Kategori: Uncategorized

Milad ke 38: Mapala UMY Siap Mendaki Aconcagua di Argentina

Meski telah memiliki prestasi hingga tingkat Internasional, Mapala UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) tetap merasa harus meraih prestasi-prestasi baru termasuk menuntaskan pendakian ke tujuh puncak tertinggi di tujuh benua yang popular disebut Seven Summits.

Demikian kata Ketua Umum Mapala UMY Putra Rahayu Nadi saat menyampaikan sambutan pada acara Milad Mapala UMY ke 38 yang diselenggarakan di kampus UMY. Selain dihadiri oleh anggota Mapala UMY lintas generasi, pada acara yang menerapkan protokol kesehatan itu hadir pula utusan Mapala di Jogjakarta, Solo dan Semarang. (5/5/2021)

“Milad Mapala UMY kali ini adalah momentum emas kami untuk memulai melakukan segala persiapan guna mendaki gunung Aconcagua di Argentina. Aconcagua adalah puncak ketiga di sirkuit Seven Summits dunia yang akan digapai Mapala UMY. Sebelumnya Mapala UMY telah sukses mendaki gunung Elbrus di Rusia dan gunung Kilimanjaro di Tanzania,” terang Putra Nadi.

Pada acara yang dimeriahkan oleh unit musik mahasiswa UMY yang menampilkan genre musik, rock, pop dan reggae, Putra Nadi menjelaskan pula kendati Mapala UMY telah berpengalaman mendaki dua gunung yang masing-masing tertinggi di benua Eropa dan benua Afrika, tetapi pada pendakian ke Aconcagua nanti, Mapala UMY tetap perlu melakukan persiapan terbaik dan strategis, karena gunung Aconcagua yang merupakan puncak tertinggi di benua Amerika Latin, memiliki karakteristik unik yang cuacanya sulit diprediksi.

“Kami serius mempersiapkan diri, karena Mapala UMY menyadari pula bahwa pendakian ke Aconcagua bukan sekedar mewakili organisasi yang telah berusia 38 tahun ini, tetapi mewakili pula civitas akademika UMY, warga Muhammadiyah secara keseluruhan, menjadi representasi pecinta alam di tanah air, serta merupakan duta bangsa di mata Internasional dan di kancah pendakian kelas dunia,” tegas Putra Nadi.

Sementara itu pendiri Mapala UMY Rozi Amin pada sambutannya menjelaskan, kesuksesan Mapala UMY mendaki gunung Elbrus serta gunung Kilimanjaro, dan sekarang akan memulai langkah menuju gunung Aconcagua adalah bukti nyata silaturahmi dari generasi terdahulu hingga generasi sekarang sangat solid di Mapala UMY.

“Tepat pada 5 Mei tiga puluh delapan tahun lalu, saya bersama empat belas mahasiswa UMY kala itu dan didampingi seorang senior Mapala Unisi, mendeklarasikan berdirinya Mapala UMY di puncak gunung Lawu. Modal mendirikan UMY hanya semangat membara dan tekad yang kuat untuk membesarkan organisasi yang tidak memiliki apa-apa ini,” ungkap Rozi Amin.

Seiring berjalannya waktu ungkap Rozi Amin yang pernah menjabat Anggota DPRD Provinsi DIY, “Mapala UMY kian besar, berkembang dan tambah maju. Hal ini dapat dilihat dari kehadiran Mapala UMY di setiap lokasi bencana alam di tanah air, aktivitas Mapala UMY di ranah intelektual, peran aktif Mapala UMY pada pendakian level Internasional guna mewakili bangsa Indonesia, dan masih banyak lagi.”

Kendati demikian pesan Rozi Amin pada penerusnya, hendaknya aktivitas perkuliahan dan aktivitasnya mengikuti kegiatan di Mapala UMY harus dijalankan seimbang sesuai porsinya. “Agar kalian menjadi sarjana yang baik dan menjadi pecinta alam yang baik pada saat bersamaan,” pungkasnya.
(Rani Puspina)

Bocah Desa Sagu Korban Banjir NTT: “Terima Kasih Kakak Mapala”

Mata indah Hasan, Rasul, Alfat dan Zain terlihat berbinar. Senyum penuh semangat tak pernah lepas dari wajah polos mereka yang berwarna kecoklatan khas kulit orang pesisir. Mereka bersama belasan bocah lucu lainnya adalah peserta psikososial yang diselenggarakan oleh relawan Mapala Muhammadiyah yang mendirikan posko kemanusiaan di desa mereka yang bernama desa Sagu, kecamatan Adonara Timur, kabupaten Flores Timur, NTT.

Posko kemanusiaan tadi diinisiasi oleh Al Ghifari dari SARMMI (SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia) bersama Irchamsyah dari CAMP STIEM Jakarta, serta Andi Agil dan Zainal Alichsan dari Mamupa IKIP Muhamamdiyah Maumere.

Beberapa hari usai posko kemanusiaan didirikan, bergabung dua relawan Batara Guru Rescue Luwu Timur yakni Mustamun dan Taufik Syam, serta empat relawan dari IAIN Palopo yang masing-masing Jacky Talib, Ishak, Bayu Imam dan Ilham Andi.

Desa Sagu yang berpenduduk 980 KK, sebagian wilayahnya berada di pesisir dan beberapa bukit yang berada tak jauh dari garis pantai. Di dua tempat itulah warga desa Sagu bermukim.

Desa Sagu yang mayoritas warganya berprofesi nelayan, semula merupakan pemukiman elok nan tenang. Tetapi banjir bandang yang disebabkan oleh siklon tropis seroja yang mengganas di wilayah NTT, membuat desa Sagu beserta sekian banyak desa lain di NTT serta-merta berantakan. Sejumlah rumah roboh dan hanyut, longsor terjadi di banyak tempat, ekonomi sempat lumpuh dan bocah-bocah mengalami trauma yang perlu pemulihan segera.

“Sejak hari pertama mendampingi warga desa Sagu, anak-anak sudah kami prioritaskan. Mereka mengalami trauma pasca banjir bandang. Ada sekian materi psikososial untuk mereka. Kami selenggarakan berulang-ulang selama beberapa hari. Materi untuk hari ini adalah Ice breaking, game tradisional dan permainan mewarnai,” kata ketua relawan SARMMI Al Ghifari. (19/4/2021)

Semua materi jelas Al Ghifari mengandung edukasi, diselenggarakan dengan gembira, serta melibatkan peran aktif tiap anak-anak yang mengikuti psikososial. Melihat semangat peserta psikososial, Al Ghifari beserta semua rekan relawannya optimis trauma bocah-bocah yang mereka sayangi ini dapat segera pulih.

Semangat Hasan, Rasul, Alfat, Zain beserta belasan teman seusianya patut diapresiasi. Tiap selesai mengikuti sebuah materi psikososial, mereka akan mengikuti materi berikutnya dengan semangat yang sama seperti yang mereka tunjukkan pada materi sebelumnya. Juga dengan kegembiraan yang sama.

“Terima kasih kakak Mapala.” Begitu ucapan riang para bocah bersemangat itu usai mengikuti materi dari relawan yang mendampingi mereka. Ucapan sederhana yang polos, sekaligus menyiratkan ketulusan yang menggugah nurani siapa saja yang mendengarnya.

Bocah-bocah itu hatinya memang baik. Saat tak ada kegiatan untuknya, mereka bermain di sekitar posko kemanusiaan yang letaknya hanya beberapa meter dari laut yang ombaknya tidak ganas. Bila mendapati relawan sedang sibuk mengatur bantuan untuk warga desa Sagu, para bocah ini langsung reaksi cepat membantu — padahal tidak diminta. Ada yang menghitung mie instan. Ada yang memasukan beras ke plastik. Sebagian menyingkirkan kardus. Beberapa bocah berebut mengangkat bantuan yang sudah dikemas lalu menghitungnya — walaupun sering salah jumlah karena terhitung dobel. Seru. Juga lucu.

“Apel jatuh tak jauh dari pohon.” Begitu pesan sebuah pepatah kuno. Mudah dipastikan, sikap baik hati pada bocah itu merupakan warisan langsung dari orang tua mereka. Orang-orang lugu yang bersahaja. Terhadap ini Irchamsyah dari CAMP dan Andi Agil Mamupa memiliki pengalaman sukar dilupa.

“Tiap bertemu warga sini, mereka mengajak mampir ke rumahnya. Padahal tahu sendirilah kondisi rumah mereka pasca banjir. Mereka sangat senang saat kami bertandang. Padahal kami tidak membawa apa-apa saat mampir,” kata Irchamsyah.

Andi Agil bertutur, “Warga selalu memperhatikan kami. Menanyakan kesehatan kami. Tiap hari ada saja warga yang mengajak berbuka puasa di rumahnya. Ajakan mereka sungguh-sungguh. Bahkan kalau malam, ada warga datang ke posko dan meminta kami tidur di masjid Muchlisin Sagu. Agar kami tak kedinginan, karena posko kami tak berdinding sehingga angin laut bebas masuk tanpa penghalang.”

Begitulah warga desa Sagu. Bencana banjir yang meluapi desa mereka tak membuat sikap baik hati mereka ikut hanyut terbawa air bah. Mereka tetap peduli, bahkan kepada para relawan yang datang justru karena peduli pada nasib mengenaskan mereka.
(Ahyar Stone / SARMMI. Mapala UMY. Wartapala Jogja)

Relawan Mapala Muhammadiyah Selenggarakan Psikososial Untuk Anak-anak Korban Banjir di Flores Timur

Sejak Relawan SARMMI (SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia) dan CAMP STIE Muhammadiyah Jakarta serta Mamupa Muhammadiyah Maumere mendirikan posko kemanusiaan di desa Sagu kecamatan Adonara Timur, kabupaten Flores Timur, bantuan yang masuk ke desa yang dihuni oleh 980 KK ini mulai mengalir. Salah satunya bantuan dari Forum Komunitas Driver Onlien Indonesia (FKDOI).

Tiap bantuan yang masuk dipilah-pilah menurut jenisnya, lantas didistribusikan langsung ke korban banjir di desa Sagu.

“Usai dipilah langsung dipacking, lalu dibagikan ke warga korban banjir. Bantuan tidak ditumpuk lama di posko. Tidak sampai sehari bantuan sudah sampai ke tangan warga,” kata Irchamsyah, relawan dari CAMP. (17/4/2021)

Irchamsyah menambahkan, warga desa Sagu ada yang berdiam di bukit-bukit, dan sebagian di pesisir. Bantuan lebih banyak didistribusikan ke daerah pesisir karena mayoritas korban banjir akibat siklon tropis seroja adalah warga yang berdomisili di pesisir.

Pendistrbusian bantuan dibantu kepala desa Sagu dan para pemuda. “Pak Kades dan pemuda juga terlibat aktif mengurus posko kemanusiaan,” terang Irchamsyah.

Selain mendistribusikan bantuan berupa bahan pangan, kegiatan posko yang diinisiasi oleh tiga Mapala Muhammadiyah adalah menyelenggarakan psikososial, edukasi kebencanaan dan pembelajaran cara efektif mengelola sampah. Tiga kegiatan ini digabung menjadi satu sesi yang menarik sehingga anak-anak korban banjir semangat mengikutinya hingga usai.

“Kami menyajikan fun game yang menyenangkan serta menyampaikan materi psikososial, edukasi kebencanaan dan penanganan sampah melalui story telling yang menghibur. Meski demikian kami perlu mengulangnya beberapa kali lagi di hari lain. Agar trauma anak-anak ini benar-benar berkurang drastis,” kata relawan Mamupa Zainal Alichsan Fuad.

“Usai kegiatan lapangan, anak-anak kami sertakan pula pada acara buka puasa bersama, sholat maghrib berjamaah dan taraweh bersama orang dewasa. Kegiatan keagamaan juga efektif sebagai sarana psikososial. Bagusnya lagi, semangat warga desa Sagu untuk beribadah juga baik,” pungkas Zainal. (M. Aris/ WI KP Jogjakarta)

Relawan SARMMI dan Relawan IKIP UM Menjalankan Puasa di Lokasi Banjir NTT

Bulan ramadhan bukan halangan relawan kemanusiaan untuk ke lokasi bencana. Puasa justru meningkatkan motivasi relawan untuk menebar ke baikan, membantu korban bencana di Adonara Timur.

Begitulah kata Al Ghifari, ketua operasi kemanusiaan SARMMI (SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia) untuk NTT, usai mengikuti rapat kordinasi bersama relawan dari IKIP Muhammadiyah Maumere (UM), yang diselenggarakan di Weiwerang, kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, NTT. (15/4/2021)

Al Ghifari menceritakan, di Weiwerang relawan SARMMI bersinergi dengan relawan dari CAMP STIE Muhamadiyah Jakarta, serta relawan dari IKIP Muhammadiyah Maumere yang berasal dari unsur Presma, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan Mamupa.

Di Weiwerang para relawan ini mendirikan posko kemanusiaan guna melakukan pendampingan warga korban banjir yang berada di Weiwerang dan Weiburak. Banjir ini disebabkan oleh siklon tropis seroja.

Bersinergi pula di posko kemanusiaan tadi adalah IPM Nangahure, IPM Semamers dan Remas Al Hikmah.

“Tiap sore kami buka puasa bersama, lalu taraweh. Kemudian sahur bersama. Paginya kami melakukan kerja kemanusiaan untuk warga terdampak banjir,” lanjut Al Ghifari.

Untuk efektifitas, relawan kemanusiaan dipecah menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama membantu warga membersihkan puing-puing yang berserakan di banyak tempat di desa Weiwerang.

Kelompok kedua membantu membersihkan mushola Mujahidin di komplek Koramil.

Sedangkan kelompok ketiga gotong royong bersama warga Weiburak membersihkan puing-puing.

Tiap kelompok yang lebih dulu menyelesaikan pekerjaan, akan bergeser membantu kelompok lain. Hingga semuanya tuntas.

“Disamping melakukan bersih-bersih, para relawan juga mendistibusikan kebutuhan dasar korban banjir berupa beras, air bersih, pakaian dan masih banyak lagi” jelas Al Ghifari.

Sementara Erni Rukimini, salah seorang perintis Mahupa yang dihubungi terpisah mengatakan, semua relawan berkeinginan agar kehidupan warga terdampak banjir segera pulih seperti sedia kala.

“Keinginan itu ditunjukkan dengan bekerja all out di lapangan. Lapar dan haus karena puasa, bukan penghalang bagi mereka untuk membantu sesama,” pungkasnya. (AS)

Operasi Kemanusiaan SARMMI Resmi Berakhir di Mamuju, Sulawesi Barat

*Resmi Berakhir*

*Operasi kemanusiaan SARMMI di Mamuju, Sulawesi Barat*

Untuk merespon gempa 6,2 yang terjadi di kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, pada 18 Januari 2021, SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) mengirim relawan kemanusiaan dari Solo Jawa Tengah, Farich Fauzi (Fafa) ke Mamuju.

Pada 22 Januari 2021, relawan SARMMI Fafa yang bersinergi dengan CRI dan KPA Kaliavo Donggala mendirikan posko kemanusiaan di dusun Tamao, Desa Tampalang, Kec. Tapalang, Mamuju.

SARMMI kemudian memberangkatkan lagi tiga relawan kemanusiaan yakni Aris Wafdulloh dan Ahyar Stone (Keduanya dari Mapala Univ. Muhammadiyah Yogyakarta) serta Ilham dari SARMMI Solo.

Pada 29 Januari 2021 relawan SARMMI mendirikan Posko Kemanusiaan SARMMI di dusun Ulu Taan, desa Taan. Tapalang. Mamuju.

Tiga desa yang menjadi _focus area_ (desa yang didampingi) adalah dusun Ulu Taan di desa Taan, Desa Bela dan Desa Kopeang.

Dusun Ulu Taan merupakan dusun terpencil yang sukar diakses.

Sedangkan desa Bela dan desa Kopeang, selain terpencil juga terisolir, karena akses tunggal ke sana yakni jalan belum diaspal sepanjang 12 km tertutup puluhan titik longsor.

Bantuan ke dusun Ulu Taan hanya dapat dibawa dengan sepeda motor dan kendaraan roda empat dengan spesifikasi tertentu.

Sementara bantuan ke dusun Bela dan desa Kopeang, cuma bisa di drop helikopter atau berjalan kaki hingga ke dusun Ulu Taan (dusun terdekat) melalui titik-titik longsor yang berbahaya.

Operasional Posko Kemanusiaan SARMMI di dusun Ulu Taan, resmi berakhir pada 10 Februari 2021.

Selama 13 hari beroperasi, Posko Kemanusiaan SARMMI di dusun Ulu Taan telah :

1. Membuat pusat informasi dan Posko Singgah Relawan yang hendak ke desa Bela dan desa Kopeang

2. Pendataan (asesmen) titik longsor dari dusun Ulu Taan (titik pertama longsor) hingga pertigaan desa Bela – desa Kopeang

3. Membuat Shleter Bantuan Kemanusiaan di Tepi Sungai Taupe

4. Membuka jalan yang tertutup longsor – menggunakan gergaji mesin, golok, cangkul dan peralatan lain — dari dusun Ulu Taan hingga ke desa Bela dan desa Kopeang. Dikerjalan secara gotong rotong bersama warga dusun Ulu Taan, desa Bela dan desa Kopeang

5. Membuat dapur 24 jam

6. Menyelenggarakan TPA darurat

7. Sanitasi darurat / MCK

8. Psikososial untuk anak-anak

9. Distribusi kebutuhan dasar pengungsi

10. Edukasi kebencanaan

11. Survey titik longsor di sungai Taupe yang berpotensi banjir bandang

Dalam pengoperasikan Posko Kemanusiaan dan mengerjakan sebelas aktivitas kemanusiaan di atas, SARMMI tidak bekerja sendirian.

Tetapi bermitra dan bersinergi dengan relawan lain. Tanpa mereka SARMMI tak dapat berbuat maksimal.

Mereka adalah Mapala Univ. Muh. Yogyakarta. Stacia Univ. Muh. Jakarta. CAMP STIEM Jakarta. Mapsa Univ. Muh. Purwokerto. Mapala Univ. Muh. Riau. Mapalamu Univ. Muh. Luwuk Banggai. Mapala Salawat Univ. Muh. Parepare.

Relawan Batara Guru Luwu Timur. SAR Malili. Relawan Morowali Utara. CRI. KPA Kaliavo. MDMC Parepare. HW Univ. Muh. Parepare

Kemudian IOF Pengda DIY. IOF Pengda Morowali Mandar. Sanggar Al Quran. On Sight Solo. Aranya Mahidhara. Bunda Bella & team.

Dengan selesainya operasional Posko Kemanusiaan di dusun Ulu Taan, SARMMI bersama mitra sinerginya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberi bantuan dan dukungan.
Sehingga kerja kemanusiaan di Mamuju dapat dilaksanakan secara lancar dan berhasil sesuai harapan.

_“Teruslah peduli, agar semangat kepedulian tetap menyala di pertiwi ini”_

Mamuju, 11 Februari 2021
*Ketua Operasi Kemanusiaan SARMMI Untuk Sulawesi Barat*

_*(Aris Wafdulloh)*_

SARMMI dan Relawan Sulawesi Buka Akses Jalan Tertutup Longsor ke Desa Terisolir di Mamuju

*Menggunakan Gergaji Mesin. SARMMI dan Relawan Sulawesi Buka akses jalan tertutup longsor ke desa terisolir di Mamuju*

Akibat gempa Mamuju, desa Bela dan desa Kopeang mendadak terisolir. Karena satu-satunya jalan ke sana tertimbun longsor.

Titik longsor pertama berada di dusun Ulu Taan. Lalu berlanjut hingga ke desa Bela dan desa Kopeang. Sepanjang 12 km.

Kendaraan dengan spesifikasi khusus hanya dapat membawa bantuan sampai ke desa Ulu Taan.

Warga desa Bela dan desa Kopeang lalu memanggul bantuan hingga ke rumahnya.

Mereka jalan kaki naik turun di pohon-pohon berbagai ukuran yang tumbang karena longsor.

Untuk memudahkan warga berjalan kaki, SAR Mapala Muhammadiyah (SARMMI) yang mendirikan posko kemanusiaan di dusun Ulu Taan, kemudian bekerja sama dengan beberapa kelompok relawan di sulawesi membuka jalan.

Kelompok relawan itu adalah Batara Guru Luwu Timur, Relawan Morowali Timur, MDMC Parepare. Mapala Salawat dan HW univ. Muhammadiyah Parepare, serta Mapala Univ. Muhammadiyah Yogyakarta.

Pengerjaan dimulai dengan menggergaji pohon-pohon tumbang, membuat jalan berundak dan memasang pegangan di jalur naik yang licin. (6/2/21)

Pekerjaan kemanusiaan ini diprediksi selesai dalam tiga hari.

Mulai hari kedua warga dusun Bela dan dusun Kopeang, ikut gotong royong. Mereka mengerahkan 13 chainsaw atau gergagi mesin dan peralatan lain. (Ahyar Stone/SARMMI)

Relawan Kemanusiaan Dirikan Shelter Bantuan Untuk Dua Desa Terisolir Terdampak Gempa Mamuju

Desa Bela dan desa Kopeang, kecamatan Tapalang. Mamuju. Sulawesi Barat. Merupakan dua desa terdampak gempa Mamuju yang parah.

Akses tunggal ke sana yakni jalan tanah sejauh 12 km dari dusun Ulu Taan, tertutup longsor. Beberapa ruas jalan juga longsor tak bersisa.

Bantuan hanya dapat didrop helikopter. Atau dipanggul jalan kaki menembus sekian puluh titik longsor yang berbahaya.

Tiap hari warga dari dua desa tadi turun untuk mengambil bantuan dari desa Ulu Taan. Mereka butuh waktu dua hari untuk perjalanan PP.

Itu sama sekali bukan perjalanan yang sederhana.

Di sisi berbeda, para relawan kemanusiaan berupaya memanggul bantuannya hingga ke desa Bela dan desa Kopeang.

Lagi-lagi itu bukan perjalanan yang sederhana.

Untuk “menengahi” situasi demikian, SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) yang mendirikan posko kemanusiaan di dusun Ulu Taan, lantas bersama Komunitas Relawan Peduli Sulbar, mendirikan shelter bantuan untuk desa Bela dan desa kopeang. (3/2/21)

Shelter bantuan didirikan di tepi sungai Taupe. Dikerjakan oleh dua relawan SARMMI yakni Ramon dan Ahyar Stone (keduanya anggota Mapala UMY), serta Ari, Roki, Fiber, Dirga dari Relawan Peduli Sulbar.

Sungai Taupe merupakan titik tengah perjalanan dari dusun Ulu Taan ke dusun Bela dan desa Kopeang.

Bangunan yang dipakai adalah gubuk milik warga yang karena gempa, tak ditempatinya lagi.

“Teknis kerjanya, para relawan cukup memanggul bantuannya sampai ke shelter bantuan. Gubuk yang dipakai sudah kami modifikasi agar bantuan aman disimpan dan relawan bisa bermalam,” kata ketua tim operasi kemanusiaan SARMMI untuk Sulbar M. Aris Wafdulloh yang biasa dipanggil Ramon.

Lalu warga desa Bela dan desa Kopeang lanjut Ramon, mengambil bantuan tadi dan membawa hingga ke desa mereka.

“Dengan begitu, relawan dan warga desa cukup menuntaskan setengah perjalanan. Tak perlu lagi dua hari jalan kaki antar jemput bantuan,” pungkasnya. (Ahyar Stone)

Operasi Kemanusiaan Di Dusun Yang Dikeliling Oleh 4 Sungai Di Wilayah SIGI

Kantor Desa Salua, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah

Desa Salua, kec. Kulawi. Kab. Sigi. Adalah salah satu desa yang mengalami kerusakan parah dihantam gempa 7, 7SR awal Oktober lalu.

Selain menghancurkan 4 gereja, 1 masjid, 4 sekolah, 1 TK, serta 272 rumah, gempa juga menyebabkan 8 orang warga desa Salua meninggal dunia.

Mirisnya lagi, jalan raya ke desa yang dihuni oleh 1250 jiwa ini, tertutup longsor.

Longsor juga membuat sungai Salua banjir bandang.

Sungai Salua adalah salah satu dari 4 sungai yang mengelilingi dusun Salua.

Beberapa rumah yang sudah hancur kena gempa, tergenang air bah sungai Salwa. Bahkan ada yang hanyut.

Lantaran akses jalan tertutup longsor, dan jembatan gantung rusak, bantuan yang masuk ke desa Salua tidak ada.

Bantuan baru masuk pada hari keempat pasca gempa.

Itupun di drop oleh helicopter.

Meski material longsor yang menutup jalan sekarang telah disingkirkan alat berat, tetapi bantuan yang masuk ke dusun Salwa yang jaraknya dari Pusat Kota Sigi 54 km, belum memadai.

Saat ini, listrik di wilayah kabupaten Sigi sudah menyala.

Tetapi di desa Sigi dan desa sekitarnya, listrik belum menyala. Tak ada keterangan dari PLN kapan jaringan listrik diperbaiki.

Tiap malam dusun Salua gelap gulita. Untuk cas HP pun warga tak bisa.

Saluran air bersih di desa Salua, juga putus. Pipa air banyak yang hilang dibawa longsor.

Hingga hari ini warga dusun Salua masih mengalami krisis air bersih.

Mulai Senin, 15 Oktober 2018, SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARRMMI) dan mitra sinerginya, _focus area_ di desa Salua.

Mitra sinergi SARMMI adalah Stacia UMJ. Hiwata UM Palu. Mapala Unmuha. Mapala UMSU. Mapalamu. Relawan Batara Guru Luwuk Timur. Toms. Co Mataram. Waskita Karya.

Operasi kemanusiaan di dusun Salua dipimpin oleh Syahrawan dari Hiwata.

Menurut Awank – demikian Syahrawan dipanggil focus area di dusun Salua, berarti relawan tinggal dan membaur bersama warga dusun Salua.

Dengan berada di tengah warga korban gempa, relawan akan mengerti masalah di lapangan dan memahami solusinya. Sehingga kegiatan kerelawanan akan tepat sasaran dan tepat guna.

“Dusun Salua dipilih sebagai _focus area_ karena disini masih banyak masalah yang muncul pasca gempa,” kata Awank.

Selain itu, terang awank, akses ke dusun Salua masih sulit dan rawan terisolir karena berpotensi longsor. Listrik juga mati total, saluran air bersih putus, dan hampir semua fasilitas umum dan sarana pendidikan tak bisa dipakai.

“SARMMI dan mitra sinerginya, akan berada di dusun Salwa sampai akhir Oktober. Untuk mendirikan sekolah darurat, masjid darurat, menyambung pipa air bersih dan masih banyak lagi,” demikian kata Awank. (Ahyar Stone)

Jalan Menuju Dusun Salua, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah
Bergotong Royong Merubuhkan Bangunan Sekolah Pasca Gempa
Tim Relawan SARMMI Menyalurkan Bantuan Ke Masyarakat
Rumah Warga Dusun Salua, Yang Porak Poranda dihantam gempa 7.4SR

Ketua Rayon 7 SARMMI, Sosialisasikan Program SARMMI ke Unismuh Palu

Sangat baik bila mahasiswa masuk organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala), karena kegiatan Mapala bermanfaat dan banyak membantu masyarakat seperti dalam kebencanaan. Partisipasi Mapala pada berbagai bencana juga tepat karena sejalan dengan program Muhammadiyah yang responsive terhadap kebencanaan di tanah air.

Demikian yang disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Palu DR. Rajindra Rum, SE. MM. Kepada Pengurus Pusat SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) usai Deklarasi Rayon 7 SARMMI yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Luwuk, beberapa waktu lalu.

Pengurus Pusat SARMMI yang menemui Rajindra adalah Ketua Umum Slamet Widodo, Sekretaris Umum Ahyar Hudoyo, Ketua Kominfo Lita Indriani, anggota Dewan Pengarah Zulfahmi Sengaji, SE. MM. Kemudian Ketua Rayon 7 Ade  Putra Ode Amane, serta Sekretaris Abdul Gani.

Kendati demikian, lanjut Rajindra, tidak berarti Mapala di Universitas Muhammadiyah Palu  yaitu Mapala Hiwata, sudah sering berkecimpung di kebencanaan. Hiwata lanjut Rajindra, walaupun sekretariatnya masih ada justru sudah lama tidak aktif.

“Mapala Hiwata harus aktif lagi. Mereka harus dibangunkan dari tidur panjangnya,”kata Rajindra.

Menindaklanjuti pertemuan bersama Rajindra, Ketua Rayon 7 SARMMI Ade  Putra Ode Amane, didampingi Pengurus Mapala Unismuh Luwuk, Dedi, mengunjungi kampus Unismuh Palu (16/12)

Sebelum Ade Putra, awal Desember lalu Pengurus Pusat SARMMI telah mengutus Thariq AR Taat dari Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) menemui senior dan calon anggota baru Hiwata di kampus Unismuh Palu.

Tujuan Ade Putra selain untuk mengedukasi calon anggota baru Mapala Hiwata tentang kegiatan pecinta alam, adalah mensosialisasikan program SARMMI di Sulawesi kepada pimpinan Unismuh Palu.

Dalam sosialisai program ade Putra yang juga menjabat Wakil Dekan 3 Fisip Unismuh Luwuk, menyampaikan, kegiatan SARMMI adalah implementasi dari Mukadimah Muhammadiyah, Tri Dharma Perguruan Tinggi, Catur Dharma PTM, Kode Etik Pecinta Alam Indonesia, serta Ikrar Mapala PTM se Indonesia.

Disamping operasi SAR di bencana alam, kegiatan SARMMI lainnya adalah menyelenggarakan pelatihan untuk meningkatkan skill anggota Mapala PTM dalam bidang kebencanaan.

“Peningkatan SDM mutlak dilakukan, karena sesuai amanat Majelis Diktilitbang, SARMMI harus menjadi garda terdepan Muhammadiyah di setiap bencana yang terjadi di tanah air,” kata Ade Putra.

Terhadap program SARMMI  yang dipaparkan Ade Putra, Rajinda yang didampingi sejumlah Pimpinan Unismuh Palu. mengaku sangat apresiasi, dan mendukung penuh.

“Di Palu banyak bencana. Setelah Mapala Hiwata aktif, mereka inilah yang diharapkan bersama SARMMI berada di garis terdepan untuk membantu korban bencana alam,” harap Rajindra.

SAR Mapala Apresiasi Aksi Kemanusiaan Jamaah Masjid Jogokariyan di Bencana Alam

Seiring makin sering bencana alam terjadi di tanah air, kelompok masyarakat yang peduli terhadap korban bencana alam juga bertumbuhan. Saat ini yang datang ke lokasi bencana tak lagi didominasi oleh kalangan pecinta alam dan organisasi kerelawanan, jamaah-jamaah masjid di berbagai daerah kerap pula datang memberikan bantuan kemanusiaan. Seperti jamaah masjid Jogokariyan, Jogjakarta.

Masjid Jogokariyan sebenarnya “hanya” masjid kelas kampung. Tetapi reputasinya mendunia. Masjid yang dikelola warga Muhammadiyah di kampung Jogokariyan, Mantijeron, Jogja ini, bahkan dinobatkan oleh Kementerian Agama sebagai Masjid Percontohan Tingkat Nasional.

Reputasi mentereng ini didapat karena Masjid Jogokariyan memiliki manajemen yang baik sehingga dapat menderdayakan ekonomi warga, berhasil mengelola beasiswa, kartu sehat, dan mampu membantu korban bencana alam dan bencana sosial di Indonesia maupun di luar negeri.

“SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) memberikan apresiasi tinggi terhadap aksi kemanusiaan yang dilakukan relawan dari masjid Jogokariyan di berbagai bencana alam seperti gunung kelud, banjir Garut, gempa di Pidie Jaya Aceh, longsor di Purworejo, dan di daerah lain. Relawan mereka juga datang ke Palestina dan Aleppo Syria, untuk membantu masyarakat terdampak bencana sosial yang terjadi disana,” demikian kata Pengarah (SC) SARMMI, Zulfahmi Sengaji, SE. MM, usai bertemu pengurus Masjid Jogokariyan di Jogjakarta (19/10)

Kedatangan Zulfahmi yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua 2 STIE Muhammadiyah Kalianda, dan  Humas Masjid Agung Lampung Selatan, selain memberikan apresiasi, juga untuk memahami lebih detil manajemen masjid Jogokariyan. Pengetahuan manajemen masjid kata Zulfahmi diperlukan oleh anggota SARMMI.

Menurut Zulfahmi, sebagai ujung tombak Muhammadiyah di berbagai bencana alam di tanah air, anggota SARMMI kerap berkunjung ke masjid di daerah terpencil yang umumnya dikelola dengan pola lama. Majid hanya dimanfaatkan untuk sholat jamaah dan perayaan hari besar islam. Pola seperti itu tak lagi sesuai dengan jaman. Agar Masjid dapat berkembang sesuai jaman, manajemen masjid harus diperbaiki.

Dengan bekal pengetahuan managemen masjid kata Fahmi, anggota SARMMI dapat memberikan pencerahan kepada takmir masjid yang ia kunjungi. Sehingga masjid disana tak lagi cuma sebatas rumah ibadah, tetapi juga dapat berfungsi sebagai rumah solusi terhadap persoalan yang muncul di masyarakat. Baik persoalan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan bahkan kebencanaan. Bila masjid semarak oleh kegiatan sosial, masjid pasti akan ramai didatangi jamaah untuk menyelenggarakan kegiatan religius.

Pengetahuan managemen masjid akan menjadikan anggota SARMMI tak hanya terampil dalam mencari, mengevakuasi, dan menolong korban bencana alam, tetapi mampu pula memberikan solusi terhadap masalah klasik yang dialami oleh hampir semua masjid di Indonesia, yaitu sepi jamaah,” tutup Zulfahmi.

Kabar Duka. Mapala UMSB Kehilangan Putri Terbaiknya

Innalillahi wa inna ilaihi rooji’ un

Segenap Pengurus SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia, mengucapkan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya pengurus Mapala Univ. Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB). Sispi Susanti. (22 th)
Semoga Allah SWT mengampuni segala dosanya, menerima semua amal ibadahnya, dan memberi almarhumah tempat terbaik disisiNya.

Kepada keluarga besar almarhumah, keluarga besar Mapala UMSB, dan civitas akademika UMSB, semoga diberiNya ketabahan.

Almarhumah akan dimakamkan di kampung halamannya Sisawah, Sumpur Kudus, Sijunjung, Sumatra Barat. Pada Rabu, 18 Oktober 2017.

Bersama ini pula, Pengurus SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besar kepada semua pihak yang telah membantu moril maupun materiil selama almarhumah dalam pengobatan, dan hingga ke pemakaman.
Semoga Allah SWT membalasnya dengan pahala berlipat ganda. Aamiin.

SARMMI Mendukung Stacia Dirikan Pusat Pelatihan Mangrove Muhammadiyah

Bila dicermati seksama, ada dua hal yang sangat kentara dari anggota Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) di Muhammadiyah. Peduli kepada sesama, dan senantiasa tergerak menjalankan dakwah Muhammadiyah.

Dua karakter itu, bukan hasil dari proses yang instan. Melainkan dari proses panjang yang dilakukan secara terus menerus dan diulang-ulang. Hasilnya dua karakter itu melekat kuat  pada diri setiap anggota Mapala, sehingga tatkala mereka sudah manyelesaikan kuliahnya, peduli dan dakwah Muhamadiyah menjadi gaya hidup mereka sehari-hari di manapun berada.

Adalah beberapa anggota Mapala Stacia Universitas Muhammadiyah Jakarta yang blusukan ke muara sungai Cisadane di Tangerang. Menjelajahi daerah pinggiran yang tidak populer adalah tradisi Stacia untuk mempertajam kepekaan sosial anggotanya. Di blusukan kali ini anggota Stacia mendapati fakta yang membuat mereka tercengang, prihatin, sekaligus buru-buru hendak berbuat baik.

Kawasan mangrove di muara sungai Cisadane yang mereka datangi, ternyata rusak parah. Hutannya nyaris gundul, air laut berlumpur tebal, dan sampah rumah tangga bertebaran di semua penjuru pantai dan di hutan mangrove yang tersisa. Kerusakan ini telah berlangsung lama. Tak ada yang peduli. Padahal kondisi ini membahayakan ekosistem muara Cisadane. Temuan ini kemudian menjadi perhatian semua anggota Stacia. Tua dan muda.

“Awalnya Stacia hanya berniat fokus menyelamatkan kawasan pantai dengan cara menanam mangrove. Tetapi semakin jauh melangkah kami melihat masalah disini sangat kompleks dan saling berkaitan,”   ungkap senior Stacia Moh. Al Fatih kepada rombongan pengurus SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia, yang mengunjungi wilayah konservasi mangrove Stacia di desa Tanjung Burung, kecamatan Teluk Naga, Tangerang. (27/8)

Kepada tamunya, Fatih yang didampingi senior Stacia lain, Roy Nurdin, menjelaskan, menanam mangrove berarti juga menyertakan kegiatan konservasi, penanganan sampah, serta pemberdayaan ekonomi dan budaya masyarakat setempat. Sungai Ciliwung juga harus dinormalisasi, dan dikeruk agar dalam.

Semua persoalan itu harus ditangani menyeluruh dan berkesinambungan, baik secara secara serial maupun paralel. Akan percuma rajin menanam mangrove tetapi abai terhadap sampah. Sampah adalah musuh tanaman mangrove, karena sering menyangkut di mangrove muda yang baru ditanam lalu menyeretnya ke laut lepas.

“Kompleksitas itulah yang membuat keluarga besar Stacia kian termotivasi, dan  itulah dasar kami membentuk Kelompok Stacia Hijau, atau KSP pada bulan Mei lalu,” kata Fatih.

Mengenalkan Muhammadiyah

Kelompok Stacia Hijau adalah wadah yang memiliki badan hukum sendiri. Namun tetap berada dibawah Stacia. Pengurusnya anggota Stacia dari berbagai generasi. Mereka bergiliran bekerja di kawasan konservasi. Kendati tidak digaji, mereka menjalankan KSP secara profesional, ekonomis, dan militan. Mereka sadar, KSP membawa misi besar yang harus dikerjakan sungguh-sungguh selama bertahun-tahun.

Untuk sampai ke lokasi penanam mangrove di muara Cisadane, KSH harus memiliki dermaga dan sarana f isik lainnya. Ide ini membuat mereka mulai melakukan pendekatan kepada warga Tanjung Burung. Menurut Fatih, pendekatan kepada warga, perlu perjuangan khsusus. Warga yang bermukim disekitar muara Cisadane terkenal keras, dan sensitif terhadap pendatang.

“Warga disini sering dikadalin LSM. Jadi mereka curiga kepada lembaga yang datang. Mereka juga skeptis terhadap KSH. Tetapi setelah KSH selesai membangun dermaga, mushola, serta sumur bor lengkap dengan MCK, warga mulai percaya dengan niat baik KSH. Warga malah ikut membantu. Sekarang hubungan KSH dengan warga desa Tanjung Burung sangat kondusif,” lanjut Fatih.

Dermaga, sumur, MCK, dan mushola yang dibangun tepat di tepi sungai Ciliwung, ungkap Fatih, adalah pekerjaan kedua KSH. Sebelumnya mereka telah menanam ribuan mangrove. Anggaran membangun semua sarana itu dari iuran anggota Stacia dan donasi beberapa pihak. Dikerjakan gotong bersama warga. Fungsinya selain sebagai titik awal menuju area penananam mangrove, juga sebagai lokasi pemberdayaan ekonomi dan budaya masyarakat Tanjung Burung.

“Masyarakat di sepanjang sungai Cisadane terbiasa membuang sampah dan MCK disungai yang kotor” kata Fatih sambil menunjuk sungai Cisadane yang airnya keruh, sedikit berbau, dan tak pernah sepi dari hanyutan sampah rumah tangga. Volume sampah hanyut ini meningkat bila ada hujan.

Senada dengan Fatih, Roy menjelaskan, KSH memanfaatkan sumur dan MCK sebagai sarana untuk mengedukasi warga agar terbiasa MCK di air sehat dan tak lagi membuang sampah di sungai. Sekarang warga disekitar sini lebih suka antri di MCK yang dibangun KSH daripada mandi di sungai.

Lahan sisa membangun empat sarana tadi dimanfaatkan KSH untuk pembibitan mangrove dan pengelolaan sampah. Pembibitan dikerjakan bergiliran oleh ibu-ibu warga Tanjung Burung. Di lahan ini juga direncanakan menjadi sentral peternakan cacing tanah dengan memanfaatkan sampah yang telah dikelola. Sekarang KSH sedang mencari jaringan bisnis cacing tanah. KSH juga mengajak coprporate untuk investasi memberdayakan ekonomi warga Tanjung Burung.

“Sedangkan mushola kami jadikan sarana ibadah bersama warga. Mushola ini rencananya akan dikelola bersama remaja masjid setempat. Karena warga Tanjung Burung belum mengenal Muhammadiyah, mushola kami maksimalkan pula sebagai entry point memberi pencerahan tentang Muhamadiyah,” terang Roy.

Dibawah Mushola lanjut Roy, sudah dibangun dermaga untuk menuju lokasi penananam mangrove. Jarak tempuhnya sekitar setengah jam perjalanan air. Tetapi bisa lebih lama jika sungai sedang banyak sampah. Sampah sering menyangkut di baling-baling perahu.

Pusat Pelatihan Mangrove

Lahan konservasi mangrove di muara Cisadane yang dikelola KSH luasnya 24 Hektar. Sampai saat ini KSH telah menanam 15 ribu mangrove.

“Tetapi hampir separuhnya rusak dan hilang karena diterjang sampah,” ungkap Fatih.

Situasi itu justru memicu mereka untuk kian gigih menanam mangrove sambil menjalankan program penunjangnya, karena mangrove sangat bermanfaat bagi kelangsungan mahluk hidup.

Menurut Fatih, hutan mangrove berfungsi melindungi pantai dari erosi dan abrasi. Mencegah intrusi air laut. Tempat berkembang biak ikan, udang, kepiting, burung, monyet. Melindungi pemukiman penduduk dari badai, angin laut, dan gelombang pasang. melindungi daratan dari naiknya air laut akibat gas rumah kaca. Serta sebagai tempat wisata dan edukasi.

Saat ini hutan mangrove di Indonesia banyak yang rusak, tetapi baru sedikit pihak yang peduli. Hal ini kata Fatih karena masih banyak yang belum paham tentang mangrove dan fungsinya.

“Berangkat dari situasi itulah KSH akan menjadikan muara cisadane sebagai Pusat Pelatihan Mangrove Muhammadiyah,” Kata Fatih.

Diberi nama seperti itu, karena anggota Mapala sebagai kader Muhammadiyah memiliki tanggung jawab untuk memberi pencerahan kepada masyarakat.  Pusat pelatihan akan mengedukasi siapa saja agar paham dan peduli terhadap hutan mangrove. Edukas dimulai dari teori, teknis pembibitan, cara menanam, budidaya, hingga  memahami fungsi ekonomis dan ekologis tanaman mangrove. Usai mengikuti pelatihan, mereka kembali ke daerah asalnya untuk menerapkan ilmunya disana.

Selain itu lanjut Fatih, KSH terbuka bagi semua pihak untuk sama-sama membangun kawasan konservasi mangrove yang telah dikelola KSH. Mereka juga dipersilahkan untuk berpartisipasi di bidang pemberdayaan ekonomi, pengembangan SDM, keagamaan, atau di sektor sosial lainnya.

“Menanam mangrove serta membangun program pendukungnya perlu orang banyak, dan butuh kerjasama banyak pihak dari berbagai latar belakang. Stacia tidak akan mampu bekerja sendiri. Kami butuh pihak lain,” kata Fatih.

Terhadap ajakan KSH, pengurus SAR Mapala Muhammdiyah Indonesia, Tia Septiyani dari Camp STIEM Jakarta, mengaku sangat mengapresiasi kerja sosial KSH yang terencana baik dan dijalankan secara profesional. Sebagai dukungan SAR Mapala Muhammdiyah Indonesia akan mendampingi KSH di bidang keselamatan dan penyelamatan.

“Insya Allah kami akan menyelenggarakan pelatihan SAR untuk warga Tanjung Burung dan peserta edukasi mangrove. Pelatihan ini juga realisasi dari amanat Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, bahwa kegiatan SAR Mapala Muhammdiyah Indonesia adalah implementasi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pengabdian pada masyarakat,” demikian kata Tia Septiani. (Ahyar Stone)