Penulis: mapala

Relawan SARMMI dan Relawan IKIP UM Menjalankan Puasa di Lokasi Banjir NTT

Bulan ramadhan bukan halangan relawan kemanusiaan untuk ke lokasi bencana. Puasa justru meningkatkan motivasi relawan untuk menebar ke baikan, membantu korban bencana di Adonara Timur.

Begitulah kata Al Ghifari, ketua operasi kemanusiaan SARMMI (SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia) untuk NTT, usai mengikuti rapat kordinasi bersama relawan dari IKIP Muhammadiyah Maumere (UM), yang diselenggarakan di Weiwerang, kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, NTT. (15/4/2021)

Al Ghifari menceritakan, di Weiwerang relawan SARMMI bersinergi dengan relawan dari CAMP STIE Muhamadiyah Jakarta, serta relawan dari IKIP Muhammadiyah Maumere yang berasal dari unsur Presma, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan Mamupa.

Di Weiwerang para relawan ini mendirikan posko kemanusiaan guna melakukan pendampingan warga korban banjir yang berada di Weiwerang dan Weiburak. Banjir ini disebabkan oleh siklon tropis seroja.

Bersinergi pula di posko kemanusiaan tadi adalah IPM Nangahure, IPM Semamers dan Remas Al Hikmah.

“Tiap sore kami buka puasa bersama, lalu taraweh. Kemudian sahur bersama. Paginya kami melakukan kerja kemanusiaan untuk warga terdampak banjir,” lanjut Al Ghifari.

Untuk efektifitas, relawan kemanusiaan dipecah menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama membantu warga membersihkan puing-puing yang berserakan di banyak tempat di desa Weiwerang.

Kelompok kedua membantu membersihkan mushola Mujahidin di komplek Koramil.

Sedangkan kelompok ketiga gotong royong bersama warga Weiburak membersihkan puing-puing.

Tiap kelompok yang lebih dulu menyelesaikan pekerjaan, akan bergeser membantu kelompok lain. Hingga semuanya tuntas.

“Disamping melakukan bersih-bersih, para relawan juga mendistibusikan kebutuhan dasar korban banjir berupa beras, air bersih, pakaian dan masih banyak lagi” jelas Al Ghifari.

Sementara Erni Rukimini, salah seorang perintis Mahupa yang dihubungi terpisah mengatakan, semua relawan berkeinginan agar kehidupan warga terdampak banjir segera pulih seperti sedia kala.

“Keinginan itu ditunjukkan dengan bekerja all out di lapangan. Lapar dan haus karena puasa, bukan penghalang bagi mereka untuk membantu sesama,” pungkasnya. (AS)

Tanggul Dua Sungai Jebol, SARMMI dan Stacia Evakuasi Korban Menggunakan Perahu Karet

 

Mengenaskan benar nasib warga desa Lenggahsari kecamatan Cabangbungin, Bekasi. Tanggul sungai Citarum dan tanggul sungai Ciherang jebol bersamaan. Sebanyak 17 RT dari sejumlah RT di desa Lenggahsari sontak terendam air setinggi pinggang orang dewasa. Ribuan warga mengungsi dalam kondisi basah tanpa bahan pangan memadai.

Demikian kata relawan kemanusiaan Stacia Univ. Muhammadiyah Jakarta, Tasol Agus Tersiantoro yang datang ke desa Lenggahsari bersama tiga anggota Stacia yakni Rifay Singgih. M. Junaedi, Nurdin Leasy serta relawan kemanusiaan SARMMI (SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia) dan tim dari PKD Mapala se-Jabodetabek (24/2/21)

“Sampai di sana kami bergabung ke posko kemanusiaan warga di masjid At Taqwa desa Lenggahsari, lalu melakukan water rescue untuk mengevakuasi warga menggunakan perahu karet yang kami bawa,” kata Tasol.

Evakuasi warga jelas Tasol, dilakukan berulang-ulang dari pagi hingga menjelang gelap. Warga dijemput dari rumah mereka yang terendam banjir lalu diangkut ke camp pengungsian di masjid At Taqwa.

Selain evakuasi mereka juga mendistribusikan kebutuhan dasar pengungsi yang diambil di desa Jaya Sakti.

“Untuk mengambil bahan pangan dan obat-obatan dari desa Jaya Sakti, kami naik perahu karet sejauh satu kilometer melintasi medan-medan banjir,” ujar Tasol.

Sementara itu dihubungi terpisah, ketua tim operasi kemanusiaan SARMMI untuk desa Lenggahsari, Seprian Nur Hidayatullah mengungkap, hingga hari kelima pasca banjir, perhatian pemerintah dan instansi terkait belum muncul. Padahal warga sangat berharap.

 

“Banjir menyebabkan perekonomian warga desa Lenggahsari lumpuh total. Warga kekurangan bahan bangan. Bantuan hanya datang dari relawan. Tapi jumlahnya masih jauh dari cukup,” jelas Seprian.

Warga tegas Seprian, sangat berharap ada perhatian dan bantuan dari pemerintah dan instansi yang terkait dengan masalah kebencanaan.

“Masalah di desa Lenggahsari adalah persoalan kemanusiaan. Sudah seharusnya persoalan ini menjadi prioritas pemerintah untuk segera diselesaikan secara cepat, menyeluruh dan tuntas,” pungkasnya. (Ahyar Stone/Mapala UMY-SARMMI)

Relawan SARMMI dan CAMP STIEMJ Dampingi Warga Desa Terisolir Karena Tanggul Sungai Citarum Jebol

Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur kabupaten Bekasi Jawa Barat, ternyata tak cuma membuat debit air di sungai Pacinan meluap, tapi menyebabkan pula tanggul sungai Citarum jebol. Akibatnya, sekitar 2500 jiwa warga kampung Kapek, desa Mekar Jaya, kecamatan Kedung Waringin Bekasi, harus mengungsi di tengah guyuran hujan deras. (21/2/21)

Warga kampung Kapek terpaksa mengungsi karena kampung mereka yang berada di dekat sungai Pacinan, direndam air setinggi sekitar satu meter.

Air berasal dari jebolnya tanggul sungai Citarum dan luapan sungai Pacinan yang merupakan anak sungai Citarum.

Akses keluar masuk kampung Kapek juga terendam banjir lebih dari satu meter. Lantaran jalan masuk tertutup genangan air, kampung Kapek terisolir.

“Kami kesulitan masuk kampung Kapek. Kami baru bisa sampai ke sana pada Selasa pagi,” demikian kata ketua tim operasi kemanusiaan SARMMI untuk kampung Kapek, M. Nur Alghifari (23/2/21)

Ditambahkan Alghifari, tim SARMMI (SAR Mapala Muhamadiyah Indonesia) masuk ke kampung Kapek bersama relawan CAMP STIE Muhammadiyah Jakarta yakni Akmal Fardila, Sulaiman Nurracham dan M Iqbal Firmansyah. Mereka kemudian mendirikan posko kemanusian guna mendampingi warga kampung Kapek.

“Saat kami tiba, kondisi warga kampung Kapek sangat mengenaskan. Pakaian mereka basah. Bahan pangan mereka rusak direndam air bercampur lumpur. Mereka juga krisis air bersih,” terang Alghifari.

Relawan SARMMI dan CAMP lantas membagikan kebutuhan dasar pengungsi berupa bahan pangan dan kebutuhan khusus balita. Mereka juga menyuplai air bersih yang diambil dari Mushola At Taqwa kampung Kapek.

“Seiring dengan air mulai surut, beberapa warga pulang ke rumah. Sebagian warga masih mengungsi di Masjid. Tapi warga yang sudah di rumah dan yang di pengungsian, sama-sama butuh air bersih. Kami pasok kebutuhan air bersih mereka,” papar Alghifari.

Senada dengan Alghifari, relawan CAMP Akmal Fardila menerangkan, semula mesin pompa air dihidupkan dengan daya dari genset. Karena listrik PLN sudah menyala, genset tak lagi dipakai. Hanya saja untuk kebutuhan mendatang, kampung Kapek perlu memiliki genset.

“Kampung Kapek rawan banjir. Tiap banjir listrik PLN mati. Untuk jaga-jaga agar kampung Kapek nantinya tidak krisis air bersih saat banjir, CAMP dan civitas akademika STIE Muhammadiyah Jakarta berupaya mencari genset untuk didonasikan sebagai inventaris kampung Kapek,” terang Akmal.

Dijelaskan pula oleh Akmal, selain berjuang mencari genset, mereka juga menggalang donasi guna membantu pangan warga kampung Kapek. Relawan SARMMI dan CAMP juga membersihkan masjid Jami desa Mekar Jaya dari lumpur bawaan banjir.

“Banjir tak mengurangi semangat warga untuk sholat jamaah di masjid Jami. Kami gotong royong bersama warga membersihkan, agar mereka secepatnya dapat lagi beribadah dengan baik,” pungkas Akmal.

Sebagai informasi, pada bencana banjir di Bekasi, SARMMI focus area di dua desar. Di kampung Kapek desa Mekar Jaya dan desa Lenggahsari, kecamatan Cabangbungin, Bekasi.

Di desa Lenggahsari, relawan SARMMI dan relawan Stacia Univ. Muhammadiyah Jakarta bersama pemuda masjid At Taqwa mendirikan posko kemanusiaan.

Selain turut mendistribusikan kebutuhan dasar pengungsi korban banjir, relawan SARMMI dan relawan Stacia menyelenggarakan water rescue yakni mencari dan mengevakuasi warga desa Lenggahsari menggunakan perahu karet. (Ahyar Stone/Mapala UMY)

Operasi Kemanusiaan SARMMI di Sulbar Yang Dipimpin Anggota Mapala UMY Dinilai Berhasil dan Menginspirasi

*Operasi Kemanusiaan SARMMI di Sulbar Yang Dipimpin Anggota Mapala UMY*
*Dinilai Berhasil dan Menginspirasi*

Operasi kemanusiaan SARMMI (SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia) di Sulawesi Barat (Sulbar) yang berakhir pada 10 Februari 2021, dinilai berhasil dan bermanfaat, serta menginspirasi sekian banyak pihak.

Demikian kesimpulan rapat evaluasi Operasi Kemanusiaan SARMMI di Sulawesi Barat yang diselenggarakan di markas pusat SARMMI di kota Solo, Jawa tengah (13/2/21)

Selain dihadiri oleh ketua operasi kemanusiaan SARMMI untuk Sulbar, M. Aris Wafdulloh dan anggota tim yang dipimpinnya, turut pula hadir empat tokoh penting SARMMI yakni John Lempo, Aris Munandar, Arif Ramadhani dan Ketua SARMMI Bidang Logistik, M. Iman Jelani yang memimpin rapat evaluasi ini.

Aris Wafdulloh dalam laporannya menyampaikan, ada sebelas kerja kemanusiaan yang ia dan timnya kerjakan secara totalitas hingga menit-menit terakhir menjelang operasi kemanusiaan dinyatakan selesai.

Sebelas kerja kemanusiaan itu adalah membangun posko kemanusiaan yang difungsikan pula sebagai posko persinggahan relawan lain, serta pusat informasi bagi semua pihak yang hendak mengetahui situasi terkini di tiga desa terpencil sekaligus terisolir.

Tiga desa dimaksud adalah dusun Ulu Taan, desa Bela dan desa kopeang. Tiga desa ini berada di kecamatan Tapalang, kabupaten Mamuju. Sulawesi Barat.

Ketiga desa yang menjadi focus area atau desa yang didampingi SARMMI, kondisinya sangat mengenaskan, berada jauh dari pusat kota, terpencil dan terisolir.

Akses tunggal untuk sampai ke desa Bela dan desa Kopeang, yakni jalan belum diaspal sepanjang 12 km, tertutup puluhan titik longsor yang berbahaya. Bantuan hanya dapat didrop helikopter atau jalan kaki selama dua hari PP.

Titik pertama longsor berada di ujung dusun Ulu Taan. Tepatnya di muka posko kemanusiaan SARMMI. Lalu berlanjut hingga ke desa Bela dan desa Kopeang.

“Untuk mendata detil longsoran, kami mengadakan survey dengan berjalan kaki. Melintasi titik demi titik longsoran yang jumlahnya lebih dari 52 titik,” terang Aris Wafdulloh yang akrab dipanggil Ramon.

Sebagai tindak lanjut dari survey jelas Ramon yang merupakan anggota Mapala Univ. Muhammadiyah Yogyakarta (Mapala UMY), relawan kemanusiaan SARMMI menginisiasi pembuatan shelter bantuan di tepi sungai Taupe yang berada di titik pertengahan jalur longsor ke desa Bela dan desa Kopeang.

Kemudian membuka akses jalan dengan cara menggergaji ratusan pohon tumbang menggunakan chainsaw atau gergaji mesin.

Relawan yang bergabung pada pekerjaan itu adalah relawan Batara Guru dari Luwu Timur. SAR Malili. Relawan Morowali Utara. MDMC Parepare. Mapala Salawat dan Hizbul Wathan Univ. Muh. Parepare. Mapala UMY.

Untuk membuka akses jalan papar Ramon, SARMMI mengkordinir warga tiga desa yang didampingi. Relawan dan warga kemudian bekerja gotong royong selama lima hari.

“Sekarang, jalan itu sudah bebas dari pohon tumbang. Warga sudah dapat berjalan kaki dengan lancar dan aman,” tegas Ramon.

Selama tiga minggu menyelenggarakan operasi kemanusiaan lapor Ramon, SARMMI membuka dapur umum yang beroperasi 24 jam.

Juga menyelenggarakan TPA darurat dan psikososial untuk anak-anak korban gempa. Sanitasi (MCK) darurat. Distribusi kebutuhan dasar pengungsi. Edukasi kebencanaan untuk kelompok rentan. Survey titik longsor di sungai Taupe yang berpotensi banjir bandang.

*Berhasil dan Menginspirasi*

Sementara itu, Ketua SARMMI Imam Jaelani mengatakan, sebelas kerja kemanusiaan yang dilakukan tim relawan SARMMI di Mamuju, manfaatnya benar-benar dirasakan langsung oleh seribu jiwa lebih korban gempa di tiga desa terpencil yang didampingi SARMMI.

Antusias warga untuk berpartisipasi pada kegiatan kemanusiaan yang diinisiasi SARMMI, serta banyaknya relawan yang datang ke posko kemanusiaan SARMMI di dusun Ulu Taan, menunjukan SARMMI tetap menjadi magnet berdaya tarik tinggi.

Mereka ke sana untuk membantu, bergabung sebagai mitra sinergi, serta untuk belajar cara menyelenggarakan operasi kemanusiaan di desa terjauh, terpencil dan terisiolir yang menjadi pola khas SARMMI.

SARMMI lanjut Jaelani, senantiasa menyelenggarakan operasi kemanusiaan di desa terjauh, terpencil, terisolir dan belum dimasuki relawan lain.

Sekarang pola khas SARMMI ini sudah menjadi warna tersendiri di kalangan relawan di Indonesia.

“Tiap tim SARMMI ke lokasi bencana, banyak relawan berkunjung ke posko SARMMI untuk belajar. Termasuk ke Posko SARMMI di Ulu Taan. Mereka belajar karena terinspirasi,” ujar Jaelani.

Di kesempatan ini pula Jaelani memberi apresiasi tinggi kepada empat relawan SARMMI yang dikirim ke Mamuju.

Empat personil adalah Ramon dan Ahyar Stone (keduanya anggota Mapala UMY) serta Farich Fauzi dan Ilham dari SARMMI Solo.

Jajaran pengurus SARMMI lanjut Jaelani juga memberikan apresiasi tinggi kepada delapan Mapala PTMA yang berkontribusi besar pada pelaksanaan operasi kemanusiaan SARMMI di Mamuju.

Delapan Mapala itu adalah Mapala UMY. Stacia UMJ. CAMP STIEM Jakarta. Mapsa UM. Purwokerto, Mapala UMRI. Mapalamu UM. Luwuk Banggai dan Mapala Salawat UMPAR.

SARMMI juga mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan tinggi kepada para relawan dari berbagai komunitas dan organisasi yang menjadi mitra sinergi SARMMI di Mamuju.

Mereka adalah Relawan Batara Guru Luwu Timur. SAR Malili. Relawan Morowali Utara. CRI. KPA Kaliavo. MDMC Parepare. HW Univ. Muh. Parepare

Kemudian Rescue Team IOF Pengda DIY. IOF Pengda Morowali Mandar. Sanggar Al Quran. Onsight Solo. Aranya Mahidhara. Bunda Bella & team.

“Semoga kerja sama, kerja keras, kerja cerdas dan kerja iklhas SARMMI dan mereka mendapat ganjaran yang baik dari Allah SWT,” pungkasnya. (Ahyar Stone)

Operasi Kemanusiaan SARMMI Resmi Berakhir di Mamuju, Sulawesi Barat

*Resmi Berakhir*

*Operasi kemanusiaan SARMMI di Mamuju, Sulawesi Barat*

Untuk merespon gempa 6,2 yang terjadi di kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, pada 18 Januari 2021, SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) mengirim relawan kemanusiaan dari Solo Jawa Tengah, Farich Fauzi (Fafa) ke Mamuju.

Pada 22 Januari 2021, relawan SARMMI Fafa yang bersinergi dengan CRI dan KPA Kaliavo Donggala mendirikan posko kemanusiaan di dusun Tamao, Desa Tampalang, Kec. Tapalang, Mamuju.

SARMMI kemudian memberangkatkan lagi tiga relawan kemanusiaan yakni Aris Wafdulloh dan Ahyar Stone (Keduanya dari Mapala Univ. Muhammadiyah Yogyakarta) serta Ilham dari SARMMI Solo.

Pada 29 Januari 2021 relawan SARMMI mendirikan Posko Kemanusiaan SARMMI di dusun Ulu Taan, desa Taan. Tapalang. Mamuju.

Tiga desa yang menjadi _focus area_ (desa yang didampingi) adalah dusun Ulu Taan di desa Taan, Desa Bela dan Desa Kopeang.

Dusun Ulu Taan merupakan dusun terpencil yang sukar diakses.

Sedangkan desa Bela dan desa Kopeang, selain terpencil juga terisolir, karena akses tunggal ke sana yakni jalan belum diaspal sepanjang 12 km tertutup puluhan titik longsor.

Bantuan ke dusun Ulu Taan hanya dapat dibawa dengan sepeda motor dan kendaraan roda empat dengan spesifikasi tertentu.

Sementara bantuan ke dusun Bela dan desa Kopeang, cuma bisa di drop helikopter atau berjalan kaki hingga ke dusun Ulu Taan (dusun terdekat) melalui titik-titik longsor yang berbahaya.

Operasional Posko Kemanusiaan SARMMI di dusun Ulu Taan, resmi berakhir pada 10 Februari 2021.

Selama 13 hari beroperasi, Posko Kemanusiaan SARMMI di dusun Ulu Taan telah :

1. Membuat pusat informasi dan Posko Singgah Relawan yang hendak ke desa Bela dan desa Kopeang

2. Pendataan (asesmen) titik longsor dari dusun Ulu Taan (titik pertama longsor) hingga pertigaan desa Bela – desa Kopeang

3. Membuat Shleter Bantuan Kemanusiaan di Tepi Sungai Taupe

4. Membuka jalan yang tertutup longsor – menggunakan gergaji mesin, golok, cangkul dan peralatan lain — dari dusun Ulu Taan hingga ke desa Bela dan desa Kopeang. Dikerjalan secara gotong rotong bersama warga dusun Ulu Taan, desa Bela dan desa Kopeang

5. Membuat dapur 24 jam

6. Menyelenggarakan TPA darurat

7. Sanitasi darurat / MCK

8. Psikososial untuk anak-anak

9. Distribusi kebutuhan dasar pengungsi

10. Edukasi kebencanaan

11. Survey titik longsor di sungai Taupe yang berpotensi banjir bandang

Dalam pengoperasikan Posko Kemanusiaan dan mengerjakan sebelas aktivitas kemanusiaan di atas, SARMMI tidak bekerja sendirian.

Tetapi bermitra dan bersinergi dengan relawan lain. Tanpa mereka SARMMI tak dapat berbuat maksimal.

Mereka adalah Mapala Univ. Muh. Yogyakarta. Stacia Univ. Muh. Jakarta. CAMP STIEM Jakarta. Mapsa Univ. Muh. Purwokerto. Mapala Univ. Muh. Riau. Mapalamu Univ. Muh. Luwuk Banggai. Mapala Salawat Univ. Muh. Parepare.

Relawan Batara Guru Luwu Timur. SAR Malili. Relawan Morowali Utara. CRI. KPA Kaliavo. MDMC Parepare. HW Univ. Muh. Parepare

Kemudian IOF Pengda DIY. IOF Pengda Morowali Mandar. Sanggar Al Quran. On Sight Solo. Aranya Mahidhara. Bunda Bella & team.

Dengan selesainya operasional Posko Kemanusiaan di dusun Ulu Taan, SARMMI bersama mitra sinerginya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberi bantuan dan dukungan.
Sehingga kerja kemanusiaan di Mamuju dapat dilaksanakan secara lancar dan berhasil sesuai harapan.

_“Teruslah peduli, agar semangat kepedulian tetap menyala di pertiwi ini”_

Mamuju, 11 Februari 2021
*Ketua Operasi Kemanusiaan SARMMI Untuk Sulawesi Barat*

_*(Aris Wafdulloh)*_

UMPAR Siapkan Beasiswa Untuk Siswa Korban Gempa Di Tiga Desa Terpencil yang Didampingi SARMMI

*UMPAR Siapkan Beasiswa Untuk Siswa Korban Gempa Di Tiga Desa Terpencil yang Didampingi SARMMI*

Sebagian bentuk tanggung jawab sosial dan ujud kepedulian dalam jangka panjang, Univ. Muhammadiyah Parepare (UMPAR) akan memberikan beasiswa untuk anak-anak korban gempa di tiga desa terpencil di Mamuju.

Demikian kata WR 3 UMPAR Hamsyah, ST. MT. Saat datang memberikan bantuan ke korban gempa yang berada di tiga desa terisolir karena akses tunggal ke sana berupa jalan belum diaspal sepanjang 12 km tertutup longsor. (6/2/21)

Tiga desa dimaksud adalah desa Kopeang, desa Bela dan dusun Ulu Taan. Ketiganya berada di kecamatan Tapalang. Mamuju.

UMPAR terang Hamsyah, memiliki fasilitas belajar mengajar yang sangat memadai, serta memiliki reputasi bagus di level nasional maupun tingkat Sulawesi.

“Dengan mengajak siswa-siswi korban gempa kuliah di UMPAR, kami targetkan kelak muncul generasi cerdas dari tiga desa terpencil itu untuk membangun desanya agar maju dan berkembang,” lanjutnya.

Hamsyah datang ke dusun Ulu Taan bersama MDMC Parepare. Mapala Salawat dan HW UMPAR. Di MDMC Parepare Hamsyah adalah ketuanya.

Mereka ke dusun Ulu Taan merupakan kedatangan ketiga kalinya. Sebelumnya mereka membantu desa lain di Mamuju.

Di dusun Ulu Taan, Hamsyah dan tim yang bersamanya bergabung di posko kemanusiaan SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) di dusun Ulu Taan.

Dusun Ulu Taan, desa Bela dan desa Kopeang merupakan desa yang didampingi SARMMI selama operasi kemanusiaan di Sulawesi Barat.

Hamsyah juga pengurus pusat SARMMI. Maka sebagaimana laiknya relawan SARMMI yang memfokuskan pada pendampingan desa terpencil, terjauh dan terisolir, Hamsyah sangat luwes bergaul dengan warga segala tingkatan usia yang belum dihampiri pendidikan modern.

Saat relawan dan warga desa gotong royong menggergaji pohon-pohon besar yang merupakan material longsor yang menutupi badan jalan, Hamsyah juga ikut kerja bakti, menggergaji dari pagi hingga gotong royong usai karena hari beranjak gelap.

Warga desa pasti tak ada yang tahu, jika lelaki yang lengkap dengan helm standar SAR yang berpeluh-peluh karena memotong pohon dengan gergaji mesin itu, adalah pejabat penting di UMPAR.

Tak berhenti di situ, Hamsyah mendatangi pula shelter bantuan dibangun SARMMI bersama relawan Batara Guru Luwu Utara.

Padahal dari posko kemanusiaan di Ulu Taan ke shelter bantuan di tepi sungai Taupe, harus ditempuh 2 jam jalan kaki melintasi jalan longsor yang berbahaya.

Mengetahui totalitas Hamsyah di desa terpencil, Ketua Umum SARMMI Adry Hendra Febriansyah di Jakarta yang dihubungi melalui sambungan telp dari Mamuju, mengatakan kagum dan berharap menjadi teladan baik.

“Melalui Hamsyah masyarakat jadi tahu jika tokoh muda Muhammadiyah berani memasuki daerah berbahaya di lokasi bencana. Ini harus jadi contoh baik untuk kita ikuti,” lanjutnya. (Ahyar Stone)

Relawan Selenggarakan Psikososial Untuk Anak-anak Korban Gempa di Desa Terpencil

*Relawan Selenggarakan Psikososial Untuk Anak-anak Korban Gempa di Desa Terpencil*

Sama halnya dengan kelompok dewasa, anak-anak korban gempa Mamuju juga memiliki persoalannya sendiri.

Demikian dengan anak-anak yang tinggal di dusun terpencil Ulu Taan, kecamatan Tapalang. Mamuju. Sulawesi Barat.

Pada situasi normal, mereka biasa bermain kelereng, kejar-kejaran di jalan tak beraspal yang membelah dusun mereka. Atau bermain mobil-mobilan yang mereka buat dari pelepah pisang.

Kini, usai gempa melanda kabupaten Mamuju. Kehidupan bocah mereka tak seceria seperti dulu atau saat belum gempa.

Tatkala ada getaran kecil (yang mereka duga gempa susulan) mereka berlarian meninggalkan arena bermain kelereng sambil berteriak.

Pemandangan serupa terlihat pula ketika mendadak hujan deras. Mereka berlari takut ada longsor.

Disuruh masuk rumah. Mereka ogah. Bahkan tiap malam bocah-bocah itu memilih tidur di tenda berfasilitas seadanya dibanding bobok manis di rumah mereka.

Kehidupan bocah-bocah dusun Ulu Taan, memang mendapat perhatian tersendiri dari relawan SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) yang mendirikan posko kemanusiaan di dusun Ulu Taan.

Di posko kemanusiaan yang memanfaatkan dua rumah warga setempat, bergabung pula relawan Batara Guru Luwu Timur. Relawan Morowali Utara. SAR Malili dan Mapala Univ. Muhammadiyah Yogyakarta.

Kemudian MDMC Parepare. HW dan Mapala Salawat Univ. Muhammadiyah Parepare.

“Sejak kami datang ke dusun Ulu Taan, salah satu target yang kami sasar adalah psikososial untuk anak-anak,” kata ketua Tim operasi kemanusiaan SARMMI untuk Sulbar, M. Aris Wafdulloh alias Ramon.

Senada dengan Ramon, relawan SAR Malili Herman menerangkan, dalam bencana alam anak-anak tergolong kelompok berkebutuhan khusus.

Artinya kebutuhan mereka berbeda dengan kelompok dewasa. Mereka juga perlu penanganan tersendiri.

“Kami telah menyusun sejumlah aktivitas bermuatan psikososial untuk bocah-bocah dusun Ulu Taan,” jelas Herman.

Tiap sore lanjut Herman, ia dan bocah-bocah yang didampingi menyelenggarakan acara kumpul bersama untuk berbincang, bercerita dan fun game.

Berbincang tentang gempa dan edukasinya. Bercerita hal-hal yang menyemangati hidup mereka serta masih banyak lagi.

“Fun game yang kami rancang juga bermuatan edukasi, memulihkan psikologis mereka, serta membuat pertemanan antar mereka kian kuat,” jelas Herman.

Harapannya, kata Herman, psikologi bocah-bocah dusun Ulu Taan kembali pulih seperti sebelum terjadi gempa. (Ahyar Stone)

SARMMI Telah Selesai Asesment Titik Longsor di Sepanjang Jalan ke Desa Terisolir Korban Gempa Mamuju

*SARMMI Telah Selesai Asesment Titik Longsor di Sepanjang Jalan ke Desa Terisolir Korban Gempa Mamuju*

Desa Kopeang dan Desa Bela di kecamatan Tapalang. Mamuju. Sulawesi Barat. Merupakan dua desa terpencil yang mendadak terisolir karena gempa.

Akibat gempa di Mamuju, satu-satunya jalan menuju ke dua desa tertimbun longsor.

Titik pertama longsor berada di dusun Ulu Taan. Kec. Tapalang. Dari sini longsor berlanjut hingga desa Bela dan desa Kopeang.

Namun, berapa jumlah rill titik longsor? Ada beberapa versi hitungannya.

SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) yang mendirikan posko kemanusiaan di dusun Ulu Taan, lantas melakukan asesmen atau pendataan titik longsor.

Pendataan dimaksudkan pula untuk memutahirkan data yang pernah ada. Serta menghitung titik-titik longsor baru.

Pendataan dilaksanakan pada 29 Januari dan 31 Januari 2021.

Dikerjakan oleh Farich Fauzi (SARMMI). Ahyar Stone dan Ramon (keduanya dari Mapala UMY). Serta Muhtar, warga dusun Ulu Taan yang bertindak sebagai penunjuk jalan.

Pendataan dimulai dari depan posko SARMMI. Area pertama titik longsor berada di sini.

Pendataan berakhir di pertigaan menuju desa Bela dan desa Kopeang.

Dari pendataan diketahui ada dua tipe longsoran.

Tipe pertama adalah longsoran yang menutup jalan. Material longsor berasal dari kiri atau kanan jalan. Berupa tanah, batu dan pohon berbagai ukuran.

Tipe kedua adalah longsor yang terjadi dari area pinggir jalan ke jurang di kiri atau kanan jalan.

*Jumlah Titik Longsor*
Dari longsoran tipe pertama, tercatat ada 4 titik yang longsor adalah badan jalan.

Jalan lama hilang (dead route/rute mati). Warga lalu membuat jalur alternatif berupa jalan setapak untuk mereka melintas.

Selanjutnya ada 4 longsor besar atau longsor indukan. Badan jalan sepenuhnya tertutup longsor.

Lebar longsor bervariasi. Terbesar sekitar 70 meter. Berada di titik pertama longsor.

Kemudian terdapat 18 titik longsor kategori sedang. Badan jalan tidak sepenuhnya tertutup longsor.

Berikutnya terdapat 26 titik longsor yang kecil. Hanya seperempat badan jalan yang tertutup longsor.

Dari longsor tipe kedua atau longsor yang terjadi di area pinggir jalan ke jurang, terdapat 10 titik.

Dari angka di atas dapat disimpulkan, terdapat 52 titik longsor dari dusun Ulu Taan sampai pertigaan ke desa Bela dan desa Kopeang.

Angka 52 masih ditambah dengan 10 titik yang longsornya dari jalan ke jurang.

Jika ditotal, berjumlah 62 titik longsor.

Menurut ketua tim Asesmen SARMMI, Farich Fauzi (Fafa) hasil pendataan mereka dilengkapi peta dan titik koordinat.

“Bagi pihak-pihak yang ingin mendapat hard copy atau soft copy peta dan koordinat titik longsor, silahkan menghubungi posko kemanusiaan SARMMI di dusun Ulu Taan. Dengan senang hati kami akan membaginya,” demikian pesan Fafa. (Ahyar Stone)

SARMMI dan Relawan Sulawesi Buka Akses Jalan Tertutup Longsor ke Desa Terisolir di Mamuju

*Menggunakan Gergaji Mesin. SARMMI dan Relawan Sulawesi Buka akses jalan tertutup longsor ke desa terisolir di Mamuju*

Akibat gempa Mamuju, desa Bela dan desa Kopeang mendadak terisolir. Karena satu-satunya jalan ke sana tertimbun longsor.

Titik longsor pertama berada di dusun Ulu Taan. Lalu berlanjut hingga ke desa Bela dan desa Kopeang. Sepanjang 12 km.

Kendaraan dengan spesifikasi khusus hanya dapat membawa bantuan sampai ke desa Ulu Taan.

Warga desa Bela dan desa Kopeang lalu memanggul bantuan hingga ke rumahnya.

Mereka jalan kaki naik turun di pohon-pohon berbagai ukuran yang tumbang karena longsor.

Untuk memudahkan warga berjalan kaki, SAR Mapala Muhammadiyah (SARMMI) yang mendirikan posko kemanusiaan di dusun Ulu Taan, kemudian bekerja sama dengan beberapa kelompok relawan di sulawesi membuka jalan.

Kelompok relawan itu adalah Batara Guru Luwu Timur, Relawan Morowali Timur, MDMC Parepare. Mapala Salawat dan HW univ. Muhammadiyah Parepare, serta Mapala Univ. Muhammadiyah Yogyakarta.

Pengerjaan dimulai dengan menggergaji pohon-pohon tumbang, membuat jalan berundak dan memasang pegangan di jalur naik yang licin. (6/2/21)

Pekerjaan kemanusiaan ini diprediksi selesai dalam tiga hari.

Mulai hari kedua warga dusun Bela dan dusun Kopeang, ikut gotong royong. Mereka mengerahkan 13 chainsaw atau gergagi mesin dan peralatan lain. (Ahyar Stone/SARMMI)

Mapala UMY Bantu Tiga Desa Terpencil Korban Gempa Mamuju

*Mapala UMY Bantu Sekaligus Tiga Desa Terpencil Korban Gempa di Mamuju*

Semboyan “Muda Mendunia Dari Jogja Untuk Indonesia” milik Mapala Univ. Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Tak berhenti sampai di barisan kata-kata indah.

Kata-kata berwawasan global namun tetap memijak bumi Pertiwi itu, benar-benar mereka terapkan dalam arti sebenarnya.

Meski Mapala UMY sudah dikenal melalui ekspedisi pendakian gunung es di sirkuit seven summits dunia. Tetapi perhatian mereka pada korban bencana alam di sejumlah daerah di tanah air, tetap mendapat porsi signifikan.

Pada bencana gempa di Mamuju Sulawesi Barat, Mapala UMY memberikan berbagai bentuk bantuan sekaligus kepada tiga desa terpencil korban gempa Mamuju. (6/2/21)

Tiga desa yang berada di wilayah kecamatan Tapalang itu adalah desa Kopeang, desa Bela dan dusun Ulu Taan.

Bantuan disalurkan melalui posko kemanusiaan SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) di dusun Ulu Taan.

Desa Bela dan desa Kopeang merupakan dua desa yang bertetangga.

Tetapi karena jalan ke sana tertimbun longsor mencapai lebih dari 50 titik, dua desa itu terisolir. Ekonomi warga lumpuh total.

Sementara dusun Ulu Taan meski tidak terisolir, tetapi posisinya di daerah terpencil. Karena medannya yang berat, tak semua jenis kendaraan roda empat bisa masuk ke sana.

Dusun Ulu Taan merupakan gerbang masuk ke desa Bela dan Kopeang.

Titik pertama longsor berada di ujung dusun Ulu Taan, tepatnya di halaman depan posko kemanusiaan SARMMI.

Dari sana, titik longsor berlanjut hingga ke desa Bela dan desa Kopeang.

Beberapa perwakilan dari tiga desa mengaku bantuan dari mapala UMY meringankan beban hidup mereka.

  • “Gempa membuat kami trauma. Longsor mematikan ekonomi kami. Bantuan Mapala UMY membantu kami bertahan menghadapi situasi yang sulit ini,” demikian kata warga (Ahyar Stone)

MAPALA UMRI Bantu Korban Gempa Mamuju Berkebutuhan Khusus

*Peduli Gempa Mamuju. Mapala UMRI Bantu Korban Gempa Berkebutuhan Khusus*

 

Usai membantu korban gempa di desa Bela, kecamatan Tapalang. Mamuju. Sulawesi Barat. Kali ini Mapala Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) membantu korban gempa di desa Kopeang dan dusun Ulu Taan. Keduanya masih di wilayah Tapalang.

Pada sesi kedua bantuannya, Mapala UMRI berkonsentrasi pada korban gempa yang dikategorikan berkebutuhan khusus.

Mereka adalah lansia, wanita hamil, ibu menyusui, bayi, balita dan difabel.

Bantuan disalurkan melalui posko kemanusiaan SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) yang didirikan di dusun Ulu Taan.

Dusun Ulu Taan tergolong terpencil. Sementara desa Kopeang dan Bela mendadak terisolir lantaran satu-satunya jalan ke sana ditimbun longsor akibat gempa.

Ketiganya merupakan desa yang didampingi SARMMI pada operasi kemanusiaannya di Mamuju.

Pengurus Mapala UMRI Rani Puspina mengatakan, bantuan Mapala UMRI sebelumnya berbentuk kebutuhan dasar pengungsi untuk segala tingkatan usia dan semua jenis kelamin.

Sedangkan bantuan kali ini bersifat khusus untuk kelompok yang paling rentan terkena dampak gempa. Seperti ibu menyusui.

“Di tiap bencana gempa, ibu menyusui sangat repot. Harus mengurus dirinya, bayinya, anaknya yang lain. Juga mengurus suami, serta mengelola dapur mereka di pengungsian,” jelas Rani.

Ditambahkan oleh Rani, anak-anak korban gempa juga memiliki masalahnya sendiri saat harus tinggal di pengungsian.

“Karena itulah anak-anak kami masukan ke kelompok prioritas yang harus dibantu,” terang Rani.

Sementara itu, seorang ibu menyusui terkejut mendapat bantuan dari Mapala UMRI.

Dia terkejut karena setelah diberi tahu jika antara desa Kopeang di Mamuju dengan kota Pekanbaru jaraknya sangat jauh. Ribuan kilometer.

“Saya tak menyangka, kami di desa terpencil mendapat perhatian dan bantuan dari Riau di pulau Sumatera. Saya benar-benar terkejut,” ujarnya. (Ahyar Stone)

Relawan Kemanusiaan Dirikan Shelter Bantuan Untuk Dua Desa Terisolir Terdampak Gempa Mamuju

Desa Bela dan desa Kopeang, kecamatan Tapalang. Mamuju. Sulawesi Barat. Merupakan dua desa terdampak gempa Mamuju yang parah.

Akses tunggal ke sana yakni jalan tanah sejauh 12 km dari dusun Ulu Taan, tertutup longsor. Beberapa ruas jalan juga longsor tak bersisa.

Bantuan hanya dapat didrop helikopter. Atau dipanggul jalan kaki menembus sekian puluh titik longsor yang berbahaya.

Tiap hari warga dari dua desa tadi turun untuk mengambil bantuan dari desa Ulu Taan. Mereka butuh waktu dua hari untuk perjalanan PP.

Itu sama sekali bukan perjalanan yang sederhana.

Di sisi berbeda, para relawan kemanusiaan berupaya memanggul bantuannya hingga ke desa Bela dan desa Kopeang.

Lagi-lagi itu bukan perjalanan yang sederhana.

Untuk “menengahi” situasi demikian, SAR Mapala Muhammadiyah Indonesia (SARMMI) yang mendirikan posko kemanusiaan di dusun Ulu Taan, lantas bersama Komunitas Relawan Peduli Sulbar, mendirikan shelter bantuan untuk desa Bela dan desa kopeang. (3/2/21)

Shelter bantuan didirikan di tepi sungai Taupe. Dikerjakan oleh dua relawan SARMMI yakni Ramon dan Ahyar Stone (keduanya anggota Mapala UMY), serta Ari, Roki, Fiber, Dirga dari Relawan Peduli Sulbar.

Sungai Taupe merupakan titik tengah perjalanan dari dusun Ulu Taan ke dusun Bela dan desa Kopeang.

Bangunan yang dipakai adalah gubuk milik warga yang karena gempa, tak ditempatinya lagi.

“Teknis kerjanya, para relawan cukup memanggul bantuannya sampai ke shelter bantuan. Gubuk yang dipakai sudah kami modifikasi agar bantuan aman disimpan dan relawan bisa bermalam,” kata ketua tim operasi kemanusiaan SARMMI untuk Sulbar M. Aris Wafdulloh yang biasa dipanggil Ramon.

Lalu warga desa Bela dan desa Kopeang lanjut Ramon, mengambil bantuan tadi dan membawa hingga ke desa mereka.

“Dengan begitu, relawan dan warga desa cukup menuntaskan setengah perjalanan. Tak perlu lagi dua hari jalan kaki antar jemput bantuan,” pungkasnya. (Ahyar Stone)