Author: admin

Bocah Pengungsi Bercita-cita Menjadi Tim SAR

Catatan Relawan Dari Desa Gelap Gulita di Lombok Utara

Zila, Maeza, Zira, Alif, Akbar, adalah beberapa nama siswa kami di Sekolah Darurat Muhammadiyah Mentari Cendekia.

Sekolah yang menempati pondok tanpa dinding khas lombok (Bruga) ukuran 3 x 4 meter, kami dirikan di Segara Katon, salah satu desa yg mengalami kerusakan paling parah karena gempa 7, 2 SR yg menghantam lombok beberapa hari lalu.

Desa itu berada di kec. Gangga. Lombok utara.

Desa segara katon terdiri dari beberapa dusun. Satu diantaranya adalah dusun Persiapan Bulan Semu.

Di dusun itulah kami, yakni SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) dan HW Univ. Muhammadiyah Surakarta, mendirikan posko relawan.

Kami adalah relawan pertama yang datang ke desa Segara Katon.

Bruga tadi, bila malam kami manfaatkan sebagai tempat istirahat. Sedangkan halaman bruga kami pakai untuk arena _fun game_ dan permainan edukasi kebencanaan bagi siswa sekolah darurat.

Siswa kami berjumlah 30 orang. Sebelum gempa mereka adalah murid sekolah dasar di dekat sini. Tapi berlainan kelas.

Gempa telah menghancurkan sekolah mereka. Rumah orang tua mereka juga luluh lantak. Rata dengan tanah.

Sebelum kami datang, sehari-harinya anak-anak ini cuma bingung mau apa.

Mau main di halaman rumah, kuatir terkena puing dan pecahan kaca. Mau sekolah tak bisa. Sekolah diliburkan.

Padahal mereka rindu belajar di kelas dan kangen suasana pertemanan di sekolah mereka.

Dari jam ke jam, hubungan kami dengan bocah-bocah lucu yang bersemangat ini, tambah dekat. Kami hapal satu persatu nama mereka. Bocah-bocah itu memanggil kami om, kak, dan mbak. Mereka juga hapal nama kami.

Dalam sebuah fun game, M. Risqi Mei Sonjaya, yang kami juluki “kepala sekolah darurat”, bertanya pada siswanya.

“Adik-adiku sayang, apa cita-cita kalian?,” tanya Riski.

Ada yang menjawab ingin menjadi guru, polisi, tentara dan cita-cita lain.

“Saya ingin menjadi tim SAR,” jawab Zira lantang.

“Kak Riski, saya bercita-cita menjadi relawan bencana alam,” kata Maeza keras sambil mengacungkan tangan.

Jawaban Zira dan Maeza, membuat Riski terkejut sekaligus terharu.

Perasaan serupa juga kami rasakan.

Kami tak tahu mengapa ada siswa yang bercita-cita begitu. Padahal kami tak pernah menceritakan suka duka menjadi relawan garis depan seperti kami.

Apakah karena melihat kami yang selalu riang, bersemangat, kompak, dan non stop 24 jam membantu warga korban gempa di dusun ini?

Riski tidak bertanya lebih jauh kepada kedua siswanya. Kami juga tak tergerak untuk mengetahui lebih detil.

Biarlah itu menjadi misteri.

**
_Ahyar Stone. Kord Posko Relawan._

***
*Tim Relawan :*
1. Ahyar Stone (SARMMI/ jogja)
2. Slamet Widodo (SARMMI/ solo)
3. M. Risqi (HW UMS/solo)
4. M. Afifi (HW UMS/solo)
5. Itsna Rosada (HW UMS/ solo)
6. Aries Munandar (SARMMI / Solo)
7. Zwaeb (SARMMI/palopo)
8. Badar (SARMMI/ mataram)
9. M. Junaedi (Stacia/jkt)
10. Hamzah (Stacia/jkt)
11. Umang (Sapta Pala/jkt)
12. Lita (Camp STIEM/ jkt)
13. Syaefullah (SARMMI/Tuban)
14. Rengga (Stacia/jkt)

Open Recruitment

Catatan Relawan Gempa Dari Desa Gelap Gulita di Lombok Utara.

Sudah berapa hari kami di Segara Katon? Salah satu desa yg mengalami kerusakan parah karena gempa 7, 0 SR yg menghantam lombok beberapa hari lalu.

Apa aktivitas awal kami setiap harinya?

Dua pertanyaan itu bagi kami sangat tidak penting, karena itulah kami tidak pernah membahasnya, dan tak tertarik menjawab bila ada orang lain yg menanyakannya.

Desa Segara Katon yang berada di kec. Gangga, Lombok Utara, terdiri dari beberapa dusun. Satu diantaranya adalah dusun Persiapan Bulan Semu.

Di dusun itulah kami : SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI), dan HW Univ. Muhammadiyah Surakarta, mendirikan posko relawan.

Kendati _stay_ di Bulan semua, fokus area kami meliputi empat dusun di dua desa, tapi msh wilayah kec. Gangga.

Sebagai relawan garis depan (kami menyebutnya begitu), kami berada di daerah yang relatif sukar dijangkau, minim fasilitas memadai, lalu tinggal bersama warga di pengungsian dan membaur bersama mereka.

Tentu saja berada di tengah pusaran dampak bencana gempa, membuat kami paham penderitan para pengungsi yang kami dampingi.

Resikonya, kami makin bergairah mengedukasi, memotivasi, mengajak, dan menggerakan para pengungsi untuk mengatasi problem mereka.

Juga membuat kami makin militan bekerja untuk mereka — para pengungsi yg menganggap kami sebagai saudara dan kami juga menganggap mereka begitu.

Resiko-resiko itulah yg membuat kami _lali dino, lali tanggal, lali wes adus opo urung_.

Lupa hari, lupa tanggal, bahkan lupa kami sudah mandi apa belum.

Ternyata kisah “heroik” kami di dusun ini telah viral. Kami berterima kasih yg telah memviralkan.
Semoga kerja-kerja kemanusiaan kami disini, juga menjadi amal jariah anda. Aamiin.

Kabar baiknya — akibat viral itu — banyak pihak yang menghubungi kami karena tertarik serta ingin bergabung, dan menanyakan syarat-syaratnya.

Kepada yang bertanya, kami senantiasa memberikan jawaban seragam.

Kami _welcome banget_ Jika ada yang ingin bergabung.

Anda tidak usah mengajukan surat lamaran. Apalagi menyodorkan surat cinta. Kami juga tidak akan mengadakan seleksi dalam bentuk apapun.

Syarat bergabung bersama kami menjadi relawan garis depan _(front line)_ sangat mudah, tetapi sedikit gila. Anda cukup memiliki keberanian.

Keberanian yang kami maksud adalah :

Berani datang dan pulang dengan ongkos sendiri.

Berani tidak mandi berhari-hari.

Berani banyak kerja sedikit tidur.

Berani lapar namun tetap terlihat segar waras penuh kemakmuran.

Berani duluan menyapa warga tanpa melontarkan rayuan gombal.

Berani melontarkan gagasan dan gotong royong melaksanakannya.

Dan setelah disini : berani bertanya tentang keberanian unik lainnya yang patut dimiliki oleh relawan garis depan selama mendampingi pengungsi.

Tentu saja setelah mendengar “syarat & ketentuan nyeleneh” itu, para pelamar tertawa pada awalnya, lalu tawanya mulai mengendur tatkala mendengar,
“Berani tidak digaji. Kami juga tidak ada yang digaji.”

Tawa mengendur para pelamar tentu bukan gejala bahwa mereka mundur sebelum tempur.

Ada yang benar-benar serius bin nekad mau gabung bersama kami.

“Oke mas brow.. bila sudah di kota Mataram, saya naik apa ke lokasi?”

Karena kami tak hapal rute, kami cuma bisa menjawabnya praktis namun menuntaskan masalah pelik.

“Kami ada teman baik di kota Mataram, dia orang lombok dan bersedia mengantarmu ke lokasi.”

Hanya itu jawaban kami. Tak ada lainnya. Tidak ada pula nasehat tambahan yang bernuansa religius seperti,
“Hati-hati di jalan. Semoga selamat sampai tujuan. Semoga Tuhan besertamu”

Orang yang mau bergabung bersama kami, tentu memiliki kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.

Kecerdasan itulah yang membuat mereka selalu bersama Tuhan, dan Tuhan selalu bersama mereka.

_(Ahyar Stone. Kord. Posko relawan)_

Kami Akan ke Desa Tetangga

Catatan Relawan Dari Desa Gelap Gulita di Lombok Utara.

Segara Katon adalah salah satu desa yg mengalami kerusakan paling parah karena gempa 7, 0 SR yg menghantam lombok bbrap hari lalu.

Desa itu berada di kec. Segara katon, kab. Lombok utara.

Desa segara katon terdiri dari beberapa dusun. Satu diantaranya adalah dusun Persiapan Bulan Semu.

Di dusun itulah kami, yakni SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) dan HW Univ. Muhammadiyah Surakarta, mendirikan posko relawan.

Kami adalah relawan pertama yang datang ke desa Segara Katon.

Kami tiba disana, rabu tanggal 8 agustus. Pukul 10 malam. Kondisi desa gelap tiba, karena jaringan listrik putus.

Saat kami tiba, pemuda setempat sedang ronda malam bersenjatakan golok dan kayu pemukul. Tentu saja mereka kaget tiba-tiba kampungnya didatangi oleh sekelompok orang yang tak mereka kenal.

Diterangi senter para peronda itulah kami mengenalkan diri dan menyampaikan maksud kami datang, yakni membantu warga mengatasi dampak gempa.

Hal pertama yg kami lakukan setelah memperkenalkan diri dan diterima warga, adalah membuka layanan kesehatan siaga 24 jam.
Para peronda itulah yg menjadi pasien pertama kami.

Besoknya pasien kami terus bertambah. Banyak yg datang bersamaan satu keluarga. Karena bejibun terpaksa mereka antri.

Sebagai “ruang antre”, kami sediakan beberapa bangku panjang terbuat dari kayu bekas kusen yg ditopang batako reruntuhan bangunan.

Hubungan kami dengan warga semakin akrab tiap jamnya.
Kami memang sdh terbiasa berada di daerah baru yg wargany tak satu pun kami kenal.

Kami suka bercanda, rajin menyapa, pandai memotivasi tanpa menggurui, pandai mengajak bukan memerintah, sabar mendengar curhat warga, cerdas menganalisa masalah dan cepat menemukan solusi praktis, rajin ibadah bersama warga tetapi selalu punya kisah lucu yg mengundang tawa warga.

Sekian karakter itulah yg menjadi modal kami. Itu pula yg membuat kami selalu “datang sebagai orang asing, pulang seperti saudara bagi para korban bencana alam”.

Hari kedua kami disini, (jumat10 agustus) sekolah darurat dan TPA sdh kami dirikan. Tempatnya di halaman posko kami.
Sebagian dari kami gantian jadi guru dan ustad.

Kendati terkesan serius, tapi para murid kami sangat bersemangat dan ceria, karena kami mengajar dg methode game lucu yg melibatkan interaksi antar siswa.

Usai jumatan, masih di masjid darurat, kami rapat bersama warga.

Selain membahas rencana gotong royong membuat hunian darurat, (dan semua warga mendukung), kami jg memaparkan visi misi sekolah darurat dan TPA yg kami dirikan.

Paparan kami menguggah warga yg profesinya guru dan ustad. Mereka akan membantu kami.

“Saya guru ngaji disini. Tapi sejak gempa, saya drop. Mas-mas dari Jawa yg berinisiatif mendirikan TPA dan sekolah darurat, membuat semangat saya bangkit. Saya akan ikut mengajar bersama kalian,” begitu kata seorang warga.

Usai rapat, kami mengutus dua anggota ke desa tetangga. Informasi yg kami dapat, desa itu blm maksimal tersentuh bantuan karena terisolir.

Hasil assesment tersebut di dapat kesimpulan, warga disana mengalami krisis air karena saluran air putus akibat gempa.

Area pipa putus berada di tebing yg rawan longsor, warga takut kesana.

Kami terlatih vertical rescue. Jadi Kami yg akan turun dan memasang pipa.

Kami jg yg akan mencarikan pipanya. Uangnya dari sumbangan teman-teman. (Bisa jd uang itu donasi anda, pembaca pesan ini. Semoga itu jd amal jariah anda. Aamiin)

Desa itu bernama Jelitong, kec. Gangga dan desa Salut, kec. Kayangan.

Selain pipa tadi, kesehatan, pendidikan, pangan, dan hunian darurat, juga jd masalah di dua desa tersebut.

Rapat internal kami sesama relawan, menyepakati : dua desa tersebut akan jd fokus area kami.

Artinya kami juga akan mendirikan sekolah darurat, tpa, siaga medis 24 jam, dan mengajak warga gotong royong membuat hunian darurat, dan sebagainya.

Ohya… selama kami disini, tiap beberapa jam ada gempa. Kendati skala kecil, tapi cukup berasa.

Saya menulis ini jam 3 pagi. Saya terbangun karena ada gempa. Saya tidak tidur lagi sekalian nulis menunggu subuh. (Ahyar Stone. Kord. Posko relawan)

***
Tim Relawan :
1. Ahyar Stone (SARMMI/ jogja)
2. Slamet Widodo (SARMMI/ solo)
3. M. Risqi (HW UMS/solo)
4. M. Afifi (HW UMS/solo)
5. Itsna Rosada (HW UMS/ solo)
6. Gendut (SAR DIY/jogja)
7. Zwaeb (SARMMI/palopo)
8. Badar (SARMMI/ mataram)

Note :
No. 5 adalah satu2nya perempuan. Dia andalan kami di bidang medis. Semangatnya luar biasa. Kami semua kagum.

Memupuk Asa Anak-Anak Lombok Melalui Sekolah Darurat Muhammadiyah

Ditengah keadaan haru yang hadir diantara masyarat dusun persiapan bulan semu, desa persiapan segara katon, Kec. Gangga Kab. Lombok Utara, warga tetap menaruhkan masa depannya dengan penuh tekad kuat.

Setelah dua hari warga bersama relawan dari SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) dan Hizbul Wathan UMS (HW UMS),berbaur menjadi satu, mereka dicairkan bersama dengan suguhan kopi khas lombok setiap waktu.

Setelah relawan mendirikan posko korban bencana gempa bumi yang melayani pelayanan medis selama 24 jam, dilanjut proses pembersihan puing-puing rumah korban, kali ini geabungan Relawan yang lebih memilih mendirikan posko didaerah terpencil tersebut mukai menggerakan kembali kehiduoan masyarakat disektor pendidikan.

Dengan didirikannya Sekolah darurat bagi anak-anak setempat, terlihat senyuman manis dari anak-anak setempat yang sudah merindukan bangku sekolah, setelah mereka libur sekolah karena bangunan sekolah roboh dan masyarakat mengalami trauma yang dahsyat.

*”Sekolah Darurat Muhammadiyah Mentaria Cendekia”* itulah nama sekolah yang relawan utusan UMS tersebut rintis untuk tetap menumbuhkan semangat belajar anak-anak.

Hari itu, Jum’at (10/08) bersamaan dengan hari mulia bagi ummat muslim, menjadi hari pertama Sekolah Darurat Mentari Cendekia beroperasi. Diawali pagi hari pukul 08.00 – 10.00 WITA diisi dengan kegiatan bersih lingkungan dan pembelajaran pengetahuan umum. Kegiatan sore hari mulai pukul 16.00 – 17.00 WITA anak-anak diarahkan untuk belajar mengaji.

Sederhana, namun penuh makna. Belajar tanpa alat tulis, karena saat gempa teejadi, anak-anak tidak sempat menyelamatkan alat tulisnya. Sekarang ini, melalui Sekolah Darurat Muhammadiyah Cendekia mencari keceriaan bersama teman sebayanya, menjadi penghibur diri sebagai pengganti alat mainan anak.

Sudah ada 25 siswa/i yang dikelola relawan dari Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Terimakasih atas doa dan dukungan seluruh unsur yang terlibat, kami tunggu partisipasi terbaik dari anda untuk sudara kita…

_Muhammadiyah bersinergi bersama warga untuk memupuk asa anak bangsa_

(Muhammad Risqi Mei Sonjaya : Kepala Sekolah Darurat Muhammadiyah Mentari Cendekia)

Ketika Muadzin dan Khatib Jumat Menangis

Kabar Kami Dari Desa Gelap Gulita di Lombok Utara

Di gempa lombok 7, 0 SR, Desa segara katon, kec. Gangga. Lombok utara. Termasuk kawasan terdampak gempa paling parah.

Di desa itulah kami relawan dari SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) dan HW univ. Muhammadiyah Surakarta, berada dan tinggal di bersama warga korban gempa di barak pengungsian.

Jumat, 10 agstus 2018. Hari kedua kami disini.
Jam 02. 30 dinihari td, saat kami tidur nyenyak di gubuk yg hanya berdinding sebelah kiri, kami dibangunkan warga.

“Ada warga kakinya terluka, butuh diobati sekarang” katany dg muka sedih sambil menyorotkan senter ke arah kami.

Terkena Sinar senter sontak kami bangun. Desa ini gelap total karena jaringan listrik putus.

Jadi sedikit sinar saja, membuat siapapun bakal terjaga dari nyenyaknya.

Dua orang anggota medis langsung kami berangkatkan saat itu juga.

“Seorang ibu usia 60 an, hendak keluar tenda. Tp karena gelap, kakinya menginjak sesuatu yg tajam,” kata Itsna Rosada, tim medis kami.

“Jari tengah kaki kanannya luka, dalam. Tulangnya hampir kelihatan. Darah mengucur deras ” begitu cerita Rosada usai mengobati ibu malang tadi.

Paginya, jam 9 an, kami kumpulkan anak-anak. Hari ini adalah “hari pertama” sekolah darurat kami yg bernama,
*Sekolah Darurat MuhammadiyahMentari Cendekia*, Desa segara katon, lombok utara.

“Murid baru” kami banyak, dan semangat belajar mereka tinggi.

Menjelang jumatan, pelajaran sekolah berakhir, tp murid kami tetap berada di lokasi.

“Mereka enggan pulang.
Berharap usai jumat sekolah lagi,” kata Rismi Mei Sonjaya, sang “kepala sekolah” darurat kami.

Desa segara katon, punya mesjid bagus. Arrohman. Tapi lantaran kena gempa, mesjid ini tdk bisa dipakai.

Gantinya, warga gotong royong membangun tarup beratap rumbia untuk jumatan dan sholat jamaah sehari-hari.

Suara Muadzin jumat, sangat lantang dan merdu. Mirip kumandang adzan magrib di tv.

Namun, gempa telah membuatnya terpukul. Ia sedih. Tepatnya sangat berduka.

Di tengah adzannya, ia menangis. Berkali-kali adzannya terhenti karena ia menahan isak tangisnya.

Jamaah ikut sedih. Larut dalam duka. Semua hanyut dalam haru mendalam.

Beberapa jamaah tampak tak kuasa menahan tangis.

Saat khotib menyampaikan khotbahnya. Ia menceritakan musibah di jaman para nabi.
Lalu menyampaikan musibah di berbagai daerah di tanah air, gempa yg menghantam lombok, dan sudut pandang islam terhadap bencana alam.

Khotbahnya sangat bagus dan menyemangati.

Namun khatib harus pula berkali-kali menahan isak tangis. Khotbah beberap kali terhenti, karena sesekali ia menyeka matanya.

Suasana haru akhirnya kembali muncul. Kali ini malah lebih dahsyat.

Hampir semua jamaah menangis. Termasuk 6 teman saya yg ikut jumatan.

Mohon maaf, saya tdk bisa melanjutlan tulisan ini. Saya harus menyeka kaca mata saya. Tanpa sadar air mata saya mengalir, lalu membasahi kaca mata saya.

(Ahyar Stone. Kord posko relawan)

Kabar Kami Dari Desa Gelap Gulita di Lombok

Kami dari SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia, bersama HW UMS, membangun posko relawan gempa Lombok di desa Segara Katon.

Desa rata dengan tanah itu terletak di Kec. Gangga. Kab. Lombok Utara.

Kami fokus area disana karena : desa segara katon jauh dari kota, relatif sukar diakses, tidak ada penerangan, jaringan air bersih terputus, mengalami kerusakan total, dan blm ada tim relawan yg masuk.

Sebagai garda depan Muhammadiyah di setiap bencana alam, kami memang senantiasa mencari daerah seperti itu.
Lalu tinggal dan hidup membaur bersama warga korban bencana alam di pengungsian.

Selain memberikan edukasi kebecanaan kepada warga, di desa ini kami juga :
Melakukan pemutahiran data (assesmen), membuka posko layanan medis 24 jam, memberikan bantuan kebutuhan dasar, mendirikan emergency toilet, dan membagikan alat pertukangan seperti gergaji, linggis kecil, palu dan paku berbagai ukuran.

Setlh alat tukang diberikan, kami juga mulai mengajak masyarakat gotong royong membersihkan puing rumahnya, lalu mendirikan hunian darurat yg bahannya dari sisa rumah yang hancur.

Hal ini dilakukan karena sejak hari pertama gempa, warga tinggal di tenda yg terbuat dari terpal. Gerah bila siang, dingin bila malam karena tendanya tdk berpintu.

Parahnya lagi, saat angin bertiup, debu juga terbang. Ini berbahaya bagi kesehatan mereka karena lahan pengungsian ini bekas kandang sapi.

Pekerjaan membuat hunian darurat, sayangnya blm bisa maksimal karena alat pertukangan yg dibutuhkan masih sangat kurang.

Kemudian kami berencana mengadakan trauma healing, mendirikan kompok belajar darurat, dan pengajian untuk anak-anak.

Selama disini, kami juga menghubungi tim relawan lain yg berada di lombok, dan mengajak mereka untuk sama-sama membantu warga terisolir yg masih minim bantuan ini.

Syukurlah, tadi ada sekelompok dokter dari makasar kesini merespon komunikasi kami, menjahit luka warga yg tertimpa puing, dan pengobatan penyakit lainnya akibat gempa lombok 7 SR ini.

Beberapa relawan juga sudah menghubungi kami, dan berencana kesini.

Jika anda terlambat membaca pesan ini , lalu membalasnya tapi saya tidak membalas balik dg cepat, mohon dimaklumi. Disini kami hanya mengandalkan power bank tenaga matahari untuk menghidupkan HP, lalu bergeser sejauh 5 km dari posko kami untuk mencari sinyal.

Terima kasih telah membaca pesan ini. Percayalah, berada dan tinggal bersama warga korban bencana di daerah terisolir yg semuanya serba terbatas, tidak membuat kami menderita.

Kami sangat bersemangat berada disini, dan selalu memiliki motivasi kuat untuk meringankan beban derita hampir seribu warga disini.

Semua itu tentu berkat doa dan dukungan dari anda juga yg membaca pesan saya ini. Kami berterima kasih. Tuhan pasti membalas kebaikan anda.

_”Daerah bencana bukan tempatku meraih prestasi. Tetapi tempat dimana aku melaksanakan ajaran agamaku”_ (Ahyar Stone)

Warga Kalianda Berduka Akibat Banjir Bandang Semalam

Kejadian tadi malam pukul 18.30WIB Kalianda, Lampung Selatan(03/04/2018) hujan deras di susul dengan banjir bandang akibatnya beberapa rumah rusak dg jumlah korban dan kerugian sementara :

1. Desa Palembapang 15 rumah terendam,1 SDN tembok roboh, jalan rusak ruas plembapang- kekiling/aspal terkelupas arah dsn pelita dewa, tdk ada korban jiwa.

2. Desa Tajimalela, 20 rumah terendam, 2 rumah rusak, halaman masjid ALhuda rusak, 1 sapi mati, 10 motor rusak, 1 korban luka.

3. Desa Canggu 15 rumah rusak, 1 paud rusak, 1 jembatan rusak

4. Desa Hara Banjarmanis , 3 rumah rusak , 15 rumah terendam 1 korban luka, 1 jembatan rusak.

5. Desa Kedaton , 1 jembatan rusak sedang,

6. Kelurahan Wayurang , 4 rumah rusak , 3 korban luka, 1 meninggal dunia terbawa arus banjir an. Samsul Bahri(25 tahun) ditemukan di Pantai Kedu, 1 oran masih hanyut belum ditemukan an. Amir Hamzah (30thn) sementara warga mengungsi dimasjid komplek regency Candigirang dan rumah warga sekitar sebanyak 50 orang pengungsi.

7. Kelurahan Bumi Agung, 1 rumah terendam air.

8. Kelurahan kalianda , 4 rmh terendam, jalan rawa2 tergenang.

9. Desa Pematang 1 rmh rusak

10. Desa Gunung Terang, desa lainnya belum ada laporan kerugian/korban. Air bah/banjir bandang berasal dari aliran Gunung Rajabasa yg melalui Sungai Palembapang dan Sungai Sukaratu/Negeri Pandan.

4 orang hanyut dinyatakan 2 orang selamat, 1 orang meninggal dan 1 orang hilang belum ditemukan. Saat ini masih dalam proses pencarian oleh TNI, Polisi, Poll Air, Sarmmi, dan masyarakat sekitar.

Catatan : kerugian nominal masih di data pihak terkait.

Semoga warga kalianda yg menjadi korban banjir diberi kesabaran dan keikhlasan, dan korban yg hilang cpt ditemukan, amiin… (LCL)

Laporan dari lokasi bencana oleh Sofyan Mapasanda

Ketua PDM Parepare : Mapala adalah Gerakan Menegakan Akidah Seperti yang Diperjuangkan Ahmad Dahlan

Pengalaman pernah dekat dengan Mapala Salawat Universitas Muhammadiyah Parepare (UMPAR). Rupanya sangat membekas di hati Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Parepare, Drs. H. Sawati Lambe.

Diajak berbincang perihal Mapala, tokoh Muhammadiyah paling terkemuka di Kota Parepare ini, tampak berbinar-binar senang.
Kesan itulah yang tertangkap, tatkala tiga Pengurus Pusat SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) yakni Dewan Pengarah SARMMI Zulfahmi Sengaji, SE. MM. Sekretaris Umum Ahyar Hudoyo, dan Ketua Divisi Kominfo Lita Indriani, menemui Sawati di Masjid kampus UMPAR awal Desember lalu.

Turut pula di perbincangan yang bersahaja itu Sekretaris PDM Kota Parepare. Rektor UMPAR Prof. DR. H. Muhammad Siri Dangnga, MS. Serta Ketua Umum Mapala Salawat UMPAR.

“Mapala adalah suatu gerakan untuk menegakan akidah seperti yang diperjuangkan KH Ahmad Dahlan,” kata Sawati mantap.
Saya katakan begitu, lanjut Sawati penuh semangat, karena ketika saya menjadi Pembantu Rektor (PR) 3 UMPAR. Saya melihat anggota Mapala Salawat UMPAR sering masuk dan menelusuri gua, pegunungan, hutan dan sebagainya. Padahal wilayah seperti itu menurut orang umum adalah sakral.

Pulang dari wilayah-wilayah itu, anggota Mapala Salawat UMPAR sering saya wawancarai. Saya ingin mengetahui lebih jauh pengalaman mereka selama disana.

“Mereka mengakui sering menemui peristiwa yang dalam istilah sekarang disebut penampakan,” ungkap Sawati.
Tetapi lanjut Sawati bangga, anggota Mapala Salawat UMPAR tidak gentar. Mereka tidak mempercayai hal-hal ganjil seperti itu. Ini membuktikan mereka percaya tidak ada kekuatan kecuali milik Allah SWT.

Berdasarkan pengalaman nyata mereka itu, saya anjurkan agar mereka menyampaikannya kepada orang lain. Tertutama ke teman-teman mereka yang masih percaya black magic atau ilmu-ilmu hitam.
Di Mapala Salawat UMPAR, kata Sawati, akidah bahwa Allah adalah Maha Segala-galanya betul-betul kami tanamkan.

“Di Sulawesi Selatan bagian barat ada kejadian yang secara rasional mayatnya tidak bisa diketemukan. Tetapi Mapala Salawat UMPAR berhasil menemukannya. Mereka berhasil karena memiliki landasan aqidah,” papar Sawati.

Selanjutnya diceritakan pula oleh Sawati, di Mapala lain memang ada yang peminum, atau mengkonsumsi minuman keras (Miras). Tetapi di Mapala Salawat UMPAR betul-betul kami jaga, jangan sampai seperti itu. Caranya adalah dengan menanamkan pengertian bahwa segalanya akan hancur bila kalian melakukan hal-hal yang melanggar agama.

“Alhamdulillah, sejak awal berdiri hingga saat ini Mapala Salawat UMPAR bebas miras,” lanjut Sawati penuh syukur.
Setelah Sawati dipercaya umat sebagai Ketua PDM kota Parepare, dan tidak lagi menjabat PR 3 UMPAR, ternyata perhatiannya kepada Mapala Salawat UMPAR tak berkurang.

Jabatan mentereng tidak membuatnya berubah. Sawati masih memegang kebiasaan lamanya seperti sekian tahun lalu : selalu meluangkan waktu berbincang-bincang dengan anggota Mapala Salawat UMPAR.

Dari interaksi yang intens itu ia tahu, dan hal itu pula yang membuatnya tambah bangga : kian hari Mapala Salawat UMPAR semakin dapat memberikan kontribusi yang banyak kepada almamaternya yakni Universitas Muhammadiyah Parepare sebagai amal usaha Muhammadiyah. (Ahyar Stone)

Ketua Rayon 7 SARMMI, Sosialisasikan Program SARMMI ke Unismuh Palu

Sangat baik bila mahasiswa masuk organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala), karena kegiatan Mapala bermanfaat dan banyak membantu masyarakat seperti dalam kebencanaan. Partisipasi Mapala pada berbagai bencana juga tepat karena sejalan dengan program Muhammadiyah yang responsive terhadap kebencanaan di tanah air.

Demikian yang disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Palu DR. Rajindra Rum, SE. MM. Kepada Pengurus Pusat SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) usai Deklarasi Rayon 7 SARMMI yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Luwuk, beberapa waktu lalu.

Pengurus Pusat SARMMI yang menemui Rajindra adalah Ketua Umum Slamet Widodo, Sekretaris Umum Ahyar Hudoyo, Ketua Kominfo Lita Indriani, anggota Dewan Pengarah Zulfahmi Sengaji, SE. MM. Kemudian Ketua Rayon 7 Ade  Putra Ode Amane, serta Sekretaris Abdul Gani.

Kendati demikian, lanjut Rajindra, tidak berarti Mapala di Universitas Muhammadiyah Palu  yaitu Mapala Hiwata, sudah sering berkecimpung di kebencanaan. Hiwata lanjut Rajindra, walaupun sekretariatnya masih ada justru sudah lama tidak aktif.

“Mapala Hiwata harus aktif lagi. Mereka harus dibangunkan dari tidur panjangnya,”kata Rajindra.

Menindaklanjuti pertemuan bersama Rajindra, Ketua Rayon 7 SARMMI Ade  Putra Ode Amane, didampingi Pengurus Mapala Unismuh Luwuk, Dedi, mengunjungi kampus Unismuh Palu (16/12)

Sebelum Ade Putra, awal Desember lalu Pengurus Pusat SARMMI telah mengutus Thariq AR Taat dari Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) menemui senior dan calon anggota baru Hiwata di kampus Unismuh Palu.

Tujuan Ade Putra selain untuk mengedukasi calon anggota baru Mapala Hiwata tentang kegiatan pecinta alam, adalah mensosialisasikan program SARMMI di Sulawesi kepada pimpinan Unismuh Palu.

Dalam sosialisai program ade Putra yang juga menjabat Wakil Dekan 3 Fisip Unismuh Luwuk, menyampaikan, kegiatan SARMMI adalah implementasi dari Mukadimah Muhammadiyah, Tri Dharma Perguruan Tinggi, Catur Dharma PTM, Kode Etik Pecinta Alam Indonesia, serta Ikrar Mapala PTM se Indonesia.

Disamping operasi SAR di bencana alam, kegiatan SARMMI lainnya adalah menyelenggarakan pelatihan untuk meningkatkan skill anggota Mapala PTM dalam bidang kebencanaan.

“Peningkatan SDM mutlak dilakukan, karena sesuai amanat Majelis Diktilitbang, SARMMI harus menjadi garda terdepan Muhammadiyah di setiap bencana yang terjadi di tanah air,” kata Ade Putra.

Terhadap program SARMMI  yang dipaparkan Ade Putra, Rajinda yang didampingi sejumlah Pimpinan Unismuh Palu. mengaku sangat apresiasi, dan mendukung penuh.

“Di Palu banyak bencana. Setelah Mapala Hiwata aktif, mereka inilah yang diharapkan bersama SARMMI berada di garis terdepan untuk membantu korban bencana alam,” harap Rajindra.

Setelah bertemu Thariq AR Taat dari SARMMI. Calon Anggota Baru Hiwata Kian Termotivasi.

Niat baik Rektor Universitas Muhammadiyah Palu, DR. Rajindra Rum untuk mengaktifkan Mapala di kampusnya, Hiwata, benar-benar didukung oleh Pengurus SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI). Baik yang di Pusat maupun di Rayon 7.

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, usai menghadiri Deklarasi Rayon 7 SARMMI yang diselenggarakan oleh Mapalamu di kampus Universitas Muhammadiyah Luwuk, penghujung November lalu, kepada Pengurus SARMMI yang menemuinya, Rajindra menyampaikan niatnya untuk mengaktifkan Hiwata.

Pengurus SARMMI yang menemui Rajindra adalah Ketua Umum Slamet Widodo, Sekretaris Umum Ahyar Hudoyo, Ketua Kominfo Lita Indriani, anggota Dewan Pengarah SARMMI Zulfahmi Sengaji, SE. MM. Serta Ketua Rayon 7 Ade  Putra Ode Amane, dan Sekretaris Abdul Gani.

Kepada mereka, Rajindra mengaku sangat apresiasi kepada kegiatan Mapala, dan menganjurkan Mahasiswa di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu bergabung ke Mapala. Kegiatan Mapala kata Rajindra, bermanfaat dan banyak membantu masyarakat seperti dalam kebencanaan.

Aktifnya Mapala pada berbagai bencana di tanah air, lanjut Rajindra sangat tepat karena sejalan dengan program Nasional Muhammadiyah yang pro aktif pada kebencanaan di tanah air. Mapala aktif di kebencanaan adalah bentuk dari peran Mapala mendukung program Persyarikatan.

Hanya saja ujar Rajindra, Mapala di kampus yang dipimpinnya, telah beberapa tahun tidak aktif. Sekretariat Hiwata masih ada. Tetapi pengurusnya sudah lulus semua. Anggota yang berstatus mahasiswa tidak ada, karena hampir 4 tahun tidak pernah merekrut anggota baru.

“Hiwata harus aktif lagi. Mereka harus dibangunkan dari tidur panjangnya,” kata Rajindra.

Keinginan Rajindra mengaktifkan Hiwata, ditanggapi serius oleh Pengurus SARMMI. Selang beberapa hari usai bertemu Rajindra, tepatmya 3 Desember 2017, Pengurus Pusat  SARMMI dari Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), Thariq AR Taat, terbang dari Jakarta ke Palu, dan langsung merapat di Sekretariat Hiwata.

Sekretariat Hiwata berada diantara gedung-gedung di komplek kampus Unismuh Palu.  Menempati  sebuah ruangan bercat putih yang ukurannya tak begitu luas.  Lantaran lama tidak berpenghuni, kondisinya sekarang lebih mirip ruang penyimpan beberapa memoriable, alias benda-benda “masa silam” yang menandakan Hiwata pernah ada, aktif, dan ikut mewarnai perjalanan panjang aktivitas Mapala di Palu dan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah se Indonesia.

“Dari ruang inilah kami akan kembali memulai perjuangan menghidupkan Hiwata,” kata Awank, senior Hiwata yang menerima kedatangan Thariq.

Awank adalah seorang dari segelintir anggota “laskar terakhir Hiwata” yang pernah berupaya menggerakan roda organisasi. Namun karena banyak kendala, perjalanan roda Hiwata itu tersendat. Lalu benar-benar terhenti.

“Tahun 2013 Hiwata mengikuti Jambore Mapala PTM se Indonesia di Malang. Rupanya itu event besar terakhir yang kami ikuti. Pulang Jambore Hiwata perlahan-lahan meredup, dan nyaris tinggal kenangan,” kata Awank mengisahkan.

Pasalnya kata Awank, kaderisasi di Hiwata total terhenti, karena, berkali-kali mereka membuka pendaftaran anggota baru, hasilnya senatiasa nihil.

“Hampir empat tahun kami berupaya keras mengajak mahasiswa di kampus ini bergabung ke Hiwata. Tetapi tak satu pun mahasiswa yang berminat mendaftar menjadi anggota Hiwata,” tutur Awank

Tetapi situasi tak sedap itu tak membuat Awank dan senior lain patah semangat. Situasi demikian justru membuat mereka cerdas memikirkan langkah yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya untuk menjaring anggota baru.

“Syukurlah cara baru yang kami pakai, berhasil menjaring anggota baru. Sekarang sudah dapat sebelas calon anggota. Insya Allah akan bertambah,” kata Awang optimis.

Kedatangan Thariq ke Hiwata sebagai follow up pertemuan Rajindra dengan Pengurus Pusat SARMMI usai Deklarasi Rayon di Mapalamu Luwuk, diakui Awank menambah motivasi ia dan senior Hiwata lainnya untuk menghidupkan Hiwata agar kembali berkiprah di jagad pecinta alam tanah air.

Sementara itu, Thariq mengakui mengagumi perjuangan tak kenal lelah para senior Hiwata. Menurut Thariq, pasang surut yang dialami Hiwata sebenarnya merupakan dinamika yang juga dialami oleh beberapa Mapala baik di luar maupun di dalam lingkaran PTM. Bedanya yang dialami Hiwata tergolong lebih parah karena bertahun-tahun tidak ada rekruitmen.

Karena itulah lanjut Thariq, ketika tahu kondisi terkini Hiwata dan niat baik Rektor Unsimuh Palu, SARMMI langsung memberi dukungan, sebab salah satu misi yang diusung SARMMI adalah membesarkan Mapala PTM.

Kepada Awank dkk, Thariq berpesan agar tetap melanjutkan perjuangannya. Hiwata kata Thariq telah berandil membangun karakter positif generasi muda di Palu. Peran serta Hiwata membangun SDM anak bangsa harus diteruskan. SARMMI akan membantu karena Hiwata adalah bagian tak terpisahkan dari keluarga besar Mapala PTM seluruh Indonesia,

“Apalagi Rektor Unismuh telah mendukung kebangkitan Hiwata, momen penting ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya” kata Thariq.

Untuk memotivasi, kepada empat dari sebelas orang calon anggota baru Hiwata yang sengaja diundang ke Sekretariat Hiwata, Thariq menceritakan pengalamannya semasa aktif di Dimpa Universitas Muhammadiyah Malang, serta manfaat memiliki pengalaman aktif di Mapala dalam berkarier.

“Saya sekarang menjadi orang penting di tempat saya bekerja. Saya bisa mencapai posisi ini karena apa yang saya dapatkan di Dimpa dulu sangat membantu saya dalam bersosialiasasi di lingkungan baru. Saya juga memiliki percaya diri yang tinggi, tangguh, kreatif, dan peduli pada orang-orang di sekitar. Semua ini saya dapatkan dari aktif di Dimpa, bukan di buku diktat perkuliahan,” ungkap Thariq.

Meski demikian lanjut Thariq, perkuliahan dengan kegiatan Mapala bukan dua hal yang bertolak belakang. Keduanya saling melengkapi sekaligus saling menguatkan.

“Kuliah untuk mengembangkan kecerdasan inteletual. Mapala untuk kecerdasan emosional. Orang yang sukses adalah yang cerdas secara intelektual dan emosional. Orang Mapala banyak yang sukses di posisi puncak dan bahkan menjadi Presiden RI karena memiliki dua kecerdasaan ini,” terang Thariq.

Selain itu kata Thariq orang Mapala cenderung gampang dikenali karena karakternya lebih kuat dibanding orang kebanyakan.

“Mapala adalah pendidikan karakter yang paling baik, karena kegiatan Mapala mengandung empat pilar pendidikan karakter yaitu olah rasa, olah hati, olah pikir, dan olah raga. Empat pilar ini membuat anggota Mapala memiliki karakter yang kuat sekaligus multi talenta,” kata Thariq.

“Ciri pemilik karakter yang kuat diantaranya adalah tangguh dan pantang menyerah untuk mengajak orang lain kepada kebaikan. Hal ini bisa kalian lihat dari senior Hiwata. Mereka tak putus asa bertahun-tahun berjuang menghidupkan Hiwata. Hari ini buah perjuangan panjang mereka mulai kelihatan,” kata Thariq.

Mendapat edukasi dari Thariq, empat calon anggota baru Hiwata mengaku tercerahkan. Pengetahuan ini membuat mereka tak sabar ingin mengikuti pendidikan dan latihan dasar (Diklatsar). Agar segera menjadi anggota penuh sehingga dapat maksimal dalam beraktivitas di Hiwata.

“Apapun materi Diklatsar ikuti secara serius. Setelah itu aktiflah berkegiatan. Kelak kalian akan dicatat sejarah sebagai pelaku kebangkitan Hiwata,” demikian pesan Thariq. (Ahyar Stone)

Rektor Unismuh Palu : Kegiatan Mapala Bermanfaat Karena Membantu Masyarakat.

Sangat baik bila mahasiswa masuk organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala). Demikian kata Rektor Universitas Muhammadiyah Palu DR. Rajindra Rum dalam perbincangan khusus usai menghadiri Deklarasi Rayon 7 SAR Mapala Muhammadiyah indonesia (SARMMI) yang diselenggarakan di kampus Universitas Muhammadiyah Luwuk, penghujung November lalu.

Deklarasi Rayon adalah pengumuman resmi dan pengukuhan berdirinya sebuah Rayon atau Cabang  SARMMI di daerah. Sesuai Surat Keputusan (SK) Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah, ada 9 Rayon SARMMI Indonesia. Terbentang mulai dari Aceh hingga Papua.

Rayon 7 yang meliputi Mapala Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) di Sulawesi merupakan Rayon perdana yang dideklarasikan.  Inisiator Deklarasi adalah Mapala Universitas Muhammadiyah Luwuk (Mapalamu).

Turut hadir dalam perbincangan bersama Rajindra, adalah empat Pengurus Pusat SARMMI yakni, Ketua Umum Slamet Widodo, Sekretaris Umum Ahyar Hudoyo, Ketua Kominfo Lita Indriani, anggota Dewan Pengarah SARMMI yakni Zulfahmi Sengaji, SE. MM. Kemudian Ketua Rayon 7 Ade  Putra Ode Amane, dan Sekretaris Abdul Gani,

Dikatakan oleh Rajindra, ia menganjurkan Mahasiswa bergabung ke Mapala karena kegiatan Mapala sangat bermanfaat karena banyak membantu masyarakat seperti dalam kebencanaan. Dengan aktifnya mahasiswa di Mapala, korban bencana alam akan segera tertolong.

“Di Sulawesi ini banyak terjadi bencana, dan diharapkan Mapala inilah yang terdepan dalam membantu korban bencana alam,” kata Rajindra.

Aktifnya Mapala pada berbagai bencana di tanah air, kata Rajindra sangat tepat karena sejalan dengan program Nasional Muhammadiyah.

“Muhammadiyah sangat pro aktif di kebencanaan. Mapala aktif di kebencanaan adalah bentuk dari peran Mapala mendukung program persyarikatan. Dalam bergerak di kebencanaan, Mapala dapat melakukannya bersama-sama elemen lain di Muhammadiyah,” lanjut Rajindra.

Kendati demikian, kata Rajindra, tidak berarti Mapala di Universitas Muhammadiyah Palu  yaitu Mapala Hiwata, sudah sering berkecimpung di kebencanaan. Hiwata lanjut Rajindra, walaupun sekretariatnya masih ada justru sudah lama tidak aktif. Situasi ini justru membuat Rajindra, akan memotivasi Hiwata untuk kembali bergiat di kampus.

“Hiwata harus aktif lagi. Mereka harus dibangunkan dari tidur panjangnya,” kata Rajindra.

Terhadap keinginan Rajindra untuk mengaktifkan Hiwata, Ketua umum Pengurus Pusat SARMMI Slamet Widodo, mengaku sangat mendukung. Hal yang sama diungkapkan pula oleh Ketua Rayon 7 SARMMI Ade  Putra Ode Amane. Bahkan Ade beserta jajarannya bersedia ke Palu untuk membantu Rajindra mengakifkan Hiwata.

“Salah satu tujuan SARMMI didirikan adalah membesarkan Mapala di PTM. Membantu pak Rajindra menghidupkan Mapala di kampusnya, merupakan tanggung jawab moral SARMMI.,” Kata Slamet Widodo.

Teknisnya imbuh Slamet Widodo, mungkin dengan mengirim Rayon 7 SARMMI ke Palu, atau cara lain yang tetap berdampak besar bagi aktifkannya Hiwata.

“Pendeknya SARMMI yang di Pusat dan di Rayon bersedia membantu sepenuhnya,” demikian tutup Slamet Widodo. (Ahyar Stone & Elis Farwati)