Author: admin

Warga Luwuk Sambut Baik Deklarasi Rayon 7 SARMMI Di Mapalamu

Deklarasi Rayon 7 SAR Mapala Muhammadiyah indonesia (SARMMI) yang diselenggarakan di kampus Universitas Muhammadiyah Luwuk, penghujung November lalu, rupanya menjadi perbincangan hangat warga Kabupaten Luwuk Sulawesi Tengah.

Deklrasi Rayon adalah pengumuman resmi dan pengukuhan berdirinya sebuah Rayon atau Cabang  SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) di daerah. Sesuai Surat Keputusan (SK) Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah, ada 9 Rayon SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia. Mulai dari Aceh hingga ke Papua.

Rayon 7 yang meliputi Mapala Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) di Sulawesi merupakan Rayon perdana yang dideklarasikan.

Warga Luwuk umumnya mengetahui Deklarasi melalui berita-berita di koran lokal, poster, spanduk, maupun kesaksian dari berbagai kalangan yang menghadiri acara yang diinisiasi oleh Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Muhammadiyah Luwuk (Mapalamu) tersebut.

Warga berharap dengan adanya Deklarasi SARMMI dan terpilihnya anggota Mapalamu, Ade  Putra Ode Amane, sebagai ketua Rayon 7 SARMMI, akan berdampak baik pada upaya peningkatan kepedulian generasi muda di Luwuk terhadap bencana alam dan musibah di alam bebas. Generasi muda ini tak terbatas pada kalangan aktivis pecinta alam di Luwuk, tetapi mencakup pula kalangan di luar mereka.

“Kami berterima kasih kepada SARMMI, karena dengan dibentuknya Rayon 7 Sarmmi akan membawa dampak positif di Kabupaten Banggai”, demikian kata pengurus Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Kabupaten Luwuk, Anggelina Angraini, saat menyambangi Sekretariat Mapalamu untuk menyampaikan ucapan selamat. (3/12)

Dikatakan pula oleh Anggelina yang datang ke Mapalamu bersama empat pengurus GMKI lainnya yakni Desprian Heri, Vinny alvionita Katili, Dian Rosanti Sukadi, dan Jerry Kamaru, kehadiran SARMMI Rayon 7 pasti akan mengedukasi masyarakat tentang kebencanaan. Hal ini, lanjut Anggelina akan meningkatkan respon warga terutama kalangan generasi muda terhadap bencana alam dan upaya-upaya penanggulangannya.

Sementara itu ketua Rayon 7 Sulawesi SARMMI, Ade  Putra Ode Amane yang didampingi pengurus Mapalamu saat menerima rombongan GMNI, mengatakan sangat menghargai dukungan yang diberikan GMNI. Kendati SARMMI dan GMNI memiliki keyakinan religius berbeda, namun keduanya memiliki kepedulian yang sama terhadap masalah kemanusiaan.

“Ini menunjukan generasi muda indonesia bila berbicara masalah kemanusiaan akan melepas sekat-sekat yang ada. Kemanusiaan jauh lebih penting dari sikap-sikap primordial, karena sesuai prinsif universal, kemanusiaan diatas segalanya,” kata Ade.

Menurut Ade, Mapalamu tidak pernah kesulitan bergaul dengan generasi muda yang memiliki perbedaan keyakinan. Perjalanan panjang Mapalamu telah membuktikannya.

“Ada beberapa mahasiswa non muslim yang kuliah di Unismuh Luwuk. Mereka ada yang ikut Mapalamu, dan bahkan tiga diantaranya pernah menjadi Ketua Umum Mapalamu. Dibawah kepemimpinan mereka, roda organisasi Mapala tetap berjalan sebagaimana mestinya,” lanjut Ade.

“Dalam operasi SAR, kami akan bergandeng tangan dengan kelompok lain. Ini sejalan dengan pesan Sekretaris Diktilitbang PP Muhammadiyah, pak Sayuti, bahwa dalam melaksankanan misinya SARMMI tak bisa sendirian. Harus melibatkan elemen lain,” kata Ade.

Di tempat terpisah, dukungan terhadap  Deklarasi SARMMI di Luwuk diberikan pula oleh Camat Mailong, Kabupaten Luwuk, Rampia Laamiri, S. Sos. MM. Kes.

“Saya sangat support terhadap Deklarasi Rayon 7 SARMMI di daerah kami,” kata Rampia.

“Saya kenal beberapa anggota Mapalamu yang menjadi pengurus Rayon 7 SARMMI. Mereka kreatif dan memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan hidup dan kemanusiaan,” lanjut Rampia.

Kepada mereka, Rampia yang juga menjabat Sekretaris Komisi Penanggulangan Aids Kabupaten Banggai, berharap, agar segera merealisasikan program kerjanya. Karena warga Luwuk khususnya, dan Indonesia umumnya senantiasa mendukung aktivitas sosial generasi muda bangsa. (Ahyar Stone)

Di Bencana Longsor dan Banjir Pacitan Tim SARMMI Jalan Kaki Memasuki Dusun-dusun Terisolir

Penghujung November lalu, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, diguyur hujan amat deras selama berhari-hari. Selain menyebabkan banjir di beberapa sungai, tumpahan air dari langit itu menimbulkan retakan-retakan yang kemudian berubah menjadi bencana longsor di sejumlah tempat di Pacitan.

Kombinas banjir-longsor yang datang nyaris bersamaan, sempat membuat aktivitas ekonomi warga seantero Pacitan lumpuh total. Dikarenakan jaringan listrik dan komunikas terputus, jalanan tergenang air dengan ketinggian rata-rata sepinggang orang dewasa, tanggul jebol, sekolah diliburkan karena ruang-ruang kelas rusak, persawahan terendam banjir, dan beberapa rumah warga tertimpa longsor.

“Di satu sisi kami sangat sedih melihat situasi di Pacitan. Tetapi di sisi lain kami kagum dengan kemandirian warga disini. Karena pada saat tanggal darurat awal kejadian, sebagian lingkungan sudah dikondisikan secara mandiri oleh warga setempat dengan bergotong-royong terutama untuk membuka akses jalan dan fasilitas umum,” demikian kata kordinator operasi SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) untuk bencana Pacitan, Edy Setyawan (7/12)

Selain Edy Setyawan dari Mapala Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Untuk operasi di Pacitan, SARMMI menurunkan Novia Reza Arisandi dan Triana Wulan dari Mapala UMY. Andriyansyah dan Romdon Ariwijaya dari Stacia Universitas Muhammadiyah Jakarta. Sweaib Laibe. Serta dua orang relawan yakni Rehwinda Naibaho dari KMPA Manunggal Bhawaba Institut Teknologi Indonesia. Nikadek Siska Dwi Diantari dari Mafesripala Universitas Sriwijaya Palembang.

Lebih jauh Edy Setyawan yang akrab disapa Bemo menjelaskan, akibat putusnya semua akses, tim rescue dan tim relawan yang hendak ke Pacitan menemui banyak kendala yang membuat mereka terhambat sampai ke titik-titik bencana. Pada fase darurat kebencanaan awal, wilayah Pacitan menjadi terisolir.

“Pada fase tanggap darurat awal yang bekerja di Pacitan hanya pihak setempat yaitu BPBD Pacitan, Basarnas, TNI dan Polri serta beberapa elemen lokal. Karena minimnya personil, sarana dan prasarana serta luasnya wilayah terdampak bencana, yang dilakukan baru sebatas evakuasi dan pertolongan pada daerah terdampak bencana. Pendataan luasan wilayah belum dilakukan samasekali oleh pihak-pihak setempat,” lanjut Bemo.

Tim SARMMI tiba di Pacitan pada dinihari 3 Desember 2017. Setelah mengikuti apel relawan di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan. Tim SARMMI bergebung dengan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Pacitan sebagai Posko Induk tanggap bencana Muhammadiyah. Selama di posko induk, Tim SARMMI bekerjasama dengan potensi dari MDMC. Kokam. HW. Pramuka, dan Karang Taruna setempat.

“Tim SARMMI sejak hari pertama fokus pada kerja-kerja assessment atau pendataan. SARMMI adalah tim pertama yang terjun langsung mendata berbagai kerusakan dan kerugian di bencana Pacitan ini,” ungkap Bemo yang pernah memimpin operasi SARMMI di gunung Semeru Jawa Tengah.

Sementara itu, Andriyansyah yang sehari-hari disapa Mandel, menceritakan, pada hari pertama, tim SARMMI fokus area di dusun Jaten Desa Karangnongko, Kecamatan Kebonagung. Jaten adalah dusun yang letaknya paling bawah. Medan yang dilalui lumayan sulit karena konturnya pegunungan dan terpencil. Area ini termasuk blankspot atau sulit sinyal selular. Selama pergerakan ke dusun Jaten, tim SARMMI lebih banyak jalan kaki.

“Tidak ada korban jiwa.Tetapi beberapa bangunan mengalami kerusakan berarti. Warga dusun Jaten memerlukan penerangan, obat-obatan, dan alat berat pembuka akses jalan. Menurut Kepala Dusun Jaten, bencana kali ini adalah yang paling parah selama 40 tahun terakhir,” papar Mandel.

Hari berikutnya lanjut Mandel yang pernah memimpin operasi SARMMI di bencana longsor Banjarnegara ,Jawa Tengah, tim SARMMI masuk ke Dusun Watuadeg. Karena letaknya di perbukitan yang terpencil, menuju dusun ini sangat sulit,dan tidak bisa diakses menggunakan kendaraan bermotor. Mendatangi dusun Watuadeg tim SARMMI sepenuhnya jalan kaki.

Kondisi dusun Watuadeg lanjut Mandel, lumayan parah. Sebaran longsoran yang menghantam desa ini mengenai kandang ternak, kebun buah-buahan, pemukiman, dan fasilitas umum seperti masjid, jalan, pos ronda, tiang listrik, dan lain-lain.

“Akibatnya beberapa rumah warga rumah tertimbun longsor. Tembok rumah warga lainnya retak-retak. Akses jalan terputus. Tidak ada penerangan. Warga takut ke kebun karena pekarangan, ladang, dan perbukitan banyak yang terbelah yang berpotensi menimbulkan longsoran baru” kata Mandel.

Selanjut Tim SARMMI memasuki dusun Tawang. Karena dusun ini tidak jauh dari dusun Watuadeg dan sama-sama berada di wilayah Kecamatan Karangnongko. Situasinya tidak jauh berbeda. Tim SARMMI juga sepenuhnya jalan kaki.

Bantuan yang sudah masuk adalah  sumur bor untuk kebutuhan air bersih. Kendati demikian warga dusun Tawang dan dusun Watuadeg tetap membutuhkan tim medis, obat-obatan, bahan makanan, keamanan, penerangan, dan upaya relokasi.

Semu data hasil assessment kami sampaikan ke pihak-pihak yang berkompeten untuk menindaklanjutinya. Setelah suasana mulai kondusif, tim SARMMI resmi menyudahi operasi pada 6 Desember 2017 ” kata Mandel.

Terhadap pilihan mendatangi dusun-susun yang sulit dijangkau, baik Bemo maupun Mandel. Sama-sama beralasan, di medan-medan seperti itulah tim SAR dari kalangan Mapala semestinya berada.

“Sebagai aktivis Mapala kami sudah dibiasakan untuk survive di medan yang terpencil, terjauh, tersulit, tersusah diakses, karena kami dari Muhammadiyah, dimanapun berada, kami tetap membawa semangat kepedulian khas Muhammadiyah. Hal inilah yang kemudian memotivasi kami menjadi tim pertama yang masuk ke beberapa dusun-dusun terisolir di bencana Pacitan ini,” demikian kata Bemo dan Mandel (Ahyar Stone)

 

Diktilitbang Muhammadiyah Ingin Melibatkan 173 Kampus PTM di SARMMI

Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah sudah lama memantau kegiatan SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI), dan Majelis sangat menyambut baik karena keanggotaan SARMMI terus diperluas.

Demikian kata Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D usai mendeklarasikan Rayon 7 Sulawesi SARMMI dan melantik pengurusnya di gedung KH. A. Dahlan Universitas Muhammadiyah Luwuk Sulawesi Tengah pada akhir November lalu.

Kepada semua anggota SARMMI di seluruh Indonesia, serta kepada empat Pengurus Pusat SARMMI yang turut datang ke Luwuk untuk menghadiri acara yang diselenggarakan oleh Mahasiswa pecinta Alam Universitas Luwuk (Mapalamu) Sayuti berpesan agar tetap bersemangat membesarkan SARMMI.

Pengurus Pusat SARMMI yang ke Luwuk adalah Ketua Umum Slamet Widodo, Sekretaris Umum Ahyar Hudoyo, Ketua Kominfo Lita Indriani, serta seorang anggota Dewan Pengarah SARMMI yakni Zulfahmi Sengaji, SE. MM.

Dalam perbincangan bersama Sayuti, hadir pula Rektor Univ. Muhammadiyah Luwuk DR. Farid Haluti. Rektor Univ. Muhammadiyah Palu DR. Rajindra Rum. Pengurus Rayon 7 SARMMI. Serta para pendiri dan pengurus Mapalamu.

Dikatakan pula oleh Sayuti, perluasan keanggotaan itu penting. Sekarang Rayon 7, selanjutnya rayon-rayon yang lain.

“Perluasan keanggotaan itu penting karena kita ingin melibatkan 173 Kampus Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) di seluruh Indonesia di SARMMI. Jadi seluruh PTM akan menjadi bagian dari usaha Muhammadiyah di bidang kemanusiaan,” pungkas Sayuti.  (Ahyar Stone)

Rektor Universitas Muhammadiyah Parepare : Kegiatan Mapala Hasilkan SDM Berkarakter.

Civitas akademika Universitas Muhammadiyah Parepare (UMPAR) memberikan respon setinggi-tingginya kepada SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) yang telah melaksanakan pengabdian dalam berbagai bentuk bantuan untuk korban bencana alam yang terjadi di seluruh Indonesia.

Demikian kata Rektor UMPAR Prof. DR. H. Muhammad Siri Dangnga, MS. Saat menerima 3 Pengurus Pusat SARMMI yakni Dewan Pengarah Zulfahmi Sengaji, SE. MM. Sekretaris Umum Ahyar Hudoyo, serta Ketua Kominfo Lita Indriani. Turut serta dalam pertemuan yang berlangsung di gedung Rektorat UMPAR adalah Ketua Umum Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Salawat UMPAR. Muh. Aldi (4/12)

Selanjutnya dikatakan oleh Siri Dangnga, Civitas akademika sangat mengenal kegiatan Mapala. Karena sejak berdiri 18 tahun lalu hingga sekarang, Mapala di kampus UMPAR yakni Salawat senantiasa memberikan kontribusi positif terhadap almamater, Muhammadiyah, dan mayarakat luas. Hal inilah yang membuat Mapala Salawat selain berprestasi di tingkat Nasional, juga  menghasilkan SDM berkarakter.

Saat ini lulusan UMPAR yang semasa kuliah aktif di Mapala Salawat telah meraih beberapa posisi penting baik di insansi Pemerintah, di sektor bisnis swasta, dan termasuk menjadi figur kunci di beberapa posisi di UMPAR.

“Yang menjabat Humas UMPAR, Asisten Rektor, Biro Umum, Security, Bagian Transportasi, Dekan FKIP, Wakil Dekan 2 FKIP, Wakil Dekan 3 Teknik, adalah lulusan UMPAR yang dulu aktif di Mapala Salawat. Kinerja mereka sangat memuaskan,” terang Siri Dangnga.

Sementara itu Dewan Pengarah SARMMI Zulfahmi Sengaji, yang juga Wakil ketua 2 STIEM Kalianda Lampung Selatan, kepada Siri Dangnga mengaku sangat mengagumi kecintaan anggota Salawat terhadap Muhammadiyah, serta kegiatan dan model pendidikan alam bebasnya yang sarat nilai islam, akademik, dan membawa manfaat untuk masyarakat luas.

Kepada Siri Dangnga, Zulfahmi berharap agar kampus tetap memberikan perhatian yang baik ke Mapala Salawat. Karena apa yang dikerjakan Mapala Salawat selama ini telah membuktikan bahwa Mapala Salawat adalah contoh ideal dari sebuah Mapala yang baik di Indonesia. (Ahyar Stone)

Sekretaris Diktilitbang PP Muhammadiyah Lantik Pengurus Rayon 7 Sulawesi SARMMI

Sekretaris Diktilitbang PP Muhammadiyah Lantik Pengurus Rayon 7 Sulawesi SARMMI
Sekretaris Diktilitbang PP Muhammadiyah Lantik Pengurus Rayon 7 Sulawesi SARMMI

 

Indonesia sangat subur dan pada waktu bersamaan sangat banyak potensi bencananya. Kita harus mensyukuri semua itu sebagai potensi untuk berbuat baik kepada masyarakat di Indonesia. Menolong korban bencana berarti menolong orang yang menderita dan ini pahalanya luar biasa.

Demikian kata Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed., Ph.D dalam sambutannya di acara Deklarasi dan Pelantikan Pengurus Rayon 7 Sulawesi SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) di Gedung KH. A. Dahlan Universitas Muhammadiyah Luwuk Sulawesi Tengah (30/11)

Hadir di acara yang diselenggarakan oleh Mapala Universitas Muhammadiyah (Mapalamu) Luwuk itu, Rektor Unismuh Luwuk DR. Farid Haluti beserta para Dekan. Rektor Unismuh Palu DR. Rajindra. lima Pengurus Pusat SARMMI yang masing-masing Ketua Umum Slamet Widodo, Sekretaris Umum Ahyar Hudoyo, Ketua Kominfo Lita Indriani, Sekretaris Divisi Operasional, M. Apri Riago, Dewan Pengarah Zulfahmi Sengaji, SE. MM. Pendiri Mapalamu Luwuk, Dewan Pengurus dan para yuniornya. BPBD Luwuk. Dandim Luwuk. Mapala dan penggiat kegiatan alam bebas di Sulawesi, serta awak media.

Tetapi lanjut Sayuti, hanya orang yang terpanggil yang berani bertindak saat orang lain takut karena bencana. Yang lain justru bersembunyi atau menunggu pertolongan. Karena itu, jadikanlah bencana sebagai teman setia sebab kita bisa dapat pahala dibalik bencana.

Terhadap bencana, ungkap Sayuti, Muhammadiyah melalui Muktamar di Makasar telah memutuskan bahwa Muhammadiyah harus terlibat aktif sebelum ada  bencana, saat bencana, dan setelah bencana terjadi. Seluruh elemen dalam persayarakitan Muhammadiyah harus terlibat dalam tiga kegiatan tersebut.

Untuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) bisa memulai dengan membangun Pusat Studi Bencana dan bekerjasama dengan Mahasiswa pecinta Alam (Mapala) untuk mendidik masyarakat agar siaga bencana.

“Potensi PTM sangat besar dan merupakan pilar persyarikatan. Saat ini Muhammadiyah memiliki 174 PTM dengan 473 ribu mahasiswa. Bila ratusan ribu mahasiswa ini kita didik dan dibina menjadi tim yang sangat sadar bencana baik di kegiatan pencegahan, atau quick respon saja, maka menjadi peluang berdakwah melalaui pertolongan pertama pada korban bencana” lanjut Sayuti.

Khusus kepada civitas akademika Unismuh Luwuk, Sayuti berpesan, sudah saatnya Unismuh Luwuk mempunyai Pusat Kajian Studi Bencana, dan membangunnya bisa bekerjasama dengan Mapala, karena Mapala bekerja secara sukarela. Atau bisa juga dengan membebaskan biaya studi bagi anggota Mapala yang mau menjadi staf di kantor Pusat Kajian Studi Bencana.

“Keterlibatan PTM dalam penanggulangan bencana dan menyiapan relawan respon bencana, telah dibuktikan di banyak kampus PTM. Sekarang saatnya Unismuh Luwuk mulai melakukannya. SARMMI pasti membantu,” tegas Sayuti.

Sementara itu, Presiden Mapala Universitas Muhammadiyah (Mapalamu) Luwuk, Ahmad Muh. Nur dalam sambutannya mengatakan, SARMMI dengan aksi kemanusiaannya di sejumlah bencana di tanah air telah terbukti memberi manfaat kepada masyarakat luas.

“Dengan dideklarasikannya Rayon 7 SARMMI, maka selain akan memperluas peran aktif Mapala PTM dalam aksi kemanusiaan yang merupakan dakwah Muhammadiyah, juga akan meningkatkan skill Mapala di Sulawesi yang menjadi anggota rayon 7 sebagai garda depan Muhammadiyah di setiap bencana khususnya yang terjadi di Sulawesi,” kata Ahmad Muh. Nur

Dalam struktur organisasi Nasional SARMMI, Rayon adalah sebutan untuk pengurus cabang. Sesuai SK majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, ada 9 rayon SARMMI. Mulai dari Aceh hingga Papua. Rayon 7 yang meliputi Mapala PTM di Sulawesi merupakan Pengurus Rayon perdana yang dilantik.

Terpilih sebagai pengurus Rayon 7 periode pertama adalah adalah Ketua Ade Putra Ode Amane, Sekretaris Abdul Gani. Bendahara Masrion Tahawali.

Kordinator Divisi Operasional Alimudin L. Ndilau. Anggota Amar Ali, Aco, Martonis, Stenly Mongol, LilianaKodung, Ir. Hamsyah, ST. MT. Bakri, S. Pd. Muhammad Muallim, S. Pd.  Wahyuddin Tajuddin, Andi Aziz.

 

Kordinator Divisi Pengembangan SDM Salihudin Suling. Anggota Akbar Djumaan, Jakson Lisabu, Dedi Karim, Novita Djibran, Rendi, Ridwan Syam, S. Pd. Jusriadi, S. Pd. Syahrawan

Kordinator Divisi Komunikasi dan Informasi Jamaris. Anggota Moh. Asrul, Arisno Matorang, La Abu Ladou, Iksan, Elsi Bilisi, Pratiwi MK. S. Kom, Asnul Badarudin, S. Kom. Dienul Islam

Kordinator Divisi Logistik Dedi H. Said. Anggota  Meldi Batili, Riman Lamadi, Ajin Sipahu, Imsan Sahiri, Rendi, Darmawan, Hasyim Idrus, Syahrul Bakri

Tim SAR Mapala Cari Korban Bencana Badai Dahlia di Kunjir Lampung Selatan

Seperti yang telah diprediksi, badai Siklon Dahlia benar-benar menghantam perairan Lampung, termasuk di bagian selatan. Ketinggian gelombang di Selat Sunda mencapai 5 meter dengan kecepatan angin 45 knot.

Badai yang menimbulkan cuaca ekstrem itu selain menyebabkan penyeberangan Bakauheni Lampung – Merak Banten ditutup, semua gubug di area wisata kuliner Desa Kunjir Kecamatan Rajabasa Lampung Selatan yang didirikan di pinggir pantai roboh dihantam gelombang.

“Semua gubug disini roboh dan perabotan di dalamnya rusak parah. Untuk beberapa hari ke depan aktivitas ekonomi warga disini terhenti,” demikian terang komandan operasi SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) Muhammad Iqbal di desa Kunjir.

Diterangkan pula oleh Iqbal, ia bersama 5 anggota timnya yang berasal Mapasanda STIE Muhammadiyah Kalianda Lampung Selatan, masing-masing Dedi Sarbela, Andi Sapriandi, Sofyan Oktarianto, Permas Dermawan, Wahyu Alfat, langsung menuju desa Kunjir beberapa saat setelah badai dahlia mulai mereda. (29/11)

“Sebagai garda depan Muhammadiyah di bencana alam, kami bergegas menuju lokasi bencana. Fokus tim SARMMI adalah melakukan penyisiran di semua gubug roboh untuk mencari korban jiwa. Setelah kami pastikan tidak ada korban jiwa, Tim SARMMI bersama warga setempat dan elemen lain membersihkan puing-puing di sepanjang area wisata kuliner desa Kunjir,” lanjut Iqbal.

Kendati badai mulai mereda, Iqbal berharap masyarakat yang bermukim di pinggir pantai tetap waspada dan nelayan jangan dulu melaut. Hal ini untuk mengantisipasi segala kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi di luar dugaan.

“Tim SARMMI juga tetap berjaga. Tim operasi siaga kami tempatkan di Sekretariat Mapasanda STIE Muhammadiyah Kalianda,” demikian kata Iqbal.

Kelompok Stacia Hijau Resmikan Pusat Edukasi Mangrove di Tanjung Burung

Bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda,28 Oktober 2017, Stacia Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) meresmikanPusat Edukasi MangroveKelompok Stacia Hijau (KSH) yang berada di Tanjung Burung, Teluk Naga, Tangerang Banten.Selain memiliki sarana untuk edukasi mangrove, di area yang berada tepat di pinggir sungai Cidane ini dibangun pula mushola, perpusatakaan, dan fasilitas MCK.

Hadir dalam acara peresmian, Wakil Rektor 1 Bidang Kemahasiswaan UMJ, Kahar Marajaya. Anggota Komisi II LHKDPRD Prov. Banten, H. Jamin. Ketua 3 SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia, Lita Indriani. Ketua IKALUM FE UMJ, Kamil. LPSPL Serang, Zaid Abdur Rahman. Pembina Tabur Mangrove, Muhamad Guntur. Anggota IKALUM FE UMJ. Anggota Stacia. Mahasiswa UMJ. Warga Tanjung burung, serta tamu undangan.

Dalam sambutannya, Ketua KSH, Bella Kirali, SE menceritakan, ide mendirikan Pusat Edukasi Mangrove berasal dari anggota Stacia yang memang dikenal memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan hidup. Lalu, lanjut Bella Kirali, untuk mengelola Pusat Edukasi Mangrove di Tanjung Burung didirikan Kelompok Stacia Hijau (KSH).

Tanjung Burung dipilih Bella Kirali, karena wilayah ini dilintasi sungai Cisadane yang setiap hari membawa sampah.

“Wilayah Tanjung Burung dilintasi sungai Cisadane yang sampahnya luar biasa banyak. Setiap hari air sungai yang mengalir berbarengan dengan sampah dari pagi hingga malam.Inilah yang membuat kami peduli dan akan berbuat sesuatu agar masyarakat ikut peduli dengan keadaan sekitarnya,” kata Bella Kirali.

Dikatakan pula oleh Bella Kirali, saat Stacia kesini, kondisi masyarakat Tanjung Burung masih memprihatinkan. Banyak bangunan rumah yang layak, namun belum sadar perlunya air bersih dan MCK.

“Dengan kondisi seperti itu, Tanjung Burung kami jadikan base camp KSH. Kami bangun fasilitas MCK . Fasiltas ini untuk masyarakat disini. Sehingga masyarakat di bantaran sungai tak lagi menggunakan air sungai untuk mencuci pakaian, mandi, buang air kecil dan besar,” papar Bella Kirali.

Terhadap paparan Bella Kirali, tokoh pemuda desa Tanjung Burung yang juga Pembina Tabur Mangrove, Muhamad Guntur, dalam sambutannya mengakui MCK yang dibangun KSH sangat membantu masyarakat terutama dalam memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.

“Airnya bersih karena diambil langsung dari tanah dengan mesin yang memadai, dan ini membantu kelangsungan hidup warga sekitarnya. Mushola dan taman baca yang di bangun walaupun sederhana, sangat di gemari oleh masyarakat, utamanya anak-anak di Tanjung Burung yang memang haus akan pengetahuan,” kata Guntur.

Lebih jauh Guntur mengatakan, konservasi mangrove adalah impiannya sejak sepuluh tahun lampau.

Penyerahan Bantuan
Penyerahan Bantuan

“Sepuluh tahun yang lalu, saya mendapat binaan dari program Kebun Bibit Rakyat (KBR).  Waktu pertama sikip di Tanjung Pasir. Program itu membuat saya mengerti dan tahu tentang mangrove dan jenis yang ada di sekitar sini. Dari situlah awalnya,“ kata Guntur.

Kemudian lanjut Guntur, saya mencari ilmu hingga ke Bali. Di pulau Dewata itu saya masuk kehutan mangrove serta mempelajari berbagai ilmu tentang mangrove.

“Ketika KSH keTanjung Burung, energi saya untuk mewujudkan impian lama muncul kembali. Saya juga berterima kasih kepada Pak Jamin sebagai orang yang memiliki lahan yang dijadikan base camp Pusat Edukasi Mangrove.  Harapan saya setelah peresmian Pusat Edukasi Mangrove, KSH terus berjalan dan berkembang menjadi pendidikan bagi mahasiswa dan masyarakat umum,” pungkas Guntur.

Sementara itu anggota Komisi II LHK DPRD Prov Banten, H. Jamin yang pernah mengenyam pendidikan di IAIN Fakultas Syariah, dalam sambutannya mengaku, secara akademik ia tak ada kaitan dengan tanam-menanam. Tetapi lantaran memiliki lahan yang dapat diberdayakan untuk kepentingan masyarakat umum, ia mengijinkan lahannya digunakan oleh KSH.

“Saya mulai terkait dengan tanam-menanam justru pada saat menjadi anggota komisi II bidang LHK. Dan dengan adanya lahan ini semoga menjadi barokah untuk kita semua. Silahkan tempat ini dijadikan untuk ajang silahturahmi.  Ajang untuk kita berbuat baik dan bersosialisasi dengan masyarakat,” kata H. Jamin.

Berbagai macam makanan dari bahan mangrove dibuat oleh masyarakat
Berbagai macam makanan dari bahan mangrove dibuat oleh masyarakat
Melepakan Burung Tanda Peresmian Pusat Edukasi Mangrove
Melepakan Burung Tanda Peresmian Pusat Edukasi Mangrove

Sedangkan Wakil Rektor I Bidang Kemahasiswaan UMJ, Kahar Maranjaya, dalam sambutannya yang penuh canda mengakui sudah lama mengamati kegiatan Stacia di TanjungBurung.

“Karena saya cukup aktif di media sosial, saya selalu mengamati gerak gerik KSH, yang mau bangun mushola, mau bangun MCK, mau bangun taman baca. Akhirnya saya tersentuh juga dan ingin mengetahui lebih banyak,” kata Kahar Maranjaya.

“Tadinya saya berfikir yang namanya tabur mangrove adalah benar-benar ditabur dan disebar begitu saja mangrovenya, bukan di tanam. Sekarang saya paham ternyata ditanam, karena itulah saya mengajak peserta yang hadir di acara ini untuk menanam Mangrove. KSH sudah menyediakan 500 batang bibit Mangrove, hari ini kita tanam dilahan konservasi di hilir Cisadane,” kata KaharMaranjaya yang disambut tepuk tangan para hadirin.

Selain menanam mangrove, acara peresmian Pusat Edukasi Mangrove dimeriahkan oleh pertunjukan musik remajaTanjung Burung, serah terima bantuan berupa buku bacaan anak kepada Remaja Tabur Mangrove Tanjung Burung, buku cerita bergambar kepada Taman Baca Inovator (TBI). Penyerahan Al-quran dan Perlengkapan sholat kepada DKM Masjid Al-Barkah. Acara ditutup dengan pembacaan doa, lalu dilanjutkan pelepasan burung dara. (*)

SAR Mapala Apresiasi Aksi Kemanusiaan Jamaah Masjid Jogokariyan di Bencana Alam

Seiring makin sering bencana alam terjadi di tanah air, kelompok masyarakat yang peduli terhadap korban bencana alam juga bertumbuhan. Saat ini yang datang ke lokasi bencana tak lagi didominasi oleh kalangan pecinta alam dan organisasi kerelawanan, jamaah-jamaah masjid di berbagai daerah kerap pula datang memberikan bantuan kemanusiaan. Seperti jamaah masjid Jogokariyan, Jogjakarta.

Masjid Jogokariyan sebenarnya “hanya” masjid kelas kampung. Tetapi reputasinya mendunia. Masjid yang dikelola warga Muhammadiyah di kampung Jogokariyan, Mantijeron, Jogja ini, bahkan dinobatkan oleh Kementerian Agama sebagai Masjid Percontohan Tingkat Nasional.

Reputasi mentereng ini didapat karena Masjid Jogokariyan memiliki manajemen yang baik sehingga dapat menderdayakan ekonomi warga, berhasil mengelola beasiswa, kartu sehat, dan mampu membantu korban bencana alam dan bencana sosial di Indonesia maupun di luar negeri.

“SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) memberikan apresiasi tinggi terhadap aksi kemanusiaan yang dilakukan relawan dari masjid Jogokariyan di berbagai bencana alam seperti gunung kelud, banjir Garut, gempa di Pidie Jaya Aceh, longsor di Purworejo, dan di daerah lain. Relawan mereka juga datang ke Palestina dan Aleppo Syria, untuk membantu masyarakat terdampak bencana sosial yang terjadi disana,” demikian kata Pengarah (SC) SARMMI, Zulfahmi Sengaji, SE. MM, usai bertemu pengurus Masjid Jogokariyan di Jogjakarta (19/10)

Kedatangan Zulfahmi yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua 2 STIE Muhammadiyah Kalianda, dan  Humas Masjid Agung Lampung Selatan, selain memberikan apresiasi, juga untuk memahami lebih detil manajemen masjid Jogokariyan. Pengetahuan manajemen masjid kata Zulfahmi diperlukan oleh anggota SARMMI.

Menurut Zulfahmi, sebagai ujung tombak Muhammadiyah di berbagai bencana alam di tanah air, anggota SARMMI kerap berkunjung ke masjid di daerah terpencil yang umumnya dikelola dengan pola lama. Majid hanya dimanfaatkan untuk sholat jamaah dan perayaan hari besar islam. Pola seperti itu tak lagi sesuai dengan jaman. Agar Masjid dapat berkembang sesuai jaman, manajemen masjid harus diperbaiki.

Dengan bekal pengetahuan managemen masjid kata Fahmi, anggota SARMMI dapat memberikan pencerahan kepada takmir masjid yang ia kunjungi. Sehingga masjid disana tak lagi cuma sebatas rumah ibadah, tetapi juga dapat berfungsi sebagai rumah solusi terhadap persoalan yang muncul di masyarakat. Baik persoalan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan bahkan kebencanaan. Bila masjid semarak oleh kegiatan sosial, masjid pasti akan ramai didatangi jamaah untuk menyelenggarakan kegiatan religius.

Pengetahuan managemen masjid akan menjadikan anggota SARMMI tak hanya terampil dalam mencari, mengevakuasi, dan menolong korban bencana alam, tetapi mampu pula memberikan solusi terhadap masalah klasik yang dialami oleh hampir semua masjid di Indonesia, yaitu sepi jamaah,” tutup Zulfahmi.

Kabar Duka. Mapala UMSB Kehilangan Putri Terbaiknya

Innalillahi wa inna ilaihi rooji’ un

Segenap Pengurus SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia, mengucapkan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya pengurus Mapala Univ. Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB). Sispi Susanti. (22 th)
Semoga Allah SWT mengampuni segala dosanya, menerima semua amal ibadahnya, dan memberi almarhumah tempat terbaik disisiNya.

Kepada keluarga besar almarhumah, keluarga besar Mapala UMSB, dan civitas akademika UMSB, semoga diberiNya ketabahan.

Almarhumah akan dimakamkan di kampung halamannya Sisawah, Sumpur Kudus, Sijunjung, Sumatra Barat. Pada Rabu, 18 Oktober 2017.

Bersama ini pula, Pengurus SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besar kepada semua pihak yang telah membantu moril maupun materiil selama almarhumah dalam pengobatan, dan hingga ke pemakaman.
Semoga Allah SWT membalasnya dengan pahala berlipat ganda. Aamiin.

SARMMI Mendukung Stacia Dirikan Pusat Pelatihan Mangrove Muhammadiyah

Bila dicermati seksama, ada dua hal yang sangat kentara dari anggota Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) di Muhammadiyah. Peduli kepada sesama, dan senantiasa tergerak menjalankan dakwah Muhammadiyah.

Dua karakter itu, bukan hasil dari proses yang instan. Melainkan dari proses panjang yang dilakukan secara terus menerus dan diulang-ulang. Hasilnya dua karakter itu melekat kuat  pada diri setiap anggota Mapala, sehingga tatkala mereka sudah manyelesaikan kuliahnya, peduli dan dakwah Muhamadiyah menjadi gaya hidup mereka sehari-hari di manapun berada.

Adalah beberapa anggota Mapala Stacia Universitas Muhammadiyah Jakarta yang blusukan ke muara sungai Cisadane di Tangerang. Menjelajahi daerah pinggiran yang tidak populer adalah tradisi Stacia untuk mempertajam kepekaan sosial anggotanya. Di blusukan kali ini anggota Stacia mendapati fakta yang membuat mereka tercengang, prihatin, sekaligus buru-buru hendak berbuat baik.

Kawasan mangrove di muara sungai Cisadane yang mereka datangi, ternyata rusak parah. Hutannya nyaris gundul, air laut berlumpur tebal, dan sampah rumah tangga bertebaran di semua penjuru pantai dan di hutan mangrove yang tersisa. Kerusakan ini telah berlangsung lama. Tak ada yang peduli. Padahal kondisi ini membahayakan ekosistem muara Cisadane. Temuan ini kemudian menjadi perhatian semua anggota Stacia. Tua dan muda.

“Awalnya Stacia hanya berniat fokus menyelamatkan kawasan pantai dengan cara menanam mangrove. Tetapi semakin jauh melangkah kami melihat masalah disini sangat kompleks dan saling berkaitan,”   ungkap senior Stacia Moh. Al Fatih kepada rombongan pengurus SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia, yang mengunjungi wilayah konservasi mangrove Stacia di desa Tanjung Burung, kecamatan Teluk Naga, Tangerang. (27/8)

Kepada tamunya, Fatih yang didampingi senior Stacia lain, Roy Nurdin, menjelaskan, menanam mangrove berarti juga menyertakan kegiatan konservasi, penanganan sampah, serta pemberdayaan ekonomi dan budaya masyarakat setempat. Sungai Ciliwung juga harus dinormalisasi, dan dikeruk agar dalam.

Semua persoalan itu harus ditangani menyeluruh dan berkesinambungan, baik secara secara serial maupun paralel. Akan percuma rajin menanam mangrove tetapi abai terhadap sampah. Sampah adalah musuh tanaman mangrove, karena sering menyangkut di mangrove muda yang baru ditanam lalu menyeretnya ke laut lepas.

“Kompleksitas itulah yang membuat keluarga besar Stacia kian termotivasi, dan  itulah dasar kami membentuk Kelompok Stacia Hijau, atau KSP pada bulan Mei lalu,” kata Fatih.

Mengenalkan Muhammadiyah

Kelompok Stacia Hijau adalah wadah yang memiliki badan hukum sendiri. Namun tetap berada dibawah Stacia. Pengurusnya anggota Stacia dari berbagai generasi. Mereka bergiliran bekerja di kawasan konservasi. Kendati tidak digaji, mereka menjalankan KSP secara profesional, ekonomis, dan militan. Mereka sadar, KSP membawa misi besar yang harus dikerjakan sungguh-sungguh selama bertahun-tahun.

Untuk sampai ke lokasi penanam mangrove di muara Cisadane, KSH harus memiliki dermaga dan sarana f isik lainnya. Ide ini membuat mereka mulai melakukan pendekatan kepada warga Tanjung Burung. Menurut Fatih, pendekatan kepada warga, perlu perjuangan khsusus. Warga yang bermukim disekitar muara Cisadane terkenal keras, dan sensitif terhadap pendatang.

“Warga disini sering dikadalin LSM. Jadi mereka curiga kepada lembaga yang datang. Mereka juga skeptis terhadap KSH. Tetapi setelah KSH selesai membangun dermaga, mushola, serta sumur bor lengkap dengan MCK, warga mulai percaya dengan niat baik KSH. Warga malah ikut membantu. Sekarang hubungan KSH dengan warga desa Tanjung Burung sangat kondusif,” lanjut Fatih.

Dermaga, sumur, MCK, dan mushola yang dibangun tepat di tepi sungai Ciliwung, ungkap Fatih, adalah pekerjaan kedua KSH. Sebelumnya mereka telah menanam ribuan mangrove. Anggaran membangun semua sarana itu dari iuran anggota Stacia dan donasi beberapa pihak. Dikerjakan gotong bersama warga. Fungsinya selain sebagai titik awal menuju area penananam mangrove, juga sebagai lokasi pemberdayaan ekonomi dan budaya masyarakat Tanjung Burung.

“Masyarakat di sepanjang sungai Cisadane terbiasa membuang sampah dan MCK disungai yang kotor” kata Fatih sambil menunjuk sungai Cisadane yang airnya keruh, sedikit berbau, dan tak pernah sepi dari hanyutan sampah rumah tangga. Volume sampah hanyut ini meningkat bila ada hujan.

Senada dengan Fatih, Roy menjelaskan, KSH memanfaatkan sumur dan MCK sebagai sarana untuk mengedukasi warga agar terbiasa MCK di air sehat dan tak lagi membuang sampah di sungai. Sekarang warga disekitar sini lebih suka antri di MCK yang dibangun KSH daripada mandi di sungai.

Lahan sisa membangun empat sarana tadi dimanfaatkan KSH untuk pembibitan mangrove dan pengelolaan sampah. Pembibitan dikerjakan bergiliran oleh ibu-ibu warga Tanjung Burung. Di lahan ini juga direncanakan menjadi sentral peternakan cacing tanah dengan memanfaatkan sampah yang telah dikelola. Sekarang KSH sedang mencari jaringan bisnis cacing tanah. KSH juga mengajak coprporate untuk investasi memberdayakan ekonomi warga Tanjung Burung.

“Sedangkan mushola kami jadikan sarana ibadah bersama warga. Mushola ini rencananya akan dikelola bersama remaja masjid setempat. Karena warga Tanjung Burung belum mengenal Muhammadiyah, mushola kami maksimalkan pula sebagai entry point memberi pencerahan tentang Muhamadiyah,” terang Roy.

Dibawah Mushola lanjut Roy, sudah dibangun dermaga untuk menuju lokasi penananam mangrove. Jarak tempuhnya sekitar setengah jam perjalanan air. Tetapi bisa lebih lama jika sungai sedang banyak sampah. Sampah sering menyangkut di baling-baling perahu.

Pusat Pelatihan Mangrove

Lahan konservasi mangrove di muara Cisadane yang dikelola KSH luasnya 24 Hektar. Sampai saat ini KSH telah menanam 15 ribu mangrove.

“Tetapi hampir separuhnya rusak dan hilang karena diterjang sampah,” ungkap Fatih.

Situasi itu justru memicu mereka untuk kian gigih menanam mangrove sambil menjalankan program penunjangnya, karena mangrove sangat bermanfaat bagi kelangsungan mahluk hidup.

Menurut Fatih, hutan mangrove berfungsi melindungi pantai dari erosi dan abrasi. Mencegah intrusi air laut. Tempat berkembang biak ikan, udang, kepiting, burung, monyet. Melindungi pemukiman penduduk dari badai, angin laut, dan gelombang pasang. melindungi daratan dari naiknya air laut akibat gas rumah kaca. Serta sebagai tempat wisata dan edukasi.

Saat ini hutan mangrove di Indonesia banyak yang rusak, tetapi baru sedikit pihak yang peduli. Hal ini kata Fatih karena masih banyak yang belum paham tentang mangrove dan fungsinya.

“Berangkat dari situasi itulah KSH akan menjadikan muara cisadane sebagai Pusat Pelatihan Mangrove Muhammadiyah,” Kata Fatih.

Diberi nama seperti itu, karena anggota Mapala sebagai kader Muhammadiyah memiliki tanggung jawab untuk memberi pencerahan kepada masyarakat.  Pusat pelatihan akan mengedukasi siapa saja agar paham dan peduli terhadap hutan mangrove. Edukas dimulai dari teori, teknis pembibitan, cara menanam, budidaya, hingga  memahami fungsi ekonomis dan ekologis tanaman mangrove. Usai mengikuti pelatihan, mereka kembali ke daerah asalnya untuk menerapkan ilmunya disana.

Selain itu lanjut Fatih, KSH terbuka bagi semua pihak untuk sama-sama membangun kawasan konservasi mangrove yang telah dikelola KSH. Mereka juga dipersilahkan untuk berpartisipasi di bidang pemberdayaan ekonomi, pengembangan SDM, keagamaan, atau di sektor sosial lainnya.

“Menanam mangrove serta membangun program pendukungnya perlu orang banyak, dan butuh kerjasama banyak pihak dari berbagai latar belakang. Stacia tidak akan mampu bekerja sendiri. Kami butuh pihak lain,” kata Fatih.

Terhadap ajakan KSH, pengurus SAR Mapala Muhammdiyah Indonesia, Tia Septiyani dari Camp STIEM Jakarta, mengaku sangat mengapresiasi kerja sosial KSH yang terencana baik dan dijalankan secara profesional. Sebagai dukungan SAR Mapala Muhammdiyah Indonesia akan mendampingi KSH di bidang keselamatan dan penyelamatan.

“Insya Allah kami akan menyelenggarakan pelatihan SAR untuk warga Tanjung Burung dan peserta edukasi mangrove. Pelatihan ini juga realisasi dari amanat Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, bahwa kegiatan SAR Mapala Muhammdiyah Indonesia adalah implementasi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pengabdian pada masyarakat,” demikian kata Tia Septiani. (Ahyar Stone)