Kategori: Uncategorized

Operasi Kemanusiaan SARMMI Resmi Berakhir di Mamuju, Sulawesi Barat

*Resmi Berakhir*

*Operasi kemanusiaan SARMMI di Mamuju, Sulawesi Barat*

Untuk merespon gempa 6,2 yang terjadi di kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, pada 18 Januari 2021, SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) mengirim relawan kemanusiaan dari Solo Jawa Tengah, Farich Fauzi (Fafa) ke Mamuju.

Pada 22 Januari 2021, relawan SARMMI Fafa yang bersinergi dengan CRI dan KPA Kaliavo Donggala mendirikan posko kemanusiaan di dusun Tamao, Desa Tampalang, Kec. Tapalang, Mamuju.

SARMMI kemudian memberangkatkan lagi tiga relawan kemanusiaan yakni Aris Wafdulloh dan Ahyar Stone (Keduanya dari Mapala Univ. Muhammadiyah Yogyakarta) serta Ilham dari SARMMI Solo.

Pada 29 Januari 2021 relawan SARMMI mendirikan Posko Kemanusiaan SARMMI di dusun Ulu Taan, desa Taan. Tapalang. Mamuju.

Tiga desa yang menjadi _focus area_ (desa yang didampingi) adalah dusun Ulu Taan di desa Taan, Desa Bela dan Desa Kopeang.

Dusun Ulu Taan merupakan dusun terpencil yang sukar diakses.

Sedangkan desa Bela dan desa Kopeang, selain terpencil juga terisolir, karena akses tunggal ke sana yakni jalan belum diaspal sepanjang 12 km tertutup puluhan titik longsor.

Bantuan ke dusun Ulu Taan hanya dapat dibawa dengan sepeda motor dan kendaraan roda empat dengan spesifikasi tertentu.

Sementara bantuan ke dusun Bela dan desa Kopeang, cuma bisa di drop helikopter atau berjalan kaki hingga ke dusun Ulu Taan (dusun terdekat) melalui titik-titik longsor yang berbahaya.

Operasional Posko Kemanusiaan SARMMI di dusun Ulu Taan, resmi berakhir pada 10 Februari 2021.

Selama 13 hari beroperasi, Posko Kemanusiaan SARMMI di dusun Ulu Taan telah :

1. Membuat pusat informasi dan Posko Singgah Relawan yang hendak ke desa Bela dan desa Kopeang

2. Pendataan (asesmen) titik longsor dari dusun Ulu Taan (titik pertama longsor) hingga pertigaan desa Bela – desa Kopeang

3. Membuat Shleter Bantuan Kemanusiaan di Tepi Sungai Taupe

4. Membuka jalan yang tertutup longsor – menggunakan gergaji mesin, golok, cangkul dan peralatan lain — dari dusun Ulu Taan hingga ke desa Bela dan desa Kopeang. Dikerjalan secara gotong rotong bersama warga dusun Ulu Taan, desa Bela dan desa Kopeang

5. Membuat dapur 24 jam

6. Menyelenggarakan TPA darurat

7. Sanitasi darurat / MCK

8. Psikososial untuk anak-anak

9. Distribusi kebutuhan dasar pengungsi

10. Edukasi kebencanaan

11. Survey titik longsor di sungai Taupe yang berpotensi banjir bandang

Dalam pengoperasikan Posko Kemanusiaan dan mengerjakan sebelas aktivitas kemanusiaan di atas, SARMMI tidak bekerja sendirian.

Tetapi bermitra dan bersinergi dengan relawan lain. Tanpa mereka SARMMI tak dapat berbuat maksimal.

Mereka adalah Mapala Univ. Muh. Yogyakarta. Stacia Univ. Muh. Jakarta. CAMP STIEM Jakarta. Mapsa Univ. Muh. Purwokerto. Mapala Univ. Muh. Riau. Mapalamu Univ. Muh. Luwuk Banggai. Mapala Salawat Univ. Muh. Parepare.

Relawan Batara Guru Luwu Timur. SAR Malili. Relawan Morowali Utara. CRI. KPA Kaliavo. MDMC Parepare. HW Univ. Muh. Parepare

Kemudian IOF Pengda DIY. IOF Pengda Morowali Mandar. Sanggar Al Quran. On Sight Solo. Aranya Mahidhara. Bunda Bella & team.

Dengan selesainya operasional Posko Kemanusiaan di dusun Ulu Taan, SARMMI bersama mitra sinerginya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberi bantuan dan dukungan.
Sehingga kerja kemanusiaan di Mamuju dapat dilaksanakan secara lancar dan berhasil sesuai harapan.

_“Teruslah peduli, agar semangat kepedulian tetap menyala di pertiwi ini”_

Mamuju, 11 Februari 2021
*Ketua Operasi Kemanusiaan SARMMI Untuk Sulawesi Barat*

_*(Aris Wafdulloh)*_

SARMMI dan Relawan Sulawesi Buka Akses Jalan Tertutup Longsor ke Desa Terisolir di Mamuju

*Menggunakan Gergaji Mesin. SARMMI dan Relawan Sulawesi Buka akses jalan tertutup longsor ke desa terisolir di Mamuju*

Akibat gempa Mamuju, desa Bela dan desa Kopeang mendadak terisolir. Karena satu-satunya jalan ke sana tertimbun longsor.

Titik longsor pertama berada di dusun Ulu Taan. Lalu berlanjut hingga ke desa Bela dan desa Kopeang. Sepanjang 12 km.

Kendaraan dengan spesifikasi khusus hanya dapat membawa bantuan sampai ke desa Ulu Taan.

Warga desa Bela dan desa Kopeang lalu memanggul bantuan hingga ke rumahnya.

Mereka jalan kaki naik turun di pohon-pohon berbagai ukuran yang tumbang karena longsor.

Untuk memudahkan warga berjalan kaki, SAR Mapala Muhammadiyah (SARMMI) yang mendirikan posko kemanusiaan di dusun Ulu Taan, kemudian bekerja sama dengan beberapa kelompok relawan di sulawesi membuka jalan.

Kelompok relawan itu adalah Batara Guru Luwu Timur, Relawan Morowali Timur, MDMC Parepare. Mapala Salawat dan HW univ. Muhammadiyah Parepare, serta Mapala Univ. Muhammadiyah Yogyakarta.

Pengerjaan dimulai dengan menggergaji pohon-pohon tumbang, membuat jalan berundak dan memasang pegangan di jalur naik yang licin. (6/2/21)

Pekerjaan kemanusiaan ini diprediksi selesai dalam tiga hari.

Mulai hari kedua warga dusun Bela dan dusun Kopeang, ikut gotong royong. Mereka mengerahkan 13 chainsaw atau gergagi mesin dan peralatan lain. (Ahyar Stone/SARMMI)

Relawan Kemanusiaan Dirikan Shelter Bantuan Untuk Dua Desa Terisolir Terdampak Gempa Mamuju

Desa Bela dan desa Kopeang, kecamatan Tapalang. Mamuju. Sulawesi Barat. Merupakan dua desa terdampak gempa Mamuju yang parah.

Akses tunggal ke sana yakni jalan tanah sejauh 12 km dari dusun Ulu Taan, tertutup longsor. Beberapa ruas jalan juga longsor tak bersisa.

Bantuan hanya dapat didrop helikopter. Atau dipanggul jalan kaki menembus sekian puluh titik longsor yang berbahaya.

Tiap hari warga dari dua desa tadi turun untuk mengambil bantuan dari desa Ulu Taan. Mereka butuh waktu dua hari untuk perjalanan PP.

Itu sama sekali bukan perjalanan yang sederhana.

Di sisi berbeda, para relawan kemanusiaan berupaya memanggul bantuannya hingga ke desa Bela dan desa Kopeang.

Lagi-lagi itu bukan perjalanan yang sederhana.

Untuk “menengahi” situasi demikian, SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) yang mendirikan posko kemanusiaan di dusun Ulu Taan, lantas bersama Komunitas Relawan Peduli Sulbar, mendirikan shelter bantuan untuk desa Bela dan desa kopeang. (3/2/21)

Shelter bantuan didirikan di tepi sungai Taupe. Dikerjakan oleh dua relawan SARMMI yakni Ramon dan Ahyar Stone (keduanya anggota Mapala UMY), serta Ari, Roki, Fiber, Dirga dari Relawan Peduli Sulbar.

Sungai Taupe merupakan titik tengah perjalanan dari dusun Ulu Taan ke dusun Bela dan desa Kopeang.

Bangunan yang dipakai adalah gubuk milik warga yang karena gempa, tak ditempatinya lagi.

“Teknis kerjanya, para relawan cukup memanggul bantuannya sampai ke shelter bantuan. Gubuk yang dipakai sudah kami modifikasi agar bantuan aman disimpan dan relawan bisa bermalam,” kata ketua tim operasi kemanusiaan SARMMI untuk Sulbar M. Aris Wafdulloh yang biasa dipanggil Ramon.

Lalu warga desa Bela dan desa Kopeang lanjut Ramon, mengambil bantuan tadi dan membawa hingga ke desa mereka.

“Dengan begitu, relawan dan warga desa cukup menuntaskan setengah perjalanan. Tak perlu lagi dua hari jalan kaki antar jemput bantuan,” pungkasnya. (Ahyar Stone)

Operasi Kemanusiaan Di Dusun Yang Dikeliling Oleh 4 Sungai Di Wilayah SIGI

Kantor Desa Salua, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah

Desa Salua, kec. Kulawi. Kab. Sigi. Adalah salah satu desa yang mengalami kerusakan parah dihantam gempa 7, 7SR awal Oktober lalu.

Selain menghancurkan 4 gereja, 1 masjid, 4 sekolah, 1 TK, serta 272 rumah, gempa juga menyebabkan 8 orang warga desa Salua meninggal dunia.

Mirisnya lagi, jalan raya ke desa yang dihuni oleh 1250 jiwa ini, tertutup longsor.

Longsor juga membuat sungai Salua banjir bandang.

Sungai Salua adalah salah satu dari 4 sungai yang mengelilingi dusun Salua.

Beberapa rumah yang sudah hancur kena gempa, tergenang air bah sungai Salwa. Bahkan ada yang hanyut.

Lantaran akses jalan tertutup longsor, dan jembatan gantung rusak, bantuan yang masuk ke desa Salua tidak ada.

Bantuan baru masuk pada hari keempat pasca gempa.

Itupun di drop oleh helicopter.

Meski material longsor yang menutup jalan sekarang telah disingkirkan alat berat, tetapi bantuan yang masuk ke dusun Salwa yang jaraknya dari Pusat Kota Sigi 54 km, belum memadai.

Saat ini, listrik di wilayah kabupaten Sigi sudah menyala.

Tetapi di desa Sigi dan desa sekitarnya, listrik belum menyala. Tak ada keterangan dari PLN kapan jaringan listrik diperbaiki.

Tiap malam dusun Salua gelap gulita. Untuk cas HP pun warga tak bisa.

Saluran air bersih di desa Salua, juga putus. Pipa air banyak yang hilang dibawa longsor.

Hingga hari ini warga dusun Salua masih mengalami krisis air bersih.

Mulai Senin, 15 Oktober 2018, SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARRMMI) dan mitra sinerginya, _focus area_ di desa Salua.

Mitra sinergi SARMMI adalah Stacia UMJ. Hiwata UM Palu. Mapala Unmuha. Mapala UMSU. Mapalamu. Relawan Batara Guru Luwuk Timur. Toms. Co Mataram. Waskita Karya.

Operasi kemanusiaan di dusun Salua dipimpin oleh Syahrawan dari Hiwata.

Menurut Awank – demikian Syahrawan dipanggil focus area di dusun Salua, berarti relawan tinggal dan membaur bersama warga dusun Salua.

Dengan berada di tengah warga korban gempa, relawan akan mengerti masalah di lapangan dan memahami solusinya. Sehingga kegiatan kerelawanan akan tepat sasaran dan tepat guna.

“Dusun Salua dipilih sebagai _focus area_ karena disini masih banyak masalah yang muncul pasca gempa,” kata Awank.

Selain itu, terang awank, akses ke dusun Salua masih sulit dan rawan terisolir karena berpotensi longsor. Listrik juga mati total, saluran air bersih putus, dan hampir semua fasilitas umum dan sarana pendidikan tak bisa dipakai.

“SARMMI dan mitra sinerginya, akan berada di dusun Salwa sampai akhir Oktober. Untuk mendirikan sekolah darurat, masjid darurat, menyambung pipa air bersih dan masih banyak lagi,” demikian kata Awank. (Ahyar Stone)

Jalan Menuju Dusun Salua, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah
Bergotong Royong Merubuhkan Bangunan Sekolah Pasca Gempa
Tim Relawan SARMMI Menyalurkan Bantuan Ke Masyarakat
Rumah Warga Dusun Salua, Yang Porak Poranda dihantam gempa 7.4SR

Ketua Rayon 7 SARMMI, Sosialisasikan Program SARMMI ke Unismuh Palu

Sangat baik bila mahasiswa masuk organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala), karena kegiatan Mapala bermanfaat dan banyak membantu masyarakat seperti dalam kebencanaan. Partisipasi Mapala pada berbagai bencana juga tepat karena sejalan dengan program Muhammadiyah yang responsive terhadap kebencanaan di tanah air.

Demikian yang disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Palu DR. Rajindra Rum, SE. MM. Kepada Pengurus Pusat SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) usai Deklarasi Rayon 7 SARMMI yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Luwuk, beberapa waktu lalu.

Pengurus Pusat SARMMI yang menemui Rajindra adalah Ketua Umum Slamet Widodo, Sekretaris Umum Ahyar Hudoyo, Ketua Kominfo Lita Indriani, anggota Dewan Pengarah Zulfahmi Sengaji, SE. MM. Kemudian Ketua Rayon 7 Ade  Putra Ode Amane, serta Sekretaris Abdul Gani.

Kendati demikian, lanjut Rajindra, tidak berarti Mapala di Universitas Muhammadiyah Palu  yaitu Mapala Hiwata, sudah sering berkecimpung di kebencanaan. Hiwata lanjut Rajindra, walaupun sekretariatnya masih ada justru sudah lama tidak aktif.

“Mapala Hiwata harus aktif lagi. Mereka harus dibangunkan dari tidur panjangnya,”kata Rajindra.

Menindaklanjuti pertemuan bersama Rajindra, Ketua Rayon 7 SARMMI Ade  Putra Ode Amane, didampingi Pengurus Mapala Unismuh Luwuk, Dedi, mengunjungi kampus Unismuh Palu (16/12)

Sebelum Ade Putra, awal Desember lalu Pengurus Pusat SARMMI telah mengutus Thariq AR Taat dari Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) menemui senior dan calon anggota baru Hiwata di kampus Unismuh Palu.

Tujuan Ade Putra selain untuk mengedukasi calon anggota baru Mapala Hiwata tentang kegiatan pecinta alam, adalah mensosialisasikan program SARMMI di Sulawesi kepada pimpinan Unismuh Palu.

Dalam sosialisai program ade Putra yang juga menjabat Wakil Dekan 3 Fisip Unismuh Luwuk, menyampaikan, kegiatan SARMMI adalah implementasi dari Mukadimah Muhammadiyah, Tri Dharma Perguruan Tinggi, Catur Dharma PTM, Kode Etik Pecinta Alam Indonesia, serta Ikrar Mapala PTM se Indonesia.

Disamping operasi SAR di bencana alam, kegiatan SARMMI lainnya adalah menyelenggarakan pelatihan untuk meningkatkan skill anggota Mapala PTM dalam bidang kebencanaan.

“Peningkatan SDM mutlak dilakukan, karena sesuai amanat Majelis Diktilitbang, SARMMI harus menjadi garda terdepan Muhammadiyah di setiap bencana yang terjadi di tanah air,” kata Ade Putra.

Terhadap program SARMMI  yang dipaparkan Ade Putra, Rajinda yang didampingi sejumlah Pimpinan Unismuh Palu. mengaku sangat apresiasi, dan mendukung penuh.

“Di Palu banyak bencana. Setelah Mapala Hiwata aktif, mereka inilah yang diharapkan bersama SARMMI berada di garis terdepan untuk membantu korban bencana alam,” harap Rajindra.

SAR Mapala Apresiasi Aksi Kemanusiaan Jamaah Masjid Jogokariyan di Bencana Alam

Seiring makin sering bencana alam terjadi di tanah air, kelompok masyarakat yang peduli terhadap korban bencana alam juga bertumbuhan. Saat ini yang datang ke lokasi bencana tak lagi didominasi oleh kalangan pecinta alam dan organisasi kerelawanan, jamaah-jamaah masjid di berbagai daerah kerap pula datang memberikan bantuan kemanusiaan. Seperti jamaah masjid Jogokariyan, Jogjakarta.

Masjid Jogokariyan sebenarnya “hanya” masjid kelas kampung. Tetapi reputasinya mendunia. Masjid yang dikelola warga Muhammadiyah di kampung Jogokariyan, Mantijeron, Jogja ini, bahkan dinobatkan oleh Kementerian Agama sebagai Masjid Percontohan Tingkat Nasional.

Reputasi mentereng ini didapat karena Masjid Jogokariyan memiliki manajemen yang baik sehingga dapat menderdayakan ekonomi warga, berhasil mengelola beasiswa, kartu sehat, dan mampu membantu korban bencana alam dan bencana sosial di Indonesia maupun di luar negeri.

“SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) memberikan apresiasi tinggi terhadap aksi kemanusiaan yang dilakukan relawan dari masjid Jogokariyan di berbagai bencana alam seperti gunung kelud, banjir Garut, gempa di Pidie Jaya Aceh, longsor di Purworejo, dan di daerah lain. Relawan mereka juga datang ke Palestina dan Aleppo Syria, untuk membantu masyarakat terdampak bencana sosial yang terjadi disana,” demikian kata Pengarah (SC) SARMMI, Zulfahmi Sengaji, SE. MM, usai bertemu pengurus Masjid Jogokariyan di Jogjakarta (19/10)

Kedatangan Zulfahmi yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua 2 STIE Muhammadiyah Kalianda, dan  Humas Masjid Agung Lampung Selatan, selain memberikan apresiasi, juga untuk memahami lebih detil manajemen masjid Jogokariyan. Pengetahuan manajemen masjid kata Zulfahmi diperlukan oleh anggota SARMMI.

Menurut Zulfahmi, sebagai ujung tombak Muhammadiyah di berbagai bencana alam di tanah air, anggota SARMMI kerap berkunjung ke masjid di daerah terpencil yang umumnya dikelola dengan pola lama. Majid hanya dimanfaatkan untuk sholat jamaah dan perayaan hari besar islam. Pola seperti itu tak lagi sesuai dengan jaman. Agar Masjid dapat berkembang sesuai jaman, manajemen masjid harus diperbaiki.

Dengan bekal pengetahuan managemen masjid kata Fahmi, anggota SARMMI dapat memberikan pencerahan kepada takmir masjid yang ia kunjungi. Sehingga masjid disana tak lagi cuma sebatas rumah ibadah, tetapi juga dapat berfungsi sebagai rumah solusi terhadap persoalan yang muncul di masyarakat. Baik persoalan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan bahkan kebencanaan. Bila masjid semarak oleh kegiatan sosial, masjid pasti akan ramai didatangi jamaah untuk menyelenggarakan kegiatan religius.

Pengetahuan managemen masjid akan menjadikan anggota SARMMI tak hanya terampil dalam mencari, mengevakuasi, dan menolong korban bencana alam, tetapi mampu pula memberikan solusi terhadap masalah klasik yang dialami oleh hampir semua masjid di Indonesia, yaitu sepi jamaah,” tutup Zulfahmi.

Kabar Duka. Mapala UMSB Kehilangan Putri Terbaiknya

Innalillahi wa inna ilaihi rooji’ un

Segenap Pengurus SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia, mengucapkan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya pengurus Mapala Univ. Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB). Sispi Susanti. (22 th)
Semoga Allah SWT mengampuni segala dosanya, menerima semua amal ibadahnya, dan memberi almarhumah tempat terbaik disisiNya.

Kepada keluarga besar almarhumah, keluarga besar Mapala UMSB, dan civitas akademika UMSB, semoga diberiNya ketabahan.

Almarhumah akan dimakamkan di kampung halamannya Sisawah, Sumpur Kudus, Sijunjung, Sumatra Barat. Pada Rabu, 18 Oktober 2017.

Bersama ini pula, Pengurus SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besar kepada semua pihak yang telah membantu moril maupun materiil selama almarhumah dalam pengobatan, dan hingga ke pemakaman.
Semoga Allah SWT membalasnya dengan pahala berlipat ganda. Aamiin.

SARMMI Mendukung Stacia Dirikan Pusat Pelatihan Mangrove Muhammadiyah

Bila dicermati seksama, ada dua hal yang sangat kentara dari anggota Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) di Muhammadiyah. Peduli kepada sesama, dan senantiasa tergerak menjalankan dakwah Muhammadiyah.

Dua karakter itu, bukan hasil dari proses yang instan. Melainkan dari proses panjang yang dilakukan secara terus menerus dan diulang-ulang. Hasilnya dua karakter itu melekat kuat  pada diri setiap anggota Mapala, sehingga tatkala mereka sudah manyelesaikan kuliahnya, peduli dan dakwah Muhamadiyah menjadi gaya hidup mereka sehari-hari di manapun berada.

Adalah beberapa anggota Mapala Stacia Universitas Muhammadiyah Jakarta yang blusukan ke muara sungai Cisadane di Tangerang. Menjelajahi daerah pinggiran yang tidak populer adalah tradisi Stacia untuk mempertajam kepekaan sosial anggotanya. Di blusukan kali ini anggota Stacia mendapati fakta yang membuat mereka tercengang, prihatin, sekaligus buru-buru hendak berbuat baik.

Kawasan mangrove di muara sungai Cisadane yang mereka datangi, ternyata rusak parah. Hutannya nyaris gundul, air laut berlumpur tebal, dan sampah rumah tangga bertebaran di semua penjuru pantai dan di hutan mangrove yang tersisa. Kerusakan ini telah berlangsung lama. Tak ada yang peduli. Padahal kondisi ini membahayakan ekosistem muara Cisadane. Temuan ini kemudian menjadi perhatian semua anggota Stacia. Tua dan muda.

“Awalnya Stacia hanya berniat fokus menyelamatkan kawasan pantai dengan cara menanam mangrove. Tetapi semakin jauh melangkah kami melihat masalah disini sangat kompleks dan saling berkaitan,”   ungkap senior Stacia Moh. Al Fatih kepada rombongan pengurus SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia, yang mengunjungi wilayah konservasi mangrove Stacia di desa Tanjung Burung, kecamatan Teluk Naga, Tangerang. (27/8)

Kepada tamunya, Fatih yang didampingi senior Stacia lain, Roy Nurdin, menjelaskan, menanam mangrove berarti juga menyertakan kegiatan konservasi, penanganan sampah, serta pemberdayaan ekonomi dan budaya masyarakat setempat. Sungai Ciliwung juga harus dinormalisasi, dan dikeruk agar dalam.

Semua persoalan itu harus ditangani menyeluruh dan berkesinambungan, baik secara secara serial maupun paralel. Akan percuma rajin menanam mangrove tetapi abai terhadap sampah. Sampah adalah musuh tanaman mangrove, karena sering menyangkut di mangrove muda yang baru ditanam lalu menyeretnya ke laut lepas.

“Kompleksitas itulah yang membuat keluarga besar Stacia kian termotivasi, dan  itulah dasar kami membentuk Kelompok Stacia Hijau, atau KSP pada bulan Mei lalu,” kata Fatih.

Mengenalkan Muhammadiyah

Kelompok Stacia Hijau adalah wadah yang memiliki badan hukum sendiri. Namun tetap berada dibawah Stacia. Pengurusnya anggota Stacia dari berbagai generasi. Mereka bergiliran bekerja di kawasan konservasi. Kendati tidak digaji, mereka menjalankan KSP secara profesional, ekonomis, dan militan. Mereka sadar, KSP membawa misi besar yang harus dikerjakan sungguh-sungguh selama bertahun-tahun.

Untuk sampai ke lokasi penanam mangrove di muara Cisadane, KSH harus memiliki dermaga dan sarana f isik lainnya. Ide ini membuat mereka mulai melakukan pendekatan kepada warga Tanjung Burung. Menurut Fatih, pendekatan kepada warga, perlu perjuangan khsusus. Warga yang bermukim disekitar muara Cisadane terkenal keras, dan sensitif terhadap pendatang.

“Warga disini sering dikadalin LSM. Jadi mereka curiga kepada lembaga yang datang. Mereka juga skeptis terhadap KSH. Tetapi setelah KSH selesai membangun dermaga, mushola, serta sumur bor lengkap dengan MCK, warga mulai percaya dengan niat baik KSH. Warga malah ikut membantu. Sekarang hubungan KSH dengan warga desa Tanjung Burung sangat kondusif,” lanjut Fatih.

Dermaga, sumur, MCK, dan mushola yang dibangun tepat di tepi sungai Ciliwung, ungkap Fatih, adalah pekerjaan kedua KSH. Sebelumnya mereka telah menanam ribuan mangrove. Anggaran membangun semua sarana itu dari iuran anggota Stacia dan donasi beberapa pihak. Dikerjakan gotong bersama warga. Fungsinya selain sebagai titik awal menuju area penananam mangrove, juga sebagai lokasi pemberdayaan ekonomi dan budaya masyarakat Tanjung Burung.

“Masyarakat di sepanjang sungai Cisadane terbiasa membuang sampah dan MCK disungai yang kotor” kata Fatih sambil menunjuk sungai Cisadane yang airnya keruh, sedikit berbau, dan tak pernah sepi dari hanyutan sampah rumah tangga. Volume sampah hanyut ini meningkat bila ada hujan.

Senada dengan Fatih, Roy menjelaskan, KSH memanfaatkan sumur dan MCK sebagai sarana untuk mengedukasi warga agar terbiasa MCK di air sehat dan tak lagi membuang sampah di sungai. Sekarang warga disekitar sini lebih suka antri di MCK yang dibangun KSH daripada mandi di sungai.

Lahan sisa membangun empat sarana tadi dimanfaatkan KSH untuk pembibitan mangrove dan pengelolaan sampah. Pembibitan dikerjakan bergiliran oleh ibu-ibu warga Tanjung Burung. Di lahan ini juga direncanakan menjadi sentral peternakan cacing tanah dengan memanfaatkan sampah yang telah dikelola. Sekarang KSH sedang mencari jaringan bisnis cacing tanah. KSH juga mengajak coprporate untuk investasi memberdayakan ekonomi warga Tanjung Burung.

“Sedangkan mushola kami jadikan sarana ibadah bersama warga. Mushola ini rencananya akan dikelola bersama remaja masjid setempat. Karena warga Tanjung Burung belum mengenal Muhammadiyah, mushola kami maksimalkan pula sebagai entry point memberi pencerahan tentang Muhamadiyah,” terang Roy.

Dibawah Mushola lanjut Roy, sudah dibangun dermaga untuk menuju lokasi penananam mangrove. Jarak tempuhnya sekitar setengah jam perjalanan air. Tetapi bisa lebih lama jika sungai sedang banyak sampah. Sampah sering menyangkut di baling-baling perahu.

Pusat Pelatihan Mangrove

Lahan konservasi mangrove di muara Cisadane yang dikelola KSH luasnya 24 Hektar. Sampai saat ini KSH telah menanam 15 ribu mangrove.

“Tetapi hampir separuhnya rusak dan hilang karena diterjang sampah,” ungkap Fatih.

Situasi itu justru memicu mereka untuk kian gigih menanam mangrove sambil menjalankan program penunjangnya, karena mangrove sangat bermanfaat bagi kelangsungan mahluk hidup.

Menurut Fatih, hutan mangrove berfungsi melindungi pantai dari erosi dan abrasi. Mencegah intrusi air laut. Tempat berkembang biak ikan, udang, kepiting, burung, monyet. Melindungi pemukiman penduduk dari badai, angin laut, dan gelombang pasang. melindungi daratan dari naiknya air laut akibat gas rumah kaca. Serta sebagai tempat wisata dan edukasi.

Saat ini hutan mangrove di Indonesia banyak yang rusak, tetapi baru sedikit pihak yang peduli. Hal ini kata Fatih karena masih banyak yang belum paham tentang mangrove dan fungsinya.

“Berangkat dari situasi itulah KSH akan menjadikan muara cisadane sebagai Pusat Pelatihan Mangrove Muhammadiyah,” Kata Fatih.

Diberi nama seperti itu, karena anggota Mapala sebagai kader Muhammadiyah memiliki tanggung jawab untuk memberi pencerahan kepada masyarakat.  Pusat pelatihan akan mengedukasi siapa saja agar paham dan peduli terhadap hutan mangrove. Edukas dimulai dari teori, teknis pembibitan, cara menanam, budidaya, hingga  memahami fungsi ekonomis dan ekologis tanaman mangrove. Usai mengikuti pelatihan, mereka kembali ke daerah asalnya untuk menerapkan ilmunya disana.

Selain itu lanjut Fatih, KSH terbuka bagi semua pihak untuk sama-sama membangun kawasan konservasi mangrove yang telah dikelola KSH. Mereka juga dipersilahkan untuk berpartisipasi di bidang pemberdayaan ekonomi, pengembangan SDM, keagamaan, atau di sektor sosial lainnya.

“Menanam mangrove serta membangun program pendukungnya perlu orang banyak, dan butuh kerjasama banyak pihak dari berbagai latar belakang. Stacia tidak akan mampu bekerja sendiri. Kami butuh pihak lain,” kata Fatih.

Terhadap ajakan KSH, pengurus SAR Mapala Muhammdiyah Indonesia, Tia Septiyani dari Camp STIEM Jakarta, mengaku sangat mengapresiasi kerja sosial KSH yang terencana baik dan dijalankan secara profesional. Sebagai dukungan SAR Mapala Muhammdiyah Indonesia akan mendampingi KSH di bidang keselamatan dan penyelamatan.

“Insya Allah kami akan menyelenggarakan pelatihan SAR untuk warga Tanjung Burung dan peserta edukasi mangrove. Pelatihan ini juga realisasi dari amanat Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, bahwa kegiatan SAR Mapala Muhammdiyah Indonesia adalah implementasi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pengabdian pada masyarakat,” demikian kata Tia Septiani. (Ahyar Stone)

Wakil Rektor 3 UMSB : Workshop Nasional SARMMI, Ikut Mengangkat UMSB dan pamor Muhammadiyah Sumbar

Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) mendukung penuh kegiatan Workshop Nasional yang diselenggarakan Mapala UMSB bersama SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia di kampus UMSB. Dukungan diberikan karena kegiatan itu turut mengangkat nama kampus dan pamor Muhammadiyah di Sumatera Barat.

Demikian kata Wakil Rektor 3 UMSB. Ir. Hariadi, M. Eng.  Di pertemuan dengan Sekretaris Umum SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI), Ahyar Hudoyo, di rektorat UMSB. (4/3)

Hanya saja, lanjut Haryadi, karena UMSB tergolong kampus yang belum besar, dukungan finansial yang diberikan tidak bisa maksimal. Untuk menyiasati kekurangan, UMSB mengijinkan panitia menggunakan fasilitas yang ada di kampus.

Dikatakan pula oleh Haryadi, kendati panitia pelaksana adalah Mapala UMSB. “ Tetapi secara luas tuan rumah kegiatan adalah seluruh warga kampus UMSB, dan kami siap menjadi tuan rumah yang baik”, kata Hariadi.

“Ini kerja kita bersama-sama. Hanya bentuk kerjanya yang berbeda. Walaupun banyak kekurangan, Mapala UMSB harus tetap semangat agar kegiatan ini terlaksana. Sehingga UMSB menjadi besar seperti kampus Muhammadiyah lainnya”, kata Hariadi.

Menanggapi Hariadi, Ahyar mengatakan, salah satu tujuan Pengurus Pusat SARMMI mengangkat Mapala UMSB sebagai tuan rumah, adalah agar UMSB dikenal lebih luas oleh publik.

Kegiatan mahasiswa kata Ahyar, merupakan promosi kampus yang paling efektif. Workshop Nasional di kampus UMSB akan menjadi perhatian banyak pihak. Efek ke depannya, UMSB menjadi besar.

Kedatangan Ahyar dari Kantor Pusat SARMMI di Solo, Jawa Tengah, ke UMSB di Padang, selain untuk membahas penyelenggaraan Workshop Nasional Operasi SAR Bencana Alam,  ke pihak rektorat UMSB, adalah dalam rangka up grade panitia dan melakukan pendampingan terhadap kerja – kerja kepanitian.

Mendampingi Ahyar ke rektorat adalah Ketua Umum Mapala UMSB. Ahmad Haryono, beserta Ketua Divisi Operasional  SARMMI. Wawan Siswyo.

Workshop Nasional Operasi SAR Bencana Alam diselengggarakan pada 25 – 26 Maret 2017. Acara yang akan diikuti Mapala se Indonesia, mahasiswa non Mapala, dan pelajar di kota padang, merupakan kegiatan perdana tingkat Nasional  bagi Mapala UMSB. belum berpengalaman justru membuat anggota Mapala UMSB terpacu bekerja lebih giat.

“Menyelenggarakan kegiatan merupakan ajang pembelajaran. Sejauh yang saya lihat, anggota Mapala UMSB telah bekerja dengan baik, sehingga banyak nilai edukasi yang mereka dapat selama proses kegiatan ini. Usai Workshop, Mapala UMSB akan terbiasa menyelenggarakan event skala besar, dan tentu saja ini bagus untuk membangun masa depan kampus UMSB”, tutup Ahyar.  (Elis Farwati) 

PR. 3 UMSB. Haryadi : Mapala Harus Senantiasa Menjaga Nama Baik Muhammadiyah


Tangguh menghadapi keterbatasan, penuh semangat kebersamaan, cinta tanah air, dan senantiasa menjaga nama baik Muhammadiyah dimanapun berada, merupakan karakter khas anggota Mapala UMSB.  Demikian kata Pembantu Rektor 3 Universitas Muhammadiyah Sumatra Barat (UMSB), Ir. Haryadi, M. Eng. Dalam sambutannya di acara pelepasan peserta pendidikan dasar (Diklatsar) Mapala UMSB ke 14, di halaman gedung Pasca Sarjana UMSB. (27/2)

Turut hadir dalam acara adalah tiga pengurus Pusat SAR Mapala Muhammadiyah. Masing – masing Ahyar Hudoyo, Wawan Siswoyo, Ipo Eigha. Para instruktur Pendidikan Dasar. Pengurus Mapala UMSB, dan tamu undangan dari Unit Resimen Mahasiswa, Tapak Suci, Unit Seni, serta unit kemahasiswaan lain di UMSB.

Di kegiatan pecinta alam, lanjut Haryadi, terdapat banyak pelajaran yang bermanfaat bagi mahasiswa. Umpamanya dalam Diklatsar, peserta akan belajar manajemen diri sendiri, yaitu meningkatkan kemampuan mengelola kehidupan pribadi untuk menggapai cita-cita.  Belajar berorganisasi secara baik dan tepat, belajar mengembangkan sikap percaya diri, serta belajar untuk senantiasa bersyukur pada Sang Maha Pencipta.

“Mengikuti  Mapala, berarti belajar hal-hal positif, dan sekaligus mengimplemantasikannya di kehidupan sehari – hari, baik kampus maupun di masyarakat. Saya ucapkan selamat kepada peserta Diklatsar, karena telah memilih Mapala sebagai ajang mengembangkan potensi diri “, kata Haryadi.

Kepada peserta Diklatsar, Haryadi juga berpesan, agar dimanapun berada harus berperilaku sebagaimana layaknya kader Muhammadiyah.

Setelah Diklatsar ananda semua, kata haryadi menyebut ananda bagi peserta Diklatsar, akan menjadi anggota Mapala. Dengan begitu ananda memiliki kewajiban untuk menjunjung tinggi nama baik Muhammadiyah. Di gunung yang sepi, atau di tengah keramaian, ananda harus tetap menunjukan perilaku Muhammadiyah, sebagaimana yang dicontohkan senior kalian di Mapala”, pesan Haryadi.

Usai acara pelepasan, peserta langsung longmarch (jalan jauh) dari kampus menuju hutan Sungai Banget. Koto Tangah. Padang. Menurut ketua Mapala UMSB. Ahmad Haryono. Kawasan hutan bertipe sekunder itu dipilih sebagai lokasi materi lapangan pendidikan dasar, karena ada sungai , banyak tumbuhan yang dapat dimakan, namun tidak ada hewan berbahaya.

Setelah masuk hutan, peserta mendirikan bivouc, atau membuat tempat bermalam dari bahan seadanya tanpa merusak lingkungan hutan. Materi bivouc, kata Haryono, mengajarkan nilai kebersamaan, kreativitas, pantang mengeluh, serta pentingnya berpikir positif dalam segala situasi.

Hari berikutnya peserta akan diberi materi navigasi darat, cara bertahan hidup atau survival, dan materi lain di kegiatan pecinta alam. Selain itu, diberikan pula materi keagamaan yang meliputi teknik mengetahui arah kiblat dengan memanfaatkan tumbuhan hutan, cara berwudhu jika air terbatas, serta sholat dalam kondisi darurat.

“Peserta akan berada di hutan selama enam hari. Selama itu pula mereka tetap menjalankan sholat lima waktu. Nanti, setelah pulang ke rumah, meraka pasti akan tetap rajin sholat. Karena mereka telah membuktikan pada diri sendiri.  Mereka mampu menjaga ibadah walaupun dalam kondisi terbatas dan serba berat. Apalagi jika ibadah di rumah yang serba nyaman. Sholat pasti terasa ringan dilakukan”, demikian kata Haryono. (Ahyar Stone)

Banjir Surut. SAR Mapala Muhammadiyah Akhiri Operasi di Brebes.

0008

Banjir di Kabupaten Brebes sudah surut.  Sekitar 5 000 warga yang semula mengungsi ke sejumlah tempat aman, telah kembali ke rumah.

Terjadinya banjir di Brebes, disebabkan oleh jebolnya empat titik tanggul penahan air sungai Pemali. Tanggul jebol lantaran tidak kuat menahan limpahan air hujan deras yang turun merata di wilayah Brebes (16/2).

Akibatnya, 12 desa di tiga kecamatan yakni Brebes, Jatibarang, dan Wanasari terendam air setinggi setengah hingga satu setengah meter. Ribuan warga dievakuasi ke 10 posko pengungsian. Kini semua pengungsi sudah meninggalkan posko pengungsian.

“Karena situasi mulai kondusif, hari ini kami menyudahi Operasi SAR di Brebes”, demikian keputusan Kordinator Lapangan SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia, Nurdin Leasy, di halaman Posko Penanggulangan Banjir Gedung DPRD Kabupaten Brebes (21/2)

SAR Mapala Muhammadiyah, kata Nurdin,  tiba pada hari kedua bencana. Disamping menyisir desa-desa terdampak banjir, Tim SAR Mapala Muhammadiyah juga mendata  kesehatan dan kebutuhan warga selama berada di pengungisan, mencermati kondisi tanggul sungai Pemali, serta sistem penanganan bencana banjir di Brebes.

0003

“Sekarang masih musim hujan. Tanggul yang jebol hendaknya segera diperbaiki secara permanen agar lebih kokoh dari sebelumnya. Bila perbaikan cuma bersifat darurat, sangat rawan kembali jebol dihantam luapan hujan”, papar Nurdin.

“Untuk ke depan, managemen kebencanaan di Brebes tampaknya harus dirapikan lagi. Sehingga semua pihak yang terkait penanganan bencana, terkordinir dan sinergis”, demikian kata Nurdin yang berpengalaman mengikuti operasi SAR di berbagai bencana alam di tanah air.

Sependapat dengan Nurdin, seorang anggota tim SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia yang berasal dari Mapala Stacia Universitas Muhammadiyah Jakarta, Cicih Handika berujar, semua pihak khususnya dari instansi Pemerintah di Brebes, hendaknya dalam menangani bencana alam, ada kordinasi dan pertukaran informasi agar semuanya upadate informasi terkini di lapangan.

“Tetapi kita percaya, manajemen kebencanaan di Brebes ke depannya pasti lebih baik. Pihak – pihak terkait di Brebes pasti belajar banyak dari banjir ini”, kata Cicih berharap. (AS)

Hujan Deras Usai Pilgub. Ciliwung Meluap. Camp STIEM Kirim Tim Siaga.

E1

Tidak seperti warga lainnya di Ibukota yang masih dilanda euforia pasca Pemilihan Gubernur Jakarta, warga kampung Pulo, Kampung Melayu, Jatinegara, harus lebih awal menyudahi suasana pesta demokrasi lima tahunan tersebut.

Hujan deras mulai mengguyur saat warga pulang dari TPS, dan sebagian sedang menonton hitung cepat (quick count) hasil Pilgub melalui televisi. Pukul sebelas malam, hujan tambah deras. Selokan di kampung Pulo yang dikenal sebagai daerah banjir tidak dapat menampung tumpahan air dari langit.

Kondisi itu diperparah dengan luapan air dari sungai Ciliwung yang letaknya hanya beberapa meter dari Kampung Pulo. Akibatnya,  sejak dinihari tadi Kampung Pulo beserta pemukiman – pemukiman di tepi Ciliwung, terendam air.

Untuk mengantisipasi segala kemungkinan, Camp STIE Muhammadiyah Jakarta, mengirim Tim Siaga guna memantau situasi banjir di Kampung Pulo dan sekitarnya. Tim ini beranggoakan Elis Farwati, Almuntahanah, Ahmad Fauzan, dan Firhan Saefa Jamil.

Turut bergabung dalam tim adalah dua orang anggota Unit Kegiatan Mahasiswa di STIE Muhammadiyah Jakarta. Masing-masing Rizki Ramadhan dari Tapak Suci (TS), serta Zulham Efendi dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)

27

Tim yang dipimpin Elis Farwati ini tiba di lokasi banjir sejak Kamis pagi (16/2). Tim akan berada disana hingga situasi dianggap kondusif.

Dari lokasi banjir, Elis mengabarkan,  ketinggian maksimal air mencapai pinggang orang dewasa. Transportasi terganggu. Tidak ada korban jiwa. Tidak ditemukan rumah rusak parah. Tim Siaga Camp juga tidak mendapati warga terserang penyakit akibat banjir. Kendati demikian, aktivitas perekonomian warga sempat lumpuh.

44

Diwartakan pula oleh Elis, menjelang sore, air berangsur-angsur surut. Warga langsung membersihkan rumah, dan memberesi peralatan elektronik yang rusak lantaran tidak sempat diselamatkan tatkala air masuk rumah. Beberapa toko kebutuhan sehari-hari terlihat mulai buka.

“Sambil bersih-bersih rumah, warga tetap waspada. Mendung pekat yang memayungi Ibukota, bisa saja tiba-tiba menjadi hujan deras, dan kembali menyebabkan banjir. Jika itu terjadi, aksi bersih-bersih mereka pasti bakal sia-sia”, demikian kata Elis yang juga merupakan Pengurus Pusat SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia. (AS)