SARMMI Berangkatkan Tim Operasi Kemanusiaan Fase Pemulihan Lombok

SARMMI Berangkatkan Tim Operasi Kemanusiaan Fase Pemulihan Lombok

Solo, 12 September 2018. SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) bersama HW Univ. Muhammadiyah Surakarta kembali mengirim tim relawan ke Lombok Utara.

Operasi kemanusiaan kali ini merupakan tindak lanjut dari operasi kemanusiaan yang mereka lakukan pada fase tanggap darurat, bulan Agustus lalu.

Bergabung pula dalam tim relawan adalah Mapala Univ. Muhammadiyah Sumatera Barat. Mapala Univ Muhammadiyah Yogyakarta. Erdam dan Stacia dari Univ. Muhammadiyah Jakarta. Camp STIE Muhammadiyah Jakarta. Serta beberapa orang relawan individu dari Jogjakarta dan Solo.

Mereka adalah kloter pertama. Berangkat dari Sekretariat SARMMI di Solo menuju Lombok Utara pada rabu, 12 September 2018.

Kelompok pertama ini juga membawa bantuan dari warga Jogja dan Jawa Tengah. Berupa tikar, terpal, karpet, peralatan dapur, peralatan pertukangan, obat-obatan, perlengkapan ibadah untuk anak-anak, serta barang kebutuhan khusus wanita, balita dan lansia.

Kloter berikutnya menyusul pada 17 September 2018. Terdiri dari beberapa Mapala di Perguruan Tinggi Muhammadiyah se Indonesia, serta lembaga lain dari intern dan di luar Muhammadiyah. Mereka berangkat ke Lombok dari masing-masing kotanya.

Daerah yang akan menjadi fokus area tim relawan, adalah yang terpencil, terjauh, sukar diakses, minim bantuan, serta belum ada tim relawan dari kelompok manapun.

Selama operasi kemanusiaan digelar, tim relawan akan tinggal bersama warga korban gempa di pengungsian di daerah tersebut.

Memilih daerah yang “tidak biasa” karena karena dalam pemahaman tim relawan ini, operasi SAR juga mencakup upaya mencari (search) daerah terpencil, terjauh, terisolir dan belum disentuh relawan lain. Lalu menyelamatkan (rescue) semua warganya.

Sebagai garda depan Muhammadiyah di setiap bencana alam, tim relawan yang diinisiasi SARMMI senantiasa tinggal dan membaur bersama korban bencana alam di pengungsian, karena pusaran dampak gempa ada di pengungsian di daerah terpencil yang belum disentuh relawan. Bukan pengungsi di perkotaan yang lebih cepat mendapat bantuan karena lebih mudah direspon publik.

Agenda yang akan dilakukan pada operasi kemanusiaan fase pemulihan Lombok ini adalah : membuka akses jalan yang putus. Perbaikan sarana ibadah dan pengaktifan kembali kegiatan keagaamaan. Trauma healing. Mendirikan sekolah darurat. Layanan medis 24 jam. Mendirikan hunian darurat. Perbaikan sanitasi. Penyambungan pipa saluran air bersih di titik-titik ekstrim. (*)

Ahyar Stone. Sekretaris Umum SARMMI.

 

Mengapa SARMMI Kembali ke Lombok dan Ke Daerah Terpencil Lagi?

Mengapa SARMMI Kembali ke Lombok dan Ke Daerah Terpencil Lagi?
Mengapa SARMMI Kembali ke Lombok dan Ke Daerah Terpencil Lagi?

Solo,(10/08)USAI MENGGELAR operasi kemanusiaan di Lombok Utara pada fase tanggap darurat, 8 Agustus – 1 September 2018, SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI), akan kembali ke Lombok. Melaksanakan operasi kemanusiaan pada fase pemulihan Lombok.

Kembali bergabung sebagai mitra sinergi SARMMI pada opersai kali ini adalah relawan-relawan _smart_ dari HW Univ. Muhammadiyah Surakarta. Mapala Univ Muhammadiyah Yogyakarta, Mapsa Univ. Muhammadiyah Purwokerto.

Kemudian Stacia Univ. Muhammadiyah Jakarta. Camp STIE Muhammadiyah Jakarta. Mapala Univ. Muhammadiyah Sumatera Barat. Sapta Pala Jakarta.

Serta lembaga lain dari intern dan di luar Muhammadiyah. Juga beberapa orang relawan individu.

Fase tanggap darurat _(emergency respon)_ adalah tahap awal dari siklus penanganan dampak bencana alam. Tahap selanjutnya adalah pasca bencana yakni fase pemulihan. Kemudian rehabilitasi, dan rekonstruksi.

Dengan kata lain, masalah kemanusiaan di Lombok yang porak poranda karena diguncang gempa 7,0 SR awal Agustus lalu, belum usai.

Itulah alasan utama SARMMI dan tim di atas akan operasi bersama lagi pada 12 – 30 September 2018.

Sama halnya pada operasi kemanusiaan fase tanggap darurat, di fase pemulihan, mereka tetap _focus area_ di daerah terpencil, terjauh, terisolir, dan belum didatangi relawan manapun.

Mereka memilih daerah “tidak biasa” sebagai ladang amal kolektif, karena dalam pemahaman mereka, operasi SAR juga mencakup upaya mencari _(search)_ daerah terpencil, terjauh, terisolir dan belum disentuh relawan lain. Lalu menyelamatkan _(rescue)_ semua warganya.

Menyelamatkan disini memiliki dimensi yang luas. Tak cuma menyangkut persoalan fisik yang berbentuk pertolongan medis, bantuan pemenuhan kebutuhan makan-minum, dan tindakan preventif untuk menyelamatkan korban gempa dari gangguan hujan, dingin, dan gempa susulan.

Tetapi juga menjangkau penanganan masalah psikologis, sosial, religius, dan menjaga karakter positif individu para pengungsi agar tak tergelincir menjadi mentalitas ‘pengemis’.

Setelah menemukan daerah yang dimaksud, para relawan SARMMI dan mitra sinerginya akan _stay_ disana. Hidup membaur bersama korban gempa di pengungsian.

Bencana alam – lebih-lebih gempa bumi – senantiasa menyisakan banyak masalah yang harus dituntaskan secepat-cepatnya dengan pendekatan multi disiplin ilmu, serta melibatkan banyak pihak yang saling sinergi secara berkesinambungan.

Aneka rupa masalah tersebut, muaranya ada di pengungsian di daerah terpencil yang belum disentuh relawan. Bukan pengungsi di perkotaan yang lebih dulu mendapat bantuan karena lebih mudah direspon semua pihak.

Dengan _full time_ berada di tengah pusaran dampak gempa, SARMMI dan mitra sinerginya lebih cepat menguraikan setiap masalah yang mendera para pengungsi, lantas mencari solusi praktisnya, kemudian mengajak pengungsi gotong royong melaksanakannya.

Menggerakan (Sekali lagi : menggerakan. Bukan menyuruh) pengungsi untuk proaktif mengentaskan masalah mereka, bukan perkara sepele.
Dibutuhkan pendekatan tertentu dengan teknik-teknik yang simpatik.

Situasi itu merupakan tantangan tersendiri bagi para relawan garis depan ( _front line_ ), yakni relawan yang _stay_ bersama pengungsi di daerah paling ujung.

Tantangan lainny adalah siap hidup jauh dari rasa nyaman tanpa mengeluh.

Menjadi relawan garis depan, memang pilihan yang tidak main-main.

Seorang _front line_ harus mempunyai kepekaan sosial level tinggi, memiliki kemampuan _leadership_, manajerial, _team work_ kreatif, bervisi ke depan, serta mempunyai segudang keberanian yakni berani capek, berani lapar, berani tidak mandi berhari-hari, serta berani malu alias tidak jaim.

Meski tergambar sukar, sebenarnya siapa pun bisa menjadi relawan garis depan dan bergabung ke tim relawan yang memiliki filosofis, _“makin terisolir terpencil makin mantap”_ ini. Yang penting ia memiliki garis tegas dalam dirinya bahwa :

_”Daerah bencana bukan tempatku meraih prestasi. Tetapi tempat dimana aku melaksanakan ajaran agamaku”._

Kata-kata itu pula yang menjadi “rahasia sukses” relawan SARMMI dan relawan mitra sinerginya saat menggelar operasi kemanusiaan episode pertama di tiga dusun terisolir yang menjadi _focus area_ mereka di Kecamatan Gangga, Lombok Utara.

Sukses disini tak cuma dalam definisi menuntaskan masalah pengungsi korban gempa pada fase _emergency respon_, tetapi menginspirasi pihak lain melakukan hal-hal yang jauh lebih hebat dari yang pernah dilakukan SARMMI dan mitra sinerginya selama di Lombok Utara. (*)

By : _Ahyar Stone_. Sekjen SARMMI

Sekeping ucapan apresiasi dan terima kasih Buat Kinerja SARMMI Pada Gempa Lombok

 

 

Yang kami banggakan, teman-teman Tim Relawan Peduli Gempa Lombok dari
SARMMI Yogya, SARMMI Mataram, Stacia UMJ/Jkt, HW UMS/Solo, Camp STIEM/Jkt, Sapta Pala/Jkt, SARMMI Palopo, Mapala UMSB/Kota Padang…

Great Team. Komplit. Ada kemampuan kerjasama yang baik, mental yang tahan banting, stamina prima, peka terhadap masalah, kemauan peningkatan wawasan, dan kemampuan berbagi informasi lewat tulisan, foto dan video yang sangat baik. Semua elemen yang dibutuhkan dalam tim sosial yang baik ada semua pada kalian. Secara tim, semua ikatan persaudaraan dan irama kerja yang bagus itu terbentuk secara singkat, karena niat tulus yang sama, ingin meringankan beban penderitaan saudara-saudara kita yang terkena musibah gempa di Lombok. Niat yang tulus itulah yang membuat adik-adik kita yang sekolahnya hancur tetap bisa belajar, mental mereka bangkit karena perhatian kalian, sekolah darurat kalian bangun, perintisan tenaga pengajar kalian bina. Anak-anak korban gempa itu akan terus belajar. Dan mereka takkan lupa sampai dewasa nanti bahwa kepedulian sesama itu butuh pengorbanan. Mereka akan tumbuh dengan nilai yang telah teman-teman tanamkan. Wajah-wajah kalian akan selalu terekam dalam benak mereka sebagai orang yang mengajarkan kebijakan dan kepedulian.

Saat tak semua tangan dan kaki bisa mencapai tempat-tempat terpencil, kalian usahakan obat-obatan, makanan, tenda bahkan masjid darurat. Suplai air yang menjadi kebutuhan banyak orang kalian perjuangkan. Dan banyak lagi.

Garis bawahi, kalau bukan karena *niat yang tulus* mungkin kalian tak jauh meninggalkan rumah, tak mau bergabung dengan pengungsi yang dalam kondisi yang prihatin di Lombok, atau sampai Lombok tapi memotret-motret diri sendiri di pinggir pantai sambil sedikit memonyongkan bibir memanipulasi hidung yang tak mancung.

Terima kasih atas bakti sosial kalian semua. Terima kasih telah menunaikan pesan Nabi, Sebaik-baik manusia ialah yang paling bermanfaat bagi sesama. Semoga Allah SWT memberi keberkahan bagi kalian dan keluarga. Semua itu takkan sia-sia. Lihatlah ke depan bagaimana Yang Maha Kuasa membalas kebaikan kalian semua dengan cara yang luar biasa, baik ketika kita masih di alam fana dan juga kehidupan kemudian yang kekal selamanya.

Sekeping ucapan apresiasi dan terima kasih. Ditulis dari Madinah Al Munawwarah, 3 September 2018. Ridwan. Sapta Pala. 94.00026.S

Sekeping ucapan apresiasi dan terima kasih. Ditulis dari Madinah Al Munawwarah, 3 September 2018. Ridwan. Sapta Pala. 94.00026.S

Bocah Pengungsi Bercita-cita Menjadi Tim SAR

Catatan Relawan Dari Desa Gelap Gulita di Lombok Utara

Zila, Maeza, Zira, Alif, Akbar, adalah beberapa nama siswa kami di Sekolah Darurat Muhammadiyah Mentari Cendekia.

Sekolah yang menempati pondok tanpa dinding khas lombok (Bruga) ukuran 3 x 4 meter, kami dirikan di Segara Katon, salah satu desa yg mengalami kerusakan paling parah karena gempa 7, 2 SR yg menghantam lombok beberapa hari lalu.

Desa itu berada di kec. Gangga. Lombok utara.

Desa segara katon terdiri dari beberapa dusun. Satu diantaranya adalah dusun Persiapan Bulan Semu.

Di dusun itulah kami, yakni SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) dan HW Univ. Muhammadiyah Surakarta, mendirikan posko relawan.

Kami adalah relawan pertama yang datang ke desa Segara Katon.

Bruga tadi, bila malam kami manfaatkan sebagai tempat istirahat. Sedangkan halaman bruga kami pakai untuk arena _fun game_ dan permainan edukasi kebencanaan bagi siswa sekolah darurat.

Siswa kami berjumlah 30 orang. Sebelum gempa mereka adalah murid sekolah dasar di dekat sini. Tapi berlainan kelas.

Gempa telah menghancurkan sekolah mereka. Rumah orang tua mereka juga luluh lantak. Rata dengan tanah.

Sebelum kami datang, sehari-harinya anak-anak ini cuma bingung mau apa.

Mau main di halaman rumah, kuatir terkena puing dan pecahan kaca. Mau sekolah tak bisa. Sekolah diliburkan.

Padahal mereka rindu belajar di kelas dan kangen suasana pertemanan di sekolah mereka.

Dari jam ke jam, hubungan kami dengan bocah-bocah lucu yang bersemangat ini, tambah dekat. Kami hapal satu persatu nama mereka. Bocah-bocah itu memanggil kami om, kak, dan mbak. Mereka juga hapal nama kami.

Dalam sebuah fun game, M. Risqi Mei Sonjaya, yang kami juluki “kepala sekolah darurat”, bertanya pada siswanya.

“Adik-adiku sayang, apa cita-cita kalian?,” tanya Riski.

Ada yang menjawab ingin menjadi guru, polisi, tentara dan cita-cita lain.

“Saya ingin menjadi tim SAR,” jawab Zira lantang.

“Kak Riski, saya bercita-cita menjadi relawan bencana alam,” kata Maeza keras sambil mengacungkan tangan.

Jawaban Zira dan Maeza, membuat Riski terkejut sekaligus terharu.

Perasaan serupa juga kami rasakan.

Kami tak tahu mengapa ada siswa yang bercita-cita begitu. Padahal kami tak pernah menceritakan suka duka menjadi relawan garis depan seperti kami.

Apakah karena melihat kami yang selalu riang, bersemangat, kompak, dan non stop 24 jam membantu warga korban gempa di dusun ini?

Riski tidak bertanya lebih jauh kepada kedua siswanya. Kami juga tak tergerak untuk mengetahui lebih detil.

Biarlah itu menjadi misteri.

**
_Ahyar Stone. Kord Posko Relawan._

***
*Tim Relawan :*
1. Ahyar Stone (SARMMI/ jogja)
2. Slamet Widodo (SARMMI/ solo)
3. M. Risqi (HW UMS/solo)
4. M. Afifi (HW UMS/solo)
5. Itsna Rosada (HW UMS/ solo)
6. Aries Munandar (SARMMI / Solo)
7. Zwaeb (SARMMI/palopo)
8. Badar (SARMMI/ mataram)
9. M. Junaedi (Stacia/jkt)
10. Hamzah (Stacia/jkt)
11. Umang (Sapta Pala/jkt)
12. Lita (Camp STIEM/ jkt)
13. Syaefullah (SARMMI/Tuban)
14. Rengga (Stacia/jkt)

Open Recruitment

Catatan Relawan Gempa Dari Desa Gelap Gulita di Lombok Utara.

Sudah berapa hari kami di Segara Katon? Salah satu desa yg mengalami kerusakan parah karena gempa 7, 0 SR yg menghantam lombok beberapa hari lalu.

Apa aktivitas awal kami setiap harinya?

Dua pertanyaan itu bagi kami sangat tidak penting, karena itulah kami tidak pernah membahasnya, dan tak tertarik menjawab bila ada orang lain yg menanyakannya.

Desa Segara Katon yang berada di kec. Gangga, Lombok Utara, terdiri dari beberapa dusun. Satu diantaranya adalah dusun Persiapan Bulan Semu.

Di dusun itulah kami : SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI), dan HW Univ. Muhammadiyah Surakarta, mendirikan posko relawan.

Kendati _stay_ di Bulan semua, fokus area kami meliputi empat dusun di dua desa, tapi msh wilayah kec. Gangga.

Sebagai relawan garis depan (kami menyebutnya begitu), kami berada di daerah yang relatif sukar dijangkau, minim fasilitas memadai, lalu tinggal bersama warga di pengungsian dan membaur bersama mereka.

Tentu saja berada di tengah pusaran dampak bencana gempa, membuat kami paham penderitan para pengungsi yang kami dampingi.

Resikonya, kami makin bergairah mengedukasi, memotivasi, mengajak, dan menggerakan para pengungsi untuk mengatasi problem mereka.

Juga membuat kami makin militan bekerja untuk mereka — para pengungsi yg menganggap kami sebagai saudara dan kami juga menganggap mereka begitu.

Resiko-resiko itulah yg membuat kami _lali dino, lali tanggal, lali wes adus opo urung_.

Lupa hari, lupa tanggal, bahkan lupa kami sudah mandi apa belum.

Ternyata kisah “heroik” kami di dusun ini telah viral. Kami berterima kasih yg telah memviralkan.
Semoga kerja-kerja kemanusiaan kami disini, juga menjadi amal jariah anda. Aamiin.

Kabar baiknya — akibat viral itu — banyak pihak yang menghubungi kami karena tertarik serta ingin bergabung, dan menanyakan syarat-syaratnya.

Kepada yang bertanya, kami senantiasa memberikan jawaban seragam.

Kami _welcome banget_ Jika ada yang ingin bergabung.

Anda tidak usah mengajukan surat lamaran. Apalagi menyodorkan surat cinta. Kami juga tidak akan mengadakan seleksi dalam bentuk apapun.

Syarat bergabung bersama kami menjadi relawan garis depan _(front line)_ sangat mudah, tetapi sedikit gila. Anda cukup memiliki keberanian.

Keberanian yang kami maksud adalah :

Berani datang dan pulang dengan ongkos sendiri.

Berani tidak mandi berhari-hari.

Berani banyak kerja sedikit tidur.

Berani lapar namun tetap terlihat segar waras penuh kemakmuran.

Berani duluan menyapa warga tanpa melontarkan rayuan gombal.

Berani melontarkan gagasan dan gotong royong melaksanakannya.

Dan setelah disini : berani bertanya tentang keberanian unik lainnya yang patut dimiliki oleh relawan garis depan selama mendampingi pengungsi.

Tentu saja setelah mendengar “syarat & ketentuan nyeleneh” itu, para pelamar tertawa pada awalnya, lalu tawanya mulai mengendur tatkala mendengar,
“Berani tidak digaji. Kami juga tidak ada yang digaji.”

Tawa mengendur para pelamar tentu bukan gejala bahwa mereka mundur sebelum tempur.

Ada yang benar-benar serius bin nekad mau gabung bersama kami.

“Oke mas brow.. bila sudah di kota Mataram, saya naik apa ke lokasi?”

Karena kami tak hapal rute, kami cuma bisa menjawabnya praktis namun menuntaskan masalah pelik.

“Kami ada teman baik di kota Mataram, dia orang lombok dan bersedia mengantarmu ke lokasi.”

Hanya itu jawaban kami. Tak ada lainnya. Tidak ada pula nasehat tambahan yang bernuansa religius seperti,
“Hati-hati di jalan. Semoga selamat sampai tujuan. Semoga Tuhan besertamu”

Orang yang mau bergabung bersama kami, tentu memiliki kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.

Kecerdasan itulah yang membuat mereka selalu bersama Tuhan, dan Tuhan selalu bersama mereka.

_(Ahyar Stone. Kord. Posko relawan)_

Kami Akan ke Desa Tetangga

Catatan Relawan Dari Desa Gelap Gulita di Lombok Utara.

Segara Katon adalah salah satu desa yg mengalami kerusakan paling parah karena gempa 7, 0 SR yg menghantam lombok bbrap hari lalu.

Desa itu berada di kec. Segara katon, kab. Lombok utara.

Desa segara katon terdiri dari beberapa dusun. Satu diantaranya adalah dusun Persiapan Bulan Semu.

Di dusun itulah kami, yakni SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) dan HW Univ. Muhammadiyah Surakarta, mendirikan posko relawan.

Kami adalah relawan pertama yang datang ke desa Segara Katon.

Kami tiba disana, rabu tanggal 8 agustus. Pukul 10 malam. Kondisi desa gelap tiba, karena jaringan listrik putus.

Saat kami tiba, pemuda setempat sedang ronda malam bersenjatakan golok dan kayu pemukul. Tentu saja mereka kaget tiba-tiba kampungnya didatangi oleh sekelompok orang yang tak mereka kenal.

Diterangi senter para peronda itulah kami mengenalkan diri dan menyampaikan maksud kami datang, yakni membantu warga mengatasi dampak gempa.

Hal pertama yg kami lakukan setelah memperkenalkan diri dan diterima warga, adalah membuka layanan kesehatan siaga 24 jam.
Para peronda itulah yg menjadi pasien pertama kami.

Besoknya pasien kami terus bertambah. Banyak yg datang bersamaan satu keluarga. Karena bejibun terpaksa mereka antri.

Sebagai “ruang antre”, kami sediakan beberapa bangku panjang terbuat dari kayu bekas kusen yg ditopang batako reruntuhan bangunan.

Hubungan kami dengan warga semakin akrab tiap jamnya.
Kami memang sdh terbiasa berada di daerah baru yg wargany tak satu pun kami kenal.

Kami suka bercanda, rajin menyapa, pandai memotivasi tanpa menggurui, pandai mengajak bukan memerintah, sabar mendengar curhat warga, cerdas menganalisa masalah dan cepat menemukan solusi praktis, rajin ibadah bersama warga tetapi selalu punya kisah lucu yg mengundang tawa warga.

Sekian karakter itulah yg menjadi modal kami. Itu pula yg membuat kami selalu “datang sebagai orang asing, pulang seperti saudara bagi para korban bencana alam”.

Hari kedua kami disini, (jumat10 agustus) sekolah darurat dan TPA sdh kami dirikan. Tempatnya di halaman posko kami.
Sebagian dari kami gantian jadi guru dan ustad.

Kendati terkesan serius, tapi para murid kami sangat bersemangat dan ceria, karena kami mengajar dg methode game lucu yg melibatkan interaksi antar siswa.

Usai jumatan, masih di masjid darurat, kami rapat bersama warga.

Selain membahas rencana gotong royong membuat hunian darurat, (dan semua warga mendukung), kami jg memaparkan visi misi sekolah darurat dan TPA yg kami dirikan.

Paparan kami menguggah warga yg profesinya guru dan ustad. Mereka akan membantu kami.

“Saya guru ngaji disini. Tapi sejak gempa, saya drop. Mas-mas dari Jawa yg berinisiatif mendirikan TPA dan sekolah darurat, membuat semangat saya bangkit. Saya akan ikut mengajar bersama kalian,” begitu kata seorang warga.

Usai rapat, kami mengutus dua anggota ke desa tetangga. Informasi yg kami dapat, desa itu blm maksimal tersentuh bantuan karena terisolir.

Hasil assesment tersebut di dapat kesimpulan, warga disana mengalami krisis air karena saluran air putus akibat gempa.

Area pipa putus berada di tebing yg rawan longsor, warga takut kesana.

Kami terlatih vertical rescue. Jadi Kami yg akan turun dan memasang pipa.

Kami jg yg akan mencarikan pipanya. Uangnya dari sumbangan teman-teman. (Bisa jd uang itu donasi anda, pembaca pesan ini. Semoga itu jd amal jariah anda. Aamiin)

Desa itu bernama Jelitong, kec. Gangga dan desa Salut, kec. Kayangan.

Selain pipa tadi, kesehatan, pendidikan, pangan, dan hunian darurat, juga jd masalah di dua desa tersebut.

Rapat internal kami sesama relawan, menyepakati : dua desa tersebut akan jd fokus area kami.

Artinya kami juga akan mendirikan sekolah darurat, tpa, siaga medis 24 jam, dan mengajak warga gotong royong membuat hunian darurat, dan sebagainya.

Ohya… selama kami disini, tiap beberapa jam ada gempa. Kendati skala kecil, tapi cukup berasa.

Saya menulis ini jam 3 pagi. Saya terbangun karena ada gempa. Saya tidak tidur lagi sekalian nulis menunggu subuh. (Ahyar Stone. Kord. Posko relawan)

***
Tim Relawan :
1. Ahyar Stone (SARMMI/ jogja)
2. Slamet Widodo (SARMMI/ solo)
3. M. Risqi (HW UMS/solo)
4. M. Afifi (HW UMS/solo)
5. Itsna Rosada (HW UMS/ solo)
6. Gendut (SAR DIY/jogja)
7. Zwaeb (SARMMI/palopo)
8. Badar (SARMMI/ mataram)

Note :
No. 5 adalah satu2nya perempuan. Dia andalan kami di bidang medis. Semangatnya luar biasa. Kami semua kagum.

Memupuk Asa Anak-Anak Lombok Melalui Sekolah Darurat Muhammadiyah

Ditengah keadaan haru yang hadir diantara masyarat dusun persiapan bulan semu, desa persiapan segara katon, Kec. Gangga Kab. Lombok Utara, warga tetap menaruhkan masa depannya dengan penuh tekad kuat.

Setelah dua hari warga bersama relawan dari SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) dan Hizbul Wathan UMS (HW UMS),berbaur menjadi satu, mereka dicairkan bersama dengan suguhan kopi khas lombok setiap waktu.

Setelah relawan mendirikan posko korban bencana gempa bumi yang melayani pelayanan medis selama 24 jam, dilanjut proses pembersihan puing-puing rumah korban, kali ini geabungan Relawan yang lebih memilih mendirikan posko didaerah terpencil tersebut mukai menggerakan kembali kehiduoan masyarakat disektor pendidikan.

Dengan didirikannya Sekolah darurat bagi anak-anak setempat, terlihat senyuman manis dari anak-anak setempat yang sudah merindukan bangku sekolah, setelah mereka libur sekolah karena bangunan sekolah roboh dan masyarakat mengalami trauma yang dahsyat.

*”Sekolah Darurat Muhammadiyah Mentaria Cendekia”* itulah nama sekolah yang relawan utusan UMS tersebut rintis untuk tetap menumbuhkan semangat belajar anak-anak.

Hari itu, Jum’at (10/08) bersamaan dengan hari mulia bagi ummat muslim, menjadi hari pertama Sekolah Darurat Mentari Cendekia beroperasi. Diawali pagi hari pukul 08.00 – 10.00 WITA diisi dengan kegiatan bersih lingkungan dan pembelajaran pengetahuan umum. Kegiatan sore hari mulai pukul 16.00 – 17.00 WITA anak-anak diarahkan untuk belajar mengaji.

Sederhana, namun penuh makna. Belajar tanpa alat tulis, karena saat gempa teejadi, anak-anak tidak sempat menyelamatkan alat tulisnya. Sekarang ini, melalui Sekolah Darurat Muhammadiyah Cendekia mencari keceriaan bersama teman sebayanya, menjadi penghibur diri sebagai pengganti alat mainan anak.

Sudah ada 25 siswa/i yang dikelola relawan dari Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Terimakasih atas doa dan dukungan seluruh unsur yang terlibat, kami tunggu partisipasi terbaik dari anda untuk sudara kita…

_Muhammadiyah bersinergi bersama warga untuk memupuk asa anak bangsa_

(Muhammad Risqi Mei Sonjaya : Kepala Sekolah Darurat Muhammadiyah Mentari Cendekia)

Ketika Muadzin dan Khatib Jumat Menangis

Kabar Kami Dari Desa Gelap Gulita di Lombok Utara

Di gempa lombok 7, 0 SR, Desa segara katon, kec. Gangga. Lombok utara. Termasuk kawasan terdampak gempa paling parah.

Di desa itulah kami relawan dari SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) dan HW univ. Muhammadiyah Surakarta, berada dan tinggal di bersama warga korban gempa di barak pengungsian.

Jumat, 10 agstus 2018. Hari kedua kami disini.
Jam 02. 30 dinihari td, saat kami tidur nyenyak di gubuk yg hanya berdinding sebelah kiri, kami dibangunkan warga.

“Ada warga kakinya terluka, butuh diobati sekarang” katany dg muka sedih sambil menyorotkan senter ke arah kami.

Terkena Sinar senter sontak kami bangun. Desa ini gelap total karena jaringan listrik putus.

Jadi sedikit sinar saja, membuat siapapun bakal terjaga dari nyenyaknya.

Dua orang anggota medis langsung kami berangkatkan saat itu juga.

“Seorang ibu usia 60 an, hendak keluar tenda. Tp karena gelap, kakinya menginjak sesuatu yg tajam,” kata Itsna Rosada, tim medis kami.

“Jari tengah kaki kanannya luka, dalam. Tulangnya hampir kelihatan. Darah mengucur deras ” begitu cerita Rosada usai mengobati ibu malang tadi.

Paginya, jam 9 an, kami kumpulkan anak-anak. Hari ini adalah “hari pertama” sekolah darurat kami yg bernama,
*Sekolah Darurat MuhammadiyahMentari Cendekia*, Desa segara katon, lombok utara.

“Murid baru” kami banyak, dan semangat belajar mereka tinggi.

Menjelang jumatan, pelajaran sekolah berakhir, tp murid kami tetap berada di lokasi.

“Mereka enggan pulang.
Berharap usai jumat sekolah lagi,” kata Rismi Mei Sonjaya, sang “kepala sekolah” darurat kami.

Desa segara katon, punya mesjid bagus. Arrohman. Tapi lantaran kena gempa, mesjid ini tdk bisa dipakai.

Gantinya, warga gotong royong membangun tarup beratap rumbia untuk jumatan dan sholat jamaah sehari-hari.

Suara Muadzin jumat, sangat lantang dan merdu. Mirip kumandang adzan magrib di tv.

Namun, gempa telah membuatnya terpukul. Ia sedih. Tepatnya sangat berduka.

Di tengah adzannya, ia menangis. Berkali-kali adzannya terhenti karena ia menahan isak tangisnya.

Jamaah ikut sedih. Larut dalam duka. Semua hanyut dalam haru mendalam.

Beberapa jamaah tampak tak kuasa menahan tangis.

Saat khotib menyampaikan khotbahnya. Ia menceritakan musibah di jaman para nabi.
Lalu menyampaikan musibah di berbagai daerah di tanah air, gempa yg menghantam lombok, dan sudut pandang islam terhadap bencana alam.

Khotbahnya sangat bagus dan menyemangati.

Namun khatib harus pula berkali-kali menahan isak tangis. Khotbah beberap kali terhenti, karena sesekali ia menyeka matanya.

Suasana haru akhirnya kembali muncul. Kali ini malah lebih dahsyat.

Hampir semua jamaah menangis. Termasuk 6 teman saya yg ikut jumatan.

Mohon maaf, saya tdk bisa melanjutlan tulisan ini. Saya harus menyeka kaca mata saya. Tanpa sadar air mata saya mengalir, lalu membasahi kaca mata saya.

(Ahyar Stone. Kord posko relawan)

Kabar Kami Dari Desa Gelap Gulita di Lombok

Kami dari SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia, bersama HW UMS, membangun posko relawan gempa Lombok di desa Segara Katon.

Desa rata dengan tanah itu terletak di Kec. Gangga. Kab. Lombok Utara.

Kami fokus area disana karena : desa segara katon jauh dari kota, relatif sukar diakses, tidak ada penerangan, jaringan air bersih terputus, mengalami kerusakan total, dan blm ada tim relawan yg masuk.

Sebagai garda depan Muhammadiyah di setiap bencana alam, kami memang senantiasa mencari daerah seperti itu.
Lalu tinggal dan hidup membaur bersama warga korban bencana alam di pengungsian.

Selain memberikan edukasi kebecanaan kepada warga, di desa ini kami juga :
Melakukan pemutahiran data (assesmen), membuka posko layanan medis 24 jam, memberikan bantuan kebutuhan dasar, mendirikan emergency toilet, dan membagikan alat pertukangan seperti gergaji, linggis kecil, palu dan paku berbagai ukuran.

Setlh alat tukang diberikan, kami juga mulai mengajak masyarakat gotong royong membersihkan puing rumahnya, lalu mendirikan hunian darurat yg bahannya dari sisa rumah yang hancur.

Hal ini dilakukan karena sejak hari pertama gempa, warga tinggal di tenda yg terbuat dari terpal. Gerah bila siang, dingin bila malam karena tendanya tdk berpintu.

Parahnya lagi, saat angin bertiup, debu juga terbang. Ini berbahaya bagi kesehatan mereka karena lahan pengungsian ini bekas kandang sapi.

Pekerjaan membuat hunian darurat, sayangnya blm bisa maksimal karena alat pertukangan yg dibutuhkan masih sangat kurang.

Kemudian kami berencana mengadakan trauma healing, mendirikan kompok belajar darurat, dan pengajian untuk anak-anak.

Selama disini, kami juga menghubungi tim relawan lain yg berada di lombok, dan mengajak mereka untuk sama-sama membantu warga terisolir yg masih minim bantuan ini.

Syukurlah, tadi ada sekelompok dokter dari makasar kesini merespon komunikasi kami, menjahit luka warga yg tertimpa puing, dan pengobatan penyakit lainnya akibat gempa lombok 7 SR ini.

Beberapa relawan juga sudah menghubungi kami, dan berencana kesini.

Jika anda terlambat membaca pesan ini , lalu membalasnya tapi saya tidak membalas balik dg cepat, mohon dimaklumi. Disini kami hanya mengandalkan power bank tenaga matahari untuk menghidupkan HP, lalu bergeser sejauh 5 km dari posko kami untuk mencari sinyal.

Terima kasih telah membaca pesan ini. Percayalah, berada dan tinggal bersama warga korban bencana di daerah terisolir yg semuanya serba terbatas, tidak membuat kami menderita.

Kami sangat bersemangat berada disini, dan selalu memiliki motivasi kuat untuk meringankan beban derita hampir seribu warga disini.

Semua itu tentu berkat doa dan dukungan dari anda juga yg membaca pesan saya ini. Kami berterima kasih. Tuhan pasti membalas kebaikan anda.

_”Daerah bencana bukan tempatku meraih prestasi. Tetapi tempat dimana aku melaksanakan ajaran agamaku”_ (Ahyar Stone)

Warga Kalianda Berduka Akibat Banjir Bandang Semalam

Kejadian tadi malam pukul 18.30WIB Kalianda, Lampung Selatan(03/04/2018) hujan deras di susul dengan banjir bandang akibatnya beberapa rumah rusak dg jumlah korban dan kerugian sementara :

1. Desa Palembapang 15 rumah terendam,1 SDN tembok roboh, jalan rusak ruas plembapang- kekiling/aspal terkelupas arah dsn pelita dewa, tdk ada korban jiwa.

2. Desa Tajimalela, 20 rumah terendam, 2 rumah rusak, halaman masjid ALhuda rusak, 1 sapi mati, 10 motor rusak, 1 korban luka.

3. Desa Canggu 15 rumah rusak, 1 paud rusak, 1 jembatan rusak

4. Desa Hara Banjarmanis , 3 rumah rusak , 15 rumah terendam 1 korban luka, 1 jembatan rusak.

5. Desa Kedaton , 1 jembatan rusak sedang,

6. Kelurahan Wayurang , 4 rumah rusak , 3 korban luka, 1 meninggal dunia terbawa arus banjir an. Samsul Bahri(25 tahun) ditemukan di Pantai Kedu, 1 oran masih hanyut belum ditemukan an. Amir Hamzah (30thn) sementara warga mengungsi dimasjid komplek regency Candigirang dan rumah warga sekitar sebanyak 50 orang pengungsi.

7. Kelurahan Bumi Agung, 1 rumah terendam air.

8. Kelurahan kalianda , 4 rmh terendam, jalan rawa2 tergenang.

9. Desa Pematang 1 rmh rusak

10. Desa Gunung Terang, desa lainnya belum ada laporan kerugian/korban. Air bah/banjir bandang berasal dari aliran Gunung Rajabasa yg melalui Sungai Palembapang dan Sungai Sukaratu/Negeri Pandan.

4 orang hanyut dinyatakan 2 orang selamat, 1 orang meninggal dan 1 orang hilang belum ditemukan. Saat ini masih dalam proses pencarian oleh TNI, Polisi, Poll Air, Sarmmi, dan masyarakat sekitar.

Catatan : kerugian nominal masih di data pihak terkait.

Semoga warga kalianda yg menjadi korban banjir diberi kesabaran dan keikhlasan, dan korban yg hilang cpt ditemukan, amiin… (LCL)

Laporan dari lokasi bencana oleh Sofyan Mapasanda

Ketua PDM Parepare : Mapala adalah Gerakan Menegakan Akidah Seperti yang Diperjuangkan Ahmad Dahlan

Pengalaman pernah dekat dengan Mapala Salawat Universitas Muhammadiyah Parepare (UMPAR). Rupanya sangat membekas di hati Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Parepare, Drs. H. Sawati Lambe.

Diajak berbincang perihal Mapala, tokoh Muhammadiyah paling terkemuka di Kota Parepare ini, tampak berbinar-binar senang.
Kesan itulah yang tertangkap, tatkala tiga Pengurus Pusat SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) yakni Dewan Pengarah SARMMI Zulfahmi Sengaji, SE. MM. Sekretaris Umum Ahyar Hudoyo, dan Ketua Divisi Kominfo Lita Indriani, menemui Sawati di Masjid kampus UMPAR awal Desember lalu.

Turut pula di perbincangan yang bersahaja itu Sekretaris PDM Kota Parepare. Rektor UMPAR Prof. DR. H. Muhammad Siri Dangnga, MS. Serta Ketua Umum Mapala Salawat UMPAR.

“Mapala adalah suatu gerakan untuk menegakan akidah seperti yang diperjuangkan KH Ahmad Dahlan,” kata Sawati mantap.
Saya katakan begitu, lanjut Sawati penuh semangat, karena ketika saya menjadi Pembantu Rektor (PR) 3 UMPAR. Saya melihat anggota Mapala Salawat UMPAR sering masuk dan menelusuri gua, pegunungan, hutan dan sebagainya. Padahal wilayah seperti itu menurut orang umum adalah sakral.

Pulang dari wilayah-wilayah itu, anggota Mapala Salawat UMPAR sering saya wawancarai. Saya ingin mengetahui lebih jauh pengalaman mereka selama disana.

“Mereka mengakui sering menemui peristiwa yang dalam istilah sekarang disebut penampakan,” ungkap Sawati.
Tetapi lanjut Sawati bangga, anggota Mapala Salawat UMPAR tidak gentar. Mereka tidak mempercayai hal-hal ganjil seperti itu. Ini membuktikan mereka percaya tidak ada kekuatan kecuali milik Allah SWT.

Berdasarkan pengalaman nyata mereka itu, saya anjurkan agar mereka menyampaikannya kepada orang lain. Tertutama ke teman-teman mereka yang masih percaya black magic atau ilmu-ilmu hitam.
Di Mapala Salawat UMPAR, kata Sawati, akidah bahwa Allah adalah Maha Segala-galanya betul-betul kami tanamkan.

“Di Sulawesi Selatan bagian barat ada kejadian yang secara rasional mayatnya tidak bisa diketemukan. Tetapi Mapala Salawat UMPAR berhasil menemukannya. Mereka berhasil karena memiliki landasan aqidah,” papar Sawati.

Selanjutnya diceritakan pula oleh Sawati, di Mapala lain memang ada yang peminum, atau mengkonsumsi minuman keras (Miras). Tetapi di Mapala Salawat UMPAR betul-betul kami jaga, jangan sampai seperti itu. Caranya adalah dengan menanamkan pengertian bahwa segalanya akan hancur bila kalian melakukan hal-hal yang melanggar agama.

“Alhamdulillah, sejak awal berdiri hingga saat ini Mapala Salawat UMPAR bebas miras,” lanjut Sawati penuh syukur.
Setelah Sawati dipercaya umat sebagai Ketua PDM kota Parepare, dan tidak lagi menjabat PR 3 UMPAR, ternyata perhatiannya kepada Mapala Salawat UMPAR tak berkurang.

Jabatan mentereng tidak membuatnya berubah. Sawati masih memegang kebiasaan lamanya seperti sekian tahun lalu : selalu meluangkan waktu berbincang-bincang dengan anggota Mapala Salawat UMPAR.

Dari interaksi yang intens itu ia tahu, dan hal itu pula yang membuatnya tambah bangga : kian hari Mapala Salawat UMPAR semakin dapat memberikan kontribusi yang banyak kepada almamaternya yakni Universitas Muhammadiyah Parepare sebagai amal usaha Muhammadiyah. (Ahyar Stone)