membawa bantuan UMS, secara Nasional merupakan tim ketiga SAR Mahasiswa Mapala Muhammadiyah Indonesia.

6

“Tim pertama berasal dari potensi SAR Mapala di perguruan Tinggi Muhammadiyah Jakarta, Tangerang, dan Sukabumi. Tim pertama dikordinir oleh Stacia Univ. Muhammadiyah Jakarta, dan Camp STIEM Jakarta. Tim kedua dari Lampung yang dikordinir oleh Mapasanda STIEM Kalianda Lampung Selatan,” kata Slamet.

“Bantuan UMS bertepatan dengan selesainya status tanggap darurat bencana tahap pertama.  Sesuai dengan pengumuman Pemerintah, tahap kedua dimulai hari ini hingga 5 Oktober 2016. Bantuan UMS sangat dibutuhkan untuk mengisi tahap kedua karena sebagian tim rescue dan relawan sudah berangsur-angsur meninggalkan Garut. Bantuan UMS berada di moment yang tepat”, demikian kata Slamet Widodo.

Siaga SARMMI di Suwanting Merbabu

“Perjalanan turun sama pentingnya dengan perjalanan mendaki”, demikian pesan Edmund Hillary. Sayangnya Afri Deki (26 th) lupa dengan petuah legenda Everest itu. Akibatnya mahasiswa semester akhir Sejarah Kebudayaan Islam UIN Jogjakarta ini harus turun dari gunung Merbabu dengan cara yang tidak lazim.

Afri yang mendaki Merbabu bersama tiga temannya dari Jogjakarta, memulai drama pendakiannya dari jalur Suwanting. Sawangan. Magelang (16/8). Rombongan kecil ini tiba di puncak Merbabu pagi hari menjelang upacara bendera 17 Agustus dimulai (17/8). Tak lama usai upacara, Afri beserta tiga sohibnya meninggalkan puncak Merbabu, dan berbaur dengan pendaki lain yang juga berniat turun ke desa Suwanting.

posko-umy

Di perjalanan empat sekawan itu terpisah. Dua teman Afri masing-masing Jaim dan Iyanda telah jauh di depan. Menyadari situasi ini, apalagi kabut mulai datang dan mendung kian gelap, Afri melanjutkan perjalanan turunnya dengan berlari.

Ada beberapa jalur pendakian di Merbabu. Namun dari semua jalur itu, Suwanting merupakan jalur yang paling sulit. Tidak seperti jalur lainnya yang di beberapa bagian terdapat area datar dan sedikit landai, sepanjang jalur Suwanting mulai dari masuk desa Suwanting hingga puncak Merbabu, semua medannya menanjak. Menuruni jalur Suwanting dengan berjalan saja sudah berbahaya. Apalagi dengan berlari di jalur yang hari itu licin karena usai diguyur hujan lebat seperti yang dilakukan Afri.

desa-suwanting-berkabut

Memasuki kawasan hutan Manding, mendadak paha Afri kram. Kini, jangankah untuk berlari, berjalan pun Afri kesulitan. Mahasiswa kelahiran Bengkulu itu agaknya pantang menyerah. Ditemani seorang temannya, Aziz, Afri, kendati dengan langkah tertatih – tatih dan beberapa kali nyaris terjerambab, melanjutkan perjalanan turunnya.

Hujan yang kembali mengguyur jalur Suwanting, membuat Afri berada dalam kesulitan besar. Akibat memaksa diri berjalan dalam kondisi tidak fit, ditambah suhu dingin yang mengigit, kedua kaki Afri menjadi tak bisa digerakan. Jempol kakinya membiru. Badannya menggigil hebat. Kesadarannya menurun. Afri terkena gejala hyphotermia level sedang.

lembah-lempong

Beberapa saat usai mendapat informasi musibah yang dialami Afri, Tim Siaga SAR Suwanting yang merupakan gabungan pemuda desa Suwanting dan SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI), bergegas menuju lokasi Afri. Afri kemudian dievakuasi ke tenda tim Siaga SAR Suwanting. Disini tubuh Afri dihangatkan dengan selimut tebal. Diberi asupan energi dan nutrisi. Seorang personil SARMMI dari Stacia Univ. Muhammadiyah Jakarta, Noval memberikan perawatan medis pra rumah sakit.

Setelah kondisi Afri mulai membaik. Pukul sebelas malam, Noval bersama dua personil SARMMI lainnya, Bayu dan Antok dari Mapala Univ. Muhammadiyah Riau, serta seorang pemuda Suwanting, Eko, mulai membawa Afri turun dengan cara ditandu. Sementara personil yang lain, Supomo, Kirun, Wahyu, Zainal, Tilit, Aris, dan Muspaidi menjadi penunjuk jalan sekaligus sebagai tim cadangan.

Diakui Noval, memanggul tandu di jalur Suwanting sangat sulit. Kondisi medan yang licin membuat tim tidak dapat bergerak cepat. “Jika tidak ekstra hati – hati, bisa saja kami nanti yang ditandu”, seloroh Noval.

Pukul satu dinihari (18/8) tim evakuasi memasuki kawasan lembah Mitoh. Disini Afri kembali menggigil. Tandu diturunkan. Setelah dibungkus dengan kantong tidur, serta diberi asupan nutrisi dan energy, Afri mulai membaik, dan kembali ditandu.

Di ujung lembah Mitoh, tim Siaga SAR Suwanting yang terdiri dari Umar, Badai, Rambat, Iyana, Qarim, dan Wandi telah menunggu. Keenamnya merupakan tim bantuan yang naik dari Base Camp Induk untuk memberikan bantuan di ujung lembah Mitoh. Afri diminumi air hangat. Diberi makanan secukupnya. Seorang ahli terapi dari Suwanting, Rambat, melakukan terapi. Usai diterapi, Afri dapat melangkah, dan bisa dipapah hingga ke lembah Ngrijan.

Memapah Apri rupanya tidak dapat dilanjutkan. Kecuraman etape Ngrijan – Lembah Cemoro sangat riskan memapah Afri. Ditandu juga tidak memungkinkan. Indri, Celsi, dan Umar, lantas bergantian menggendong Afri.

Pukul setengah empat dinihari, tim evakuasi tiba di Pos I Lembah Lempong. Dari sini Afri dipapah menuju jalan beton yang merupakan batas hutan dengan area ladang sayuran warga Suwanting. Untuk mempercepat perjalanan ke Base Camp, Afri dinaikan sepeda motor, diapit oleh Eko dan Badai.

Di Base Camp, Afri ditangani oleh John Lempo, Arif, dan Eka. Dari pemeriksaan yang dilakukan ketiga personil SARMMI yang berasal dari Mapala Univ. Muhammadiyah Jogjakarta (UMY) diketahui, kondisi Afri sudah cukup, dan tidak memerlukan bantuan medis yang serius.

Arif menyayangkan keputusan Afri berlari menuruni jalur Suwanting. Namun Arif percaya, kejadian buruk ini akan menjadi pelajaran penting bagi Afri di pendakiannya di masa akan datang, “Setiap puncak selalu mengajarkan sesuatu” ujar Arid menyitir kata-kata penjelajah kenamaan Inggris Sir Mc. Coy.

Terhadap kegesitan dan kegigihan warga Suwanting menolong pendaki yang mengalami peristiwa buruk di Merbabu, Arif yang memilik pengalaman panjang mengikuti operasi SAR skala besar di banyak daerah, mengaku sangat kagum. Semangat warga Suwanting untuk menjadikan jalur sulit Suwanting aman bagi siapa saja,  juga pantas didukung.

“SARMMI yang merupakan Sekretariat Bersama (Sekber) SAR di Mapala Muhammadiyah Se Indonesia, memiliki tanggungjawab moral untuk mendukung warga Suwanting”, kata Arif.

Lebih jauh Arif menceritakan, SARMMI sudah sering datang ke Suwanting. Siaga SAR di Suwanting ini merupakan tindak lanjut silaturahmi SARMMI. Yang berpartisipasi di Tim SARMMI Siaga Suwanting adalah Mapala UMY. Mapala UMRI, dan Stacia UMJ. Tim kecil yang didukung Hammock Akira Mata ini, dilepas oleh Wakil Ketua Mapala UMY, di kampus UMY. SARMMI Siaga Merbabu bersama warga Suwanting selama tiga hari.

“Kami prediksi, Suwanting yang baru dibuka dua tahun, akan menjadi jalur idaman pendaki Merbabu. Jalurnya yang sulit, namun memilik pemandangan cantik, serta sikap ramah penduduk Suwanting, akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendaki dari manapun”, kata Arif.

Senada dengan Arif, seorang pendaki dari kelompok Napala Jakarta, Een Rohayani yang ke Merbabu bersama suami, dan tiga anak mereka, mengakui pula keelokan pemandangan jalur Suwanting, dan keramahan warganya

“Kami sekeluarga benar – benar mendapat pengalaman istimewa mendaki Merbabu. Jalur Suwanting memang sulit. Tetapi itu sebanding dengan pemandangannya yang cantik. Penduduknya yang ramah, membuat ketiga anak kami terkesan. Ini bagus untuk melatih mereka berinteraksi sosial. Pendaki yang ingin mendapat nuansa berbeda, pasti akan mendaki Merbabu melalui Suwanting”, papar Een menerangkan.