Tag: Muhammadiyah

Relawan Kemanusiaan di Desa Kunjir Dirikan Emergency Toilet Air Hangat Alami

Relawan Kemanusiaan di Desa Kunjir Dirikan Emergency Toilet Air Hangat Alami
Relawan Kemanusiaan di Desa Kunjir Dirikan Emergency Toilet Air Hangat Alami

Tak banyak yang tahu jika desa Kunjir memiliki potensi terpendam, yakni air hangat alami. Air yang tak lazim ini berada di beberapa sumur warga. Airnya mengalir sepanjang tahun. Debitnya cukup besar.

Desa Kunjir berada di pesisir pantai Lampung Selatan. Saat tsunami menghantam Selat Sunda beberapa waktu lalu, desa yang masuk wilayah kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan ini, mengalami kerusakan parah. Beberapa warganya juga meninggal dunia.

Di desa Kunjir inilah SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI), bersama KAUMY Lampung, Mapasanda STIEM Kalianda, Akbid Wira Buana Metro, Mapala UMRI, Stacia UMJ, HW UMJ, Camp STIEM Jakarta, Mapala UMY, Keluarga Besar MALIMPA, mendirikan posko relawan kemanusiaan yang siaga 24 jam.

Proses pengerjeaan Emergency Toilet Air Hangat Alami. Sumur air hangat  yang dipakai milik warga yang rumahnya hancur kena tsunami.
Proses pengerjeaan Emergency Toilet Air Hangat Alami. Sumur air hangat yang dipakai milik warga yang rumahnya hancur kena tsunami.

Seperti biasanya usai terjadi bencana alam, relawan dan para dermawan hilir mudik memasuki wilayah terdampak bencana untuk memberikan bantuan.

Pemandangan serupa juga tampak di sepanjang jalan raya yang menghubungkan desa-desa terdampak tsunami di pesisir Lampung Selatan.

Tiap hari ratusan sepeda motor, kendaraan roda empat dan truk berbagai ukuran keluar masuk membawa bantuan.
Ada kendaraan bantuan yang menuju desa Kunjir. Ada yang ke desa lainnya.

Lantaran desa Kunjir termasuk titik terparah kena tsunami, arus lalu lintasnya menjadi ramai. Sering terjadi kemacetan.

Lalu lintas macet dan tidak adanya fasilitas toilet umum di sepanjang jalan ke desa-desa terdampak tsunami, rupanya menjadi problem tersendiri bagi relawan dan para dermawan yang membawa bantuan.

Mereka benar-benar mengalami kesulitan saat hendak buang air kecil. Padahal terlalu lama menahan buang air kecil, membuat perasaan mereka tak nyaman. Kesehatannya juga dapat terganggu.

Mengatasi persoalan itu, relawan SARMMI dan mitra sinerginya kemudian mendirikan Emergency Toilet Air Hangat Alami. Sumur air hangat yang dipakai milik warga yang rumahnya hancur kena tsunami.

Dinding Emergency Toilet terbuat dari seng. Terdiri dari tiga balik. Dapat dipergunakan untuk buang air besar, mandi, atau sekedar buang air kecil. Toilet ini untuk umum. Gratis.

Menurut relawan dari Keluarga Besar MALIMPA , Irfan Sengaji, alasan ia dan teman-teman sesama relawan mendirikan Emergency Toilet Air Hangat Alami ini, selain sebagai solusi persoalan buang air adalah untuk mengenalkan potensi air hangat alami desa yang ada di desa Kunjir.

“Dengan adanya toilet ini, masyarakat luas menjadi tahu, ada air hangat alami di desa kunjir. Tentu ini bagus untuk promosi potensi ekonomi dan wisata desa Kunjir pasca tsunami,” kata Irfan Sengaji.

Baru beberapa saat Emergency Toilet selesai dikerjakan, penggunanya langsung ramai. Mereka memiliki komentar yang beragam.

“Kayak beol di hotel bintang. Nyiramnya pake air panas. Mantap coy..,” kata seorang dermawan dari Tangerang.

Seorang mahasiswi dari Palembang yang datang ke Kunjir bersama tim membawa bantuan dari kampusnya, berkomentar, “Tadinyo aku dak pecayo toilet daruratnyo make air anget. Abis kucoba, ternyato anget nian.”
Tadinya saya tidak percaya toilet darutratnya memakai air hangat. Setelah saya coba, ternyata benar air hangat.

Komentar lain dari seorang relawan asal kota Metro. “Wah, ngertiyo, mau tak nggowo anduk karo sabun. Iso sisan adus banyu panas. Ra mbayar,” katanya.
Wah kalau saya tahu, tadi saya membawa handuk dan sabun. Bisa sekalian mandi air panas gratis. (Ahyar Stone)

Ketua PDM Parepare : Mapala adalah Gerakan Menegakan Akidah Seperti yang Diperjuangkan Ahmad Dahlan

Pengalaman pernah dekat dengan Mapala Salawat Universitas Muhammadiyah Parepare (UMPAR). Rupanya sangat membekas di hati Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Parepare, Drs. H. Sawati Lambe.

Diajak berbincang perihal Mapala, tokoh Muhammadiyah paling terkemuka di Kota Parepare ini, tampak berbinar-binar senang.
Kesan itulah yang tertangkap, tatkala tiga Pengurus Pusat SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) yakni Dewan Pengarah SARMMI Zulfahmi Sengaji, SE. MM. Sekretaris Umum Ahyar Hudoyo, dan Ketua Divisi Kominfo Lita Indriani, menemui Sawati di Masjid kampus UMPAR awal Desember lalu.

Turut pula di perbincangan yang bersahaja itu Sekretaris PDM Kota Parepare. Rektor UMPAR Prof. DR. H. Muhammad Siri Dangnga, MS. Serta Ketua Umum Mapala Salawat UMPAR.

“Mapala adalah suatu gerakan untuk menegakan akidah seperti yang diperjuangkan KH Ahmad Dahlan,” kata Sawati mantap.
Saya katakan begitu, lanjut Sawati penuh semangat, karena ketika saya menjadi Pembantu Rektor (PR) 3 UMPAR. Saya melihat anggota Mapala Salawat UMPAR sering masuk dan menelusuri gua, pegunungan, hutan dan sebagainya. Padahal wilayah seperti itu menurut orang umum adalah sakral.

Pulang dari wilayah-wilayah itu, anggota Mapala Salawat UMPAR sering saya wawancarai. Saya ingin mengetahui lebih jauh pengalaman mereka selama disana.

“Mereka mengakui sering menemui peristiwa yang dalam istilah sekarang disebut penampakan,” ungkap Sawati.
Tetapi lanjut Sawati bangga, anggota Mapala Salawat UMPAR tidak gentar. Mereka tidak mempercayai hal-hal ganjil seperti itu. Ini membuktikan mereka percaya tidak ada kekuatan kecuali milik Allah SWT.

Berdasarkan pengalaman nyata mereka itu, saya anjurkan agar mereka menyampaikannya kepada orang lain. Tertutama ke teman-teman mereka yang masih percaya black magic atau ilmu-ilmu hitam.
Di Mapala Salawat UMPAR, kata Sawati, akidah bahwa Allah adalah Maha Segala-galanya betul-betul kami tanamkan.

“Di Sulawesi Selatan bagian barat ada kejadian yang secara rasional mayatnya tidak bisa diketemukan. Tetapi Mapala Salawat UMPAR berhasil menemukannya. Mereka berhasil karena memiliki landasan aqidah,” papar Sawati.

Selanjutnya diceritakan pula oleh Sawati, di Mapala lain memang ada yang peminum, atau mengkonsumsi minuman keras (Miras). Tetapi di Mapala Salawat UMPAR betul-betul kami jaga, jangan sampai seperti itu. Caranya adalah dengan menanamkan pengertian bahwa segalanya akan hancur bila kalian melakukan hal-hal yang melanggar agama.

“Alhamdulillah, sejak awal berdiri hingga saat ini Mapala Salawat UMPAR bebas miras,” lanjut Sawati penuh syukur.
Setelah Sawati dipercaya umat sebagai Ketua PDM kota Parepare, dan tidak lagi menjabat PR 3 UMPAR, ternyata perhatiannya kepada Mapala Salawat UMPAR tak berkurang.

Jabatan mentereng tidak membuatnya berubah. Sawati masih memegang kebiasaan lamanya seperti sekian tahun lalu : selalu meluangkan waktu berbincang-bincang dengan anggota Mapala Salawat UMPAR.

Dari interaksi yang intens itu ia tahu, dan hal itu pula yang membuatnya tambah bangga : kian hari Mapala Salawat UMPAR semakin dapat memberikan kontribusi yang banyak kepada almamaternya yakni Universitas Muhammadiyah Parepare sebagai amal usaha Muhammadiyah. (Ahyar Stone)

Setelah bertemu Thariq AR Taat dari SARMMI. Calon Anggota Baru Hiwata Kian Termotivasi.

Niat baik Rektor Universitas Muhammadiyah Palu, DR. Rajindra Rum untuk mengaktifkan Mapala di kampusnya, Hiwata, benar-benar didukung oleh Pengurus SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI). Baik yang di Pusat maupun di Rayon 7.

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, usai menghadiri Deklarasi Rayon 7 SARMMI yang diselenggarakan oleh Mapalamu di kampus Universitas Muhammadiyah Luwuk, penghujung November lalu, kepada Pengurus SARMMI yang menemuinya, Rajindra menyampaikan niatnya untuk mengaktifkan Hiwata.

Pengurus SARMMI yang menemui Rajindra adalah Ketua Umum Slamet Widodo, Sekretaris Umum Ahyar Hudoyo, Ketua Kominfo Lita Indriani, anggota Dewan Pengarah SARMMI Zulfahmi Sengaji, SE. MM. Serta Ketua Rayon 7 Ade  Putra Ode Amane, dan Sekretaris Abdul Gani.

Kepada mereka, Rajindra mengaku sangat apresiasi kepada kegiatan Mapala, dan menganjurkan Mahasiswa di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu bergabung ke Mapala. Kegiatan Mapala kata Rajindra, bermanfaat dan banyak membantu masyarakat seperti dalam kebencanaan.

Aktifnya Mapala pada berbagai bencana di tanah air, lanjut Rajindra sangat tepat karena sejalan dengan program Nasional Muhammadiyah yang pro aktif pada kebencanaan di tanah air. Mapala aktif di kebencanaan adalah bentuk dari peran Mapala mendukung program Persyarikatan.

Hanya saja ujar Rajindra, Mapala di kampus yang dipimpinnya, telah beberapa tahun tidak aktif. Sekretariat Hiwata masih ada. Tetapi pengurusnya sudah lulus semua. Anggota yang berstatus mahasiswa tidak ada, karena hampir 4 tahun tidak pernah merekrut anggota baru.

“Hiwata harus aktif lagi. Mereka harus dibangunkan dari tidur panjangnya,” kata Rajindra.

Keinginan Rajindra mengaktifkan Hiwata, ditanggapi serius oleh Pengurus SARMMI. Selang beberapa hari usai bertemu Rajindra, tepatmya 3 Desember 2017, Pengurus Pusat  SARMMI dari Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), Thariq AR Taat, terbang dari Jakarta ke Palu, dan langsung merapat di Sekretariat Hiwata.

Sekretariat Hiwata berada diantara gedung-gedung di komplek kampus Unismuh Palu.  Menempati  sebuah ruangan bercat putih yang ukurannya tak begitu luas.  Lantaran lama tidak berpenghuni, kondisinya sekarang lebih mirip ruang penyimpan beberapa memoriable, alias benda-benda “masa silam” yang menandakan Hiwata pernah ada, aktif, dan ikut mewarnai perjalanan panjang aktivitas Mapala di Palu dan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah se Indonesia.

“Dari ruang inilah kami akan kembali memulai perjuangan menghidupkan Hiwata,” kata Awank, senior Hiwata yang menerima kedatangan Thariq.

Awank adalah seorang dari segelintir anggota “laskar terakhir Hiwata” yang pernah berupaya menggerakan roda organisasi. Namun karena banyak kendala, perjalanan roda Hiwata itu tersendat. Lalu benar-benar terhenti.

“Tahun 2013 Hiwata mengikuti Jambore Mapala PTM se Indonesia di Malang. Rupanya itu event besar terakhir yang kami ikuti. Pulang Jambore Hiwata perlahan-lahan meredup, dan nyaris tinggal kenangan,” kata Awank mengisahkan.

Pasalnya kata Awank, kaderisasi di Hiwata total terhenti, karena, berkali-kali mereka membuka pendaftaran anggota baru, hasilnya senatiasa nihil.

“Hampir empat tahun kami berupaya keras mengajak mahasiswa di kampus ini bergabung ke Hiwata. Tetapi tak satu pun mahasiswa yang berminat mendaftar menjadi anggota Hiwata,” tutur Awank

Tetapi situasi tak sedap itu tak membuat Awank dan senior lain patah semangat. Situasi demikian justru membuat mereka cerdas memikirkan langkah yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya untuk menjaring anggota baru.

“Syukurlah cara baru yang kami pakai, berhasil menjaring anggota baru. Sekarang sudah dapat sebelas calon anggota. Insya Allah akan bertambah,” kata Awang optimis.

Kedatangan Thariq ke Hiwata sebagai follow up pertemuan Rajindra dengan Pengurus Pusat SARMMI usai Deklarasi Rayon di Mapalamu Luwuk, diakui Awank menambah motivasi ia dan senior Hiwata lainnya untuk menghidupkan Hiwata agar kembali berkiprah di jagad pecinta alam tanah air.

Sementara itu, Thariq mengakui mengagumi perjuangan tak kenal lelah para senior Hiwata. Menurut Thariq, pasang surut yang dialami Hiwata sebenarnya merupakan dinamika yang juga dialami oleh beberapa Mapala baik di luar maupun di dalam lingkaran PTM. Bedanya yang dialami Hiwata tergolong lebih parah karena bertahun-tahun tidak ada rekruitmen.

Karena itulah lanjut Thariq, ketika tahu kondisi terkini Hiwata dan niat baik Rektor Unsimuh Palu, SARMMI langsung memberi dukungan, sebab salah satu misi yang diusung SARMMI adalah membesarkan Mapala PTM.

Kepada Awank dkk, Thariq berpesan agar tetap melanjutkan perjuangannya. Hiwata kata Thariq telah berandil membangun karakter positif generasi muda di Palu. Peran serta Hiwata membangun SDM anak bangsa harus diteruskan. SARMMI akan membantu karena Hiwata adalah bagian tak terpisahkan dari keluarga besar Mapala PTM seluruh Indonesia,

“Apalagi Rektor Unismuh telah mendukung kebangkitan Hiwata, momen penting ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya” kata Thariq.

Untuk memotivasi, kepada empat dari sebelas orang calon anggota baru Hiwata yang sengaja diundang ke Sekretariat Hiwata, Thariq menceritakan pengalamannya semasa aktif di Dimpa Universitas Muhammadiyah Malang, serta manfaat memiliki pengalaman aktif di Mapala dalam berkarier.

“Saya sekarang menjadi orang penting di tempat saya bekerja. Saya bisa mencapai posisi ini karena apa yang saya dapatkan di Dimpa dulu sangat membantu saya dalam bersosialiasasi di lingkungan baru. Saya juga memiliki percaya diri yang tinggi, tangguh, kreatif, dan peduli pada orang-orang di sekitar. Semua ini saya dapatkan dari aktif di Dimpa, bukan di buku diktat perkuliahan,” ungkap Thariq.

Meski demikian lanjut Thariq, perkuliahan dengan kegiatan Mapala bukan dua hal yang bertolak belakang. Keduanya saling melengkapi sekaligus saling menguatkan.

“Kuliah untuk mengembangkan kecerdasan inteletual. Mapala untuk kecerdasan emosional. Orang yang sukses adalah yang cerdas secara intelektual dan emosional. Orang Mapala banyak yang sukses di posisi puncak dan bahkan menjadi Presiden RI karena memiliki dua kecerdasaan ini,” terang Thariq.

Selain itu kata Thariq orang Mapala cenderung gampang dikenali karena karakternya lebih kuat dibanding orang kebanyakan.

“Mapala adalah pendidikan karakter yang paling baik, karena kegiatan Mapala mengandung empat pilar pendidikan karakter yaitu olah rasa, olah hati, olah pikir, dan olah raga. Empat pilar ini membuat anggota Mapala memiliki karakter yang kuat sekaligus multi talenta,” kata Thariq.

“Ciri pemilik karakter yang kuat diantaranya adalah tangguh dan pantang menyerah untuk mengajak orang lain kepada kebaikan. Hal ini bisa kalian lihat dari senior Hiwata. Mereka tak putus asa bertahun-tahun berjuang menghidupkan Hiwata. Hari ini buah perjuangan panjang mereka mulai kelihatan,” kata Thariq.

Mendapat edukasi dari Thariq, empat calon anggota baru Hiwata mengaku tercerahkan. Pengetahuan ini membuat mereka tak sabar ingin mengikuti pendidikan dan latihan dasar (Diklatsar). Agar segera menjadi anggota penuh sehingga dapat maksimal dalam beraktivitas di Hiwata.

“Apapun materi Diklatsar ikuti secara serius. Setelah itu aktiflah berkegiatan. Kelak kalian akan dicatat sejarah sebagai pelaku kebangkitan Hiwata,” demikian pesan Thariq. (Ahyar Stone)

Rektor Unismuh Palu : Kegiatan Mapala Bermanfaat Karena Membantu Masyarakat.

Sangat baik bila mahasiswa masuk organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala). Demikian kata Rektor Universitas Muhammadiyah Palu DR. Rajindra Rum dalam perbincangan khusus usai menghadiri Deklarasi Rayon 7 SAR Mapala Muhammadiyah indonesia (SARMMI) yang diselenggarakan di kampus Universitas Muhammadiyah Luwuk, penghujung November lalu.

Deklarasi Rayon adalah pengumuman resmi dan pengukuhan berdirinya sebuah Rayon atau Cabang  SARMMI di daerah. Sesuai Surat Keputusan (SK) Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah, ada 9 Rayon SARMMI Indonesia. Terbentang mulai dari Aceh hingga Papua.

Rayon 7 yang meliputi Mapala Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) di Sulawesi merupakan Rayon perdana yang dideklarasikan.  Inisiator Deklarasi adalah Mapala Universitas Muhammadiyah Luwuk (Mapalamu).

Turut hadir dalam perbincangan bersama Rajindra, adalah empat Pengurus Pusat SARMMI yakni, Ketua Umum Slamet Widodo, Sekretaris Umum Ahyar Hudoyo, Ketua Kominfo Lita Indriani, anggota Dewan Pengarah SARMMI yakni Zulfahmi Sengaji, SE. MM. Kemudian Ketua Rayon 7 Ade  Putra Ode Amane, dan Sekretaris Abdul Gani,

Dikatakan oleh Rajindra, ia menganjurkan Mahasiswa bergabung ke Mapala karena kegiatan Mapala sangat bermanfaat karena banyak membantu masyarakat seperti dalam kebencanaan. Dengan aktifnya mahasiswa di Mapala, korban bencana alam akan segera tertolong.

“Di Sulawesi ini banyak terjadi bencana, dan diharapkan Mapala inilah yang terdepan dalam membantu korban bencana alam,” kata Rajindra.

Aktifnya Mapala pada berbagai bencana di tanah air, kata Rajindra sangat tepat karena sejalan dengan program Nasional Muhammadiyah.

“Muhammadiyah sangat pro aktif di kebencanaan. Mapala aktif di kebencanaan adalah bentuk dari peran Mapala mendukung program persyarikatan. Dalam bergerak di kebencanaan, Mapala dapat melakukannya bersama-sama elemen lain di Muhammadiyah,” lanjut Rajindra.

Kendati demikian, kata Rajindra, tidak berarti Mapala di Universitas Muhammadiyah Palu  yaitu Mapala Hiwata, sudah sering berkecimpung di kebencanaan. Hiwata lanjut Rajindra, walaupun sekretariatnya masih ada justru sudah lama tidak aktif. Situasi ini justru membuat Rajindra, akan memotivasi Hiwata untuk kembali bergiat di kampus.

“Hiwata harus aktif lagi. Mereka harus dibangunkan dari tidur panjangnya,” kata Rajindra.

Terhadap keinginan Rajindra untuk mengaktifkan Hiwata, Ketua umum Pengurus Pusat SARMMI Slamet Widodo, mengaku sangat mendukung. Hal yang sama diungkapkan pula oleh Ketua Rayon 7 SARMMI Ade  Putra Ode Amane. Bahkan Ade beserta jajarannya bersedia ke Palu untuk membantu Rajindra mengakifkan Hiwata.

“Salah satu tujuan SARMMI didirikan adalah membesarkan Mapala di PTM. Membantu pak Rajindra menghidupkan Mapala di kampusnya, merupakan tanggung jawab moral SARMMI.,” Kata Slamet Widodo.

Teknisnya imbuh Slamet Widodo, mungkin dengan mengirim Rayon 7 SARMMI ke Palu, atau cara lain yang tetap berdampak besar bagi aktifkannya Hiwata.

“Pendeknya SARMMI yang di Pusat dan di Rayon bersedia membantu sepenuhnya,” demikian tutup Slamet Widodo. (Ahyar Stone & Elis Farwati)

Warga Luwuk Sambut Baik Deklarasi Rayon 7 SARMMI Di Mapalamu

Deklarasi Rayon 7 SAR Mapala Muhammadiyah indonesia (SARMMI) yang diselenggarakan di kampus Universitas Muhammadiyah Luwuk, penghujung November lalu, rupanya menjadi perbincangan hangat warga Kabupaten Luwuk Sulawesi Tengah.

Deklrasi Rayon adalah pengumuman resmi dan pengukuhan berdirinya sebuah Rayon atau Cabang  SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) di daerah. Sesuai Surat Keputusan (SK) Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah, ada 9 Rayon SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia. Mulai dari Aceh hingga ke Papua.

Rayon 7 yang meliputi Mapala Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) di Sulawesi merupakan Rayon perdana yang dideklarasikan.

Warga Luwuk umumnya mengetahui Deklarasi melalui berita-berita di koran lokal, poster, spanduk, maupun kesaksian dari berbagai kalangan yang menghadiri acara yang diinisiasi oleh Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Muhammadiyah Luwuk (Mapalamu) tersebut.

Warga berharap dengan adanya Deklarasi SARMMI dan terpilihnya anggota Mapalamu, Ade  Putra Ode Amane, sebagai ketua Rayon 7 SARMMI, akan berdampak baik pada upaya peningkatan kepedulian generasi muda di Luwuk terhadap bencana alam dan musibah di alam bebas. Generasi muda ini tak terbatas pada kalangan aktivis pecinta alam di Luwuk, tetapi mencakup pula kalangan di luar mereka.

“Kami berterima kasih kepada SARMMI, karena dengan dibentuknya Rayon 7 Sarmmi akan membawa dampak positif di Kabupaten Banggai”, demikian kata pengurus Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Kabupaten Luwuk, Anggelina Angraini, saat menyambangi Sekretariat Mapalamu untuk menyampaikan ucapan selamat. (3/12)

Dikatakan pula oleh Anggelina yang datang ke Mapalamu bersama empat pengurus GMKI lainnya yakni Desprian Heri, Vinny alvionita Katili, Dian Rosanti Sukadi, dan Jerry Kamaru, kehadiran SARMMI Rayon 7 pasti akan mengedukasi masyarakat tentang kebencanaan. Hal ini, lanjut Anggelina akan meningkatkan respon warga terutama kalangan generasi muda terhadap bencana alam dan upaya-upaya penanggulangannya.

Sementara itu ketua Rayon 7 Sulawesi SARMMI, Ade  Putra Ode Amane yang didampingi pengurus Mapalamu saat menerima rombongan GMNI, mengatakan sangat menghargai dukungan yang diberikan GMNI. Kendati SARMMI dan GMNI memiliki keyakinan religius berbeda, namun keduanya memiliki kepedulian yang sama terhadap masalah kemanusiaan.

“Ini menunjukan generasi muda indonesia bila berbicara masalah kemanusiaan akan melepas sekat-sekat yang ada. Kemanusiaan jauh lebih penting dari sikap-sikap primordial, karena sesuai prinsif universal, kemanusiaan diatas segalanya,” kata Ade.

Menurut Ade, Mapalamu tidak pernah kesulitan bergaul dengan generasi muda yang memiliki perbedaan keyakinan. Perjalanan panjang Mapalamu telah membuktikannya.

“Ada beberapa mahasiswa non muslim yang kuliah di Unismuh Luwuk. Mereka ada yang ikut Mapalamu, dan bahkan tiga diantaranya pernah menjadi Ketua Umum Mapalamu. Dibawah kepemimpinan mereka, roda organisasi Mapala tetap berjalan sebagaimana mestinya,” lanjut Ade.

“Dalam operasi SAR, kami akan bergandeng tangan dengan kelompok lain. Ini sejalan dengan pesan Sekretaris Diktilitbang PP Muhammadiyah, pak Sayuti, bahwa dalam melaksankanan misinya SARMMI tak bisa sendirian. Harus melibatkan elemen lain,” kata Ade.

Di tempat terpisah, dukungan terhadap  Deklarasi SARMMI di Luwuk diberikan pula oleh Camat Mailong, Kabupaten Luwuk, Rampia Laamiri, S. Sos. MM. Kes.

“Saya sangat support terhadap Deklarasi Rayon 7 SARMMI di daerah kami,” kata Rampia.

“Saya kenal beberapa anggota Mapalamu yang menjadi pengurus Rayon 7 SARMMI. Mereka kreatif dan memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan hidup dan kemanusiaan,” lanjut Rampia.

Kepada mereka, Rampia yang juga menjabat Sekretaris Komisi Penanggulangan Aids Kabupaten Banggai, berharap, agar segera merealisasikan program kerjanya. Karena warga Luwuk khususnya, dan Indonesia umumnya senantiasa mendukung aktivitas sosial generasi muda bangsa. (Ahyar Stone)

Di Bencana Longsor dan Banjir Pacitan Tim SARMMI Jalan Kaki Memasuki Dusun-dusun Terisolir

Penghujung November lalu, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, diguyur hujan amat deras selama berhari-hari. Selain menyebabkan banjir di beberapa sungai, tumpahan air dari langit itu menimbulkan retakan-retakan yang kemudian berubah menjadi bencana longsor di sejumlah tempat di Pacitan.

Kombinas banjir-longsor yang datang nyaris bersamaan, sempat membuat aktivitas ekonomi warga seantero Pacitan lumpuh total. Dikarenakan jaringan listrik dan komunikas terputus, jalanan tergenang air dengan ketinggian rata-rata sepinggang orang dewasa, tanggul jebol, sekolah diliburkan karena ruang-ruang kelas rusak, persawahan terendam banjir, dan beberapa rumah warga tertimpa longsor.

“Di satu sisi kami sangat sedih melihat situasi di Pacitan. Tetapi di sisi lain kami kagum dengan kemandirian warga disini. Karena pada saat tanggal darurat awal kejadian, sebagian lingkungan sudah dikondisikan secara mandiri oleh warga setempat dengan bergotong-royong terutama untuk membuka akses jalan dan fasilitas umum,” demikian kata kordinator operasi SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) untuk bencana Pacitan, Edy Setyawan (7/12)

Selain Edy Setyawan dari Mapala Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Untuk operasi di Pacitan, SARMMI menurunkan Novia Reza Arisandi dan Triana Wulan dari Mapala UMY. Andriyansyah dan Romdon Ariwijaya dari Stacia Universitas Muhammadiyah Jakarta. Sweaib Laibe. Serta dua orang relawan yakni Rehwinda Naibaho dari KMPA Manunggal Bhawaba Institut Teknologi Indonesia. Nikadek Siska Dwi Diantari dari Mafesripala Universitas Sriwijaya Palembang.

Lebih jauh Edy Setyawan yang akrab disapa Bemo menjelaskan, akibat putusnya semua akses, tim rescue dan tim relawan yang hendak ke Pacitan menemui banyak kendala yang membuat mereka terhambat sampai ke titik-titik bencana. Pada fase darurat kebencanaan awal, wilayah Pacitan menjadi terisolir.

“Pada fase tanggap darurat awal yang bekerja di Pacitan hanya pihak setempat yaitu BPBD Pacitan, Basarnas, TNI dan Polri serta beberapa elemen lokal. Karena minimnya personil, sarana dan prasarana serta luasnya wilayah terdampak bencana, yang dilakukan baru sebatas evakuasi dan pertolongan pada daerah terdampak bencana. Pendataan luasan wilayah belum dilakukan samasekali oleh pihak-pihak setempat,” lanjut Bemo.

Tim SARMMI tiba di Pacitan pada dinihari 3 Desember 2017. Setelah mengikuti apel relawan di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan. Tim SARMMI bergebung dengan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Pacitan sebagai Posko Induk tanggap bencana Muhammadiyah. Selama di posko induk, Tim SARMMI bekerjasama dengan potensi dari MDMC. Kokam. HW. Pramuka, dan Karang Taruna setempat.

“Tim SARMMI sejak hari pertama fokus pada kerja-kerja assessment atau pendataan. SARMMI adalah tim pertama yang terjun langsung mendata berbagai kerusakan dan kerugian di bencana Pacitan ini,” ungkap Bemo yang pernah memimpin operasi SARMMI di gunung Semeru Jawa Tengah.

Sementara itu, Andriyansyah yang sehari-hari disapa Mandel, menceritakan, pada hari pertama, tim SARMMI fokus area di dusun Jaten Desa Karangnongko, Kecamatan Kebonagung. Jaten adalah dusun yang letaknya paling bawah. Medan yang dilalui lumayan sulit karena konturnya pegunungan dan terpencil. Area ini termasuk blankspot atau sulit sinyal selular. Selama pergerakan ke dusun Jaten, tim SARMMI lebih banyak jalan kaki.

“Tidak ada korban jiwa.Tetapi beberapa bangunan mengalami kerusakan berarti. Warga dusun Jaten memerlukan penerangan, obat-obatan, dan alat berat pembuka akses jalan. Menurut Kepala Dusun Jaten, bencana kali ini adalah yang paling parah selama 40 tahun terakhir,” papar Mandel.

Hari berikutnya lanjut Mandel yang pernah memimpin operasi SARMMI di bencana longsor Banjarnegara ,Jawa Tengah, tim SARMMI masuk ke Dusun Watuadeg. Karena letaknya di perbukitan yang terpencil, menuju dusun ini sangat sulit,dan tidak bisa diakses menggunakan kendaraan bermotor. Mendatangi dusun Watuadeg tim SARMMI sepenuhnya jalan kaki.

Kondisi dusun Watuadeg lanjut Mandel, lumayan parah. Sebaran longsoran yang menghantam desa ini mengenai kandang ternak, kebun buah-buahan, pemukiman, dan fasilitas umum seperti masjid, jalan, pos ronda, tiang listrik, dan lain-lain.

“Akibatnya beberapa rumah warga rumah tertimbun longsor. Tembok rumah warga lainnya retak-retak. Akses jalan terputus. Tidak ada penerangan. Warga takut ke kebun karena pekarangan, ladang, dan perbukitan banyak yang terbelah yang berpotensi menimbulkan longsoran baru” kata Mandel.

Selanjut Tim SARMMI memasuki dusun Tawang. Karena dusun ini tidak jauh dari dusun Watuadeg dan sama-sama berada di wilayah Kecamatan Karangnongko. Situasinya tidak jauh berbeda. Tim SARMMI juga sepenuhnya jalan kaki.

Bantuan yang sudah masuk adalah  sumur bor untuk kebutuhan air bersih. Kendati demikian warga dusun Tawang dan dusun Watuadeg tetap membutuhkan tim medis, obat-obatan, bahan makanan, keamanan, penerangan, dan upaya relokasi.

Semu data hasil assessment kami sampaikan ke pihak-pihak yang berkompeten untuk menindaklanjutinya. Setelah suasana mulai kondusif, tim SARMMI resmi menyudahi operasi pada 6 Desember 2017 ” kata Mandel.

Terhadap pilihan mendatangi dusun-susun yang sulit dijangkau, baik Bemo maupun Mandel. Sama-sama beralasan, di medan-medan seperti itulah tim SAR dari kalangan Mapala semestinya berada.

“Sebagai aktivis Mapala kami sudah dibiasakan untuk survive di medan yang terpencil, terjauh, tersulit, tersusah diakses, karena kami dari Muhammadiyah, dimanapun berada, kami tetap membawa semangat kepedulian khas Muhammadiyah. Hal inilah yang kemudian memotivasi kami menjadi tim pertama yang masuk ke beberapa dusun-dusun terisolir di bencana Pacitan ini,” demikian kata Bemo dan Mandel (Ahyar Stone)

 

Diktilitbang Muhammadiyah Ingin Melibatkan 173 Kampus PTM di SARMMI

Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah sudah lama memantau kegiatan SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI), dan Majelis sangat menyambut baik karena keanggotaan SARMMI terus diperluas.

Demikian kata Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D usai mendeklarasikan Rayon 7 Sulawesi SARMMI dan melantik pengurusnya di gedung KH. A. Dahlan Universitas Muhammadiyah Luwuk Sulawesi Tengah pada akhir November lalu.

Kepada semua anggota SARMMI di seluruh Indonesia, serta kepada empat Pengurus Pusat SARMMI yang turut datang ke Luwuk untuk menghadiri acara yang diselenggarakan oleh Mahasiswa pecinta Alam Universitas Luwuk (Mapalamu) Sayuti berpesan agar tetap bersemangat membesarkan SARMMI.

Pengurus Pusat SARMMI yang ke Luwuk adalah Ketua Umum Slamet Widodo, Sekretaris Umum Ahyar Hudoyo, Ketua Kominfo Lita Indriani, serta seorang anggota Dewan Pengarah SARMMI yakni Zulfahmi Sengaji, SE. MM.

Dalam perbincangan bersama Sayuti, hadir pula Rektor Univ. Muhammadiyah Luwuk DR. Farid Haluti. Rektor Univ. Muhammadiyah Palu DR. Rajindra Rum. Pengurus Rayon 7 SARMMI. Serta para pendiri dan pengurus Mapalamu.

Dikatakan pula oleh Sayuti, perluasan keanggotaan itu penting. Sekarang Rayon 7, selanjutnya rayon-rayon yang lain.

“Perluasan keanggotaan itu penting karena kita ingin melibatkan 173 Kampus Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) di seluruh Indonesia di SARMMI. Jadi seluruh PTM akan menjadi bagian dari usaha Muhammadiyah di bidang kemanusiaan,” pungkas Sayuti.  (Ahyar Stone)

SARMMI Mendukung Stacia Dirikan Pusat Pelatihan Mangrove Muhammadiyah

Bila dicermati seksama, ada dua hal yang sangat kentara dari anggota Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) di Muhammadiyah. Peduli kepada sesama, dan senantiasa tergerak menjalankan dakwah Muhammadiyah.

Dua karakter itu, bukan hasil dari proses yang instan. Melainkan dari proses panjang yang dilakukan secara terus menerus dan diulang-ulang. Hasilnya dua karakter itu melekat kuat  pada diri setiap anggota Mapala, sehingga tatkala mereka sudah manyelesaikan kuliahnya, peduli dan dakwah Muhamadiyah menjadi gaya hidup mereka sehari-hari di manapun berada.

Adalah beberapa anggota Mapala Stacia Universitas Muhammadiyah Jakarta yang blusukan ke muara sungai Cisadane di Tangerang. Menjelajahi daerah pinggiran yang tidak populer adalah tradisi Stacia untuk mempertajam kepekaan sosial anggotanya. Di blusukan kali ini anggota Stacia mendapati fakta yang membuat mereka tercengang, prihatin, sekaligus buru-buru hendak berbuat baik.

Kawasan mangrove di muara sungai Cisadane yang mereka datangi, ternyata rusak parah. Hutannya nyaris gundul, air laut berlumpur tebal, dan sampah rumah tangga bertebaran di semua penjuru pantai dan di hutan mangrove yang tersisa. Kerusakan ini telah berlangsung lama. Tak ada yang peduli. Padahal kondisi ini membahayakan ekosistem muara Cisadane. Temuan ini kemudian menjadi perhatian semua anggota Stacia. Tua dan muda.

“Awalnya Stacia hanya berniat fokus menyelamatkan kawasan pantai dengan cara menanam mangrove. Tetapi semakin jauh melangkah kami melihat masalah disini sangat kompleks dan saling berkaitan,”   ungkap senior Stacia Moh. Al Fatih kepada rombongan pengurus SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia, yang mengunjungi wilayah konservasi mangrove Stacia di desa Tanjung Burung, kecamatan Teluk Naga, Tangerang. (27/8)

Kepada tamunya, Fatih yang didampingi senior Stacia lain, Roy Nurdin, menjelaskan, menanam mangrove berarti juga menyertakan kegiatan konservasi, penanganan sampah, serta pemberdayaan ekonomi dan budaya masyarakat setempat. Sungai Ciliwung juga harus dinormalisasi, dan dikeruk agar dalam.

Semua persoalan itu harus ditangani menyeluruh dan berkesinambungan, baik secara secara serial maupun paralel. Akan percuma rajin menanam mangrove tetapi abai terhadap sampah. Sampah adalah musuh tanaman mangrove, karena sering menyangkut di mangrove muda yang baru ditanam lalu menyeretnya ke laut lepas.

“Kompleksitas itulah yang membuat keluarga besar Stacia kian termotivasi, dan  itulah dasar kami membentuk Kelompok Stacia Hijau, atau KSP pada bulan Mei lalu,” kata Fatih.

Mengenalkan Muhammadiyah

Kelompok Stacia Hijau adalah wadah yang memiliki badan hukum sendiri. Namun tetap berada dibawah Stacia. Pengurusnya anggota Stacia dari berbagai generasi. Mereka bergiliran bekerja di kawasan konservasi. Kendati tidak digaji, mereka menjalankan KSP secara profesional, ekonomis, dan militan. Mereka sadar, KSP membawa misi besar yang harus dikerjakan sungguh-sungguh selama bertahun-tahun.

Untuk sampai ke lokasi penanam mangrove di muara Cisadane, KSH harus memiliki dermaga dan sarana f isik lainnya. Ide ini membuat mereka mulai melakukan pendekatan kepada warga Tanjung Burung. Menurut Fatih, pendekatan kepada warga, perlu perjuangan khsusus. Warga yang bermukim disekitar muara Cisadane terkenal keras, dan sensitif terhadap pendatang.

“Warga disini sering dikadalin LSM. Jadi mereka curiga kepada lembaga yang datang. Mereka juga skeptis terhadap KSH. Tetapi setelah KSH selesai membangun dermaga, mushola, serta sumur bor lengkap dengan MCK, warga mulai percaya dengan niat baik KSH. Warga malah ikut membantu. Sekarang hubungan KSH dengan warga desa Tanjung Burung sangat kondusif,” lanjut Fatih.

Dermaga, sumur, MCK, dan mushola yang dibangun tepat di tepi sungai Ciliwung, ungkap Fatih, adalah pekerjaan kedua KSH. Sebelumnya mereka telah menanam ribuan mangrove. Anggaran membangun semua sarana itu dari iuran anggota Stacia dan donasi beberapa pihak. Dikerjakan gotong bersama warga. Fungsinya selain sebagai titik awal menuju area penananam mangrove, juga sebagai lokasi pemberdayaan ekonomi dan budaya masyarakat Tanjung Burung.

“Masyarakat di sepanjang sungai Cisadane terbiasa membuang sampah dan MCK disungai yang kotor” kata Fatih sambil menunjuk sungai Cisadane yang airnya keruh, sedikit berbau, dan tak pernah sepi dari hanyutan sampah rumah tangga. Volume sampah hanyut ini meningkat bila ada hujan.

Senada dengan Fatih, Roy menjelaskan, KSH memanfaatkan sumur dan MCK sebagai sarana untuk mengedukasi warga agar terbiasa MCK di air sehat dan tak lagi membuang sampah di sungai. Sekarang warga disekitar sini lebih suka antri di MCK yang dibangun KSH daripada mandi di sungai.

Lahan sisa membangun empat sarana tadi dimanfaatkan KSH untuk pembibitan mangrove dan pengelolaan sampah. Pembibitan dikerjakan bergiliran oleh ibu-ibu warga Tanjung Burung. Di lahan ini juga direncanakan menjadi sentral peternakan cacing tanah dengan memanfaatkan sampah yang telah dikelola. Sekarang KSH sedang mencari jaringan bisnis cacing tanah. KSH juga mengajak coprporate untuk investasi memberdayakan ekonomi warga Tanjung Burung.

“Sedangkan mushola kami jadikan sarana ibadah bersama warga. Mushola ini rencananya akan dikelola bersama remaja masjid setempat. Karena warga Tanjung Burung belum mengenal Muhammadiyah, mushola kami maksimalkan pula sebagai entry point memberi pencerahan tentang Muhamadiyah,” terang Roy.

Dibawah Mushola lanjut Roy, sudah dibangun dermaga untuk menuju lokasi penananam mangrove. Jarak tempuhnya sekitar setengah jam perjalanan air. Tetapi bisa lebih lama jika sungai sedang banyak sampah. Sampah sering menyangkut di baling-baling perahu.

Pusat Pelatihan Mangrove

Lahan konservasi mangrove di muara Cisadane yang dikelola KSH luasnya 24 Hektar. Sampai saat ini KSH telah menanam 15 ribu mangrove.

“Tetapi hampir separuhnya rusak dan hilang karena diterjang sampah,” ungkap Fatih.

Situasi itu justru memicu mereka untuk kian gigih menanam mangrove sambil menjalankan program penunjangnya, karena mangrove sangat bermanfaat bagi kelangsungan mahluk hidup.

Menurut Fatih, hutan mangrove berfungsi melindungi pantai dari erosi dan abrasi. Mencegah intrusi air laut. Tempat berkembang biak ikan, udang, kepiting, burung, monyet. Melindungi pemukiman penduduk dari badai, angin laut, dan gelombang pasang. melindungi daratan dari naiknya air laut akibat gas rumah kaca. Serta sebagai tempat wisata dan edukasi.

Saat ini hutan mangrove di Indonesia banyak yang rusak, tetapi baru sedikit pihak yang peduli. Hal ini kata Fatih karena masih banyak yang belum paham tentang mangrove dan fungsinya.

“Berangkat dari situasi itulah KSH akan menjadikan muara cisadane sebagai Pusat Pelatihan Mangrove Muhammadiyah,” Kata Fatih.

Diberi nama seperti itu, karena anggota Mapala sebagai kader Muhammadiyah memiliki tanggung jawab untuk memberi pencerahan kepada masyarakat.  Pusat pelatihan akan mengedukasi siapa saja agar paham dan peduli terhadap hutan mangrove. Edukas dimulai dari teori, teknis pembibitan, cara menanam, budidaya, hingga  memahami fungsi ekonomis dan ekologis tanaman mangrove. Usai mengikuti pelatihan, mereka kembali ke daerah asalnya untuk menerapkan ilmunya disana.

Selain itu lanjut Fatih, KSH terbuka bagi semua pihak untuk sama-sama membangun kawasan konservasi mangrove yang telah dikelola KSH. Mereka juga dipersilahkan untuk berpartisipasi di bidang pemberdayaan ekonomi, pengembangan SDM, keagamaan, atau di sektor sosial lainnya.

“Menanam mangrove serta membangun program pendukungnya perlu orang banyak, dan butuh kerjasama banyak pihak dari berbagai latar belakang. Stacia tidak akan mampu bekerja sendiri. Kami butuh pihak lain,” kata Fatih.

Terhadap ajakan KSH, pengurus SAR Mapala Muhammdiyah Indonesia, Tia Septiyani dari Camp STIEM Jakarta, mengaku sangat mengapresiasi kerja sosial KSH yang terencana baik dan dijalankan secara profesional. Sebagai dukungan SAR Mapala Muhammdiyah Indonesia akan mendampingi KSH di bidang keselamatan dan penyelamatan.

“Insya Allah kami akan menyelenggarakan pelatihan SAR untuk warga Tanjung Burung dan peserta edukasi mangrove. Pelatihan ini juga realisasi dari amanat Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, bahwa kegiatan SAR Mapala Muhammdiyah Indonesia adalah implementasi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pengabdian pada masyarakat,” demikian kata Tia Septiani. (Ahyar Stone)

Wakil Rektor 3 UMSB : Workshop Nasional SARMMI, Ikut Mengangkat UMSB dan pamor Muhammadiyah Sumbar

Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) mendukung penuh kegiatan Workshop Nasional yang diselenggarakan Mapala UMSB bersama SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia di kampus UMSB. Dukungan diberikan karena kegiatan itu turut mengangkat nama kampus dan pamor Muhammadiyah di Sumatera Barat.

Demikian kata Wakil Rektor 3 UMSB. Ir. Hariadi, M. Eng.  Di pertemuan dengan Sekretaris Umum SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI), Ahyar Hudoyo, di rektorat UMSB. (4/3)

Hanya saja, lanjut Haryadi, karena UMSB tergolong kampus yang belum besar, dukungan finansial yang diberikan tidak bisa maksimal. Untuk menyiasati kekurangan, UMSB mengijinkan panitia menggunakan fasilitas yang ada di kampus.

Dikatakan pula oleh Haryadi, kendati panitia pelaksana adalah Mapala UMSB. “ Tetapi secara luas tuan rumah kegiatan adalah seluruh warga kampus UMSB, dan kami siap menjadi tuan rumah yang baik”, kata Hariadi.

“Ini kerja kita bersama-sama. Hanya bentuk kerjanya yang berbeda. Walaupun banyak kekurangan, Mapala UMSB harus tetap semangat agar kegiatan ini terlaksana. Sehingga UMSB menjadi besar seperti kampus Muhammadiyah lainnya”, kata Hariadi.

Menanggapi Hariadi, Ahyar mengatakan, salah satu tujuan Pengurus Pusat SARMMI mengangkat Mapala UMSB sebagai tuan rumah, adalah agar UMSB dikenal lebih luas oleh publik.

Kegiatan mahasiswa kata Ahyar, merupakan promosi kampus yang paling efektif. Workshop Nasional di kampus UMSB akan menjadi perhatian banyak pihak. Efek ke depannya, UMSB menjadi besar.

Kedatangan Ahyar dari Kantor Pusat SARMMI di Solo, Jawa Tengah, ke UMSB di Padang, selain untuk membahas penyelenggaraan Workshop Nasional Operasi SAR Bencana Alam,  ke pihak rektorat UMSB, adalah dalam rangka up grade panitia dan melakukan pendampingan terhadap kerja – kerja kepanitian.

Mendampingi Ahyar ke rektorat adalah Ketua Umum Mapala UMSB. Ahmad Haryono, beserta Ketua Divisi Operasional  SARMMI. Wawan Siswyo.

Workshop Nasional Operasi SAR Bencana Alam diselengggarakan pada 25 – 26 Maret 2017. Acara yang akan diikuti Mapala se Indonesia, mahasiswa non Mapala, dan pelajar di kota padang, merupakan kegiatan perdana tingkat Nasional  bagi Mapala UMSB. belum berpengalaman justru membuat anggota Mapala UMSB terpacu bekerja lebih giat.

“Menyelenggarakan kegiatan merupakan ajang pembelajaran. Sejauh yang saya lihat, anggota Mapala UMSB telah bekerja dengan baik, sehingga banyak nilai edukasi yang mereka dapat selama proses kegiatan ini. Usai Workshop, Mapala UMSB akan terbiasa menyelenggarakan event skala besar, dan tentu saja ini bagus untuk membangun masa depan kampus UMSB”, tutup Ahyar.  (Elis Farwati) 

Banjir Mulai Surut. Warga Pandeglang Butuh Bantuan Pangan

1

“Banjir yang sekarang melanda desa Teluk Lada sangat parah dibanding tahun-tahun sebelumnya”, demikian informasi dari tim operasi SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia, Azka Abdul Mujib, dari Teluk Lada. Kecamatan Sobang. Pandeglang (15/2)

Desa Teluk Lada, papar Azka, sebenarnya sudah menjadi pelanggang tetap banjir kiriman sungai Cileman. Hanya saja sekarang ini, desa yang dihuni lebih dari 900 jiwa ini benar-benar terendam air. Aktivitas warga lumpuh total.

Dilaporkan oleh Azka, akibat banjir “yang tidak biasanya” ini, selain Teluk Lada, desa-desa lain di Kecamatan Sobang juga terendam air muntahan sungai Cileman. Semua tempat terendam.

 “Di desa lain banjir mulai surut. Tetapi untuk Teluk Lada, belum”, lanjut Azka.

Akibat hujan turun dengan intensitas tinggi yang mengguyur Kabupaten Pandeglang pada 10 Februari lalu, sebelas kecamatan di Pandeglang terendam air. Ketinggian air mencapai setengah hingga satu meter.

SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia menurunkan dua SRU (Search Rescue Unit) secara bersamaan ke Pandeglang. Selain Azka yang memimpin kekuatan dari Mahesa Universitas Muhammadiyah Tangerang. Terdapat pula Cicih Handika yang memimpin pasukan dari Mapala Stacia Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Dilaporkan oleh Cicih dari desa Sukaresmi. Kecamatan Sukaresmi, terdapat lebih dari 32 desa terdampak banjir di wilayah kecamatan Sukaresmi. 14 diantaranya paling parah.

“Tidak ada korban jiwa di Sukaresmi. Tetapi banjir telah mengakibatkan ratusan hektar sawah gagal panen. Infrastrukutr banyak yang tidak berfungsi. Selain itu, perabot milik warga banyak yang rusak. Beberapa rumah roboh”, ujar Cicih menjelaskan.

“Sekarang yang dibutuhkan warga adalah bahan pangan, air bersih, makanan bayi, seragam sekolah anak-anak, alat kebersihan, dan peralatan dapur, dan bantuan kesehatan”, lanjut cicih mengabarkan kebutuhan warga.

2

Sama halnya dengan Cicih, Azka juga melaporkan, warga desa Teluk Lada, dan desa-desa tetangga juga membutuhkan bantuan medis, dan kebutuhan sehari-hari berupa pangan, air, perlengkapan bayi dan anak-anak, serta alat-alat masak dan kebersihan.

Sejak SRU diberangkatkan ke Pandeglang, kantor pusat SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia di Solo, telah menggalang bantuan. Baik berupa donasi tunai, maupun barang kebutuhan warga.

“ Bantuan langsung dikirim ke lokasi SRU berada. Walaupun tidak banyak, namun cukup meringankan beban korban banjir”, begitu kata Bendahara Umum  SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia, Aris Munandar di Solo (Ahyar Stone)

Gerak Cepat Stacia Ke Banjir Pandeglang

IMG-20170212-WA0004

Bencana alam dapat terjadi kapan, dan dimana saja. Tim SAR yang baik adalah yang senantiasa mampu memberikan reaksi cepat terhadap semua bencana alam yang terjadi.

Sadar dituasi demikian, Ketua Umum Mapala Stacia Universitas MuhammadiyahJakarta (UMJ), Arif Pranoto, beberapa saat usai mendengar kabar terjadi banjir disertai longsor di 11 kecamatan di kabupaten Pandeglang. Banten. Langsung menggelar rapat kilat dewan pengurusnya.

Dari rapat mendadak yang dilangsungkan di Sekretariat STACIA UMJ. Cirendeu. Ciputat. (11/2) didapat kesimpulan : Stacia UMJ akan mengirim tim ke lokas bencana. Sejurus kemudian Arif Pranoto menghubungi pengurus Pusat SAR Mapala Muhammadiyah  Indonesia yang berada di Solo. Jawa Tengah.

Kepada Ketua Divisi Operasional SAR Mapala Muhammadiyah  Indonesia, Wawan Siswoyo, Arif Pranoto menyampaikan, Stacia  UMJ akan mengirim dua anggotanya. Cicih Handika selaku kordiantor, dan Windi Marwati.

IMG-20170212-WA0003

“Mereka yang mewakili Stacia UMJ menjadi tim pionir SAR Mapala Muhammadiyah  Indonesia. Fokus area-nya di kecamatan Sukaresmi. Pandeglang”, terang Arif Pranoto.

Oleh Wawan Siswoyo, pergerakan cepat Stacia UMJ, diinformasikan secara terbuka ke beberapa Mapala Perguruan Tinggi Muhammadiyah di seputaran DKI dan Tangerang. Gayung bersambut. Seorang senior Mahesa Universitas Muhammadiyah Tangerang, Kusnaedi, mengabarkan Mahesa akan memberangkatkan seorang anggotanya, Azka Abdul Mujib.

Mapala Alpiniste STIE Acmad Dahlan,  akan mengirim anggotanya mengikuti operasi SAR gabungan ini.

 “Seperti Mahesa, anggota Alpiniste yang ke lapangan akan berkordinasi dengan Stacia”, kata mantan Ketua Alpiniste, Eka Paldi mengabarkan.

Rencananya, tim gabungan yang dipimpin Cicih Handika, akan bekerja mulai 12 hingga 18 Februari 2017. Selain untu pencarian dan penyelamatan, tim juga akan melakukan pengumpulan data (assesmen).

Data yang didapat, akan dihimpun Pengurus Pusat SAR Mapala Muhammadiyah  Indonesia. Kemudian dibagikan ke masyarakat umum melalui media sosial.

Terhadap gerak cepatnya, Arif Pranoto menerangkan, Ini sesuai dengan visi SAR Mapala Muhammadiyah  Indonesia sebagai garda depan Muhammadiyah. “Agar Muhammadiyah senantiasa hadir di secepatnya untuk memberikan solusi di setiap masalah kemanusiaan di tanah air”, demikian kata Arif Pranoto.