Kategori: Uncategorized

Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah: Di Kegiatan SARMMI, Gerak dan Dakwah Muhammadiyah Sangat Terasa

Mengagetkan. Ternyata lebih dari satu abad yang lalu, Muhammadiyah sudah bergerak di kebencanaan.

  1. Saat Indonesia belum lahir, Muhammadiyah sudah mengirim relawan kemanusiaan ke Blitar, Jawa Timur, guna membantukorban erupsi Gunung Kelud.

Sejarah penting bagi gerakan kerelawanan di Indonesia yang belum banyak diketahui publik itu, diungkap oleh Wakil Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Muhammad Adam Jerusalem, saat menyampaikan sambutan pada acara penutupan Munas SARMMI. Di Auditorium Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Pada Minggu, 7 Agustus 2022.

Sambutan disampaikan Adam Jerusalem melalui zoom dari Bangkok.

Lebih rinci diceritakan olehnya, pada 20 Mei 1912, tatkalaterjadi erupsi Gunung Kelud yang menelan korban sangat banyak, Pimpinan Pusat Muhamadiyah kala itu, yakni Kyai Sujak di Kauman Yogyakarta, mengambil langkah tegas dan strategis untuk membantu korban erupsi Gunung Kelud.

Peristiwa itu kemudian menginspirasi Kyai Sujak, KH. Ahmad Dahlan dan tokoh lainnya mendirikan suatu badan yang diberinama PKU (Penolong Kesengsaraan Umum).

Gerakan filantropi Muhammadiyah tadi, kemudian melintas batas, jarak, budaya, religi dan batas-batas lainnya.

“Gerakan filatropi Muhammadiyah melintas batas-batas, karenagerak dan dakwah Muhammadiyah secara genuine memangseperti itu,” imbuhnya.

“Gerak dan dakwah Muhammadiyah tidak berhenti padaceramah-ceramah, fiqih, ibadah maupun agenda. Tetapi jugapada kegiatan praktis di masyarakat. Salah satunya adalah memberi pertolongan kepada masyarakat umum,” jelas Adam Jerusalem.

Terhadap kiprah SARMMI (SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia) di kebencanaan, Adam Jerusalem yang mewakili Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, menilai peran, gerak dan program SARMMI, sangat relevan dengan apa yang duludipikirkan oleh para pendahulu Muhammadiyah.

“Peran SARMMI sangat signifikan dan esensial, karena peranSAR sangat dibutuhkan tatkala terjadi bencana alam, bencana kesehatan, dan bencana kemanusiaan,” terang Adam Jerusalem.

Meski demikian lanjutnya, pergerakan dan program pengurusbaru SARMMI periode 2022-2024, harus bisa lebih progresif, dan bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya, serta bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisiyah pada khususnya.

SARMMI dengan berbagai kegiatannya, harus pula dapat membuat suatu program untuk meningkatkan kapasitasanggotanya. Capacity building ini terkait dengan memberikan pertolongan-pertolongan dan program-program untuk membantu korban bencana alam.

Tak kalah pentingnya untuk dilakukan SARMMI ke depan kata Adam Jerusalem, adalah membangun kerja sama, kolaborasi, komunikasi, dan kordinasi dengan SAR di Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisiyah lebih merekat.

SARMMI adalah lembaga SAR yang bercirikanMuhammadiyah. Hal ini tentu membuat SARMMI berbedadengan lembaga SAR lainnya.

“SARMMI berbeda dengan SAR lain. Di SARMMI gerak dan dakwah Muhammadiyah sangat terasa. Oleh karenanya, semangat kebersamaan antar SAR di Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisiyah perlu ditingkatkan dan dikordinasikan,” kata Adam Jerusalem.

“Sehingga manakala terjadi bencana di tempat tertentu, maka bisa dengan cepat simpul-simpul ini dikonsolidasikan, serta digerakan dengan efisien dan itu pasti efektif,” tambahnya.

Kepada peserta Munas SARMMI, Adam Jerusalem berpesan,tatkala terjadi bencana, Persyarikatan Muhammadiyah, kader Muhammadiyah, anggota, simpatisan, dan jamaah Muhammadiyah tak boleh cuma melihat saja. Ini bertentangan dengan apa yang sudah dicontohkan oleh para pendahulu Muhammadiyah.

“Manakala terjadi bencana anggota SARMMI, masyarakat umum, warga Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisiyah, terutaman mahasiswanya harus dapat lincah, cekatan, dantanggap dengan cepat atas bencana tersebut,”pungkas Adam Jerusalem.

Musyawarah Nasional SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (Munas SARMMI) diselenggarakan mulai Jumat hingga Minggu, 5-7 Agustus 2022. Diikuti oleh perwakilan Mapala Muhammadiyah di Indonesia.

Pelaksana Munas adalah Mapsa UMP (Mapala Satria Universitas Muhammadiyah Purwokerto).

Salah satu agenda Munas SARMMI adalah memilihkepengurusan untuk periode dua tahun mendatang.

Pada Munas SARMMI yang ketiga ini, Handi Abdullah Muflihdari Mapsa UMP terpilih sebagai Ketua Umum SARMMI Periode 2022-2024. Ridwan Sidiq dari Mapsa UMP sebagai Sekretaris Umum.

Posisi Bendahara Umum SARMMI dijabat oleh Tia Sepiyani, dari CAMP STIE Muhammadiyah Jakarta.

Selain tiga nama di atas, ditetapkan pula empat ketua SARMMI.

Ketua Bidang Operasional dijabat oleh Fadlik Al Iman dari Stacia UMJ. Ketua Bidang Kominfo dijabat oleh Abdurahman dari Mapala UMRI.

Kemudian Ketua Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia dijabat oleh Arif Romadhoni Setyawan dari Mapala UMY. Terakhir Ketua Bidang Logistik dijabat oleh Farich Fauzi dari UMS.

(Ahyar Stone & Rani Puspina/SARMMI)

Pulihkan Kegiatan Ibadah Korban Gempa. Relawan SARMMI Dirikan Mushola Darurat.

Di kebencanaan, ada banyak hal yang perlu dipulihkan. Termasuk memulihkan kegiatan ibadah korban bencana.

Demikian kata Raja Alpian, kordinator pembangunan rumah ibadah darurat Posko Kemanusiaan SARMMI (SAR Mapala Muhammadiyah) di Pasaman Barat, Sumatera Barat. Tatkala memulai merobohkan Mushola Nurul Himah yang hancur akibat gempa. (10/3/20222)

Mushola Nurul Himah yang dikerjakan oleh relawan SARMMI berada di Jorong Pasar Lamo. Nagari Kajai. Kecamatan Talamau. Pasaman Barat.

Dijelaskan oleh Raja Alpian yang merupakan anggota Mapala UMRI (Universitas Muhammadiyah Riau). Akibat gempa Pasaman yang terjadi beberapa waktu lalu, Mushola Nurul Himah meski belum sepenuhnya roboh tetapi mengalami rusak berat. Berbahaya bila tetap digunakan untuk beribadah.

Padahal masyarat Minang dikenal religius dan aktif melaksanakan ibadah berjamaah di surau-surau.

“Bencana gempa tak menyurutkan semangat masyarakat Minang beribadah. Hanya saja aktifitas ibadah berjamaah mereka terhenti karena mushola atau masjid mereka roboh,” jelas Raja Alpian.

Lantaran itulah tambah Raja Alpian, atas permintaan jamaah Mushola Nurul Himah, relawan SARMMI memulai merobohkan mushola.

Seteleh roboh hingga rata dengan tanah, puing-puing Mushola Nurul Himah dibersihkan.

Lalu di lokasi yang sama didirikan mushola darurat dengan memanfaatkan material yang masih bisa dipakai. Seperti kusen, daun pintu, seng dan kasau.

Raja Alpian mengaku belum dapat memprediksi berapa hari dibutuhkan oleh relawan yang dipimpinnya untuk menuntaskan pekerjaan.

Hal itu terkait dengan masih sering hujan, relawan yang terbatas, serta memerlukan material tambahan. Agar mushola darurat dapat berdiri kokoh dan nyaman dipakai warga untuk sholat jamaah di bulan ramadhan.

“Kami butuh bantuan tenaga relawan dan bantuan dalam bentuk lain. Agar mushola segera selesai. Sehingga aktifitas ibadah warga Jorong Pasar Lamo pulih seperti sebelum gempa,” kata Raja Alpian.

Sementara itu, Tirta Ningsih — jamaah yang rumahnya berhadapan dengan Mushola Nurul Himah – menginfokan, Mushola Nurul Himah dapat menampung sekitar 50 orang.

Selain digunakan untuk sholat lima waktu berjamaah, Mushola Nurul Himah juga digunakan untuk pengajian tiap hari rabu, serta untuk anak-anak Jorong Pasar Lamo mengaji.

“Kami sangat berharap Mushola Nurul Himah dapat berdiri kembali. Walaupun masih darurat. Warga Jorong Pasar Lamo butuh mushola untuk ibadah ramadhan,” kata Tirta Ningsih. (AS) (lebih…)

Selamatkan Pendidikan Siswa Korban Gempa Pasaman. Relawan SARMMI Selenggarakan Sekolah Darurat

Bekerja sama dengan TNI AL Teluk Bayur Padang, relawanSARMMI (SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia) menyelenggarakan kegiatan belajar darurat untuk anak-anakkorban gempa Pasaman Sumatera Barat.

Relawan SARMMI yang terlibat di kegiatan ini adalah empatanggota Mapala UMSB (Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat) yakni Amelia Putri Suktan, Junita Tiara, Maisri YesaPutri, Juni Lestari. Serta Muhatir dari Mapala UMRI (Universitas Muhammadiyah Riau).

Diterangkan oleh Amelia, gempa menyebabkan sekolah formal diliburkan. Sementara semangat belajar siswa perlu dijaga. Pendidikan harus diselamatkan. Lantaran itulah relawanmenyelenggarakan sekolah darurat.

“Yang mengikuti sekolah darurat sebanyak 50 siswa SD danSMP. Mereka adalah anak-anak yang menjadi korban gempaPasaman,” terang Amelia. (8/3/2022)

Sekolah darurat diselenggarakan di halaman SD Negeri 2 Kecamatan Talamau. Pasaman Barat.

Juga di camp pengungsian yang terletak di tengah perkebunansawit di Desa Lubuk Panjang. Jorong Kampung Alang. NagariKajai. Pasaman Barat. Di kebun sawit ini pula PoskoKemanusiaan SARMMI berada.

“Materi pelajaran sekolah darurat yang kami berikan muatannyayang ringan-ringan, serta ditambah dengan beberapa permainanedukasi yang menyenangkan,” tambah Amelia.

Pelajaran ringan dan fun game jelas Amelia, sengajadigabungkan karena sekolah darurat juga berfungsi sebagaipendampingan psikososial untuk anak-anak yang merupakankelompok rentan pada bencana alam. (AS)

Menguatkan Hubungan Baik Indonesia-Timor Leste Melalui Kegiatan Pecinta Alam

Hubungan bilateral umumnya terjalin melalui jalur diplomatikdua negara. Lewat kesepakatan ekspor impor, atau dari perjanjian hutang piutang. Apa mungkin ditambah melalui jalur kegiatan pecinta alam?

Tentu saja itu mungkin. Menariknya, inilah yang sekarang terjadi dan akan terus menerus dilakukan oleh SARMMI (SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia) bersama organisasi pecinta alam dari Timor Leste yang lengkapnya bernama Associação GERHANA-Explora no Prezerva Natureza, Timor-Leste.

Untuk diketahui, SARMMI merupakan organisasi skala nasionalyang bergerak di bidang kemanusiaan. Anggota SARMMI adalah Mapala di perguruan tinggi Muhammadiyah se Indonesia.

Lantaran itulah, SARMMI — baik secara kelembagaan maupun individu personilnya — dikenal mumpuni di bidang pecinta alam, serta memiliki kemampuan dan jumlah pengalaman terjun ke daerah bencana di atas rata-rata. Terutama di lokasi bencana yang terisolir dan terpencil.

Sementara Associação GERHANA-Explora no Prezerva Natureza adalah salah satu dari sedikit organisasi pecinta alam di negara Timor Leste.

Karena di sana bahasa Indonesia bukan bahasa nasional, makafrase GERHANA di sini bukan seperti pemahaman orang Indonesia sebagai “gerhana bulan”. Melainkan bermakna organisasi pecinta alam, karena GERHANA adalah akronim bahasa Portugis dari kata Geração Hadomi Natureza. Artinya generasi pecinta alam.

Diceritakan oleh ketua umum (mereka menyebutnya presiden) Associação GERHANA, Antoninho dos Santos Oliveira, saat ini jumlah organisasi pecinta alam di Timor Leste masih bisa dihitung dengan jari dua tangan. Alias tak lebih dari sepuluh. Level kemampuannya pun kalah jauh dari pecinta alam di Indonesia yang jumlah organisasi pecinta alamnya sudah dua ribu lebih.

Meski kalah level dan jeblok dijumlah, tak lantas membuat para aktivis pecinta alam di negara yang bernama resmi República Democrática de Timor-Leste (bahasa Portugis) mati langkah.

Melalui organisasi GERHANA, aktivis pecinta alam di negarayang dalam bahasa Tetum disebut Timór Lorosa’e itu proaktif meningkatkan kemampuan personilnya, mempopulerkan kegiatan pecinta alam di Timor Leste, serta menjalin kekerabatan dengan SARMMI.

Tiga upaya keras itu mereka lakukan secara simultan atau serempak, karena seperti diakui Antoninho, kalau kemampuan anggota GERHANA meningkat dan kegiatan pecinta alam kian popular, tentu bakal tambah banyak generasi muda di Timor Leste yang masuk organisasi pecinta alam. Ini kabar bagus untuk orang-orang di Timor Leste.

“Semakin banyak pecinta alam tentu banyak sisi baiknya. Baik bagi kemajuan pecinta alam itu sendiri, dan baik untuk masyarakat luas. Karena pecinta alam adalah media yang tepat untuk melahirkan generasi muda berkarakter positif. Tipikal generasi semacam ini diperlukan guna membangun Timor Leste pada masa kini dan mendatang,” ungkap Antoninho. (23/9/2021)

“Tentu kami tak bisa kerja sendirian. Perlu pendampingan dari SARMMI yang lebih berpengalaman di bidang pecinta alam dan kegiatan kemanusiaan,” ujar Antoninho.

“Di Timor Leste organisasi SAR belum ada. Dengan didampingiSARMMI kami berupaya jadi pelopor SAR di Timor Leste. Pendampingan ini juga bakal menguatkan hubungan baik Timor Leste dan Indonesia,” lanjutnya.

Sependapat dengan Antoninho, ketua umum SARMMI Adri Hendra Febriansyah yang dihubungi terpisah mengatakan, pilinan kerja sama SARMMI dengan GERHANA akan langsung berdampak pada kuatnya hubungan baik dua negara.

“Hubungan baik antar negara justru tambah menguat karena interaksi interpersonal antar warganya dan kerja sama organisasidari negara berbeda yang bergerak di bidang yang sama,” kata Adri Hendra.

Dipahami oleh Adri Hendra yang juga anggota Stacia Univ. Muhammadiyah Jakarta, kuantitas dan kualitas pecinta alam di Timor Leste memang berbeda jauh dibanding di Indonesia.

Perbedaan itu wajar, karena umur pecinta alam di Indonesia sudah setengah abad lebih, sedangkan pecinta alam di Timor Leste mulai ada awal tahun 2000.

Tapi perbedaan ini tidaklah penting benar.

“Kalau bicara tentang pecinta alam maka yang lebih pokokdikupas adalah tentang human resources yang dihasilkan sebagai output organisasi pecinta alam sebagai lembaga penghasil sumber daya manusia berkarakter positif, sertamanfaat-manfaat yang disumbangkan pecinta alam kemasyarakat luas dan bangsanya,” urai Adri Hendra.

Atas dasar itulah lanjut Adri Hendra, SARMMI bakalsepenuhnya mendampingi GERHANA.

Pendampingan bersifat kerja sama jangka panjang. Dimulaidengan menyelenggarakan International Webinario atauWebinar Internasional.

Thema webinar seri perdana nanti adalah mengupas pecinta alam pada era milenial. Diselenggarakan sabtu 25 September 2021.

Yang menjadi narasumber International Webinario ungkap Adri Hendra adalah Ahyar Stone dan Fadlik Al Iman. Posisi moderator dipegang Tia Septiani. Tiga orang ini pengurus pusat SARMMI yang lain jabatan.

Tia Septiyani menjabat Sekretaris SARMMI. Tia berasal dari Mapala CAMP STIEM Jakarta. Fadlik merupakan ketua SARMMI bidang Komunikasi dan Informasi. Ia adalah anggota istimewa Stacia Univ. Muhammadiyah Jakarta.

Sedangkan Ahyar menjabat anggota dewan pengarah SARMMI. Ia anggota luar biasa Mapala Univ. Muhammadiyah Yogyakarta. Selain dikenal sebagai direktur Wartapala KP Yogyakarta, Ahyarjuga penulis buku Pecinta Alam adalah Pendidikan Karakter.

Terhadap International Webinario seri perdana, Antoninho menceritakan anggota GERHANA sangat antusias hendak mengikutinya. Selama ini mereka hanya belajar sendiri, sekarang malah didampingi SARMMI. Tentu bakal banyak pengetahuan baru yang bakal direngkuh sekaligus meningkatman capacity dan talent mereka.

Respon anak-anak muda di Timor Leste terhadap acara ini rupanya juga oke. Tatkala International Webinario dipublikasikan yang bertepatan dengan rekruitmen anggota baru GERHANA, banyak anak muda yang langsung mendaftar jadi anggota GERHANA.

Acara itu juga menaikan gairah para aktivis pecinta alam di Timor Leste guna menata pecinta alam di negaranya agar lebih kondusif.

Sementara itu, beberapa anggota GERHANA mengakui Internasional Webinario merupakan momen istimewa. Kata mereka, kami tidak menyangka bakal bertemu SARMMI. Lantas menimba ilmu dan jadi akrab dengan pecinta alam dari Indonesia.

Seorang dari mereka berkata dengan riang, “Este é um momentoespecial. Esperançosamente, um dia nos encontraremos direitacom os membros do SARMMI

Terjemahannya, “Ini momen istimewa. Semoga suatu saat kami bertemu langsung dengan anggota SARMMI.”

(Ahyar Stone/Rani Puspina)


 

SARMMI dan GERHANA Timor Leste Akan Selenggarakan Webinar Internasional Pecinta Alam

 

Sampai hari ini jumlah organisasi pecinta alam di Timor Leste belum banyak. Masih dapat dihitung dengan jari. Kegiatannya juga minim. Perlengkapan dan peralatan masih jauh dari lengkap. Wawasan dan keterampilan masih terbatas. Padahal peran pecinta alam sangat diperlukan guna membangun generasi muda tangguh di Timor Leste. Demikian kata Antoninho dos Santos Oliveira, ketua umum Associação GERHANA-Explora no Prezerva Natureza, Timor-Leste, saat menyampaikan sambutan pada rapat bersama denganPengurus Pusat SARMMI (SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia).  Rapat diselenggarakan secara meeting zoom pada 20 September 2021.

Nama organisasi yang dipimpin Antoninho bila diterjemahkan bebas dalam bahasa Indonesia adalah GERHANA Organisasi Pecinta Alam Timor Leste. Pada rapat yang menghubungkan dua organisasi pecinta alam dari dua negara bertetangga, Antoninho didampingi jajaran pengurus GERHANA yakni Ermelinda, Dwi Novi Lestari, Leonia Alves de Gloria, Vitalina Maria Flavia, Liliana Freitas, Julia Sequiera Mendes, serta Nove Letter.

Diterangkan oleh Antoninho, potensi bencana alam di Timor Leste tergolong banyak dan sering terjadi. Namun lembaga SAR dan organiasasi yang bergerak di bidang relawan bencana belum ada. Setiap ada bencana alam, anggota GERHANA langsung kelokasi bencana. Tetapi karena masih banyak keterbatasan, anggota GERHANA kerap kewalahan.

“Untuk itulah kami perlu pendampingan dari SARMMI,” pintaAntoninho.

Senada dengan Antoninho, kaprodi GERHANA Dwi Novi Lestari menceritakan, aktivitas GERHANA tergolong padat. Selain rutin menyelenggarakan kegiatan internal untukmeningkatkan kualitas anggota. Memberikan edukasi kepadapara pendaki di Timor Leste tentang larangan membuang sampah dan memetik bunga Eidelweiss. GERHANA juga senantiasa siaga bencana, serta secara berkala melakukan pengawalan bagi ribuan umat katolik yang berziarah ke gunung-gunung tertentu di Timor Leste.

“Umat yang melakukan ziarah, sebagian lanjut usia. Sedangkanmedan yang harus mereka daki tergolong ekstrim, banyak ularberbisa,suhunya dingin dan hujan kerap turun secara tiba-tiba,” ujar Dwi Novi.

“Kami memiliki tanggung jawab besar terhadap keselamatan umat yang berziarah, serta korban bencana alam di Timor Leste. Melalui kegiatan pecinta alam, kami juga ingin berperan aktifmelahirkan generasi muda yang berkarakter untuk membangunmasa depan negara kami,” paparnya.

Merespon motivasi kuat GERHANA untuk memajukan kegiatanpecinta alam, serta menjadi pelopor berdirinya SAR dankerelawanan di Timor Leste, ketua umum SARMMI, Adri Hendra Febriansyah menyatakan SARMMI bersedia melakukanpendampingan.

Tiga belas orang Pengurus Pusat SARMMI yang menyertai Adri Hendra pada zoom meeting yakni Muh. Alfatih, Slamet Widodo, Aris Munandar, Ade Putra Ode Amane, Fadlik Al Iman, Rinanto, Ahyar Stone, Fafa, Ilham, Tia Septyani, Lita Chaniago, serta Rani Puspina, juga mendukung kebijakan SARMMI melakukan pendampingan.

Menurut Adri Hendra, mendampingi GERHANA merupakanbentuk tanggung jawab sosial SARMMI agar aktivitas pecintaalam tambah berkualitas dan bermanfaat. Juga komitmen SARMMI terhadap masalah kemanusiaan.

“SARMMI akan totalitas, karena pendampingan tersebut merupakan kontribusi SARMMI dalam membangun kegiatan kemanusiaan SAR dan kerelawanan di Timor Leste,” tegas Adri Hendra.

Untuk merealiasaikan, SARMMI dan GERHANA sepakatmenyelenggarakan beberapa kali Webinar Internsional secaraserial. Tiap seri, topik yang disampaikan berbeda, namun tetapbersambungan dengan seri lainnya. Materi tiap webinar akan dibahas bersama-sama.

Sebagai langkah awal, GERHANA dan SARMMI sepakatmenyelenggarakan Webinar Internasional yang akandilaksanakan pada 25 September 2021. Bertindak sebagai narasumber adalah dua personil SARMMI yakni Ahyar Stone dan Fadlik Al Iman.

Ahyar Stone adalah anggota Dewan Pengarah SARMMI. Anggota Luar Biasa Mapala UMY. Ia juga menjabat Direktur Wartapala Indonesia KP Yogyakarta. Judul materi akan disampaikannya adalah“Pecinta Alam : Apa & Bagaimana”

Sedangkan Fadlik Al Iman merupakan ketua SARMMI Bidang Komunikasi dan Informasi. Anggota Luar Biasa Stacia UMJ.  Fadlik akan menyampaikan materi berjudul “Manifesto Kode Etik Pecinta Alam Pada Era Milenial”

Baik pihak Gerhana maupun SARMMI, sama-sama berharapWebinar Internasional ini sukses, serta memperkuat hubungan bilateral Indonesia dan Timor Leste. (AS dan Rani Puspina)

Milad ke 38: Mapala UMY Siap Mendaki Aconcagua di Argentina

Meski telah memiliki prestasi hingga tingkat Internasional, Mapala UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) tetap merasa harus meraih prestasi-prestasi baru termasuk menuntaskan pendakian ke tujuh puncak tertinggi di tujuh benua yang popular disebut Seven Summits.

Demikian kata Ketua Umum Mapala UMY Putra Rahayu Nadi saat menyampaikan sambutan pada acara Milad Mapala UMY ke 38 yang diselenggarakan di kampus UMY. Selain dihadiri oleh anggota Mapala UMY lintas generasi, pada acara yang menerapkan protokol kesehatan itu hadir pula utusan Mapala di Jogjakarta, Solo dan Semarang. (5/5/2021)

“Milad Mapala UMY kali ini adalah momentum emas kami untuk memulai melakukan segala persiapan guna mendaki gunung Aconcagua di Argentina. Aconcagua adalah puncak ketiga di sirkuit Seven Summits dunia yang akan digapai Mapala UMY. Sebelumnya Mapala UMY telah sukses mendaki gunung Elbrus di Rusia dan gunung Kilimanjaro di Tanzania,” terang Putra Nadi.

Pada acara yang dimeriahkan oleh unit musik mahasiswa UMY yang menampilkan genre musik, rock, pop dan reggae, Putra Nadi menjelaskan pula kendati Mapala UMY telah berpengalaman mendaki dua gunung yang masing-masing tertinggi di benua Eropa dan benua Afrika, tetapi pada pendakian ke Aconcagua nanti, Mapala UMY tetap perlu melakukan persiapan terbaik dan strategis, karena gunung Aconcagua yang merupakan puncak tertinggi di benua Amerika Latin, memiliki karakteristik unik yang cuacanya sulit diprediksi.

“Kami serius mempersiapkan diri, karena Mapala UMY menyadari pula bahwa pendakian ke Aconcagua bukan sekedar mewakili organisasi yang telah berusia 38 tahun ini, tetapi mewakili pula civitas akademika UMY, warga Muhammadiyah secara keseluruhan, menjadi representasi pecinta alam di tanah air, serta merupakan duta bangsa di mata Internasional dan di kancah pendakian kelas dunia,” tegas Putra Nadi.

Sementara itu pendiri Mapala UMY Rozi Amin pada sambutannya menjelaskan, kesuksesan Mapala UMY mendaki gunung Elbrus serta gunung Kilimanjaro, dan sekarang akan memulai langkah menuju gunung Aconcagua adalah bukti nyata silaturahmi dari generasi terdahulu hingga generasi sekarang sangat solid di Mapala UMY.

“Tepat pada 5 Mei tiga puluh delapan tahun lalu, saya bersama empat belas mahasiswa UMY kala itu dan didampingi seorang senior Mapala Unisi, mendeklarasikan berdirinya Mapala UMY di puncak gunung Lawu. Modal mendirikan UMY hanya semangat membara dan tekad yang kuat untuk membesarkan organisasi yang tidak memiliki apa-apa ini,” ungkap Rozi Amin.

Seiring berjalannya waktu ungkap Rozi Amin yang pernah menjabat Anggota DPRD Provinsi DIY, “Mapala UMY kian besar, berkembang dan tambah maju. Hal ini dapat dilihat dari kehadiran Mapala UMY di setiap lokasi bencana alam di tanah air, aktivitas Mapala UMY di ranah intelektual, peran aktif Mapala UMY pada pendakian level Internasional guna mewakili bangsa Indonesia, dan masih banyak lagi.”

Kendati demikian pesan Rozi Amin pada penerusnya, hendaknya aktivitas perkuliahan dan aktivitasnya mengikuti kegiatan di Mapala UMY harus dijalankan seimbang sesuai porsinya. “Agar kalian menjadi sarjana yang baik dan menjadi pecinta alam yang baik pada saat bersamaan,” pungkasnya.
(Rani Puspina)

Bocah Desa Sagu Korban Banjir NTT: “Terima Kasih Kakak Mapala”

Mata indah Hasan, Rasul, Alfat dan Zain terlihat berbinar. Senyum penuh semangat tak pernah lepas dari wajah polos mereka yang berwarna kecoklatan khas kulit orang pesisir. Mereka bersama belasan bocah lucu lainnya adalah peserta psikososial yang diselenggarakan oleh relawan Mapala Muhammadiyah yang mendirikan posko kemanusiaan di desa mereka yang bernama desa Sagu, kecamatan Adonara Timur, kabupaten Flores Timur, NTT.

Posko kemanusiaan tadi diinisiasi oleh Al Ghifari dari SARMMI (SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia) bersama Irchamsyah dari CAMP STIEM Jakarta, serta Andi Agil dan Zainal Alichsan dari Mamupa IKIP Muhamamdiyah Maumere.

Beberapa hari usai posko kemanusiaan didirikan, bergabung dua relawan Batara Guru Rescue Luwu Timur yakni Mustamun dan Taufik Syam, serta empat relawan dari IAIN Palopo yang masing-masing Jacky Talib, Ishak, Bayu Imam dan Ilham Andi.

Desa Sagu yang berpenduduk 980 KK, sebagian wilayahnya berada di pesisir dan beberapa bukit yang berada tak jauh dari garis pantai. Di dua tempat itulah warga desa Sagu bermukim.

Desa Sagu yang mayoritas warganya berprofesi nelayan, semula merupakan pemukiman elok nan tenang. Tetapi banjir bandang yang disebabkan oleh siklon tropis seroja yang mengganas di wilayah NTT, membuat desa Sagu beserta sekian banyak desa lain di NTT serta-merta berantakan. Sejumlah rumah roboh dan hanyut, longsor terjadi di banyak tempat, ekonomi sempat lumpuh dan bocah-bocah mengalami trauma yang perlu pemulihan segera.

“Sejak hari pertama mendampingi warga desa Sagu, anak-anak sudah kami prioritaskan. Mereka mengalami trauma pasca banjir bandang. Ada sekian materi psikososial untuk mereka. Kami selenggarakan berulang-ulang selama beberapa hari. Materi untuk hari ini adalah Ice breaking, game tradisional dan permainan mewarnai,” kata ketua relawan SARMMI Al Ghifari. (19/4/2021)

Semua materi jelas Al Ghifari mengandung edukasi, diselenggarakan dengan gembira, serta melibatkan peran aktif tiap anak-anak yang mengikuti psikososial. Melihat semangat peserta psikososial, Al Ghifari beserta semua rekan relawannya optimis trauma bocah-bocah yang mereka sayangi ini dapat segera pulih.

Semangat Hasan, Rasul, Alfat, Zain beserta belasan teman seusianya patut diapresiasi. Tiap selesai mengikuti sebuah materi psikososial, mereka akan mengikuti materi berikutnya dengan semangat yang sama seperti yang mereka tunjukkan pada materi sebelumnya. Juga dengan kegembiraan yang sama.

“Terima kasih kakak Mapala.” Begitu ucapan riang para bocah bersemangat itu usai mengikuti materi dari relawan yang mendampingi mereka. Ucapan sederhana yang polos, sekaligus menyiratkan ketulusan yang menggugah nurani siapa saja yang mendengarnya.

Bocah-bocah itu hatinya memang baik. Saat tak ada kegiatan untuknya, mereka bermain di sekitar posko kemanusiaan yang letaknya hanya beberapa meter dari laut yang ombaknya tidak ganas. Bila mendapati relawan sedang sibuk mengatur bantuan untuk warga desa Sagu, para bocah ini langsung reaksi cepat membantu — padahal tidak diminta. Ada yang menghitung mie instan. Ada yang memasukan beras ke plastik. Sebagian menyingkirkan kardus. Beberapa bocah berebut mengangkat bantuan yang sudah dikemas lalu menghitungnya — walaupun sering salah jumlah karena terhitung dobel. Seru. Juga lucu.

“Apel jatuh tak jauh dari pohon.” Begitu pesan sebuah pepatah kuno. Mudah dipastikan, sikap baik hati pada bocah itu merupakan warisan langsung dari orang tua mereka. Orang-orang lugu yang bersahaja. Terhadap ini Irchamsyah dari CAMP dan Andi Agil Mamupa memiliki pengalaman sukar dilupa.

“Tiap bertemu warga sini, mereka mengajak mampir ke rumahnya. Padahal tahu sendirilah kondisi rumah mereka pasca banjir. Mereka sangat senang saat kami bertandang. Padahal kami tidak membawa apa-apa saat mampir,” kata Irchamsyah.

Andi Agil bertutur, “Warga selalu memperhatikan kami. Menanyakan kesehatan kami. Tiap hari ada saja warga yang mengajak berbuka puasa di rumahnya. Ajakan mereka sungguh-sungguh. Bahkan kalau malam, ada warga datang ke posko dan meminta kami tidur di masjid Muchlisin Sagu. Agar kami tak kedinginan, karena posko kami tak berdinding sehingga angin laut bebas masuk tanpa penghalang.”

Begitulah warga desa Sagu. Bencana banjir yang meluapi desa mereka tak membuat sikap baik hati mereka ikut hanyut terbawa air bah. Mereka tetap peduli, bahkan kepada para relawan yang datang justru karena peduli pada nasib mengenaskan mereka.
(Ahyar Stone / SARMMI. Mapala UMY. Wartapala Jogja)

Relawan Mapala Muhammadiyah Selenggarakan Psikososial Untuk Anak-anak Korban Banjir di Flores Timur

Sejak Relawan SARMMI (SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia) dan CAMP STIE Muhammadiyah Jakarta serta Mamupa Muhammadiyah Maumere mendirikan posko kemanusiaan di desa Sagu kecamatan Adonara Timur, kabupaten Flores Timur, bantuan yang masuk ke desa yang dihuni oleh 980 KK ini mulai mengalir. Salah satunya bantuan dari Forum Komunitas Driver Onlien Indonesia (FKDOI).

Tiap bantuan yang masuk dipilah-pilah menurut jenisnya, lantas didistribusikan langsung ke korban banjir di desa Sagu.

“Usai dipilah langsung dipacking, lalu dibagikan ke warga korban banjir. Bantuan tidak ditumpuk lama di posko. Tidak sampai sehari bantuan sudah sampai ke tangan warga,” kata Irchamsyah, relawan dari CAMP. (17/4/2021)

Irchamsyah menambahkan, warga desa Sagu ada yang berdiam di bukit-bukit, dan sebagian di pesisir. Bantuan lebih banyak didistribusikan ke daerah pesisir karena mayoritas korban banjir akibat siklon tropis seroja adalah warga yang berdomisili di pesisir.

Pendistrbusian bantuan dibantu kepala desa Sagu dan para pemuda. “Pak Kades dan pemuda juga terlibat aktif mengurus posko kemanusiaan,” terang Irchamsyah.

Selain mendistribusikan bantuan berupa bahan pangan, kegiatan posko yang diinisiasi oleh tiga Mapala Muhammadiyah adalah menyelenggarakan psikososial, edukasi kebencanaan dan pembelajaran cara efektif mengelola sampah. Tiga kegiatan ini digabung menjadi satu sesi yang menarik sehingga anak-anak korban banjir semangat mengikutinya hingga usai.

“Kami menyajikan fun game yang menyenangkan serta menyampaikan materi psikososial, edukasi kebencanaan dan penanganan sampah melalui story telling yang menghibur. Meski demikian kami perlu mengulangnya beberapa kali lagi di hari lain. Agar trauma anak-anak ini benar-benar berkurang drastis,” kata relawan Mamupa Zainal Alichsan Fuad.

“Usai kegiatan lapangan, anak-anak kami sertakan pula pada acara buka puasa bersama, sholat maghrib berjamaah dan taraweh bersama orang dewasa. Kegiatan keagamaan juga efektif sebagai sarana psikososial. Bagusnya lagi, semangat warga desa Sagu untuk beribadah juga baik,” pungkas Zainal. (M. Aris/ WI KP Jogjakarta)

Relawan SARMMI dan Relawan IKIP UM Menjalankan Puasa di Lokasi Banjir NTT

Bulan ramadhan bukan halangan relawan kemanusiaan untuk ke lokasi bencana. Puasa justru meningkatkan motivasi relawan untuk menebar ke baikan, membantu korban bencana di Adonara Timur.

Begitulah kata Al Ghifari, ketua operasi kemanusiaan SARMMI (SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia) untuk NTT, usai mengikuti rapat kordinasi bersama relawan dari IKIP Muhammadiyah Maumere (UM), yang diselenggarakan di Weiwerang, kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, NTT. (15/4/2021)

Al Ghifari menceritakan, di Weiwerang relawan SARMMI bersinergi dengan relawan dari CAMP STIE Muhamadiyah Jakarta, serta relawan dari IKIP Muhammadiyah Maumere yang berasal dari unsur Presma, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan Mamupa.

Di Weiwerang para relawan ini mendirikan posko kemanusiaan guna melakukan pendampingan warga korban banjir yang berada di Weiwerang dan Weiburak. Banjir ini disebabkan oleh siklon tropis seroja.

Bersinergi pula di posko kemanusiaan tadi adalah IPM Nangahure, IPM Semamers dan Remas Al Hikmah.

“Tiap sore kami buka puasa bersama, lalu taraweh. Kemudian sahur bersama. Paginya kami melakukan kerja kemanusiaan untuk warga terdampak banjir,” lanjut Al Ghifari.

Untuk efektifitas, relawan kemanusiaan dipecah menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama membantu warga membersihkan puing-puing yang berserakan di banyak tempat di desa Weiwerang.

Kelompok kedua membantu membersihkan mushola Mujahidin di komplek Koramil.

Sedangkan kelompok ketiga gotong royong bersama warga Weiburak membersihkan puing-puing.

Tiap kelompok yang lebih dulu menyelesaikan pekerjaan, akan bergeser membantu kelompok lain. Hingga semuanya tuntas.

“Disamping melakukan bersih-bersih, para relawan juga mendistibusikan kebutuhan dasar korban banjir berupa beras, air bersih, pakaian dan masih banyak lagi” jelas Al Ghifari.

Sementara Erni Rukimini, salah seorang perintis Mahupa yang dihubungi terpisah mengatakan, semua relawan berkeinginan agar kehidupan warga terdampak banjir segera pulih seperti sedia kala.

“Keinginan itu ditunjukkan dengan bekerja all out di lapangan. Lapar dan haus karena puasa, bukan penghalang bagi mereka untuk membantu sesama,” pungkasnya. (AS)

Operasi Kemanusiaan SARMMI Resmi Berakhir di Mamuju, Sulawesi Barat

*Resmi Berakhir*

*Operasi kemanusiaan SARMMI di Mamuju, Sulawesi Barat*

Untuk merespon gempa 6,2 yang terjadi di kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, pada 18 Januari 2021, SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) mengirim relawan kemanusiaan dari Solo Jawa Tengah, Farich Fauzi (Fafa) ke Mamuju.

Pada 22 Januari 2021, relawan SARMMI Fafa yang bersinergi dengan CRI dan KPA Kaliavo Donggala mendirikan posko kemanusiaan di dusun Tamao, Desa Tampalang, Kec. Tapalang, Mamuju.

SARMMI kemudian memberangkatkan lagi tiga relawan kemanusiaan yakni Aris Wafdulloh dan Ahyar Stone (Keduanya dari Mapala Univ. Muhammadiyah Yogyakarta) serta Ilham dari SARMMI Solo.

Pada 29 Januari 2021 relawan SARMMI mendirikan Posko Kemanusiaan SARMMI di dusun Ulu Taan, desa Taan. Tapalang. Mamuju.

Tiga desa yang menjadi _focus area_ (desa yang didampingi) adalah dusun Ulu Taan di desa Taan, Desa Bela dan Desa Kopeang.

Dusun Ulu Taan merupakan dusun terpencil yang sukar diakses.

Sedangkan desa Bela dan desa Kopeang, selain terpencil juga terisolir, karena akses tunggal ke sana yakni jalan belum diaspal sepanjang 12 km tertutup puluhan titik longsor.

Bantuan ke dusun Ulu Taan hanya dapat dibawa dengan sepeda motor dan kendaraan roda empat dengan spesifikasi tertentu.

Sementara bantuan ke dusun Bela dan desa Kopeang, cuma bisa di drop helikopter atau berjalan kaki hingga ke dusun Ulu Taan (dusun terdekat) melalui titik-titik longsor yang berbahaya.

Operasional Posko Kemanusiaan SARMMI di dusun Ulu Taan, resmi berakhir pada 10 Februari 2021.

Selama 13 hari beroperasi, Posko Kemanusiaan SARMMI di dusun Ulu Taan telah :

1. Membuat pusat informasi dan Posko Singgah Relawan yang hendak ke desa Bela dan desa Kopeang

2. Pendataan (asesmen) titik longsor dari dusun Ulu Taan (titik pertama longsor) hingga pertigaan desa Bela – desa Kopeang

3. Membuat Shleter Bantuan Kemanusiaan di Tepi Sungai Taupe

4. Membuka jalan yang tertutup longsor – menggunakan gergaji mesin, golok, cangkul dan peralatan lain — dari dusun Ulu Taan hingga ke desa Bela dan desa Kopeang. Dikerjalan secara gotong rotong bersama warga dusun Ulu Taan, desa Bela dan desa Kopeang

5. Membuat dapur 24 jam

6. Menyelenggarakan TPA darurat

7. Sanitasi darurat / MCK

8. Psikososial untuk anak-anak

9. Distribusi kebutuhan dasar pengungsi

10. Edukasi kebencanaan

11. Survey titik longsor di sungai Taupe yang berpotensi banjir bandang

Dalam pengoperasikan Posko Kemanusiaan dan mengerjakan sebelas aktivitas kemanusiaan di atas, SARMMI tidak bekerja sendirian.

Tetapi bermitra dan bersinergi dengan relawan lain. Tanpa mereka SARMMI tak dapat berbuat maksimal.

Mereka adalah Mapala Univ. Muh. Yogyakarta. Stacia Univ. Muh. Jakarta. CAMP STIEM Jakarta. Mapsa Univ. Muh. Purwokerto. Mapala Univ. Muh. Riau. Mapalamu Univ. Muh. Luwuk Banggai. Mapala Salawat Univ. Muh. Parepare.

Relawan Batara Guru Luwu Timur. SAR Malili. Relawan Morowali Utara. CRI. KPA Kaliavo. MDMC Parepare. HW Univ. Muh. Parepare

Kemudian IOF Pengda DIY. IOF Pengda Morowali Mandar. Sanggar Al Quran. On Sight Solo. Aranya Mahidhara. Bunda Bella & team.

Dengan selesainya operasional Posko Kemanusiaan di dusun Ulu Taan, SARMMI bersama mitra sinerginya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberi bantuan dan dukungan.
Sehingga kerja kemanusiaan di Mamuju dapat dilaksanakan secara lancar dan berhasil sesuai harapan.

_“Teruslah peduli, agar semangat kepedulian tetap menyala di pertiwi ini”_

Mamuju, 11 Februari 2021
*Ketua Operasi Kemanusiaan SARMMI Untuk Sulawesi Barat*

_*(Aris Wafdulloh)*_

SARMMI dan Relawan Sulawesi Buka Akses Jalan Tertutup Longsor ke Desa Terisolir di Mamuju

*Menggunakan Gergaji Mesin. SARMMI dan Relawan Sulawesi Buka akses jalan tertutup longsor ke desa terisolir di Mamuju*

Akibat gempa Mamuju, desa Bela dan desa Kopeang mendadak terisolir. Karena satu-satunya jalan ke sana tertimbun longsor.

Titik longsor pertama berada di dusun Ulu Taan. Lalu berlanjut hingga ke desa Bela dan desa Kopeang. Sepanjang 12 km.

Kendaraan dengan spesifikasi khusus hanya dapat membawa bantuan sampai ke desa Ulu Taan.

Warga desa Bela dan desa Kopeang lalu memanggul bantuan hingga ke rumahnya.

Mereka jalan kaki naik turun di pohon-pohon berbagai ukuran yang tumbang karena longsor.

Untuk memudahkan warga berjalan kaki, SAR Mapala Muhammadiyah (SARMMI) yang mendirikan posko kemanusiaan di dusun Ulu Taan, kemudian bekerja sama dengan beberapa kelompok relawan di sulawesi membuka jalan.

Kelompok relawan itu adalah Batara Guru Luwu Timur, Relawan Morowali Timur, MDMC Parepare. Mapala Salawat dan HW univ. Muhammadiyah Parepare, serta Mapala Univ. Muhammadiyah Yogyakarta.

Pengerjaan dimulai dengan menggergaji pohon-pohon tumbang, membuat jalan berundak dan memasang pegangan di jalur naik yang licin. (6/2/21)

Pekerjaan kemanusiaan ini diprediksi selesai dalam tiga hari.

Mulai hari kedua warga dusun Bela dan dusun Kopeang, ikut gotong royong. Mereka mengerahkan 13 chainsaw atau gergagi mesin dan peralatan lain. (Ahyar Stone/SARMMI)

Relawan Kemanusiaan Dirikan Shelter Bantuan Untuk Dua Desa Terisolir Terdampak Gempa Mamuju

Desa Bela dan desa Kopeang, kecamatan Tapalang. Mamuju. Sulawesi Barat. Merupakan dua desa terdampak gempa Mamuju yang parah.

Akses tunggal ke sana yakni jalan tanah sejauh 12 km dari dusun Ulu Taan, tertutup longsor. Beberapa ruas jalan juga longsor tak bersisa.

Bantuan hanya dapat didrop helikopter. Atau dipanggul jalan kaki menembus sekian puluh titik longsor yang berbahaya.

Tiap hari warga dari dua desa tadi turun untuk mengambil bantuan dari desa Ulu Taan. Mereka butuh waktu dua hari untuk perjalanan PP.

Itu sama sekali bukan perjalanan yang sederhana.

Di sisi berbeda, para relawan kemanusiaan berupaya memanggul bantuannya hingga ke desa Bela dan desa Kopeang.

Lagi-lagi itu bukan perjalanan yang sederhana.

Untuk “menengahi” situasi demikian, SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) yang mendirikan posko kemanusiaan di dusun Ulu Taan, lantas bersama Komunitas Relawan Peduli Sulbar, mendirikan shelter bantuan untuk desa Bela dan desa kopeang. (3/2/21)

Shelter bantuan didirikan di tepi sungai Taupe. Dikerjakan oleh dua relawan SARMMI yakni Ramon dan Ahyar Stone (keduanya anggota Mapala UMY), serta Ari, Roki, Fiber, Dirga dari Relawan Peduli Sulbar.

Sungai Taupe merupakan titik tengah perjalanan dari dusun Ulu Taan ke dusun Bela dan desa Kopeang.

Bangunan yang dipakai adalah gubuk milik warga yang karena gempa, tak ditempatinya lagi.

“Teknis kerjanya, para relawan cukup memanggul bantuannya sampai ke shelter bantuan. Gubuk yang dipakai sudah kami modifikasi agar bantuan aman disimpan dan relawan bisa bermalam,” kata ketua tim operasi kemanusiaan SARMMI untuk Sulbar M. Aris Wafdulloh yang biasa dipanggil Ramon.

Lalu warga desa Bela dan desa Kopeang lanjut Ramon, mengambil bantuan tadi dan membawa hingga ke desa mereka.

“Dengan begitu, relawan dan warga desa cukup menuntaskan setengah perjalanan. Tak perlu lagi dua hari jalan kaki antar jemput bantuan,” pungkasnya. (Ahyar Stone)